Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
62. Jingga Menghilang


__ADS_3

Alan tertunduk lemas, saat kesadaraannya mulai pulih. Apalagi ketika Raka menceritakan tentang semua yang sudah di lihatnya saat Jingga dengan penuh kemarahan menarik Maya keluar ruangan. Dia sendiri juga menyadari saat bekas kissmark di leher putihnya tercetak jelas.


Alan's Pov


Jingga apa yang sedang kamu pikirkan, dimana kamu sekarang? Bagaimana aku akan menjelaskan semua ini padamu? Sementara kamu melihat sesuatu yang tak semestinya kamu lihat.


Aku kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Ya ampun, Bagaimana ini? sampai jam segini Jingga belum pulang atau memberi kabar. Beberapa kali aku menghubungi ponselnya pun tidak aktif. Apa yang harus aku lakukan. Aku sungguh mencemaskan banyak hal. Bahkan, saat ini aku menahan Raka untuk tetap tinggal.


"Bang, sebaiknya Abang istirahat dulu! " itu yang dikatakan Raka padaku saat aku gelisah mondar mandir berfikir apa yang harus aku lakukan saat ini.


Tapi bagaimana aku bisa istirahat, jika Jingga menghilang. Aku takut, jika aku tak bisa menemukan atau membujuknya untuk kembali padaku. Banyak kegelisahan yang kini memenuhi benakku, hingga otaku rasanya sulit untuk berfikir.


Aku meluruhkan tubuhku, menyandarkannya pada sofa karena terasa lemas. Entah pengaruh dari minuman yang sempat menguasaiku atau memang aku putus asa memikirkan banyak kemungkinan yang bisa terjadi.


Entah untuk yang kesekian kali, Aku melirik jam yang ada di pergelangan tanganku, sudah pukul sebelas Malam. Tapi di mana Jingga? ku merasa cemas tentang keberadaannya saat ini.


"Ka, kamu boleh pulang! Aku serahkan semua urasan kantor untuk sementara padamu! Dan kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan pada perempuan licik itu? Aku sudah tidak ingin melihatnya lagi di kantor! " suaraku seolah memberikan banyak beban pada Raka tapi aku yakin lelaki yang sudah aku percaya loyalitasnya itu mampu melakukan semua dengan baik.


"Siap Bang, aku akan berusaha sebaik mungkin! Kalau begitu aku permisi dulu! " ujarnya kemudian meninggalkan ruang utama rumahku.


Saat Raka pulang, aku pun keluar membawa mobil menelusuri sepanjang jalan dengan meneliti setiap tempat yang aku lewati. Dimana Jingga? bagaimana keadaannya, bahkan aku tidak tahu kemana aku harus mencarinya.


Sebagian jiwaku pun seolah meninggalkanku kala dia yang sudah menjadi bagian dari hidupku memutuskan untuk pergi. Jingga... hidupku kembali tak berwarna jika tanpamu.


Setelah mulai lelah menelusuri kota, bahkan aku sampai di tempat Tyara dan Daniah teman akrab Jingga, tapi mereka juga tidak mengetahui keberadaan Jingga. Pukul dua dini hari aku memutuskan untuk pulang ke rumah dengan tangan kosong. Aku merebahkan tubuhku di sofa, aku memang tak ingin masuk ke kamar, bayangan Jingga pasti akan membuatku merindukannya.


Ku coba untuk memejamkan mata ini, tapi rasanya sulit karena pikiranku tak berhenti memikirkan di mana dan bagaimana keadaan perempuan mungil yang sudah mengambil sebagian hidupku.


Mataku terasa memanas, saat aku merasa tidak becus menjaga satu perempuan yang sudah menjadi tanggung jawabku. Entah maaf kepada siapa yang harus aku ucapkan? Aku bersalah dengan Tuhanku karena janji pernikahanku, aku bersalah dengan wanita yang sudah memiliki hidupku dan juga aku bersalah pada Beliau yang sudah mempercayakan putrinya padaku.

__ADS_1


###


Pagi pagi sekali Haris pergi ke rumah Amanda. sebelum mengetuk pintu bercat putih itu seorang wanita cantik tersenyum lembut ke arahnya.


"Bagaimana keadaan Jingga? " tanya Haris saat pertama melihat Amanda yang sedang membukakan pintu untuknya.


" Ohhh, aku memintanya untuk istirahat, semalam dia selalu menangis. Apa kamu menyukainya, Bang? Kamu begitu mencemaskannya." ujar Amanda saat melihat kecemasan di wajah lelaki itu. Mereka berjalan menuju meja makan, seperti biasa saat bertamu, Haris langsung menuju meja makan. Ruang makan Amanda yang begitu familiar membuat semua teman dekatnya pun langsung menuju ke sana.


"Abang, mau kopi?" tanya Manda yang sudah hafal kebiasaan lelaki bertubuh tinggi dan tegap itu.


"Boleh! " jawabnya singkat. Haris memang irit bicara bahkan ekspresinya terlihat galak bagi yang belum mengenalnya.


Amanda membawakan secangkir kopi untuk lelaki yang saat ini menyalakan rokoknya. Dia mengaduknya terlebih dahulu sebelum menggeser cangkir tersebut di depan lelaki yang sudah di kenalnya dari awal kuliah.


"Apa kamu sudah bicara dengan Jingga? "


"Sudah, tapi aku belum berani mengorek lebih dalam, yang pastinya dia kecewa dengan suaminya. Tapi kita juga belum bisa menyimpulkan sesuatu sebelum mendapatkan penjelasan dari Alan. " jelas Manda membuat Haris tertegun, kemudian menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap.


"Bang, apa Abang menyukai Jingga? Aku belum pernah melihat Abang sepeduli ini dengan orang lain. " Mendengar kalimat Amanda membuat Haris tersenyum getir. Dia yang selalu menempatkan perasaan yang salah dengan seseorang. Amanda juga pernah menjadi saksi saat dia mengejar cinta Delisa, hingga akhirnya dia harus merasakan pengkhianatan saat menjalani pendidikan kepolisian.


Saat itu hanya Amanda yang selalu menenangkannya dan memberikan semangat. Buruknya lagi, saat ini dia juga sudah salah menempatkan perasaannya karena Jingga sudah menjadi milik Alan, jadi mustahil untuk mendapatkan cinta perempuan itu.


"Mengenali perasaan jauh lebih penting, Bang! " ujar Amanda yang merasakan sedikit rasa kecewa di hatinya, tapi dia sudah bersahabat dengan rasa itu.


"Dari pada kamu, dari kuliah sampai sekarang aku belum tau siapa yang bisa merebut hatimu! " ledek Haris kepada perempuan berlesung pipit itu.


"Adalah, Bang. cuma aku masih menyimpannya. Abang sarapan dulu, ya! Aku masak makanan kesukaan, Abang! " Amanda memang sudah hafal jika Haris sangat menyukai sup merah, gadis itu segera menyiapkan sarapan untuknya. Bagi Haris Amanda adalah teman terbaik seperti saudara yang sudah hafal apa yang dia suka dan tidak.


"Aku akan melihat Jingga, dulu! " Amanda meninggalkan Haris yang sedang menikmati sarapannya.

__ADS_1


Berlahan Amanda mengetuk kamar yang di tempati Jingga. Berkali kali perempuan berambut sebahu itu mengetuk daun pintu kamar, tapi tidak ada jawaban, hingga dia memutuskan untuk membukanya dengan pelan.


"Jingga...! " panggilnya dengan tercengang, saat tidak melihat siapapun di kamar, bahkan kamar mandi pun kosong, Manda pun memperhatikan sekitar hingga dia melihat secarik kertas yang tergeletak di nakas.


*Terima kasih untuk tumpangannya, Kak. Maaf sudah merepotkan dan pergi tidak meminta ijin dulu. Oh ya, baju kak manda aku pakai dulu ya.


Jingga*.


Dengan perasaan cemas, Amanda berlari menghampiri Haris yang masih menikmati sarapannya. Tangannya yang sedikit bergetar menyerahkan surat yang di tulis Jingga.


"Bang, bacalah! " ucap Manda membuat Haris menghentikan sarapannya.


Lelaki berahang tegas itu pun membacanya dengan sekejap, wajahnya pun kini tak kalah cemas dari wajah Manda.


"Bang, aku ikut nyari Jingga! " Amanda pun langsung mengikuti Haris yang sudah berjalan keluar, gadis berkulit putih itu pun keluar meski masih mengenakan baju rumahan.


Langkah keduanya terhenti saat melihat mobil Jeep milik Alan diikuti mobil Jaguar milik Dave memasuki halaman rumah Manda.


Alan pun turun dari mobilnya dengan tergesa, rahangnya mengeras saat menghampiri lelaki yang sudah dia percaya itu penuh dengan emosi. Sebuah pengkhianatan karena sudah menyembunyikan istrinya menjadi alasan Alan untuk menghajar temannya itu.


"Bughhh... "


"Kurang ajar, dimana Jingga? "Alan memukul rahang Haris.


"Bughhh "


"Siaaalaan ....! " maki Haris saat membalas pukulan Alan. Keduanya beradu jotos hingga akhirnya Amanda yang berusaha melerai pun jatuh pingsan saat terkena tinju dari salah satu diantara mereka.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih untuk vote dan banyak hadiah yang sudah diberikan pada 'Merindukan Jingga' . Berhubung authornya masih menikmati opor n ketupat jadi maaf ya... upnya lama hehehehe 😍😍🤗🤗🤗


__ADS_2