
Musim penghujan mulai menghampiri di penghujung tahun ini. Malam pun terasa sepi, dengan hembusan angin yang terasa halus menyapu setiap inci kulit. Dari tadi Jingga merasa gelisah di atas tempat tidur. Moodnya pun semakin sulit untuk dikendalikan, bahkan perasaannya kini menjadi dilema yang susah untuk diartikan oleh hatinya. Ntah diakui atau tidak, ada rindu yang menyelinap diam-diam dalam hatinya, meski kemarahan dan kecewa itu lebih besar dari sekedar rasa rindunya saat ini.
Berlahan dia mulai terisak akan dilema yang dia rasa. Tangan mungil itu pun kembali memeluk dan meremas guling, tangisnya mulai tergugu diantara malam yang semakin sunyi.
"Mas Alan, ....hik hik hik. Apa kamu pernah memikirkanku walau sejenak? " Hati kecilnya tetap tak bisa di pungkiri jika dia tak bisa melupakan Alan begitu saja. Rasa yang bercampur membuatnya malah sulit untuk menghentikan tangisnya.
Perutnya terasa lapar tapi mulutnya begitu enggan untuk memakan sesuatu, selera makannya begitu rusak bersamaan kekacauan dalam hidupnya akhir akhir ini.
Masih dengan mata sembab, Jingga beranjak dari tempat tidur untuk membuat coklat hangat yang biasa dia nikmati kala suasana hatinya sedang buruk.Tangannya mengaduk pelan coklat panas, tatapannya menerawang dengan suara denting gelas dan sendok yang saling bersahutan.
"Mas Alan, biasanya kamu yang membuatkan aku coklat hangat saat aku tidak baik baik saja. Kamu memang perhatian padaku, meski kamu tak pernah mencintaiku. "Jingga kembali menangisi perasaannya yang tidak pernah terbalaskan, merasakan rasa kecewa karena pernikahan itu tidak bisa merubah perasaan seseorang yang sudah dicintainya sejak lama.
###
Masih dengan menatap hiruk pikuk ramainya kota, lelaki yang saat ini berdiri di dekat jendela kantornya pun enggan untuk beranjak. Tidak ada keinginannya untuk pulang, rumah terasa sepi bahkan hanya bayangan Jingga yang semakin membuatnya merasa bersalah karena kejadian itu.
Jingga...
Banyak hal yang dia cemaskan pada perempuan yang sudah menyita semua perasaan dan pikirannya itu.
Aku merindukanmu Jingga Andini....
Kalimat itu yang selalu dia gumamkan setiap kali mengingat istrinya. Tidak pernah dia merasakan kekacauan pada logikanya seperti saat ini karena perasaan mencintai seseorang.
"Selamat malam, Pak Bos! " sapa Dave yang tiba tiba berada dalam ruangan membuat Alan tersadar dari lamunannya.
"Hae, ada apa datang ke sini? " tanya Alan saat Dave menghampirinya di dekat jendela.
Lelaki berwajah oriental itu terkekeh saat mendengar pertanyaan sahabatnya.
__ADS_1
"Aku ingin mengajakmu ke club, menghilangkan frustasi karena di tinggal istri kecilmu itu! " jawab Dave masih tersenyum cemeh ke arah Alan.
"Aku lagi malas main ke tempat yang membuatku tambah pusing. Lagian, besok pagi aku akan berangkat survey lokasi untuk proyek pembuatan Mall. " jawab Alan dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Aku senang kamu kembali menjadi workholic, dengan begitu kamu bisa melupakan Jingga! " ujar Dave mendapat kekehan sinis Alan.
"Mana mungkin? Aku malah semakin Merindukannya. Entahlah, hatiku semakin tidak bersahabat. Ada perasaan yang lebih saat ini dari sekedar mencintainya! " Ya, Alan merasa ada yang lebih spesial kali ini, saat dia memikirkan Jingga.
"Hahhaha sejak kapan kamu jadi secemen ini, Bro. Dimana Alan yang aku kenal? Kenapa perasaan mengalahkan logikamu? Ayolah, di club kamu akan mendapatkan yang lebih cantik dan seksi dari Jingga. " Dave berusaha mencuci otak sahabatnya agar mau menemaninya bersenang senang.
"Kamu tidak tahu rasanya mempunyai istri, memiliki tanggung jawab, perasaan memiliki seperti dia bagian dari dirimu, apalagi saat kamu memimpikan untuk mempunyai banyak anak darinya. Semua begitu istimewa lebih dari sekedar kata cantik dan seksi yang akan pupus oleh usia. " jawab Alan dengan tatapan menerawang membayangkan Jingga dan anak anak mereka yang sangat merepotkan dan membuat gaduh suasana rumah. Tapi, kenyataan Jingga meninggalkannya kembali menyurutkan senyumnya.
"Wwwaaahh...kamu seperti fotocopiannya Eyang Putri. Pemikiran yang cukup kolot. "
" Tapi sangat fundamental, Kan?" sela Alan membalas ejekan Dave yang dikenal sebagai cassanova.
"Terus bagaimana informasi tentang Jingga? "
"Baiklah aku akan ke club, teman teman sudah menungguku di sana! " ujar Dave dengan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Aku juga akan pulang saja. Persiapan untuk untuk suvery lokasi besok pagi. "
Ketukan sepatu pantofel mereka yang saling bersahutan menggema memenuhi kantor yang sudah sepi. Dua lelaki dengan perawakan hampir sepadan itu memilih keluar dari kantor bersama sama.
Alan mendengus kesal, saat seorang wanita yang mengenakan dress sepan dengan high heel masuk ke dalam dan berjalan ke arahnya.
"Bang, bisakah kita bicara? " ucap Maya saat mereka saling berhadapan.
"Tangani Dave! " ujar Alan yang berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"Bang, dengerin aku! Abang nggak bisa seperti itu denganku! " teriak Maya menatap punggung Alan yang semakin menjauh. Perempuan bertubuh seksi itu berusaha memberontak untuk melepaskan cengkeraman tangan Dave.
"Hae, berhenti mengejarnya! Lebih baik kita bersenang senang saja di club." ujar Dave membuat Maya menatapnya tajam. Maya dibuat kesal oleh Dave karena menahan nya saat ingin mengejar Alan.
###
Masih dengan mengemudikan mobilnya menuju lokasi yang akan dibuat proyek pusat perbelanjaan, Alan masih memikirkan hal yang akan terjadi jika Eyang Putri dan Bu Sasmita tahu permasalahan Jingga yang menghilang. Tidak mungkin dia bisa menyembunyikan permasalahan ini terlalu lama. Satu satunya hal yang harus di lakukan adalah menemukan Jingga secepatnya. Tapi, bagaimana caranya.
Hampir dua jam perjalan, lelaki yang saat ini terlihat lebih kurus tapi masih terlihat keren dengan kaca mata hitamnya itu pun melirik ke spion. Dia baru menyadari jika mobil jaz berwarna putih itu sudah membuntutinya sejak tadi.
Alan terhenyak kaget saat mobil jaz itu menyalip dan menghadangnya tepat di tepi jalan yang cukup lenggang oleh kendaraan. Lelaki yang saat ini menggeretakkan rahangnya itupun segera turun dengan sangat emosi.
"Turun...! " Alan mengetok pintu mobil itu. Tapi, hal yang sangat tidak dia ingin pun terjadi.
Maya...
Maya keluar dari mobil, dengan gesitnya menahan lengan kokoh itu agar tidak pergi.
"Please Bang, jangan lakukan ini padaku. Aku mencintaimu, Bang! Aku rela jika harus jadi simpanan Abang. Atau kita rahasiakan hubungan kita dari Jingga. Aku tulus mencintaimu, Bang. " mendengar rengekan itu membuat Alan serasa muak.
"Pergilah, Aku tidak akan mengkhianati istriku. " tegas Alan. Maya yang sudah menatapnya dengan mata berkaca kaca itu pun langsung memeluk erat Alan.
"Apa apaan ini, May! " merasa malu dengan perlakuan Maya membuat Alan berusaha melepaskan pelukan yang terasa erat itu.
"Lepaskan, May! Jangan mempermalukan diri sendiri! " ucap Alan, tangannya berusaha mendorong tubuh Maya agar menjauh. Sementara tatapannya mengedar melihat orang orang yang ada di sekitar.
Deg...
Seperti tak percaya, Mata peraknya mendapati perempuan mungil yang selama ini dia cari kini sudah berdiri mematung menatapnya dengan butiran kristal yaang mengalir deras dari kedua bola matanya.
__ADS_1
Bersambung