Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
40. Tampilan Abad Ke-18


__ADS_3

Alan masih betah duduk di pendopo bagian belakang rumah Eyang Putri. Tangannya masih menscroll layar ponselnya, membaca beberapa pesan yang dikirimkan oleh Raka yang membahas soal pekerjaan. Ya, dia sudah bilang pada Raka jika ambil cuti tiga hari.


Jingga yang masih merasa kebingungan tidak membawa baju ganti pun kini menghampiri Alan.


"Mas Alan, aku gk punya baju ganti! Ini gimana?" keluh Jingga saat berada di dekat suaminya.


"Pakai yang di lemari! " jawab Alan masih menatap ponselnya. Membuat Jingga merasa dicuekin.


"Rela? " cebik Jingga yang kesal karena dicuekin. Dia yakin kalo Alan tidak akan membiarkan dia memakai lingerie di sembarang tempat.


"Pake kebayanya Eyang! " saran Alan membuat Jingga memutar bola matanya. Membayangkan saja pasti terlihat aneh.


"Mana bisa? Nggak mau ! " Sungutnya dengan menjatuhkan dirinya di sebelah suaminya.


"Lah mau beli, terus belinya di mana? " Alan mendesah, meletakkan ponsel nya di meja kemudian menyandarkan punggungnya di kepala kursi.


"Sebentar...!" Alan meninggalkan Jingga yang masih cemberut karena sejak semalam dia belum ganti baju.


Sesaat kemudian, lelaki berkulit putih itu membawakan tumpukan jarit dan atasan kebaya.


"Pake ini aja! Pasti cantik. " Alan menarik tangan Jingga memaksa agar Jingga mau menerimanya. Lelaki yang masih menyematkan senyum liciknya itu pun kembali duduk di sebelah Jingga.


"Mas Alan, aku nggak mau pakai ini! Ini seperti nenek nenek banget. " Membayangkan orang jaman abad delapan belas membuat Jingga semakin tidak ingin memakainya.


"Aku aduin ke Eyang lo, bilang mirip nenek nenek, Mumpung Eyang ke sini! " Terlihat Eyang Putri berjalan ke arah mereka.


" Nggak mau....! "Jingga masih berusaha menolak.


"E-y...." Kalimat Alan menggantung,karena seketika Jingga melompat ke atas kursi dan membekap mulut Alan dengan kedua tangannya dari belakang.


"Awas... Kalau sampai mengadu jika bajunya mirip nenek, alamat nganggur setahun! " bisik Jingga yang kemudian di jawab Alan dengan anggukan. Setelah mendapat jawaban dari Alan, membuat Jingga kembali dengan posisi duduknya.


"Eh, kenapa kalian pada belum mandi? Ini udah hampir jam sarapan! " ujar Eyang Putri mengingatkan. Ya, apapun di rumah Eyang Putri memang diatur sesuai jam.


"Sana mandi duluan kamu, Ngga! " Ucap Alan dengan menyerahkan kebaya sambil tersenyum misterius, membuat Jingga hanya bisa pasrah karena tak enak dengan Eyang Putri. Huh, rasanya pengen dijitaknya saja kepala suaminya.


"Eyang, bagaimana kondisi, Eyang? " tanya Alan setelah kepergian Jingga. Wanita sepuh itu memang sudah terlihat lebih segar.

__ADS_1


"Wes penak( udah baikan)." jawab Eyang Putri dengan mendudukan tubuhnya di samping Alan.


" Eyang, bagaimana jika Eyang tinggal bersama kita di kota?" Masih berusaha membujuk Eyangnya meski selama ini selalu mendapatkan penolakan.


"Ora - ora... Aku di sini wae. Aku Ora opo opo, di sini banyak orang. Santoso sama Aseh iki wes koyok anaku dewe! Ojo kwater, Eyang cuma kangen sama kamu, Cah Bagus! " tolak Eyang, beliau memang ingin menghabiskan waktunya di rumah tua itu karena banyak kenangan bersama almarhum suami dan anak perempuannya(Mama Alan) yang sudah tiada.


"Alan kepikiran, Eyang! " Masih membujuk Eyang Putri.


"Nggak opo opo(nggak apa apa), cuma Eyang maunya kalo libur kalian main ke sini aja! "


"Iya, Eyang..." Alan sudah mengerti alasan Eyang putri menolak ajakannya.


Setelah berbincang serius dengan Eyang Rumana, Alan pun masuk ke dalam kamar, bermaksut mengantri kamar mandi dengan istrinya.


Sambil menunggu Jingga keluar dari kamar mandi, Alan merebahkan tubuhnya, kedua tangannya ditekuk menjadi tumpuan kepalanya.


"Jingga, pasti akan senang jika menginap di rumah Bu Sasmitha! Di sana juga pasti masih banyak baju bajunya. " pikirnya, jadi mungkin sore nanti dia merencanakan untuk langsung ke rumah Bu Sasmitha.


Suara pintu kamar mandi terbuka, munculah Jingga yang benar-benar menggunakan jarit dan atasan kebaya milik Eyang. Bibirnya mengerucut menahan kesal, karena nggak punya baju ganti yang lebih layak dan mudah untuk dibuat jalan.


"Wuihhh cantiknya istriku! " goda Alan dengan senyum kekinya saat melihat Jingga keluar dari kamar mandi, lelaki itu langsung bangkit mendekati istrinya yang sudah berdiri di depan cermin. Tak peduli dengan keberadaan suaminya yang ada di dekatnya, tangan mungil itu masih menyisir rambut hitamnya.


"Pergi sana! jangan menggangguku, aku sedang kesal. " peringatnya pada sosok yang masih tersenyum-senyum menatap bayangannya di cermin.


"Baiklah! " ucapnya kemudian langsung memfungsikan kamera ponselnya.


"Mas Alaaaannn.... Mana ponselnya? Mana?" Jingga berusaha mengejar Alan yang sengaja menggodanya. Lilitan kain jarit memang membuatnya kesulitan untuk melangkah. Tapi dia juga tidak ingin jika suaminya hanya mengoleksi foto foto jeleknya, seperti yang pernah dia pergoki, foto mulutnya yang sedang menganga dijadikan wallpaper.


"Aku nggak Terima, kalo njepretya pas aku jelek! Mana...kasihkan ponselnya" Masih berusaha mengejar Alan dengan langkah yang kwalahan dan sebuah tragedi pun terjadi.


" Buggghhh...?


"Aduhhh...! "


"Dugh... Pyaaaarrr! " Tubuh Jingga terjatuh menyenggol sebuah meja hingga terguling dan pmenjatuhkan beberapa keramik yang menjadi pemanis ruang kamar. Namun, sebuah lampu tidur yang menjatuhi jidatnya kini harus membuatnya meringis kesakitan.


"Ya Allah, maaf... Maaf, Sayang! " ucap Alan segera membantu tubuh yang sudah tertidur tengkurap di lantai itu untuk bangun. Tentu saja Jingga menangis dengan ringisan kesakitan, karena jidatnya yang berdarah akibat benturan lampu tidur yang menimpanya.

__ADS_1


"Jahat...! " Hanya kata itu yang terucap untuk mengumpati Alan.


"Drt drt ... Drt... Drt...! " Tangannya menggapai ponsel yang saat itu sudah bergetar, sementara Alan sudah membawakan kotak obat untuk mengobati kening Jingga yang berdarah.


"Halo... " Masih dengan menangis, Jingga menjawab panggilan video call dari Tyara, di sana juga terlihat Daniah.


"Hae, kamu kenapa itu?" tanya Daniah dari sebrang membuat Jingga melirik tajam Alan yang masih memplester keningnya.


"Aku terjatuh! " jawab Jingga masih dengan bersungut kesal, melirik Alan yang juga menatapnya.


"Jatuh drama atau jatuh benaran, baju lo kyk pree wedding saja! " goda Tyara yang juga melihat Alan selesai mengobati Jingga.


"Preewed gundulmu, ini jatuh benaran, ini juga bocor beneran. " Sambil menunjukkan keningnya yang sudah selesai diperban. Mendengar keseriusan Jingga terdengar gelak tawa dari kedua sahabatnya yang ada di sebrang.


"Jahat banget si...! dengus Jingga bertambah kesal.


" Maaf! Oh ya, kita habis KRS an ini. Kamu kapan, Ngga?"


"Lusa aku baru pulang, mungkin langsung ke kampus buat KRS an! "


" Cepet balik, kita udah kanget berat, Nih! "


"Iya ya... Aku tutup dulu, sampai ketemu, daaaa....!" Jingga melambaikan tangan ke arah kedua sahabatnya. Kali ini dia hanya mendesah, menatap Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi, karena merasa kesusahan untuk berdiri.


"Siap, tunggu sebentar! " ujar Alan yang sudah mengerti maksud tatapan Jingga ke arahnya, tatapan kesal Jingga ke arahnya sebenarnya ingin membuatnya tertawa tapi takut dosa.


Setelah, meletakkan sisirnya Alan mendekati Jingga yang masih duduk di lantai, Dari tadi dia masih glesoran di lantai menunggu Alan membantunya untuk bangun.


"Manja amat! " gumamnya sambil mengangkat tubuh Jingga dan akan membawanya ke ruang makan untuk sarapan.


"Dari pada tidak punya akhlak! " sindir Jingga yang sungguh kesal dengan Alan.


"Diturunin nih? " Maksut Alan masih mode becanda tapi ternyata membuat kekesalan Jingga semakin bertambah.


"Turunin saja! " Asli, Jingga benar-benar kesal. Keningnya masih terasa nyeri, bahkan tidak ada rasa bersalah sedikit pun yang terlihat dari Alan.


TBC

__ADS_1


Terima kasih banyak yang sudah berkenan membaca tulisan remehku 'Merindukan Jingga' yang masih punya vote boleh dong di berikan di Mas Alan dan Jingga. bunga juga nggak apa apa deh... maaf jika author hanya bisa memberikan yang seperti ini. hehehehehe.......


Selamat Menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan....


__ADS_2