
Jingga beranjak dari duduknya, tanpa berkata apapun dia berdiri dan memeluk tubuh lemah Sasmitha. Tangisnya tak bisa ditahan lagi. Beberapa saat merasa saling berpelukan, apapun yang terjadi mereka memang tak ingin berpisah lagi.
"Ibu, apapun kebenaran itu, Ibu tetap ibuku. Ntah ada hubungan darah atau tidak aku adalah anakmu yang telah Ibu sayangi. " bisik Jingga kemudian meregangkan pelukannya.
Ditatapnya wajah sayu itu, senyum Sasmitha melengkung di bibir pucatnya. Betapa lega hatinya saat rahasia yang sudah tersimpan selama dua puluh tahun kini sudah terbuka kebenarannya. Seperti menyingkirkan beban yang dipikulnya selama bertahun tahun.
Sasmitha menceritakan semuanya tentang latar belakangnya yang hanya seorang ajudan, hingga dia harus menjadi istri ke dua Cokro Raharjo dan menjadi Ibu dari Jingga Andini.
Tangis bahagia menghiasi suasana ruangan Sasmitha, bahkan Alan yang mendengar cerita itu pun ikut terharu.
"Terima kasih, sudah merawatku seperti ibu kandungku. Terima kasih sudah menahan rasa sakit hanya untuk membesarkanku. Aku Jingga Andini akan tetap menjadi anakmu seperti kemarin, Bu. Tidak peduli aku terlahir dari siapa, tapi aku tetap anakmu, Bu." ucap Jingga membuat hati Sasmitha semakin lega. Hatinya dipenuhi kebahagiaan yang tidak mampu di ceritakan lagi.
"Ibu, bolehkah aku meminta sesuatu? " Pertanyaan Jingga membuat Sasmitha kini mengernyitkan dahi.
"Tinggallah bersama kami! " ucap Jingga.
"Kami tidak ingin ada penyesalan lagi. Aku ingin kita selalu bersama, Bu! " sahut Alan, dia sangat menyesalkan masa tua Eyang Putr yang harus beliau lalui dengan kesepian tanpa harus ada yang menemaninya, apa yang diharapkan orang tua selain ada yang mau menemaninya? Orang tua memang tidak pernah mengeluhkan apapun pada anaknya asalkan bisa melihat mereka bahagia itu sudah lebih dari cukup. Tapi membayangkan posisi mereka tanpa pasangan dan anak cucu pastilah sangat kesepian.
"Baiklah, anak anakku! Peluk Ibu sekarang. "ucap Sasmitha dengan air mata yang mengalir. Rasanya dia sangat rapuh dengan rasa sayangnya pada anak menantunya.
Betapa bahagianya Sasmitha saat ini, mempunyai anak soleh tidak harus melahirkannya tapi mereka yang sudah membalas semua kasih sayangnya.
###
Setelah kejadian yang nyaris memisahkan seorang ibu dan anak, akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Kesepakatannya adalah tinggal di rumah keluarga Hadinoto, termasuk Bi Murthi yang sudah menjadi saksi perjalanan cinta Alan dan Jingga, bahkan wanita paruh baya itu sering memberi banyak nasehat.
Jingga yang merengek selalu bilang lebih nyaman dengan desain rumah minimalis mereka membuat Alan merombak sebagian besar rumah peninggalan keluarga Hadinoto. Sasmitha sendiri hanya pasrah saja asalkan Jingga bahagia.
__ADS_1
Butuh pemikiran yang matang agar rumah peninggalan itu bisa berubah tanpa meninggalkan kesan klasik dan banyak kenangan di sana. Ornamen rumah lama masih digunakan oleh Alan untuk memberi nilai klasik.
Butuh waktu berbulan bulan, untuk mewujudkan keinginan istrinya, penambahan kolam renang dan beberapa spot nongkrong yang nyaman. Dia tahu yang penting bagi istrinya adalah tempat nyaman untuk bisa bercengkerama bersama keluarga.
###
Suatu sore, sepulang kerja Alan melihat Jingga berjalan ke samping rumah dengan membawa segelas jus di tangannya. Alan hanya tersenyum saat melihat perempuan bertubuh mungil kini perutnya harus membuncit karena ulahnya. Rasanya geli sekali saat memikirkan itu, tapi jika diledek hasilnya bumil satu itu pasti akan ngamuk ngamuk.
"Mas Alan, kapan pulangnya? " tanya Jingga saat melihat kehadiran Alan di depannya.
"Barusan, melihat perut buncitmu membuatku tidak tahan untuk tergoda! " ucap Alan kemudian menundukkan tubuhnya mencium perut Jingga.
Alan mendudukan tubuhnya di kursi panjang yang di tempati Jingga.
"Bagaimana kuliahmu? Kapan kamu mulai cutinya? " tanya Alan dengan memijat kaki istrinya. Perut yang membuncit membuat kaki Jingga sedikit membengkak.
"Resiko sayang! "
"Tapi, Mas Alan akhir akhir ini sangat sibuk, ada proyek apa si yang membuat mas Alan jadi kelihatan tua kayak gini! " Jingga menggoda Alan dengan mengelus-elus rahang Alan yang bulu di sana terlihat semakin menebal. Alan hanya mendengus kesal saat mendengar kata 'tua' , meskipun kesal tapi tangan besar Alan masih saja terus untuk memijit kaki wanitanya.
"Mas...! " Jingga bangkit dan menahan tangan Alan.
"Perutku mulas, Mas! " ucap Jingga.
"Pasti kamu akan melahirkan, Sayang! " Alan bergegas menggendong Jingga, dia yang selalu membaca artikel seputaran ibu hamil dan balita pun kini sudah faham dengan reaksi yang dikeluhkan Jingga.
Alan menggendong Jingga dengan terburu buru menuju mobil, " Bi, tolong bilang Ibu, jika Jingga akan lahiran! " ucap Alan saat melewati Bi Murti. Alan terlihat panik saat melihat Jingga yang meringis menahan sakit.
__ADS_1
"Sabar, sayang! " ucap Alan di tengah perjalanan dengan mengelus perut Jingga yang terasa mengejang.
Di dalam sebuah ruangan, Alan tidak melepas sedetik pun genggamannya dari tangan istrinya. Jingga yang berjuang menahan rasa sakit dari pembukaan satu ke pembukaan berikutnya membuatnya tidak tega. Sesekali dia mengusap peluh yang membanjir di wajah ayu istrinya.
Sudut matanya ikut menetes air mata saat melihat Jingga merasakan kesakitan yang teramat sangat. Tidak hanya satu jam atau dua jam. Hampir lima jam proses seperti itu terus berlangsung, membuat Alan tidak tega melihatnya.
"Fokus ya bu... dorong sekuat tenaga! " ucap seorang bidan yang di dampingi dokter obgyn rumah sakit bersalin kini membantu memberi instruksi saat Jingga sudah berada di pembukaan terakhir.
"Aaaaarghhhhh..... " teriak Jingga bersamaan tangis bocah yang menggema di seluruh ruangan. Seketika tubuh Jingga meluruh lemah, Alan pun menangis menghujani Jingga dengan ciuman yang bertubi tubi.
"Putrinya sangat cantik, Pak! Bapak Bisa Meng adzani sekarang. " Alan menerima putrinya dengan sedikit bergetar ada rasa bahagia saat melihat putri mungilnya yang mempunyai mata perak sepertinya. Alan mengadzani putrinya kemudian menyerahkan kembali pada perawat dengan memberi nama Sekar Ayu Putri Mahesa.
"Sayang, Putri kita sehat. Dia cantik seperti dirimu dan dia juga memiliki mataku. " ucap Alan seperti tidak ada bosannya menghujani istrinya dengan ciuman. Jingga hanya tersenyum, rasa bahagia menjadi seorang ibu kini dirasakannya dengan tubuh yang sangat lemas.
"Terima kasih, sudah berjuang untuk melahirkan putri cantik kita " lirih Alan, rasa bahagia yang membuncah membuat air matanya berhasil lolos.
Alan's Pov
Rasanya aku tidak tega saat melihat perjuanganmu melahirkan putri kita, aku tidak bisa membayangkan rasa sakitnya. Saat nafasmu tersengal karena menahan rasa sakit, saat itu aku merasa detak jantungku pun ikut terhenti. Eranganmu menahan sakit setiap waktu seperti menyayat hatiku, keringat yang terus mengucur deras membuatmu terlihat sangat lelah. Melihatnya saja aku bisa mengerti kesakitanmu yang teramat sangat.
Tapi kamu perempuan hebat hingga putri kita terlahir dengan sehat.
Terima kasih sudah berjuang untuk buah cinta cinta kita.
End...
masih ada extra part ya....
__ADS_1