
"Keluar, cepat keluar! " dengan kasar Salah satu diantara mereka menggedor kaca jendela mobil. Nampak juga mereka membawa senjata berapi.
"Keluar.... " Sekali lagi mereka menggedor kaca mobil dan berteriak untuk dibukakan pintu mobil.
Dengan sigap Sasmitha mengambil sepucuk pistol, membuka pintu mobil dengan paksa membuat orang di luar terpental jauh.
"Jangan macam-macam, Nyonya! " hardik salah satu diantara mereka dengan mengarahkan Senjata api di kepala Jingga. Terlihat Jingga begitu gugup mengikuti perintah orang yang menyandranya.
"Siapa kalian sebenarnya? " tanya Sasmitha masih belum mengerti tujuan menghadang dan menyandra Jingga.
"Ibu....! " suara Jingga bergetar, rasa takut yang mendera membuat tubuhnya terlihat gemetaran, keringat mengucur di dahi putihnya, bisa terlihat raut wajah itu begitu panik.
Suasana menjadi sepi, terik mentari yang menyengat pun terhalang dengan rerimbunan pohon yang berjajar di sepanjang jalan, berlahan Jingga menggeser tubuhnya sesuai dengan perintah. Sementara Sasmitha tak bisa berbuat apapun kecuali melihat putri kesayangannya itu terlihat ketakutan.
"Aduh...! " rintih Jingga dengan memegangi perut bawahnya yang terasa menegang, sejenak dia berhenti bersandar di body belakang mobil, hingga rasa sakit di perutnya sedikit mereda.
"Jingga...jangan sakiti anaku!" hardik Sasmitha saat melihat wajah Jingga meringis kesakitan. Rasanya dia tidak tega melihat Jingga sedang menahan sakit. Tapi Sasmitha tidak bisa berbuat apapun karena pucuk pistol itu selalu mengarah di kepala Jingga.
Sebuah sedan berwarna metalic berhenti di lokasi perseteruan mereka, seseorang memaksa Sasmitha masuk ke dalam mobil, sedangkan mereka membawa masuk Jingga ke dalam mobil fortuner bersama tiga orang berperawakan besar itu.
"Lepaskan.... " teriak Sasmitha saat masuk ke dalam mobil. Masih berusaha memeberontak, hingga dia menyadari jika Wirya yang sudah merencakan semuanya.
"Bagaiamana? " pemilik suara itu membuat geram sasmitha. Sasmitha pun duduk bersebelahan dengan Wirya di dalam mobil yang berhenti di pinggir jalan.
"Lepaskan putriku, Mas! Aku bisa berbuat apa saja jika dia lecet sedikit saja. " ancaman Sasmitha membuat lelaki bertongkat itu tertawa.
Sebentar saja dia menertawakan ancaman Sasmitha, karena iki tatapan menusuk itu tertuju pada wanita yang menjadi kunci untuk membuka harta karun milik keluarganya.
"Serahkan semua surat surat penting kepemilikan Jingga! Jika tidak, aku bisa menghabisinya kapanpun." keseriusan kini nampak di wajah tua yang sudah keriput itu. Sasmitha pun terdiam. Apapun itu Jingga tidak boleh dalam bahaya.
__ADS_1
"Baiklah, besok aku akan memberikannya, tapi dengan jaminan keselamatan Jingga! " Kali ini Sasmitha terpaksa menuruti apa yang diinginkan kakak iparnya, karena dia tidak ingin mempertaruhkan keselamatan jingga. Putri ke sayangannya itu lebih dari segala-galanya di dunia ini.
"Setuju! jika sudah siap kabari aku. Aku akan menentukan lokasi dimana kamu bisa menyerahkan harta karun itu." Lelaki itu dengan tenang mengakhiri kesepakatan bersama Sasmitha. Ada kepuasan bagi Wirya, karena sebentar lagi harta keluarga Hadinoto akan menjadi miliknya sepenuhnya.
Sasmitha dilempar keluar salah satu bodyguard. Wanita paruh baya itu menatap menatap sedan berwarna metallic itu menjauh, kini tinggal hatinya yang cemas memikirkan keselamatan Jingga.
"Mas Wirya keserakahanmu akan menghancurkanmu! " rutuk sasmitha, dia kembali mendekati mobilnya dan meluncur ke suatu tempat dimana dia bisa mengambil surat surat kepemilikan harta atas nama Jingga Andini.
###
"Jingga kemana kamu? " beberapa kali Alan mencoba menghubungi Jingga selalu saja tidak terhubung. Rasa cemas mulai mendera hingga dia tidak fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan.
"Assalamuaikum, Bi. " Alan mencoba menelpon rumah. Siapa tahu Jingga di rumah saja.
"Waalaikum salam. " Bi Murti menjawab panggilan Alan.
"Jingganya ada? "
"Ya sudah kalau begitu, kalau sudah pulang bilang untuk mengaktifkan ponselnya. " Alan kembali menutup panggilannya, seharusnya dia lega mengetahui Jingga bersama Bu Sasmitha. Tapi entah kenapa hatinya malah semakin gelisah.
"Bang! " panggil Raka di depan pintu bermaksut untuk meminta ijin masuk.
"Masuk, Ka! " jawab Alan membuat lelaki jangkung berjalan mendekat ke arahnya.
"Bagaimana jika kita meninjau proyek pusat perbelanjaan di pinggir kota itu, Bang? Aku mendapat laporan jika akhir-akhir ini team pelaksana sering terkena palak preman setempat. " jelas Raka beberapa kali mendapatkan keluhan dari team pelaksana.
"Baiklah kita berangkat sekarang! Kita akan atur keamanan di sana. " Alan beranjak dari tempat duduknya, sesuai rencana mereka akan mendatangi proyek untuk masalah yang ada.
Raka melajukan mobil Jeep milik Alan, sementara Alan masih gelisah memikirkan keberadaan Jingga. Beberapa kali dia mencoba mengirim pesan ke no Jingga, tapi masih saja centang satu.
__ADS_1
"Bang, ada apa? Bang Alan terlihat gelisah sekali! " tanya Raka yang sejak tadi melihat kegusaran Alan.
"Ntahlah, perasanku sedang tidak enak. kepikiran Jingga terus! " jawab Alan dengan memutar -mutar benda pipih di tangannya, berharap Jingga secepatnya menghubungi.
"Ah, Abang ini, kayak remaja yang sedang jatuh cinta saja. " ledek Raka , tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan yang ada di depannya.
"Makanya cepat nikah! Biar tau rasanya punya istri sedang hamil." jawab Alan membalas ledekan Raka. Melihat Alan yang sudah terhipnotis dengan perasannya itu, membuat Raka ingin tertawa saja. Dia tidak mengira Alan yang seorang workholic dan sosok yang ambisius kini bisa klepek klepek karena mencintai seorang bocah.
"Tapi apa karena Mbak Jingga bocah itu ya, yang membuat Bang Alan jatuh cinta? Tapi untuk kelas Bang Alan mencari beberapa wanita tidaklah sulit." Raka hanya tersenyum senyum sendiri memikirkan dunia bosnya yang sudah jungkir balik itu bocah yang sudah dijodohkan dengannya itu.
"Jangan mikir macam macam, Ka! " Alan mulai curiga dengan kerja otak Raka yang membuatnya senyum senyum sendiri.
###
"Lepaskan! " teriak Jingga, saat seseorang menarik lengannnya dan memasukkan dirinya ke dalam sebuah ruangan yang cukup pengap.
"Siapa kalian? Buka pintunya!!!" Beberapa kali Jingga mencoba menggedor pintu, hingga akhirnya dia memilih merosotkan tubuhnya di lantai.
"Aduhhh.... " rintihnya sekali lagi, hingga akhirnya dia menselonjorkan kakinya untuk mengurangi rasa kaku di bagian perut bawahnya.
Sesekali tangannya mengusap peluh di dahi yang membasahi dahinya. Tubuhnya yang terasa lemas membuat Jingga memilih bersandar pada tembok, sementara tatapannya meneliti mencari tahu keberadaannya saat ini.
"Ya Allah, kita harus kuat ya, sayang!" lirih Jingga dengan mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Hanya rasa takut dan cemas yang saat ini sedang bergelayut dalam pikirannya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa seseorang sampai menyekapnya di sini. Ada apa sebenarnya?
Hening, tidak Ada suara apapun di sekitar, hanya suara hembusan angin yang berbisik menerpa dedaunan. Bagaimana Jika malam? Rasa takut akan gelap mulai menghantui karena dia tidak melihat adanya penerangan di ruangan yang sangat berdebu itu.
"Keluarkan aku! " teriak Jingga dengan menatap handle pintu, berharap seseorang mendengar teriaknya.
Beberapa menit kemudian, Sebuah langkah menyeret diiringi beberapa langkah lainnya kini terdengar semakin mendekat.
__ADS_1
Bersambung....