
Harap bijak membaca... Yang belum cukup umur skip aja ya....
Alan mengacak rambut basahnya dengan handuk setelah keluar dari kamar mandi. Mata peraknya kini tertuju pada Jingga yang masih tertidur meringkuk, "Mungkinkah semalam dia kurang tidur? " gumamnya kemudian berganti pakaian. Dia sudah hafal kalau sedang marah Jingga memang susah tidur.
Jingga menggeliat dalam selimut, kelopak matanya terbuka saat menyadari ternyata dia berada di tempat yang berbeda. Satu tangannya menutup mulut saat dia menguap ketika kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
"Sayang, kenapa bangun? " tanya Alan kemudian naik ke atas tempat tidur. Tangannya merayap ke tempat favoritnya yang sudah bagai candu baginya, yaitu di atas dada Jingga.
"Jangan macam-macam, Mas! Nanti keterusan... " Jingga memperingatkan Alan saat tangan besar itu sedikit memberi remasan di dadanya.
"Dikit saja, aku juga kangen. Dari semalam aku di marahin terus! Sudah saatnya di sayang sayang! " bisik Alan menggoda istrinya.
"Habisnya keterlaluan, sih. Sebentar lagi jadi 'Papa' kenapa tidak menjadi contoh yang baik? Malah keluyuran di club Malam. " Jingga bergerak memunggungi Alan, tapi masih dibiarkan saja tangan besar itu memijat dan meremas pelan area favoritnya.
"Dave yang memaksaku, Sayang."
"Paling Mas Alan juga seneng, di club malam kan gudangnya cewek seksi dan cantik! " jawab Jingga, meski dia memang sudah faham jika Dave adalah si pencuci otak yang paling handal.
"Sumpah, aku nggak memperhatikan itu. Satu saja udah bikin kewalahan kok! " ujar Alan menghujami tengkuk istrinya dengan ciuman.
"Ahhh... Mas Alan!" desah Jingga mulai merasakan gelayar aneh di tubuhnya. Setiap sentuhan dan remasan yang di lakukan Alan di setiap inci tubuhnya meloloskan desahan seksi dari mulut perempuan mungil itu.
Alan berhasil membuka beberapa kancing atas piyama Jingga, hingga menampilkan sesuatu di balik bra hitam yang membuatnya semakin bergairah. Bagi Alan, perempuan dengan tampilan tertutup akan jauh menggoda saat sedikit saja bagian pribadinya terlihat mengintip.
"You are so sexy, girl! " ujarnya dengan suara yang sudah serak. Bibirnya me***at lembut bibir tipis Jingga memberi sensasi yang begitu nikmat, berlahan menurunkan ciuman lembutnya di area favoritnya, membuat Jingga semakin menggila.
Jingga terbiasa menjadi pemeran pasif dalam setiap adegan panas mereka, meski begitu sedikit desahannya mampu membuat Alan semakin bergairah.
Pertempuran yang tidak direncanakan itu terjadi dengan sangat tenang dan berlahan.
"Iam so tired... " Beberapa kali Jingga merengek diantara desahannya meminta Alan untuk mengakhiri cumbuannya. Suara lirih setengah mendesah itu malah membuat Alan semakin bergairah.
Hampir tengah malam mereka mengakhiri kegiatan panas mereka. Seperti biasa, Jingga hanya terkulai lemas dalam dekapan tubuh suaminya setiap kali mengakhiri penyatuan nikmat mereka.
"Mas, di luar negeri kamu sering clubing? " tanya Jingga masih dengan mata terpejam. Dia mulai curiga sejak awal melakukan hubungan suami istri, Alan selalu dominan dan begitu berpengalaman.
"One night stand? " Mendengar pertanyaan Jingga membuat Alan meregangkan pelukannya.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu istilah itu? Kamu anak kecil jangan ikut-ikutan pergaulan yang nggak bener! " suaranya sedikit meninggi, dia tidak ingin Jingga terpengaruh hal buruk.
"Anak kecil gimana? Aku udah mau punya anak tahu! Lagian aku juga sangat berpengalaman, hampir tiap hari mas Alan ngajarin begituan!" Jingga membuka matanya, dengan wajah menengadah dia menatap wajah ganteng suaminya.
"Yang dapat stempel resmi sama masih ilegal itu beda, sayang! Kalau kita udah dapet stampel legal. " jelas Alan.
"Beda gimana? kok tahu perbedaan itu? Jangan jangan.... ! " Kebiasaan Jingga yang selalu mencecar pertanyaan hingga dia bisa menyimpulkan sesuatu dengan logikanya.
"Sumpah aku pertama melakukannya sama kamu, aku masih perjaka ting ting saat pertama kita melakukan itu! " Terkadang Pertanyaan Jingga yang impulsive membuat Alan harus menjelaskan panjang lebar sebelum terjadi kesalahan fahaman.
"Hahahahaa mana ada perjaka ting ting! " Jingga menertawakan istilah yang dibuat suaminya.
Alan beranjak turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri. "Habis mandi, harus mandi lagi deh! " gerutunya saat berjalan menuju kamar mandi.
"Mas, aku lapar! " ucap Jingga saat Alan berada di depan kamar mandi.
"Aku tadi bawa banyak makanan! "
"Aku lagi pengen putu ayu! " rengek Jingga membuat Alan mengernyitkan dahinya.
"Aku pengen banget! "
"Iya, nanti kita cari setelah mandi! " jawab Alan, tapi dia tak yakin bisa menemukannya di tengah malam.
Hampir dua Jam dia muter muter di tengah kota. Alan merasa, sepertinya tidak mungkin ada yang jual putu ayu saat malam begini. Di dalam mobil Alan melirik Jingga yang masih menatap ke luar jendela, berharap masih ada yang jual putu ayu.
"Sayang... besok ya, kita cari lagi! " ujar Alan, ketika tersadar mobilnya sudah menjauh dari kota.
"Sebentar... aku pengen banget makan putu ayu saat ini! " lirih Jingga, suaranya juga sudah hampir putus asa untuk menemukan makanan klasik itu.
" Ya sudah, kita pulang saja...! " Alan memutar arah mobilnya untuk kembali pulang, melihat Jingga kecewa rasanya tidak tega. Tapi, mau gimana lagi, jam menunjukkan pukul satu dini hari itu tandanya hari sudah berganti.
"Mas mas... itu kayaknya ada penjual putu ayu!" tunjuk Jingga saat berada di dekat rel kereta api.
Alan menghentikan mobilnya, "Kamu tunggu di sini saja! " titahnya, tapi sudah inginnya makan putu ayu, Jingga ikut turun mengikuti Alan.
"Sayang, kenapa turun?"
__ADS_1
"Pengen liat cara masaknya, dan aromanya sudah menggoda! " ucap Jingga dengan mengendus asap yang mengepul ke udara.
"Pak, kok sampai malam? " tanya Jingga tatkala menunggui kue itu matang.
"Sepi, Neng? Tapi saya berusaha dagangan saya laku, soalnya saya butuh uang! " jelas pedagang itu.
"Semua juga butuh uang, pak! Tapi kalau tengah malam mana ada yang beli kecuali orang ngidam kayak istri saya! " sahut Alan yang sering memergoki orang modus saat jualan.
"Anaknya saya opname di rumah sakit, jadi saya harus mencari uang untuk biaya administrasi. " Jingga mengiba sat melihat semburat kesedihan di wajah keriput itu.
Alan melirik istrinya yang mulai lebay. Hamil membuat Jingga begitu sensi, gampang nangis dan gampang ngamuk.
"Dompetnya Mas Alan mana? " tanya Jingga dengan tangan menengadah, meminta dompet Alan.
"Ini, Mas! " ujar penjual putu ayu dengan menyerahkan kantong plastik hitam ke arah Alan.
Jingga membuka dompet Alan, saat menghitung sepuluh lembar uang ratusan dia mengambil tujuh lembarnya untuk diserahkan pada penjual kue itu.
"Neng... kebanyakan! " ucap penjual kue itu hanya dengan melihat lembaran uang itu, sementara Alan dibuat mendelik dengan kelakuan istrinya itu.
"Buat bapak, anggap saja rejeki anak bapak! " ujar Jingga, tangan tua itu gemetar mengambil uang pembayaran Jingga. Alan terlihat shock melihatnya, kemudian menatap tajam Jingga.
"Semoga selalu ditambahkan rejekinya, di berikan kesehatan, keselamatan dan selalu bahagia! " saking senangnya bapak itu berkata dengan suara parau, matanya berkaca kaca menatap Jingga yang menarik lengan Alan Agar kembali ke mobil.
"Sayang.. coba kalau itu cuma modus? Tujuh ratus ribu lo, sedang putu ini paling lima puluh ribu! " dengan mengemudikan mobilnya Alan kembali memprotes tindakan Jingga. Bukan masalah uangnya. Tapi, Alan hanya tidak ingin terkena modus.
"Mas Alan nggak mau kan, Jika terlalu banyak pertimbangan dan pertanyaan dari malaikat saat akan masuk surga?"
"Tentu... "
"Maka jangan terlalu banyak pertimbangan jika ingin memberi atau melakukan kebaikan.Lagian bersyukurlah Mas Alan dikasih banyak rejeki! " jelas Jingga membuat Alan terdiam. Jingga memang benar dia tidak ingin Tuhan mempunyai banyak pertimbangan untuk memberinya surga. Ikhlas dan mengalir saja.....
Jingga yang tidak sabar pun memakan kue itu, sesekali dia memberi suapan pada Alan yang masih fokus degan jalan yang di laluinya.
Bersambung....
Sedikit ya... ?semoga nanti malam bisa up lagi, karena kemarin sudah mendapatkan hadiah dan vote dari readers tercintaku.Author tidak peduli berapa banyak pembaca 'Merindukan Jingga' Tapi author sangat senang saat membaca komen komen dari readers tercinta dan Melihat like kalian hehhe authornya memang sedikit lebay ya hahahaha 😂😂😂😂
__ADS_1