
Seperti tak percaya, Mata peraknya mendapati perempuan mungil yang selama ini dia cari kini sudah berdiri mematung menatapnya dengan butiran kristal yaang mengalir deras dari kedua bola matanya.
Jingga meninggalkan pemandangan yang menyakitkan itu dengan berlari kecil masuk ke dalam gang. Tubuhnya tiba tiba bergetar menahan tangis. Tangannya pun terasa dingin, gejolak dalam jiwa yang begitu hebat itu menguasai seluruh tubuhnya.
"Ngga... Jingga! " panggil Alan dengan mendorong kasar tubuh Maya hingga gadis berkulit putih membentur body mobilnya dengan cukup keras.
"Bang...! " teriak Maya saat melihat Alan berlari mengejar kemana arah perginya Jingga. Jika saja bukan karena acara arak arakan pemuda setempat, mungkin Maya sudah mengejar Alan yang terlebih dahulu berlari untuk menemukan keberadaan Jingga.
"Sial...! " umpat Maya saat seorang gadis tak sengaja menabraknya. Bahkan, beberapa saat kemudian jajaran pemuda pemudi itu menghalangi pandangannya untuk menemukan kembali Alan.
Dengan berlari, Alan mengejar Jingga yang sudah memasuki pintu rumah kontrakannya. Dadanya berdegup lebih kencang, bukan karena dia sedang berlari, melainkan semua rasa yang melebur saat melihat kembali Jingga.
"Ngga...! " panggilnya dengan mendekap istrinya dari belakang seolah menumpahkan kerinduan dan rasa cinta yang sudah cukup lama tertahan. Hidung bangirnya mulai mengendus wangi yang sangat dia rindu, membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Apa yang di lakukan Alan menghentikan Jingga yang akan membuka pintu rumahnya.
"Aku merindukanmu, Ngga! " lirihnya berbisik di telinga Jingga, membuat tangan dingin Jingga berlahan membuka tautan kedua lengan kokok Alan saat ini mendekap dirinya begitu erat.
Dengan menahan kepalanya yang terasa berdenyut, tubuh mungil itu berbalik menghadap ke arah seseorang yang membuat dirinya kecewa untuk kedua kalinya. Meskipun saat ini hatinya berdesir menahan segala rasa yang ada, tapi Jingga berusaha menatap Alan dengan tenang. Manik matanya kini jatuh tepat pada mata perak suaminya.
"Aku ingin kita bercerai, Mas! " kata kata itu meluncur bagaikan roket penghancur hati lelaki yang ada di depannya. Bahu bidang itu meluruh dan lemah seketika, tatapannya mengiba meneliti setiap guratan sendu yang terlukis di wajah istrinya.
"Apa, Ngga? " ulang Alan tak yakin dengan apa yang barusan dia dengar.
"Iya, Aku ingin kita bercerai! " dibiarkan tangan kokok itu memegang kedua bahunya. Tatapan matanya begitu dalam seolah meyakinkan jika dia tidak main main dengan keputusannya.
"Maksudnya apa, Ngga? Itu bukanlah keputusan yang benar. Kamu sudah salah faham ... " kalimatnya menggantung saat Jingga melepaskan kedua tangan Alan dari lengan kecilnya.
__ADS_1
"Dengarkan penjelasanku dulu! " bujuk Alan yang seolah kehilangan kekuatan setelah mendengar kata cerai yang terlontar dari bibir mungil itu.
"Tidak perlu menjelaskan apapun, Mas. Semua sudah terlihat begitu jelas. " Matanya berkaca kaca menatap wajah yang terlihat bingung dan mengiba di depannya. Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan keduanya, hanya sebuah rasa dilema yang kini meleburkan mereka dalam emosi masing masing.
"Semua tidak sep.... "
"Berhentilah memperuncing situasi. Biarkan hubungan kita berakhir sampai di sini agar kita tidak saling menyakiti lagi." tegas Jingga, suaranya bergetar karena rasa kecewa, sedih dan marah yang membuatnya tak bisa lagi tenang.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. " elak Alan, ada ketakutan saat membayangkan kehilangan perempuan yang saat ini jadi prioritasnya.
"Setidaknya biarkan aku menjelaskan semuanya, Ngga! "
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Aku lelah, pergilah! " pekiknya dengan suara yang menggema bersamaan dengan tangisnya yang mengguncang kedua bahunya.
"Pergi!!! Aku mohon pergilah, biarkan aku tenang...." Setelah suaranya yang memekik keras kini kalimatnya terdengar lirih. Isakan tangisnya yang terdengar histeris mendominasi setiap sudut ruang membuat Alan memilih memundurkan langkahnya.
Tubuh kecil itu terhuyun bersandar di dinding ruang tamu. Sejenak kemudian meluruh tidak kuat menahan segala beban yang ada.
"Pergilah, Mas! Aku ingin kita bercerai! Aku kehilangan cinta dan kepercayaan untukmu." ujarnya lirih masih dengan kepala bertumpu di kedua lengannya yang ditekuk di atas lutut.
Melihat Jingga yang begitu marah terhadapnya, Alan memundurkan langkahnya. Kalimat terakhir Jingga terdengar menyayat hatinya, sudut matanya kini ikut mengembun, apalagi saat melihat keadaan Jingga yang terasa mengoyak segala rasa yang sudah diberikan untuk perempuan yang saat ini terlihat terpuruk. Sesakit itukah Jingga? Melihat tangisan Jingga saja hatinya sudah merasa nyeri. Alan memilih pergi meninggalkan Jingga yang masih menangis, bahkan setelah kepergiaannya, tangisan Jingga berubah menjadi raungan yang menggema di seluruh ruangan. Matanya terasa gelap, kepalanya berdenyut bahkan tubuhnya yang lemah pun kini meluruh jatuh ke lantai.
Mata indah itu mengerjap, saat kesadarannya berlahan mulai pulih. Pandangannya mengedar menatap seluruh ruangan, manik mata hitam itu hanya mendapati wanita sepuh Bu Hani ibunya Bu Amira yang menungguinya dengan cemas.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Nak! " ucapnya saat melihat Jingga membuka matanya lebar.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? " tanya Jingga merasa bingung dengan kondisinya.
"Kamu pingsan, untung saja ada mas mas yang berwajah bule itu menolongmu. Dia juga yang memberi tahuku, bahkan dia membuatkan susu coklat untukmu! Ayo, diminum agar tenagamu pulih." penjelasan perempuan sepuh itu membuat Jingga terdiam.
Flashback Back
Mendengar raungan tangis Jingga, Alan berhenti melangkah keluar dari pagar besi berbahan stainless itu. Keraguan membuatnya kembali ingin melihat kondisi Jingga. Sudah tidak ada suara lagi, membuat Alan menjadi ragu untuk membuka pintu, takut akan membuat Jingga semakin terguncang saat melihat kembali dirinya.
Sejenak dia menghela nafas untuk memutuskan antara membuka pintu atau tidak. Berlahan tangannya memutar handle pintu agar tidak terdengar berisik, takut mengundang perhatian Jingga.
"Jingga... " teriak Alan saat melihat tubuh Jingga meluruh di lantai. Tanpa berfikir panjang Alan menggendong Jingga dan meletakkannya di tempat tidur, tangannya menggosok-gosok lembut tangan dingin Jingga, kemudian mencari minyak kayu putih untuk di balurkan di area hidung agar Jingga cepat tersadar.
Dengan hati cemas, Alan memanggil wanita sepuh yang sedang duduk di teras rumahnya yang bersebelahan dengan rumah kontrakan Jingga.
"Tolong, Jingga pingsan. " Bu Hani langsung beranjak mengikuti Alan yang kembali masuk ke dalam rumah. Sementara, Meminta Bu Hani untuk menunggu Jingga, Alan membuatkan segelas susu coklat kental. Dia merasa Jingga seperti kehilangan banyak tenaga, bahkan tubuhnya terlihat kurus dan lesu, lingkar hitam di sekitar matanya membuat Alan bisa menebak, jika Jingga kurang tidur.
Dengan membawa susu hangat ke dalam kamar, Alan menatap kembali wajah yang kini pucat dan terlihat lemah.
"Kenapa dia belum juga sadar? Apa aku harus membawanya ke klinik? " keluh Alan dengan rasa cemas saat melihat keadaan Jingga yang belum juga membuka matanya.
"Sebentar lagi dia pasti sadar! Aku lihat dia sering membuang makanannya, dia seperti tidak berselera! " jelas wanita sepuh itu dengan menggosok gosok telapak tangan Jingga dengan minyak kayu putih.
"Aku titip Jingga. Bujuk dia ke dokter, Nek! Aku harus pergi karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan! " ucap Alan dengan mengelus kening Jingga dan mendaratkan ciumannya di sana. Perlakuan Alan terhadap Jingga membuat Bu Hani penuh tanda tanya, siapa Alan sebenarnya.
Bersambung.....
__ADS_1