
Jingga berjalan mendekati Alan yang masih menikmati kopinya di dekat jendela cafe dengan backsound musik pop milik band ternama di tanah air
"Mas Alan...! " panggil Jingga membuat Alan menoleh ke samping saat tangan mungil Jingga menepuk bahu bidangnya.
"Ya ampun, Sayang. Kenapa sependek itu? " keluh Alan saat menoleh dan menatap lekat tampilan baru Jingga.
"Biar nggak kelihatan kurus banget, Mas! "
"Astaga....! " Alan hanya berdecak kesal. Bukan masalah kurus atau tidak, Jingga terlihat seperti anak SMA. Apa kata dunia???? Pedofil??? julukan itu yang sangat dia hindari.
"Jangan khawatir, Mas! Sekarang lagi musim sugar daddy." jawab Jingga dengan tertawa cekikikan, dia sudah bisa menebak apa yang menjadi masalah Alan dengan rambut sebahunya.Alan hanya mendengus kesal. sejak hamil istrinya kalau bicara kelewat ceplas ceplos.
Jingga memilih duduk di depan Alan, masih menatap suaminya menghabiskan kopinya, perempuan hamil itu masih menatap Alan dengan senyum yang tidak pernah surut.
"Kenapa? Kalau mau pesen pesen saja! " ucap Alan, sedikit kikuk. Ntah kenapa tatapan Jingga membuatnya malu. Wajahnya yang putih kini bersemu merah.
"Kenapa jadi malu, Mas? Biasanya juga malu maluin? " ujar Jingga masih menggoda Alan. Alan sendiri tak habis pikir kenapa merasa malu dan salah tingkah dengan tatapan istrinya yang menggoda itu.
"Ayo... katanya mau nyari rujak sama empek empek? " Alan berdiri kemudian berjalan menghampiri meja kasir. Masih dengan wajah tersenyum Jingga membuntut di belakang suaminya.
"Hari ini aku sangat bahagia...! " gumam Jingga saat menggandeng lengan Alan menuju pintu utama keluar mall.
Seharian, penuh mereka memutari kota, hanya untuk mencari apa yang di mau Jingga. Alan hanya menggeleng saat daftar makanan yang menurutnya tidak bagus jika di konsumsi terlalu banyak itu sudah berjajar di jok belakang.
"Sayang, aku tidak mau kamu memakannya semua! Itu terlalu banyak...! " Alan melajukan mobilnya memasuki kawasan komplek rumahnya.
"Tapi aku menginginkannya! "
"Aku mengerti, tapi sesuatu yang berlebihan itu tidaklah bagus. Kamu juga harus jaga kesehatan, jangan sampai terkena asam lambung saat hamil. "
"Baiklah! " sungut Jingga masih kemudian mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil. Mobil berbelok pada pagar besi yang terbuka separo. Di sana sudah ada marcy warna metalic terparkir di halaman rumahnya. Siapa? pikir Alan masih dengan penasaran.
__ADS_1
"Siapa, Mas?" tanya Jingga yang dia tahu itu bukan mobil Eyang Putri. Tapi siapa yang bertamu setelah kepergiannya yang cukup lama.
Mereka turun dari mobil, Alan membawa sebagian barang belanjaan Jingga, sedangkan Jingga sendiri memilih membawa makanan yang dia borong selama perjalanan pulang.
Masih dengan rasa penasaran Alan dan Jingga masuk ke dalam rumah.
"Ibu..! " di ruang tamu sudah ada Bu Sasmitha yang duduk di sofa. Tampilan sederhananya kini berganti dengan gaya elegant, belum lagi seorang lelaki berpenampilan formal pun berdiri tak jauh darinya.
Alan dan Jingga menatapnya heran, ini pertama kalinya ibunya terlihat berbeda. Bahkan, kharismatiknya mengedar menghipnotis atmosfir di dalam rumah.
"Sudah lama, Bu? " tanya Alan sedikit berbasa basi. Sedangkan Jingga langsung mencium tangani ibunya dan memeluk wanita paruh baya yang sudah dia rindukan.
"Anaku, apa kau baik baik saja! " ucap Sasmitha dengan menatap teliti keadaan Jingga.
"Aku baik baik saja, Bu! " jawab Jingga dengan seulas senyumnya, kemudian duduk di samping Bu Sasmitha.
"Jika, kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini, aku akan membawamu pergi, Ngga. " Mendengar Kalimat Sasmita Jingga dan Alan saling berpandangan. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Maksut Ibu apa? " tanya Jingga.
"Kalian tidak usah menutupi permasalahan ini. Aku sudah mengetahui semuanya, Skandal di kantor Alan's corp sudah menjadi konsumsi publik. " jelas Sasmitha.
"Bukan seperti itu ceritanya, Bu! saya bisa jelaskan. " sela Alan saat melihat istrinya sudah hampir menangis.
" Aku bukan Jingga yang akan menerima segala penjelasanmu begitu saja. Apa kamu bisa membuktikan kebenaran tentangmu? " tantang Sasmita, kata katanya begitu tajam hingga membungkam Alan. Iya karena Alan tidak punya bukti saat kejadian itu.
"Dari mana ibu tahu cerita itu? Kenapa Ibu mempercayai kabar yang nggak jelas asalnya? " Pembelaan Jingga untuk suaminya meluncur begitu saja bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir.
"Tentu saja dari seseorang yang bisa dipercaya, bahkan dia sangat tahu kondisi gadis yang di lecehkan suamimu saat ini! " jelas Sasamitha, masih menggunakan teka teki.
"Percayalah, Bu! Aku tidak pernah mengkhianati Jingga. " Alan masih berusaha untuk menceritakan kejadian sebenarnya.
__ADS_1
"Buktikan saja! " tegas Sasmita kini tatapannya beralih pada Jingga. Dia juga melihat Jingga yang terlihat lebih kurus dari saat terkahir dia melihatnya.
"Jingga ikutlah bersama Ibu! Kamu tidak akan kekurangan dan menderita lagi. " Suasana hening, hanya terdengar isakan tangis jingga, sementara Alan masih menggenggam erat tangan jingga. Sementara aura mereka saling beradu membuat suasana menegang.
"Bu ,tidak seperti itu caranya. Jingga istriku, Bu! Ibu sudah tidak berhak mencampuri rumah tangga kita. " Alan sudah tidak kuasa menahan kesabarannya, jika bukan karena mengingat beliau ibu mertuanya sudah dari tadi lelaki itu menghajarnya habis habisan.
"Dan kamu juga tidak berhak menyakiti putriku, putri yang selama ini aku besarkan penuh kasih sayang! " sorot mata tajam sasmita kini tertuju pada menantunya. Suasana kembali hening, kedua orang yang bersitegang itu masih berusaha meredam emosi masing masing, sementara Jingga hanya bisa menangis, karena menjelaskan sesuatu pada ibunya saat ini tanpa bukti adalah hal percuma.
"Sekarang keputusan ada padamu, Ngga! Ibu tidak rela kamu di sakiti dalam bentuk apapun!"
"Jingga bahagia bersama Mas Alan, Bu! "
Mendengar ucapan Jingga membuat Sasmita tersenyum cemeh, yang dia tahu dari dulu anak gadisnya terlalu mencintai lelaki berwajah Indo itu.
"Terserah apa yang kamu katakan, Ngga! sekarang pilihan ada padamu! " lanjut Sasmita mempertegas keputusan Jingga. Jingga tak mampu lagi berkata apapun, dia hanya sesenggukan dengan isakan tangisnya.
"Aku memilih bersama suamiku, Bu! " lirih Jingga, seketika membuat sasmita merasa kecewa dengan keputusan putrinya. Dia datang untuk membawa Jingga, setelah mendapatkan kabar skandal Alan dengan asisten di kantornya, bahkan Jingga sendiri melihat kejadian tersebut, ditambah lagi menghilangnya Jingga hingga sekian lama membuat Sasmita meradang. Dia bukan tipe orang yang bisa mentolerir sebuah pengkhianatan dalam bentuk apapun.
"Baiklah, kalo itu pilihanmu! Jika ada sesuatu dengan dirimu Ibu sudah tidak akan peduli! " Dengan perasaan kecewa Sasmita mengatakan semua pada putri tunggalnya. Beliau merasa Jingga lebih percaya pada suaminya dari pada ibu yang sudah membesarkannya.
"Ibu, Maafin Jingga! " Jingga berusaha menahan tangan ibunya, tapi dengan sigap Sasmita menepisnya membuat Jingga semakin merasa bersalah.
Melihat kepergian ibunya dengan rasa kecewa, tangisan Jingga semakin menjadi, Alan yang berusaha menenangkannya pun seperti tak berdaya. Pilihan yang sangat sulit bagi Jingga, keduanya adalah orang yang sangat berarti untuknya.
"Sayang...! " pekik Alan,dengan sigap lelaki yang masih menahan emosi itu menangkap tubuh Jingga yang seketika meluruh. Dengan rasa cemas Alan menggendong tubuh istrinya yang sudah tidak sadarkan diri untuk masuk ke dalam kamar.
Bersambung....
Hae haeee.... Yang masih merindukan "Merindukan Jingga" jangan bosan bosan ya! semoga author bisa rajin up kabur rasa malasnya untuk menyapa readers2 tercinta di next episode hehehehe
happy reading gaes 😍😍😍😍🤗🤩🤩🤩🤩
__ADS_1