
Jeep Wrangler itu memasuki halaman rumah dan langsung diparkirkan ke dalam garasi. Mereka sengaja pulang dari rumah Bu Sasmitha siang menjelang sore agar tidak terlalu larut malam untuk sampai di rumah.
Pukul tujuh malam mereka sampai di rumah, Alan meregangkan otot tangannya ke atas sebelum menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Menyetir selama empat jam membuat semua ototnya terasa kaku semua.
Jingga hanya melihat tubuh kekar itu tergeletak di tempat tidur dengan asal asalan. Mata peraknya terpejam seolah menghayati tubuhnya yang sudah lelah itu menikmati empuknya kasur berukuran king size.
"Mas, mau minum apa? Atau mau makan sekarang? " tanya Jingga membuat Alan membuka kelopak mata menatap istrinya yang sudah duduk di dekatnya.
"Ngga, pijit punggungku, gih! " titah Alan sambil menelungkupkan badannya.
"Red Brio jadi Civic, nih! " guraunya sambil tangannya mulai memijit punggung Alan.
"Mau civic apa surga? " tantang Alan dengan menatap ke arah istrinya.
"Dua duanya heee... Surga aja deh, black cardku pasti udah bisa buat beli marcy, itupun kalo aku benar benar mau. " jawab Jingga sedang memamerkan kartu andalannya yang sama sekali belum pernah dia pakai untuk belanja kecuali untuk rutinitas ke panti asuhan.
"Kamu aja yang pelit, uang bulananmu nggak pernah dibuat belanja. " sahut Alan masih dengan menikmati pijatan Jingga yang tidak terasa di punggungnya.
"Idich, aku bukannya pelit tapi berhemat. Tau definisi pelit? Pelit itu kalo di pakai sendiri sampai nggak ke hitung tapi kalo di kasihkan orang lain itung itungan banget." jelas Jingga yang tak mau dibilang pelit. Sebenarnya, Jingga hanya mengambil beberapa juta dari jatah bulanannya untuk di bawa ke panti asuhan tanpa sepengetahuan Alan.
"Kok pijitannya nggak kerasa, Ngga? Pijat ala Jepang saja. "
"Bawel amat, sich! " Jingga mencubit punggung keras itu sebelum mengalihkan pijatannya dengan pukulan pukulan ringan di punggung bidang itu.
"Kemarin kan, aku sudah bilang untuk pakai jasa sopir, Mas! Mas Alan juga kadang keluar kota juga, kan? Biar nggak terlalu capek! " Masih dengan memijit, Jingga terus menceramai Alan, karena sudah dari dulu dia menyarankan untuk menggunakan jasa sopir saat Alan harus meninjau proyek di luar kota.
"Nggak bebas, jika pakai sopir. "
"Nggak bebas? Emang mau selingkuh? " celetuk Jingga yang sudah suuzhon karena jawaban Alan.
"Bukan begitu, Sayaaaang..! Tau sendiri aku tidak terlalu suka mobilku di pegang orang asing." jelas Alan yang notabene sedikit introvate. Lelaki yang punya hobby traveling itu memang menjadikan mobil dan motornya sebagai sesuatu yang special.
"Mas, aku besok pulang dari kampusnya sorean banget ya?"
"Mau ngapain, KRS an kok lama? " selidik Alan penuh rasa penasaran.
__ADS_1
"Ada rapat BEM, sekaligus membuat proposal pengadakan barang! "
"Kenapa harus ribet ikut BEM, apalah itu!" Alan beringsut bangun dan duduk menghadap ke arah Jingga.
"Kenapa sih, nggak dukung banget istrinya maju!"
" Please deh, I just want to focus on me!" Alan seolah tak rela jika Jingga terlalu fokus dengan kegiatan kampusnya.
"Manja amat! Gitu kok ngatain aku manja! Boleh ya...! " Jika sudah memohon dengan wajah memelas, Alan seolah tak mampu untuk mengatakan tidak pada istrinya.
" Iya ya...Dasar! " Dicubit nya hidung mungil Jingga.
"Buatkan aku kopi, aku akan mandi sebentar! " Alan beranjak ke kamar mandi meninggal Jingga yang kemudian melangkah menuju pantry untuk membuat kopi dan menyiapkan makan malam.
###
" Pulangnya jangan sampai malam! " pesan Alan saat motornya berhenti tepat di depan fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan.
"Iya, Mas. " Jingga mengambil punggung tangan besar itu untuk salim.
"Iya, bawel! " balas Alan dengan mengacak rambut hitam milik Jingga. Setelah melihat Jingga berjalan menuju gedung fakultasnya, Alan kemudian melajukan motornya meninggalkan kampus itu menuju ke kantor.
Kampus yang masih ramai dipenuhi simpang siur anak yang yang sedang KRS an membuat gedung sekretariat sesak oleh mahasiswa.
"Jingga, apa kabar?" Arga yang sudah berdiri di dekatnya membuat Jingga menoleh karena sapaannya.
"Oh, kak Arga. Masih KRS an ya?" Sambil menampilkan senyum di wajahnya, Jingga menjawab pertanyaan Arga. Ada rasa tidak enak, karena hanya masalah cowok yang saat ini ada di depannya, dia harus kehilangan teman.
"Semoga ini KRS an yang terakhir! Nanti sore jangan lupa ya, rapat BEM!" ujar Arga mengingatkan.
" Udah mau selesai ya, skripsinya? " Jingga masih berbasa basi.
"Doain saja cepat selesai skripsiku dan cepat nemuin pendamping wisuda! " Masih menatap Jingga yang masih menulis biodata dan mata kuliah yang akan diambil, cowok itu berharap mendapat perhatian lebih dari perempuan di depannya.
"Haloo... cewek mungil! " suara Tyara mengagetkan Jingga, bahkan Daniah kini menepuk sebelah pundaknya membuat Jingga menoleh ke arah dua temannya secara bergantian.
__ADS_1
"Jingga, aku duluan. Jangan lupa, nanti sore rapat ya! " Arga beranjak pergi setelah kehadiran Tyara dan Daniah diantara mereka.
" Siap, Kak! " jawab Jingga dengan kembali mengisi kolom lembar KRS an. Sementara kedua temannya masih setia menuggu.
Siang dengan mendung menyelimuti, membuat mereka hanya duduk di tangga setelah Jingga menyelesaikan KRS annya.
"Tyar, sejak kapan lo pacaran sama pak Aslan? " tanya Jingga yang masih penasaran dengan hubungan ke duanya.
"Apa? " Daniah terhenyak kaget seolah tidak percaya yang barusan dibicarakan Jingga.
" Iya, Tyara kan pacaran sama Pak Aslan!" Jelas Jingga sekali lagi membuat daniah menatap tajam ke arah Tyara mencari penjelasan.
"Ya ampun Tyar, lo ya... diam diam menghanyutkan! " dengus Daniah terlihat kesal saat dia sendiri yang ketinggalan info terbaru. Gadis tomboi itu mengeluarkan sebotol minuman yang sengaja dia di kantin sebelum menemui Jingga.
"Sudah lama sebenarnya, aku sama Bang Aslan kan satu kota, jadi sebelum kuliah kita udah dekat! " jelas Tyara sambil cengar cengir melihat ekspresi kedua temannya yang sudah saling melempar decihan atas rahasianya selama ini.
Mereka menghabiskan waktunya hanya untuk sekedar mengobrol di kampus. Setelah, kepulangan Daniah dan Tyara Jingga mendatangi kantor BEM untuk melakukan rapat koordinasi, penyelenggaraan Kampus Seni yang akan di lakukan sebagai program kerja terakhir periode tahun ini.
Jingga Masih mendengarkan perdebatan dalam rapat setelah menyelesaikan pembuatan proposal. Tentu saja bersitegang dan perdebatan tidak bisa dihindari dalam setiap rapat BEM.
Arga yang sudah melihat Jingga sedari tadi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya pun mengerti. Cowok berkharismatik dan kritis itupun akhirnya mengambil kesimpulan dan segera mengakhiri rapat.
Hari yang sudah mulai petang membuat Jingga ingin segera sampai rumah sebelum suaminya pulang kerja. Dengan tergesa-gesa dia berjalan keluar dari kantor menuju keluar gerbang kampus.
"Jingga...! Pulang dengan siapa? " ternyata Arga mengejar Jingga yang sudah hampir sampai gerbang kampus.
"Mau pesan taxi, Kak! " jawab Jingga sambil berjalan, tangannya akan mengeluarkan ponsel dari tas untuk memesan.
"Jingga Andini...! " suara bariton itu terdengar jelas membuat Jingga dan Arga menoleh ke arah Alan yang sudah berdiri di dekat pos security.
"Mas Alan... " lirih Jingga dengan jantung yang sudah berpacu karena kehadiran tiba tiba Alan di kampusnya.
"Maaf, Kak. Aku sudah di jemput! " kalimat Jingga membuat Arga berhenti mengejar Jingga. Cowok yang hampir menyelesaikan kuliahnya itu pun menatap penasaran Jingga dan Alan yang berjalan keluar gerbang. Dalam benak Arga, siapakah lelaki indo yang seolah mengikuti keberadaan Jingga.
Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih yang selalu memberi hadiah, vote dan like....