Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
84. Kabar Buruk


__ADS_3

Hening, tidak Ada suara apapun di sekitar, hanya suara hembusan angin yang berbisik menerpa dedaunan. Bagaimana Jika malam? Rasa takut akan gelap mulai menghantui karena dia tidak melihat adanya penerangan di ruangan yang sangat berdebu itu.


"Keluarkan aku! " teriak Jingga dengan menatap handle pintu, berharap seseorang mendengar teriaknya.


Beberapa menit kemudian, Sebuah langkah menyeret diiringi beberapa langkah lainnya kini terdengar semakin mendekat.


Air mata Jingga sudah menganak sungai, di dalam sebuah tempat yang asing dan cukup kotor, perasaan Jingga dipenuhi dengan rasa takut, hanya untuk bernafas saja saat ini rasanya susah. Jingga terus menatap pintu di depannya, pergerakan handle pintu membuatnya menggeser tubuhnya hingga menempel pada dinding, bahkan kini tubuhnya menegak karena rasa waspada menanti seseorang yang akan masuk.


"Ceklek....! " Suara pintu dibuka, di sana berdiri sosok tua dengan tongkat kayu sebagai tumpuan tubuhnya berdiri. Tampilan yang rapi dengan kemeja batik dan tatanan rambut yang terlihat klimis membuat Jingga yakin dia adalah dalang dari kejadian hari ini.


"Siapa kamu? " tanya Jingga dengan sorot mata menantang. Rasa takutnya sedikit menyingkir saat mendapati musuhnya ada di depan mata.


"Sifatmu sangat tidak mirip dengan Rengganis ataupun Cokro. Sifatmu lebih mirip dengan ayah, Hadi! " ujar Wirya dengan tersenyum kejut saat menatap sosok yang masih yang punya keturunan yang sama. Keponakannya itu terlihat keras kepala.


"Maumu apa, Tuan?" Mendengar pertanyaan Jingga membuat lelaki tua itu tertawa.


"Hae, jadilah keponakanku yang manis. Jangan sampai nasibmu sama dengan nasib ayahmu! " Kalimat Wirya membuat Jingga mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang maksud dari ucapan lelaki tua itu. Apa hubungan semua ini dengan bapaknya? Jingga semakin dibuat penasaran.


"Keponakan?? " ulang Jingga, masih dengan ekspresi penuh tanya.


"Iya besok kamu akan tahu segalanya, tunggu Sasmitha membawakan apa yang aku inginkan, untuk itu jangan mencoba untuk berulah! " ucap Wirya sebelum meninggalkan ruang lusuh itu. Salah satu pengawalnya juga meletakkan sebungkus makanan dan sebotol air. Kepergiaan mereka menyisakan rasa penasaran pada masa lalu keluarga besarnya.


Ruangan kembali tertutup, tapi masih terdengar kasak kusuk beberapa orang setelah menjauhnya suara langkah beriringan dari segerombolan orang.


"Mas Alan,...Semoga kamu bisa menemukan kita. " lirih Jingga dengan kembali mengelus perutnya, dia berharap Alan bisa menolongnya meski itu rasanya sangat mustahil.


###

__ADS_1


Seusai solat magrib Alan kembali mencoba menghubungi Jingga, tapi tidak tersambung juga. Memang Ada yang aneh saat dia pulang Dari kantor tapi Jingga tidak menyambutnya. Tapi mungkin karena alasan bertemu Bu Sasmitha membuat Alan mengerti, mungkin mereka sedang melepas rindu karena kesalahfahaman yang sempat membuat hubungan keduanya merenggang.


Tapi ada perasaan janggal yang terus mengejar manakala dia tidak mengetahui kabar istrinya. Alan pun memutuskan menghubungi ponsel But Sasmitha, ternyata panggilannya pun tidak tersambung. Mata perak itu melihat jam yang Ada di pergelangan tangannya, Sudah pukul tujuh, Alan memutuskan akan mencari Jingga saja di resto tempat dia bertemu Bu Sasmitha.


Sambil berjalan dia menyambar kunci mobil yang Ada di partisi penyekat ruangan, langkah panjangnya kini tertuju pada sebuah mobil Jeep yang masih terparkir di halaman.


Tanpa menunggu lama Alan menghidupkan mesin mobilnya, rasa khawatir kini semakin menguasai hatinya. Berlahan dia mengambil start untuk keluar dari halaman rumah, saat itu pula sebuah mobil Marcy masuk dan berhenti saat bersisipan dengannya.


Alan pun menghentikan mobilnya dan turun, mencoba mencari tahu siapa yang datang. Terlihat Reyhan membuka pintu mobilnya dan berjalan dengan tergesa ke arah Alan.


"Al, Jingga dalam bahaya! " ujar Reyhan dengan wajah panik.


"Maksut lo, apa? " tanya Alan tak kalah panik saat mendengar istrinya dalam bahaya.


"Jingga diculik!"


"Apa? " Seketika pula Alan terkaget saat mendengar Jingga di culik.


"Tunggu sebentar! " Alan meninggalkan Reyhan , dia berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil senjata api yang tersimpan di brankasnya. Hanya dalam hitungan menit saja Alan sudah kembali dan berjalan dengan langkah panjang menghampiri Reyhan.


"Pakai mobilku saja! " ucap Alan. Reyhan kembali masuk ke dalam mobil untuk memarkirkan mobilnya di halaman rumah Alan.


Mereka memutuskan untuk pergi bersama.


Flashback


Sore itu Reyhan bermaksut mencari Renata adik satu satunya, di rumah mewah milik Tuan Wirya. Reyhan terbiasa keluar masuk rumah yang ditempati ayah dan adiknya itu. Suasana terlihat lenggang, Tapi beberapa mobil asing terparkir di halaman rumah Tuan Wirya dan itu tidak seperti biasanya saat dia datang ke rumah itu.

__ADS_1


Tapi, dia sudah tidak ingin tahu urusan ayahnya, kakinya kembali melangkah menuju kamar Renata yang berada di pojok lantai dua. Langkah Reyhan terhenti saat telinganya mendengar kata penyekapan. Lelaki jangkung berambut gondrong itu pun semakin dibuat penasaran. Dan berlahan dia mencoba mendekatkan tubuhnya di dekat pintu yang sedikit terbuka.


"Besok mereka akan bertemu, itu saat yang tepat untuk melakukan penyekapan di tengah jalan yang sepi, Jadikan putrinya yang bernama Jingga untuk menjadi tawanan agar Sasmitha menyerahkan beberapa berlian dan surat surat penting. " suara itu terlihat jelas.


"Baiklah kalau begitu kita mulai rencananya! " Kalimat terakhir sangat terdengar dari suara ayahnya. Rayhan bergegas sembunyi di balik dinding yang berselang dengan ruang sebelah, saat mendengar langkah mereka saling beriringin keluar dari ruangan ayahnya.


Rasa penasaran membuat Reyhan masuk ke dalam ruangan yang sudah di tinggalkan beberapa orang itu, tidak pernah disangka jika ayahnya masih senekat itu. Usia ternyata tidak menjamin seseorang berubah.


Rayhan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ruangan yang masih terlihat biasa saja. Hanya terdapat jajaran arsip dokumen yang sudah dirapikan dan beberapa lukisan dan foto yang menggantung di dinding.


"Ada apa sebenarnya? " Rayhan yang dibuat penasaran pun mendekat ke meja kebesaran ayahnya. Masih tergeletak foto orang yang sangat dia kenal, "Jingga, istri Alan! " gumamnya sangat terkejut. Ada apa ini? sampai Jingga harus menjadi target mereka.


Flash on


Reyhan dan Alan mulai menelusuri jalan kota menuju tempat yang ditunjukan Reyhan. Setahu Reyhan, ayahnya mempunyai sebuah gudang yang sangat luas di sudut kota, tempat yang sedikit terpencil.


Alan meraih ponselnya yang sudah berdering, no asing memanggil. Lelaki yang saat ini sudah di landa rasa gelisah itu memilih meminggirkan dan menghentikan mobilnya. Dia berharap itu kabar baik tentang istrinya.


"Hallo ... " jawab Alan saat mengangkat telpon.


"Al, bisa bertemu sekarang! Ini tentang Jingga! " Alan sudah hafal betul suara Bu Sasmitha.


"Di mana Jingga, Bu? " tanya Alan.


"Itu yang akan aku omongin, kita ketemu di sebuah perbatasan kota, di sana aku menunggumu! " ujar Sasmitha sebelum menutup teleponnya.


Setelah mendapatkan share lokasi yang dikirim Sasmitha dengan kecepatan Tinggi Alan melajukan mobilnya. Rasa khawatirnya terhadap Jingga membuatnya ingin segera menemukan Jingga.

__ADS_1


Bersambung....


Hehehehe pengen nyapa Redaers Tercinta aquoooohhh gaes... tinggalkan Jejak ya gaes, biar author serasa ngobrol dengan kalian hehehhee. Semoga sehat selalu biar selalu ngikutin karya aku "#' Merindukan Jingga'# 'Rahasia Cinta Zoya' # My Husband My Hero#....


__ADS_2