Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
59. Rindu


__ADS_3

" Ihh...kemarin lo kemana saja? " goda Tyara dengan menyikut pelan pinggang Jingga saat mereka mengakhiri kelas terkahir di hari itu.


"Mau tau aja, atau mau tau banget?" tanya Jingga tak kalah gokil menjawab candaan sahabatnya itu. Mereka berjalan bersama menuju kantin bermaksud menghilangkan rasa hausnya setelah menghabiskan beberapa jam di kelas.


"Eh, kita ke cafe saja lah! Nyari menu yang berbeda, sekalian gua lapar! " celetuk Daniah.


"Ke warung bakso saja, kayaknya makan bakso nyummy nih. " Jingga sudah membayangkan makan bakso yang super spicy akan membuat adrenalinnya bertambah hhahhaaha (versi Jingga).


Mereka meluncur di warung bakso favorit langganan mereka, sudah murah nyummi pula. maklum anak kuliah selalu memilih yang irit di kantong. Tyara masih mencari tempat yang tepat untuk memarkir mobilnya karena halaman warung bakso yang akan mereka kunjungi sudah penuh.


Sedikit menjauh dari warung bakso, tyara memarkirkan mobilnya di pinggir jalan di bawah pepohonan yang menjadi penghijauan kota. Tyara masih menggerutu karena mereka harus berjalan sedikit jauh, sementara Jingga masih memperhatikan sepasang kekasih yang sedang terlibat pertengkaran di sebuah gang sepi. Nelly, Jingga yakin itu Nelly. Terlihat gadis itu mengelus pipinya karena tamparan keras cowok di depannya.


"Ngga, ayo cepetan! Jangan melongo aja. " panggil Daniah saat melihat Jingga menatap ke dalam gang.


"Sebentar! " Jingga yakin Nelly dalam keadaan tidak balik baik saja, tidak menghiraukan kedua temannya yang sedang menunggu dirinya, Jingga malah berlari menghampiri Nelly yang sudah di cekik lehernya.


"Heh... lepaskan atau akau telpon polisi! " teriak Jingga dengan tangan yang sudah siap memencet ponselnya.


Lelaki itu menghentikan aksinya membuat Nelly terbatuk batuk. Tanpa rasa berdosa cowok bertato itu pun berlalu meninggalkan.


"Nel, kamu nggak apa apa? " tanya Jingga mendekati Nelly.


"Terima kasih! " lirih Nelly dengan terburu buru pergi meninggalkan Jingga.


"Songong amat sih si Nelly itu. Lagian ngapain lo peduli sama dia? " ujar Daniah dengan sewot saat mengingat kelakuan jahat Nelly terhadap Jingga.


"Iya, Ngga. Heran saja, lo emang galak tapi tetep aja lo nggak tegaan! " timpal Tyara yang tak kalah sewotnya dengan Daniah.


"Apaan sih kalian, kok jadi sekubu dengan Mas Alan sukanya ngatain aku galak. Sudahlah, ayok kita makan dulu! "


Mereka bertiga kembali berjalan menuju warung bakso ini kesempatan emas Jingga untuk makan pedas sepuasnya.


Masih memegangi perutnya yang kekenyangan , Jingga mencari posisi yang pas saat duduk di jok belakang mobil Tyara.

__ADS_1


"Yuk, kita ke makam Bapakku! " ajak Jingga saat dia sudah mengorek informasi dari ibunya.


"Dimana? " tanya Tyara yang berarti mengiyakan keinginan Jingga.


"Jalan aja ke utara di perbatasan kota, di sana ada sebuah perkebunan, ya di situ ada makan keluarga! " jelas Jingga yang kemudian menyandarkan punggungnya menikmati perjalanan.


Tyara membelokkan mobilnya di sebuah parkiran di depan makam. Iya Makam yang cukup besar membuat Jingga pun sedikit terkesima.


"Ngga, kayaknya nenek moyang lo bukan orang sembarangan deh. " lirih Daniah dengan ragu ragu.


Jingga masih terdiam mengamati situasi di sekitar, kemudian dia turun diikuti kedua sahabatnya itu untuk masuk ke dalam makam.


Jingga berjongkok di dekat batu nisan yang tertulis kan 'Cokro Wardoyo Bin Hadinoto'


Jingga's Pov


Bapak aku tidak membawakan apapun untukmu, aku hanya membawa doa semoga Allah mengampuni segala dosa dan menerima segala kebaikan bapak.


Aku, Jingga, aku putrimu yang sudah bapak tinggalkan sejak aku kecil. Aku sekarang sudah menikah dan sudah cukup dewasa.


"Ayo, Ngga kita pulang! Biar tidak kemalaman! " ujar Tyara membantu Jingga berdiri. Mereka meninggalkan batu nisan yang memang tidak pernah di kunjungi seseorang kecuali Tuan Hadinoto. Hal itu membuat sepasang mata yang dari tadi memperhatikan gerak gerik mereka pun semakin dibuat penasaran.


Lelaki berperawakan tinggi besar itu menghampiri mereka sebelum ketiganya kembali masuk ke dalam mobil.


"Maaf bisa melihat kartu pengenal anda! " ujar lelaki itu.


"Maaf aku tidak bawa. " Jingga langsung berusaha mengelak, dia hanya tidak ingin nama Cokro Hadinoto di belakang namanya itu diketahui orang asing. Sementara Daniah dan Tyara menyerahkan kartu mahasiswa mereka dan membuat lelaki itu hanya mengangguk dan memperbolehkan pergi.


###


Setelah, kunjungannya di makam keluarga Hadinoto, Jingga sepertinya sulit untuk berkonsentrasi, padahal besok dia masih ada tugas managamen pendidikan yanga harus dikumpulkan.


Jingga menelungkupkan wajahnya di depan laptop yang masih menyala. Rasanya dia begitu sensitive setiap kali mengingat bapaknya, bahkan rasanya dia ingin menangis menginginkan bisa bersama bapaknya. Padahal Jingga yang dulu tidak seperti itu, dia lebih bisa mengesampingkan perasaannya.

__ADS_1


"Sayang, kenapa? " ujar Alan di belakang Jingga yang bertumpu meja dengan kedua tangannya di tekuk.


"Ya Allah kaget aku, Mas! " jawab Jingga dengan menegakkan tubuhnya membuat jarak mereka semakin dekat.


"Aku baru mengerjakan tugas, besok harus dikumpulin! " lanjut Jingga membuat Alan mencium puncak kepala istrinya dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di tempat tidur.


" Kenapa nggak ganti baju dulu! Atau mau makan dulu?" melihat Alan masih mengenakan kemeja yang masih rapi dengan celana bahan membuat Jingga mengerti jika suaminya baru saja pulang dari kantor.


"Bisa bikinin aku susu hangat ditambah jahe? " pinta Alan yang merasa kurang enak badan.


"Akan aku buatkan sekarang! " Jingga pun pergi ke dapur, tapi sebelum keluar kamar saat melihat Alan masih tiduran membuatnya berhenti.


"Kenapa? Mas Alan sakit? " tanya Jingga mendekatkan langkahnya ke arah Alan.


"Sedikit nggak enak badan! " mendengar jawaban alan membuat Jingga mendekat menempelkan punggung tangannya di kening suaminya.


"Sedikit meriang, ayo makan dulu! nanti cepetan istirahat! " Jingga menarik tangan Alan agar mengikutinya untuk turun ke bawah.


"Aku akan mengganti kaos dulu nanti menyusul di meja makan! " ujar Alan yang langsung masuk ke kamar setelah menuruni tangga, sementara Jingga berjalan menuju ke pantry.


Jingga menyiapkan makan malam yang sudah di masaknya sejak tadi sore bersama Bi Murti. Hanya menghangatkan soto koya khas Lamongan dan membuat minuman susu jahe yang ditambah sendiri oleh Jingga dengan madu.


"Sudah siap, Mas! " ucap Jingga saat Alan menghampirinya dengan wajah segar dan mengganti kemeja dengan kaos.


"Ini kamu tambahin madu ya? " ucap Alan setelah menyesap minuman hangatnya.


"Iya! "


"Tumben kamu pinter, Ngga? "


"Dari dulu aku emang pinter! " jawab Jingga dengan mengambilkan makanan di piring suaminya. Tapi saat ponselnya berbunyi Jingga langsung mencari ponselnya yang ada di rak.


"Iyaa halo Asaalamualaikum....! " jawab Jingga.

__ADS_1


Setelah itu Jingga hanya terdiam dengan wajah yang sedikit menegang, membuat Alan berhenti mengunyah makanannya dan menatap Jingga dengan rasa penasaran


bersambung....


__ADS_2