Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
54. Menahan Hasrat


__ADS_3

"Jingga,... maafkan aku yang sudah mengecewakanmu! Aku benar-benar tidak sengaja! " Melihat sikap Jingga yang begitu tenang malah membuat pikiran Alan semakin kacau, pasti bakal ada kemarahan besar atau hukuman yang cukup membuatnya kesulitan.


Masih dengan menahan tubuh mungil itu dalam pelukannya, Alan terus saja memohon agar Jingga bisa mengerti alasan keterlambatannya.


"Sudahlah, Mas! Aku sudah lapar, jangan seperti ini! " Berlahan Alan melepaskan eratan tangannya dari tubuh Jingga. Masih dengan seribu pertanyaan yang memenuhi otaknya membuat Alan hanya mematung menatap punggung istrinya yang menjauh masuk ke dalam kamar.


"Nggak mungkin cukup sampai di sini saja! Karena aku sadar jika sudah membuatnya kecewa! " Alan masih mematung di balkon. Pikirannya masih berkelana tentang apa yang


akan di lakukan Jingga padanya.


Flash Back


Masih merasa kesal karena Alan tidak bisa di hubungi, Jingga mencoba menghubungi kantor Alan dan ternyata hanya bisa terhubung dengan Raka.


"Assalamualaikum, Mas Raka."


"Waalaikum salam..."


"Ini Jingga, Mas Alannya sudah pulang? " tanya Jingga dari seberang.


"Bang Alan masih ada klien, Mbak! Apa ada pesan? Biar nanti saya sampaikan! " ujar Raka.


"Oh, tidak... cuma pengen tahu keberadaan Mas Alan. Assalamualaikum! " Jingga langsung saja menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Raka.


Jingga begitu kesal setelah mendengar jawaban Raka bahkan rasanya dia ingin saja mengumpat saat ini. Tapi, bukankah memang seperti itu suaminya yang memang seorang workholic.


Flash On


Terdengar Jingga sudah keluar dari kamar mandi, membuat Alan masuk ke dalam kamar. Barangkali, dia bisa membujuk Jingga, tapi dia hampir tak percaya saat matanya melihat pemandangan yang mengharuskan dia menelan ludah dengan kasar jika tak ingin menetes.


Bagaimana tidak? Tubuh mungil yang cukup sintal itu mengenakan tengtop dan hot pen, membuat pikiran liar Alan semakin menjadi.


"Ngga,...! " lirihnya sambil berjalan mendekati Jingga yang menggelung rambutnya setelah membersihkan make up di wajahnya.


"Jangan mendekat! Atau aku akan pergi dari rumah ini! " ancam Jingga dengan suara tegas.


"Tapi... "


"Aku tidak main main, Mas! " sahut Jingga dengan ekspresi yang sulit untuk dimengerti.


Tidak ada pilihan lain bagi Alan selain mengikuti apa yang dikatakan Jingga.


"Jaga jarakmu satu meter dariku! Jika tak ingin aku nekat! " ancamnya kemudian berjalan keluar kamar tanpa peduli lagi pada Alan yang terus saja menatapnya dari belakang.


Alan membuntut di belakang istrinya, leher jenjang nan putih yang menjadi area favoritnya kini tereksplore indah, apalagi pinggul itu yang bergoyang indah saat mengikuti gerak langkahnya, membuat Alan harus menelan ludahnya berkali kali.

__ADS_1


"Shiiiittt... menggoda saja! " umpat Alan dalam hati, dia terus berjalan mengikuti Jingga hingga sampai berada di ruang makan.


Alan tidak langsung duduk, tapi lelaki yang kini berusaha mengendalikan hasratnya malah memilih berdiri di dekat kursi dengan menatap istrinya yang masih menyiapkan peralatan makan. Rasanya dia sudah tidak tahan untuk mendekati Jingga.


"Ehem ehm... makan, Mas! " sambil berdehem, Jingga meletakkan piring di meja.


"Iya... " jawab Alan lemas dan mendudukkan berat tubuhnya.


Dengan tenang, Jingga masih menikmati makan malamnya meskipun dalam hati sedikit kesal, berbeda dengan Alan yang matanya jelalatan tak tenang sedari tadi.


"Ngga, kenapa pakai baju seperti itu? " tanya Alan yang duduk berseberangan dengan Jingga.


"Pengen saja! Emang kenapa?"


"Kalo nggak mau aku dekati ya, jangan pakai baju yang seperti itu lah! Itu bakal menyiksaku, Ngga! " jujur Alan sedikit kesal karena juniornya yang langsung menegang saat melihat istrinya dalam balutan pakaian minim.


"Itu kan masalahnya Mas Alan! Seperti halnya hari ini jika aku kecewa dan kesal, itu kan masalahku karena terlalu banyak berharap! " sindir Jingga dengan melirik tajam orang di depannya.


"Nggak baik jadi pendendam, Jingga! "


"Begitupun, nggak baik juga orang yang suka ingkar janji! "


Mendengar jawaban Jingga membuat Alan hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka menyelesaikan makan malam dalam diam.


Jingga sedikit membungkuk saat mengambil piring Alan yang sudah kosong, lelaki itu semakin tersiksa saat matanya menelisik ke dalam dada Jingga yang terbuka.


Setelah pantry kembali rapi, Jingga berjalan melewati Alan yang masih menatapnya tajam.


"Ya ampun, Jingga! " geramnya dengan nada tertahan dan kemudian mengejar Jingga yang hampir masuk ke dalam kamar.


"Ngga... ! " panggil Alan membuat Jingga kembali menoleh.


"Ingat, satu meter! " Jingga kembali memperingatkan Alan membuat lelaki itu mundur selangkah.


"Tapi aku tetep tidur di sana, kan? " sambil menunjuk kamar Jingga di lantai atas.


"No...not one room. Still with the same rules!" tegas Jingga yang tidak memperbolehkan Alan satu kamar dengannya.


"Kalo begitu mana lotionmu! " Alan sudah terlihat kesal dengan keputusan Jingga. Mustahil jika membujuk Jingga untuk saat ini.


"Buat apa? " tanya Jingga dengan mengernyitkan dahinya.


"Sudahlah, cepetan Ngga! " Mendengar suara Alan yang terdengar kesal membuat Jingga segera masuk ke dalam dan mengambil lotion.


"Tangkap, ya! " Jingga melempar lotiannya ke arah Alan. Setelah mendapatkan lotion milik Jingga, Alan langsung berbalik menuruni tangga.

__ADS_1


Mulutnya masih mengumpati kesialannya hari ini tetapi otaknya masih berfantasi dengan tubuh molek istrinya, kulit kencang dan putih bercahaya memberi kesan seksi.


"Arrrgghhh.... sial! " erangnya saat masuk ke dalam kamar mandi. Malam ini dengan terpaksa dia harus menuntaskan hasratnya dengan bersoloisme.


###


Matanya yang sudah terbuka membuat Alan langsung beranjak dari tempat tidurnya, dia akan memanaskan mesin mobil dan motornya, padahal waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Langkahnya terhenti saat dia keluar kamar, pandangan matanya kini tertuju pada kamar di lantai dua.


Dia merasa Jingga benar benar sudah mengerjainya. Gara gara ulah Jingga yang mengenakan baju minim itu semalaman dia hanya gelisah dan tersiksa. Tapi, bagaimanapun juga dia masih merasa bersalah karena sudah mengecewakan Jingga.


Setelah memanasi mesin motor n mobilnya, Alan berjalan menuju ke lantai atas bermaksud untuk membangunkan Jingga.


"Ngga..! panggilnya setelah mengetuk beberapa kali pintu kamar Jingga. Sebelum panggilan ke dua pintu kamar itu sudah terbuka.


" Ada apa, Mas? Subuh aja belum! " tanyanya masih dengan mengucek mata.


"Ayo persiapan kita akan touring dan menginap di villa! " ujar Alan membuat Jingga terkaget dan membuka matanya lebar.


"Iya beneran...! Aku minta maaf semalam sudah mengecewakanmu! "


"Tapi ini beneran, kan? Kita akan liburan? "


"Iyaaaa, sayaaaaang! " jawab Alan penuh penekanan.


"Aku belum persiapan! " Jingga masih merasa bingung karena acara dadakan ini.


"Nggak usah persiapan aneh aneh, bawa baju sedikit aja! Habis sholat subuh kita on the way!"


"Terima kasih! " Jingga berjinjit mencium pipi Alan dan kemudian pergi ke kamar mandi.


Setelah solat subuh Alan sudah berada di garasi menunggu Jingga yang belum juga keluar, sambil mengechek kembali barang yang ada di ranselnya.


"Mas, aku sudah siap!"


"Taruh barangnya di jok belakang, Ngga! "


"Aku pengen kita naik motor saja, lihat aku udah pakai sepatu boot udah pake jaket kulit! "


"Nggak apa apa, pakai mobil saja! "


"Yaaaahh.... keren pakai motor, Mas! " Jingga meluruhkan bahunya, seperti merasa kecewa karena kenyataan tidak seperti ekspektasi sebelumnya.


"Ini perjalanan jauh, Ngga! Aku tidak ingin kamu capek atau kehujanan. " tolak Alan membuat Jingga kembali cemberut.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih masih setya disini sini. yuk yang punya hadiah, vote n like bisa diberikan pada Merindukan Jingga


__ADS_2