
Setelah mendorong keluar tubuh perempuan yang sudah awut awutan hingga tubuh Maya menubruk Raka yang baru sampai, Jingga langsung berlari ke luar kantor. Hatinya seperti pecah berkeping keping. Bahkan, diantara kepingan itu mungkin sudah menghilang, dan mustahil untuk dipersatukan lagi.
Pertama kalinya rasa kecewa yang membuncah memenuhi segala rasa yang ada di dalam hati dan perasaannya, menutup segala hal yang seharusnya menjadi pertimbangan jiwanya.
Jingga Pov
Aku kecewa... apa ada kata yang melebihi dari kata kecewa untuk sebuah rasa sakit ini?
Sungguh, tidak pernah aku sangka. Membayangkannya saja aku tidak pernah, jika kamu bisa mengkhianatiku sedemikian rupa, Mas Alan.
Hampir aku tak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat, aku tidak tahu lagi bagaimana meluapkan perasaanku kecuali marah, padahal marah saja seharusnya tidak cukup. Jika bisa untuk mengungkapkan bagaimana sakitnya hatiku yang sudah remuk tak berbentuk karena pengkhianatanmu.
Masih membayang dengan jelas perempuan itu berada di pangkuanmu memeluk lehermu dengan mesranya. Bahkan, warna merah dari lipstiknya membekas di area bibir tipismu. Kemeja yang sudah acak acakan dan ikat pinggangmu yang sudah terbuka, lagi lagi aku muak jika mengingatnya. Bagaimana bisa kau melakukannya? Apalagi itu, saat aku melihat lehermu dengan bekas kissmark perempuan itu, sungguh membuatku sangat jijik walau hanya untuk melihatnya.
Jingga berlari keluar kantor tanpa peduli lagi dengan keadaan. Langkahnya semakin membawanya menjauh dari bangunan modern berlantai dua itu. Hatinya menderu diantara banyak rasa yang menyakitkan, sedih, marah dan kecewa.
Diantara pekat malam dia terus berlari kecil rambutnya mengayun tak karuan diantara gerak dan hempasan angin yang mulai terasa membelai. Jika di dalam ruangan tadi hanya ada kemarahan, saat ini tangisnya mulai pecah. butiran kristal mengalir deras melembabkan seluruh wajah saat dia berusaha menyapunya dengan sembarang.
Entah sudah berapa jauh dia berlari hingga membuatnya terasa lemah, tapi tidak dengan tangisnya yang semakin menyesak.
Jalan yang sepi, membuatnya berhenti. Dengan lemah dia berjalan, bersandar pada sebuah pohon. Raungannya kini tak bisa dikendalikan lagi, ingin sekali dia mengeluarkan sebagian saja rasa yang menyesak di dada, tapi mustahil, bahkan lintasan peristiwa menjijikan itu membuatnya semakin sakit.
Dengan menangis tergugu di pukul pukulkan kepalan tangan mungil itu di dadanya, berharap bisa mengeluarkan himpitan yang semakin terasa perih di hatinya. Butuh waktu yang cukup lama hingga raungannya mulai mereda, bukan karena hilangnya rasa yang menyesak itu tapi karena tubuhnya yang mulai melemah bersandar di bawah pepohonan besar yang berada di dekatnya.
"Jingga... " Suara berat milik Haris membuat Jingga menoleh. Lelaki itu terpaku menatap Jingga yang terlihat sangat buruk.
"Ada apa? " tanya Haris saat melihat tangis sedih perempuan di depannya.
Jingga yang tak bisa menghentikan tangisnya pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tapi lelaki di depannya malah semakin mengiba, saat mendengar rintihan yang membuat hatinya terasa nyeri.
"Ngga, ...Jangan menangis seperti itu! " ucapnya saat Jingga mulai tak bisa mengontrol tangis dan emosinya.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu, lelaki itu merengkuh Jingga mengusap kepalanya agar bisa memberi ketenangan. Jingga masih tergugu dengan kedua tangan yang menutup wajahnya.
Sadar merasa dalam dekapan lelaki yang tak seharusnya, Jingga mengundurkan langkahnya.
"Maaf..! " ucap Haris saat melihat ekspresi Jingga yang canggung. Wajah ayu yang biasa tersenyum manis itu sudah membengkak dan lembab karena tumpahan air mata.
"Bisakah membawaku pergi jauh? " ucap Jingga membuat Haris semakin bingung dengan apa yang sudah terjadi.
"Maksutnya, apa? " Lelaki itu menarik lengan Jingga untuk membawanya duduk di sebuah kursi besi di dekat mereka.
"Aku ingin pergi jauh dari sini, hingga laki laki itu tidak lagi menemukanku! " ucap Jingga masih dengan kemarahan yang sama.
"Sebaiknya, aku mengantarmu pulang! Semua bisa diselesaikan dengan tenang! " ucap Haris masih berusaha membujuk Jingga.
"Tidak ada lagi yang harus di bicarakan. Jika Mas Haris tidak bisa membantuku, tidak apa. aku bisa sendiri. " ucap Jingga yang mulai beranjak pergi. Tangan besar itu mencekalnya menghentikan langkah Jingga, agar tidak melangkah lebih jauh.
"Baiklah...! Ayo masuk ke mobil. "
"Tolong bawa aku pergi jauh! " ucap Jingga sekali lagi dengan menatap keluar jendela saat mobil itu kembali melaju.
Tak ingin menjawab Jingga. Haris hanya melirik Jingga yang masih terisak pelan. Pikirannya mulai mempertimbangkan kemana dia akan membawa Jingga.
"Dengan senang hati, aku memang ingin membawamu pergi jauh, menjagamu, memilikimu, tapi bukan dengan cara dan situasi yang tidak semestinya. " gumam lelaki berwajah tegas itu dalam hati. Hatinya tidak bisa dibohongi jika Jingga sudah menarik semua perhatian dan kekagumannya. Perasaan yang sudah membeku itu kembali berdetak saat berada di dekat Jingga.
Beberapa menit mereka terdiam dalam perjalanan, hingga mobil Pajero itu berbelok pada sebuah rumah minimalis tapi mewah.
"Dimana ini, Mas? " tanya Jingga merasa heran.
"Sementara kamu akan aku titipkan di rumah Amanda! Tidak mungkin aku membawamu ke hotel atau ke apartemenku. Di sini kamu akan lebih aman! Besok kita akan mencari tempat tinggal sementara untukmu! " ujar Haris yang kemudian turun dari mobil dan berjalan masuk diikuti Jingga ke dalam rumah Amanda.
###
__ADS_1
Di kantor masih dengan situasi yang kacau. Setelah meminta Maya pulang, dan akan menyelesaikan semuanya besok saja, Raka memutuskan masuk ke dalam ruangan yang menjadi pusat keributan itu.
"Bang... " ucap Raka saat melihat Alan yang berjalan sempoyongan. Hingga laki laki itu dengan sigap membantunya untuk kembali duduk di sofa. Penampilan Alan yang sudah sangat berantakan, benar benar tidak pantas dilihat orang lain.
"Ka, tadi aku lihat Jingga. Kemana dia? " Raka terdiam masih mencerna situasi yang kurang kondusive ini.
"Ka, badanku memang dari kemarin tidak enak. tapi ini semakin parah, kepalaku terasa berat bahkan pandanganku semakin tidak jelas! Tolong cari Jingga, dia sempat marah bahkan menamparku. Aku bingung dengan situasi ini. " Alan masih memijit pelan kepalanya yang terasa pening.
Mendengar kalimat Alan membuat Raka hanya menghela nafas panjang. Alamat bencana besar pikirnya. Mungkin Bang Alan tidak menyadari jika penampilannya sudah terlalu kacau untuk di lihat orang lain.
"Sebaiknya aku mengantar Abang pulang! Mungkin Mbak Jingga sudah sampai rumah!" bujuk Raka kemudian membantu Alan untuk keluar kantor. Raka yakin Jika semua ini adalah ulah Maya, semakin ke sini dia semakin nekat. Dia juga yakin, Jika Alan tidak pernah menyangka kalau Maya akan melakukan hal senekat itu.
Saat memencet bel ternyata yang membukakan pintu malah Bi Murti membuat Raka semakin yakin, jika Jingga benar-benar marah.
"Jingga mana?" tanya Alan saat tidak melihat Jingga.
"Mbak Jingga belum pulang! "
"Apa? " seketika Alan mencoba mengambil semua kesadarannya.
"Bi, buatkan susu yang kental! " pinta Raka untuk Alan.
"Ayo, Bang duduk dulu! "
Alan masih merasa bingung dengan situasi yang dia alami. Lelaki itu masih saja memijit kepalanya yang terasa berdenyut hebat.
Bersambung...
Terima kasih vote n hadiahnya, membuta author semangat. Yang punya aplikasi K*M silahkan mampir ya di Rahasia Cinta Zoya, Bakal seru saat Hans dan Zoya Terjebak dalam perasaan dan pernikahan mereka.
Selamat hari raya idhul fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin... thanks untuk yang setia dengan merindukan Jingga. Apalah arti Merindukan Jingga tanpa kalian. hehehhe 😍😍😍
__ADS_1