
"Ya ampun, kok hawanya jadi dingin banget sih." gerutu Jingga, sore yang berubah menjadi petang membuat udara di daerah pegunungan ini semakin dingin hingga terasa menusuk sampai ke tulang. Jingga mengambil syal yang dibawa untuk di lingkaran pada leher jenjangnya.
Alan yang baru saja masuk ke kamar melihat Jingga sedang memasang syal di leher, membuat lelaki itu menoleh ke arah jendela dan melangkah untuk menutupnya.
"Masih dingin? " tanya Alan saat melihat Jingga naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Hmmm... " Jingga hanya bergumam dengan tangan memencet layar ponsel. Sementara Alan mencari remot AC dan segera memencet tombol off.
"Masih dingin? " masih dengan pertanyaan yang sama. Alan menatap Jingga yang masih serius menatap ponselnya.
"Hmmm... " masih dengan jawaban yang sama tanpa melihat Alan yang sedari tadi menatapnya. Manik mata hitam Jingga tidak beralih sedikit pun dari layar ponsel karena sedang melakukan chat bersama kedua temannya.
"Mas, Alan! " Reflect tangan Jingga menahan syal yang melingkar di lehernya bersamaan dengan menolehi wajah Alan yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Alan yang berusaha membuka syal yang melilit di area favoritnya itu pun terhenti.
"Biar nggak dingin! " kalimat Alan membuat Jingga gugup, masih dengan gejolak yang sama saat berada pada jarak yang tipis dengan lelaki yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Degupan jantung yang semakin kencang, bahkan tubuhnya sedikit gemetar menahan rasa gugup yang menghinggapi perasaannya saat ini.
"Jangan menolak, Aku sudah menahannya dari kemarin, Sayang! " pinta Alan semakin mendekat memangkas jarak diantara mereka.
"Tapi.... " kalimat Jingga terputus kala bibirnya sudah terbungkam dengan ciuman menuntut dari sang suami.
Mereka bergumul dengan saling menghangatkan diantara hawa dingin malam. Masih seperti biasa, lelaki berwajah indo itu selalu mendominasi kegiatan panas setiap kali mereka melakukannya. Nafas yang menderu dan desahan panjang membuktikan jika keduanya sedang terlena dalam kenikmatan, bahkan terdengar lenguhan yang bersahutan saat mereka mengakhiri penyatuan keduanya.
"Aku sudah lelah, Mas! " rengek Jingga saat dia merasa kewalahan melayani hasrat suaminya yang sudah terpendam dari kemarin.
"Baru dua ronde, Sayang! " tawar Alan sejenak menghentikan gerilyanya di bawah selimut. Lelaki yang masih mendamba sosok di sebelahnya itu pun memastikan keadaan Jingga agar tidak terjadi lagi accident pingsan seperti saat pertama kali mereka melakukannya.
"Dua ronde tapi terlalu lama, membuat tulangku terasa remuk! " lirihnya masih dengan memejamkan manik mata hitamnya.
Alan beringsut untuk duduk, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Tatapannya menolehi Jingga yang memilih memejamkan mata karena kelelahan. Senyum tipis terbit di bibir tipis Alan dengan tangan yang menjulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
" Kamu sangat cantik! Tapi ada yang lebih aku suka darimu, meski kamu galak tapi kamu sangat baik, istriku yang naif! " gumamnya lirih masih dengan senyum yang melekat di bibirnya.
__ADS_1
"Mas Alan sedang memuji atau merayu? " tanya Jingga masih menikmati istirahatnya setelah merasakan lelah yang teramat sangat.
"Dua duanya, boleh ya, jika aku meminta dompetku?" bujuk Alan.
"No...! " jawab Jingga singkat membuat Alan mencium gemas pipi istrinya, " dasar keras kepala! " kemudian beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan Jingga yang hanya tersenyum saja dengan masih menutup matanya.
###
Jingga mengerjapkan mata karena sinar mentari yang menembus dari celah-celah tirai jendela kamarnya. Setelah solat subuh kilat dia kembali memejamkan mata karena masih merasakan tubuhnya yang terasa lelah.
Tangannya meraba tempat di sebelah yang ternyata sudah kosong, kemana perginya lelaki yang sudah membuatnya hampir lumpuh itu? Rasa penasaran membuat dia memaksa tubuh lelahnya untuk bangkit. Segera, dia meraih tasnya memeriksa kembali isinya, mungkin Mas Alan sudah mengambil kembali dompetnya, tapi ternyata tidak. Dompet itu masih tersimpan di dalam tas miliknya.
Merasa kasihan Jika suaminya keluar tanpa membawa uang sepeser pun. Gegas, Jingga beranjak dari tempat tidur. Hanya dengan mencuci muka, dia keluar membawa tasnya untuk mencari Alan.
Masih dengan mengenakan piyama panjang dengan rambut digelung asal asalan, Jingga berjalan keluar vila, mencari keberadaan Alan di sekitar villa. Sempat merasa bingung karena motornya masih di villa, akhirnya Jingga memutuskan mencari Alan ke lokasi proyek.
Suasana pagi yang masih segar dan sedikit berkabut, bahkan embun masih menggantung di ujung dedaunan yang terkadang tersenggol oleh lengannya. Jingga mempercepat langkahnya mencari keberadaan Alan di lokasi proyek. Bisa saja suaminya membutuhkan dompet yang sempat dia sita dari kemarin, hanya itu yang dipikirkan Jingga.
"Jingga, kemarilah! " panggil Alan, saat melihat Jingga berada di lokasi proyek. Perempuan yang mendadak merasa tidak percaya diri karena tampilan bangunan tidurnya itu pun berlahan berjalan mendekat.
"Dia istriku, namanya Jingga Andini! " ujar Alan pada kepala team serveyor sambil merangkul bahu kecil istrinya, membuat Jingga pun mengangguk sopan untuk salam perkenalan.
"Cantik, masih sangat muda ya, anda sangat beruntung, Pak! " jawab lelaki itu dengan memperhatikan Jingga dengan senyum ramahnya.
"Kalo begitu saya permisi dulu! Untuk meninjau ke bagian lainnya! " Lelaki yang nampak beberapa tahun lebih tua dari Alan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa, sayang? " tanya Alan.
"Cuma mau mengantar dompet Mas Alan, takutnya Mas Alan membutuhkannya! " jawab Jingga dengan tangan menjulur menyerahkan sebuah dompet kulit hitam milik Alan.
"Kamu tadi sudah ngaca? "
__ADS_1
"Nggak sempet, maaf kalo keliatan banget bangun tidurnya! " Jawaban Jingga membuat Alan tersenyum tipis, kemudian menarik Jingga pada sebuah kaca spion sepeda motor milik pekerja.
"Ya Allah,...! " Seketika Jingga membuyarkan gelungan rambutnya dan terus menyugarnya ke depan saat Alan menunjukkan beberapa kissmark di lehernya.
"Ya allah, Mas Alan, orang tadi pasti melihatnya, pantas saja tadi saat melewati orang orang mereka pasti tersenyum aneh. Ichh... malu aku, Mas! " Jingga berbalik menatap Alan penuh tanda tanya, wajahnya merona betapa malunya dia membayangkan orang orang berfikir mesum tentangnya.
"Ya elah, Ngga. Kenapa juga malu! itu juga ibadah, kan?"
"Ibadah juga nggak harus orang lain tau juga, Mas! " cebik Jingga masih dengan wajah memerah.
"Ayo kita pulang! " ajak Alan dengan merangkul pinggang Jingga.
"Mas Alan, sudah selesai bekerjanya? "
" Sudah...! "
"kruk... kruk... krukk! " terdengar bunyi suara perut Jingga membuat Alan menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Loh, kamu belum sarapan? Tadi aku udah meminta penjaga vila untuk menyiapkan sarapan."
"Belum sempat, tadi buru-buru nganterin dompetnya Mas Alan! Tapi kenapa Mas Alan mendadak jadi baik? "
"Apa selama ini aku kurang baik sama kamu, Ngga? Apa kamu tidak bahagia bersamaku?".
Jingga menghentikan langkah kakinya, matanya menatap wajah Alan penuh selidik, mencari kebenaran apa yang sedang terjadi hingga membuatnya tiba tiba berubah drastis.
" Akting apa beneran? "
"Ya ampun, Jingga! " Alan kemudian menggenggam tangan Jingga setengah menariknya untuk kembali berjalan.
"Selama ini mungkin aku terlalu cuek. Bagi orang lain penting jika menurutku tidak penting, aku tidak pernah peduli, apapun itu. Tapi sekarang aku punya pasangan seharusnya aku tidak berfikir seperti itu, seharusnya aku berusaha mengerti duniamu juga, karena kamu dan aku akan menjadi kita. Terima kasih selalu ada buat aku! " Perjalanan pulang mereka lebih dipenuhi obrolan yang di dominasi oleh Alan. Benarkah, suaminya sudah mencintai dirinya dengan sepenuh hati? Bukan sekedar menjalani perjodohan ini saja? Atau bukan sekedar membutuhnya untuk menjadi pasangannya? Ah, pagi ini Jingga hanya tersenyum sambil bergelayut manja pada lengan suaminya tanpa banyak mengekspresikan dengan banyak kata seperti biasanya. Dia tidak ingin merusak moment yang membuat hatinya berbunga bunga dengan banyak perdebatan yang tidak penting.
__ADS_1
Bersambung