Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
23. Malu-Malu Singa


__ADS_3

Dave dan Alan, mereka menghabiskan waktu minggu paginya di tempat gym yang ada di belakang rumah Alan. Peralatannya memang tak selengkap di tempat kebugaran. Tapi, cukup lumayan untuk membentuk otot kekar kedua lelaki bertubuh macho itu.


Alan masih berlari di atas treadmill sementara Dave melatih otot tangannya dengan alat berat yang ada di dekat Alan. Mereka benar-benar mengisi waktunya dengan berolahraga.


" Gimana, making l**e sama gadis belia? " celetuk Dave dengan memelankan gerakan tangannya.


"Apaan sih lo, bukannya lo yang lebih berpengalaman? " jawab Alan dengan suara ngos-ngosan. Bukan rahasia lagi jika Dave sering melakukannya dengan banyak wanita.


"Tapi, nggak ada yang semuda Jingga juga kali!" Dave masih mencari celah untuk mengelak.


"Nggak usah berfantasi liar, Lo! " ujar Alan memilih menghindar dari pertanyaan sahabatnya yang satu itu.


"Lo, dari dulu malu-malu singa ya, kalo soal gituan! Padahal, di jaman sekarang kan sudah kebutuhan, apalagi model bule kayak, Lo" ledek Dave pada Alan yang paling susah diajak bicara vulgar.


"Secara fisikly dan performa memang ikut gen bule Swiss, tapi tetap saja harder gua orang Jawa tulen! " mendengar respon Alan membuat Dave tertawa ngakak.


"Dasar cucu kurang ajar, Lo!" umpat Dave dengan menghentikan gerakan tangannya.


"Sebenarnya, lo bisa saja kan, menolak pernikahan itu? " tanya Dave masih penasaran dengan pernikahan Alan dan Jingga.


"Kalo gua nolak mentah-mentah, Eyang gua kena serangan jantung terus struk, siapa yang akan merawatnya?"


"Cuma alasan itu? "


"Nggak juga sich, aku memang sulit menolak keinginan Eyang, dia satu satunya yang mengisi kehidupanku setelah kepergian Mama, lagian Jingga cukup unik anaknya. "


"Cantik pula! " sergah Dave yang juga ikut mengakui kecantikan Jingga yang natural.


"Jika cuma nyari cantiknya saja, ntar juga akan ada cantik yang lain lagi, Bro! Yang penting, nggak jelek-jelek amatlah dan setia." elak Alan.


"Tapi apa menurutmu tidak terlalu sulit menyesuaikan pasangan beda usia dengan latar belakang yang belum saling mengenal? "


"Menurutku sih tergantung si pelaku saja. Mau beda usia atau nggak setiap manusia punya ego. Tergantung kitanya saja yang harus pinter manage suatu relationship. Kayak lo yang mau married saja? " jelas Alan yang kemudian duduk di sofa panjang dan kemudian di susul oleh Dave.


"Mas, ini jus dan rotinya, pesannya Mbak Jingga untuk dibawa ke sini. Kalo mau sarapan sudah saya siapkan di dalam! " ujar Bi Murti yang datang dengan segelas jus orange dan roti beserta sale kacang.


"Jingganya ke mana, Bi? " tanya Alan.


"Katanya mau melanjutkan tidur dulu! " ujar Bi Murti sambil melengser gelas dan piring di meja yang ada di depan Alan.


"Makasih, Bi! " ujar Alan mengiringi kepergian wanita paruh itu.


"Emang ada apa dengan Jingga? Jam segini kok balik tidur? " selidik Dave cukup penasaran.


"Semalam dia kan cuma tidur satu sampai dua jam-an." jelas Alan spontan dengan mengoles roti nya dengan sale kacang.


"Wouuu... Benar apa kataku. Malu-malu singa!" lelaki bermata sipit itu membulatkan mulutnya diikuti tawanya yang menggelegar, seolah mengejek sok jual mahalnya Alan selama ini.

__ADS_1


"Apaan sih lo, namanya juga udah nahan cukup lama! " kilah Alan yang kemudian menikmati jus dan rotinya.


Mereka menghabiskan waktunya hanya untuk mengobrol . Tidak lupa membahas bisnis property Alan yang baru di alihkan Eyang Putri kepadanya. Beberapa rencana untuk membuat proyek hunian sederhana tapi yang lengkap dengan fasilitas keluarga.


Matahari semakin meninggi, Dave pun sudah meninggalkan rumah minimalis yang terkesan menyatu dengan Alam. Alan berjalan masuk ke kamar untuk membersihkan diri, setelah mengantar Dave sampai ke depan.


Alan menghentikan langkahnya saat melihat Jingga yang masih bergelung selimut. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang terlihat jelas menatap Jingga yang tertidur dengan pulasnya.


Timbul ide usil di otak lelaki yang tubuhnya masih lengket karena keringat, membuatnya mengurungkan niat untuk masuk ke kamar mandi. Alan duduk di tepi tempat tidur tepatnya di samping Jingga.


"Sayang, bangun! " ujar Alan dengan menepuk bahu kecil di dekatnya.


"Hmmm... " cuma gumaman yang terdengar dari suara Jingga tanpa membuka matanya.


"Sayang... bangun! " Kali ini Alan tidak main main, dibukanya lengannya dan menaruh ketikanya di depan hidup Jingga.


"Mas Alan.... jahat banget! " ketus Jingga yang langsung membuka matanya. Menggeser tubuhnya untuk menjauh, padahal sebenarnya Jingga menyukai aroma maskulin suaminya.


" Ayo mandi, udah mau masuk dhuhur ini! "


"Mas, semalam siapa? Kenapa Mas Alan bisa bersamanya? " tanya Jingga menanyakan kebersamaan suaminya dengan Maya teman satu kantor Alan. Raut wajah Jingga mendadak menjadi satu saat menunggu jawaban dari Alan.


"Dia kan, Maya! Asisten Raka. " jawab Alan.


"Terus ke mana, Mas Raka? Kenapa malah Maya yang bersama Mas Alan? "


"Nggaklah, emang kalo nanya harus cemburu?"


"Ha ha Ha ha nggak cemburu sampai mandi beberapa kali, hahaha! " ejek Alan dengan menarik Jingga ke atas pangkuannya.


" Maya itu Asisten Raka dan Raka Sekretrisku. Puas! " jelas Alan.


"Aku nggak cemburu, cuma pengen tahu aja! " kelit Jingga membuat Smilirk timbul di sudut bibir Alan.


"Mandi, yuk! " Alan langsung menggendong Jingga, membawanya ke kamar mandi. Sedangkan Jingga masih mencoba memberontak.


"Mas Alan, aku nggak mau mandi bareng, nanti keterusan. " teriak Jingga dengan mengepakkan kaki layaknya putri duyung.


"Beneran nggak terjadi, janji deh! " jawab Alan.


Alan memang menepati janjinya, dia juga sebenarnya kasian dengan Jingga yang masih kesulitan mengimbangi permainannya.


###


Setelah acara mandi bersama, Alan memang memilih istirahat sejenak, setelah itu kembali mengurung diri di ruang kerja. Beberapa Agenda harus dia siapkan untuk menemui klien besok.


"Mas, Alan!" panggil Jingga setelah mengetuk pintu rumah kerja Alan.

__ADS_1


"Ada apa, Ngga?"


"Aku boleh beli bakso di pertigaan dekat kampus? "


"Sama siapa? "


"Sendiri! "


"Ayo, aku anterin! " Alan langsung menutup laptop dan beberapa map di mejanya. Laki-laki itu memilih mengantar istrinya untuk mencari bakso andalannya.


Alan membawa motornya menembus jalanan sore menjelang petang hingga berhenti di sebuah warung bakso. Jingga turun dari motor Alan, lelaki itu melepas helm yang dipakai istrinya.


"Jingga Andini." sapa Arga saat melihat Jingga berada di parkiran.


"Kak Arga! Sama siapa? "


"Sendiri, diminta Mama untuk membelikan bakso di sini. " Mendengar percakapan Arga dan istrinya membuat Alan langsung masuk dan duduk di dalam warung.


Rasanya kesal sekali saat melihat tatapan Arga ke Jingga, Alan juga mengakui jika lelaki muda itu cukup menarik. Bahkan Alan faham, kwalitas lelaki itu cukup di kagumi lawan jenisnya.


"Mas Alan, sudah pesan? " tanya Jingga saat berdiri di dekat Alan.


"Aku nggak ingin bakso, aku kan cuma ngantar!" jawab Alan dengan nada dingin. membuat Jingga mengerti dan pergi memilih untuk memesan bakso.


"Cemburu ya? " tanya Jingga.


"Cemburu sama anak ingusan macam itu? nggak levelku, Ngga! " Elak Alan dengan mengetuk-ketuk pelan meja di depannya.


"Jangan salah, dia idola di kampus lo! "


"Masih keren akulah, pasti pinternya juga masih di bawahku, dan yang pasti duitnya masih banyak aku! "


"Jangan sombong, duit , ganteng dan pinternya mas Alan juga hasil belas kasihan Allah, lagian Kak Arga lebih muda lebih fresh lo!"


"Jingga...! Alan mengeram kesal saat mendengar jawaban Jingga yang membela kakak tingkatnya.


"Makanya jangan sombong! Setiap orang itu pasti punya sisi lemah dan sisi lebih, karena Tuhan itu adil!"


Perdebatan mereka terhenti saat melihat pesanan mereka telah tiba. Dengan mata berbinar bahagia, Jingga mulai bersiap menikmati baksonya.


"Jangan terlalu pedas, Ngga! " Peringatan Alan menghentikan Jingga yang akan memberi sambal untuk yang ke empat kalinya.


"Kenapa cuma Mas Alan saja yang tidak bisa aku ingat, ya? "


Pertanyaan Jingga membuat Alan tersedak, pertanyaan itu membuatnya merasa bersalah banyak kebohongan yang telah di lakukan saat accident itu membuat Jingga melupakannya.


"Aku juga tidak mengerti, Ngga!" lirihnya, Alan juga merasa tidak berarti, karena hanya dirinya yang terlupakan oleh jingga, seperti seseorang yang tidak layak untuk diingat.

__ADS_1


tbc.... yuk dukung Author dengan kasih like, vote atau comment ya.... perjalanan Jingga dan Alan masih jauh semoga bisa selalu semangat ini.


__ADS_2