
Jingga langsung berlari menjauh saat melihat Tyara dan Daniah masuk ke dalam pagar. Awalnya dia hanya duduk santai di kursi malas yang terdapat di teras sempit rumah kontrakannya .
"Ada apa, Ngga? " ujar Tyara yang merasa bingung dengan reaksi Jingga yang menghindar saat melihat kedatangannya.
"Jauhkan, Baksomu dariku! " ujar Jingga dengan menutup hidungnya. Sejak kedua sahabatnya memasuki pintu pagar, dia bisa mengendus aroma bakso yang begitu tajam.
"Apaan sih, Ngga? Dulu yang paling doyan bakso juga kamu? " gerutu Daniah langsung masuk ke dapur menyimpan bakso yaang sengaja mereka bawa agar Jingga doyan makan. Setelah kuliah mereka memutuskan untuk menemui Jingga, tidak ada salahnya jika malam ini mereka harus menginap karena besok jam kuliah mereka dimulai siang hari.
"Ngga, ke dokter yuk! Setidaknya biar dikasih vitamin penambah nafsu makan atau apalah! " ajak Tyara yang ikut mencemaskan Jingga karena sahabatnya itu semakin terlihat lesu.
"Emang aku anak kecil, dikasih vitamin penambah nafsu makan? " tolak Jingga yang merasa tubuhnya baik baik saja.
"Eh jangan salah, orang dewasa banyak kok yang minum susu penggemuk! " sela Tyara.
"Ntar kamu kalo makin kurus tambah jelek lo! " ledek Tyara, tapi ditanggapi serius oleh Jingga. Perempuan yang saat ini memang lebih sensitif itu mengerucutkan bibir, dengan sudut mata yang sudah mengembun.
"Ya ampun, Ngga. Aku cuma becanda. Lagian si Daniah mana sih, ke dapur nggak nongol lagi?" Tyara mengeser posisinya mendekat ke arah Jingga, berusaha menggagalkan tangis dan air mata Jingga yang sudah hampir meluncur.
"Hehehehe... gua makan bakso duluan, laper nih! Dari tadi siang gua belum makan. "
"Jangan deket deket aku, Dan! " ujar Jingga saat melihat Daniah berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu bau bakso, Daniiii! " timpal Tyara seolah menjelaskan jika Jingga tidak mau mencium aroma bakso barang sedikit pun.
"Ayolah masuk ke dalam, sudah mulai petang nih! " ajak Tyara yang ingin segera merebahkan tubuhnya.
Mereka bertiga mulai beranjak dari teras tapi sebelum masuk ke dalam, Jingga mendapati sebuah mobil Jeep milik Alan yang terparkir tidak jauh dari rumah kontrakannya.
Melihat kedua temannya merebahkan diri di tempat tidur yang berukuran kecil itu membuat Jingga memilih duduk di sofa yang ada di dekat jendela. Sesekali dia kembali melihat keluar memastikan keberadaan mobil Alan dan memang masih tetep terparkir di pinggir jalan.
"Ngga...! " panggil Daniah.
__ADS_1
"Hemmmm....! "
"Kenapa nggak pulang ke rumah saja, lagian laki lo, udah tau keberadaanmu! " lanjut Daniah, selain menemani Jingga kedua gadis itu mendapat misi dari Alan untuk membujuk Jingga pulang.
"Aku ingin bercerai dengannya. Seumpama aku mengerti prosedur bercerai mungkin aku sudah mengajukannya terlebih dahulu! " ujar Jingga masih dengan menatap keluar jendela.
Mendengar pernyataan Jingga membuat kedua sahabatnya saling beradu pandang. Fix, urusan bercerai memang bukan kelas mereka yang menikah saja belum.
####
Masih menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok, Alan membuka layar ponselnya menatap kembali foto foto lucu Jingga yang sering dia ambil di saat yang tidak tepat (menurut Jingga). Sudah beberapa hari, Alan pulang ke rumah hanya sebatas mampir untuk mandi atau mengambil baju ganti. Setiap Pulang kerja dia langsung menuju ke daerah rumah kontrakan Jingga. Lelaki itu lebih memilih tidur di mobil beberapa malam terkahir ini, hanya untuk memastikan Jingga baik baik saja.
"Bang...! " sapa Raka saat di depan pintu ruangannya.
"Ada apa, Ka? Kemarilah! " Raka yang bermaksut pamit pulang pun akhirnya masuk ke dalam, memilih duduk di sofa depan Alan.
"Tumben Bang Alan merokok? Sudah makan belum, Bang? " tanya Raka melihat Alan yang semakin tidak terutur. Bosnya itu terlihat lebih kurus, bahkan saat ini Alan terlihat menggemari barang yang mengandung nikotin tersebut.
"Kan, Abang lagi break nggak ada istri. Tak apalah ganti aku yang merhatiin Abang" kelakar Raka membuat kekehan sinis Alan.
"Sialan... Terima kasih kamu sudah banyak membantuku. " ujar Alan yang memang sudah menganggap Raka seperti saudaranya. Baginya Raka adalah laki laki yang jujur, telaten, bertanggung jawab dan terkadang pemikirannya sangat dewasa untuk dimintai pertimbangan berbagai masalah.
"Aku sudah berhutang budi pada abang. Jika bukan Abang yang mau menerima aku bekerja sambil kuliah pasti aku belum lulus, Bang. Aku juga tidak tahu pendidikan adiku selanjutnya. Bagiku abang tidak sekedar bos bagiku. " wajah yang biasa tersenyum itu berubah menjadi sendu, saat mengingat kondisi ekonomi keluarganya sebelum bekerja di perusahaan Alan.
"Aku tidak salah memilihmu, kamu bisa diandalkan dan pekerja keras. Perusahaan sangat beruntung mempunyai kamu."
"Bang, boleh aku memberi saran? " Raka mencoba masuk dalam obrolan yang lebih pribadi.
"Bicaralah! "
"Apa tidak sebaiknya Abang selesaikan saja masalah Abang dan Mbak Jingga dengan berbicara baik baik. Kalau kucing kucingan terus tidak akan selesai, Bang! " Alan terdiam sejenak mencerna apa yang dikatakan yang tidaklah salah.
__ADS_1
"Tapi aku takut Jingga histeris dan pingsan lagi! " Pertimbangan itu yang membuat Alan berfikir kedua kalinya untuk menemui Jingga.
"Aku yakin Abang lebih tahu bagaimana mengahadapi istri Abang. Apalagi di sini Abang tidak bersalah. " mendengar ucapan Raka Alan beranjak dari duduknya dan menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja.
"Aku akan menemui Jingga!" teriaknya dengan meninggalkan Raka yang masih duduk di sofa.
"Gila... memang cinta membuat orang gila! " gerutunya setengah bergumam melihat sikap Alan yang begitu konyol.
Jingga yang baru saja keluar dari kamar mandi kini berjalan menuju pintu karena mendengar suara ketukan pintu yang berulang ulang. Sejak sore tadi dia seperti ingin muntah terus, perutnya terasa diaduk-aduk. Sambil melangkahkan kakinya, Jingga melirik jam yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Siapa lagi yang datang? " gerutu Jingga dengan memutar handle pintu.
Spontan tangannya akan menutup kembali pintu rumah saat yang datang ternyata Alan, tapi dengan gesit Alan menahannya.
"Ngga, sebaiknya kita bicara. Nggak bisa kita kayak gini terus! " ujar Alan masih berdiri di depan pintu dengan tangan masih menahan pintu.
"Apa lagi yang mesti kita bicarakan? Semua sudah jelas! " elak Jingga.
"Kamu salah faham, Sayang! " mendengar nama panggilan yang dulu sangat dia harapkan tapi saat ini rasanya terdengar memuakkan, membuta Jingga menatap tajam mata perak di depannya.
"Salah faham sampai meninggalkan bekas? Salah faham sampai dua kali " Decih Jingga dengan memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis.
"Pergilah, Mas. Keputusanku untuk berpisah sudah bulat!" kata kata Jingga masih terdengar tajam. Jingga berbalik ingin meninggalkan Alan, sebenarnya dia merasa kepalanya seperti berputar. Melihat Jingga seolah tidak peduli membuat Alan berlari mengejarnya ke dalam.
"Dengarkan penjelasanku dulu!" Alan mencekal tangan Jingga, berusaha membuat Jingga mau mendengarkan penjelasannya.
"Lepaskan, Mas! " pekiknya bersamaan dengan tubuhnya yang meluruh ke lantai.
Bersambung.....
crazi up ya ... hehehhe biar cepet selesai.
__ADS_1