
"Maaf, Kak. Aku sudah di jemput! " kalimat Jingga membuat Arga berhenti mengejarnya. Cowok yang hampir menyelesaikan kuliahnya itu pun menatap penasaran Jingga dan Alan yang berjalan keluar gerbang. Dalam benak Arga, siapakah lelaki berwajah Indo yang seolah selalu mengikuti keberadaan Jingga?
Keduanya saat ini berada di dalam mobil, Alan masih terdiam menatap jalan di depannya. Banyak hal yang masih ingin dikatakan pada Jingga, tapi otaknya masih mencerna agar bisa menyampaikannya dengan tenang.
"Mas Alan, marah ya? " tanya Jingga mendahului memecahkan keheningan diantara mereka. Sebenarnya dia sudah mengerti jika lelaki yang saat ini mencoba fokus dengan kemudinya itu memang sedang bad mood karena dirinya.
"Bisa nggak si Ngga, jika cuma fokus kuliah? " ucap Alan tanpa menolehi Jingga yang saat itu menoleh ke arahnya.
"Bukankah sudah beberapa kali kita bahas kan, Mas? Apa yang salah?"
"Memang tidak ada yang salah, tapi aku hanya ingin kamu fokus sama kuliah. Kalo kamu banyak kegiatan, kecapekan, belum lagi ngurusin rumah, kapan kita punya baby? " Alan masih mencoba berbicara dengan tenang.
Mendengar perkataan Alan membuat Jingga terbungkam, dia tahu perbedaan pemikiran itu tidak bisa diselesaikan di tengah jalan seperti ini. Jingga menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di jendela mobil, membuat Alan melirik sekejap istrinya.
"Kenapa terdiam? " tanya Alan yang masih menginginkan Jingga menuruti semua yang sudah menjadi kemauannya.
"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, jika memang sudah Dia sudah berkehendak. Bukan masalah kecapekan untuk mendapatkan momongan tapi itu juga kan rejeki, Mas. " kilah Jingga mulai merasa kesal.
"Tapi kita harus berusaha, kan? Bukankah, kamu juga punya tanggung jawab di rumah?"
"Kalo bilang nggak boleh ya, bilang saja! Nggak usah muter muter! " dengusnya dengan mengerucutkan bibir, membuat Alan menghentikan perdebatan yang pastinya sulit menemukan titik temu.
Alan membelokkan mobilnya di rumah, memarkirkan Jeep itu di belakang sebuah sedan camry yang belum ada nomer polisi. Rasanya, Jingga ingin menanyakan pemilik mobil tersebut tapi diurungkannya, karena situasi yang kurang kondusif diantara dirinya dan Alan.
Jingga langsung membuka pintu mobil dan berjalan masuk menuju kamar bawah. Dia mendudukan bobotnya, kemudian menyandarkan kepalanya di tangan sofa. Disusul Alan yang juga masuk ke kamar, tapi lelaki itu memilih hanya melirik istrinya dan berlalu menuju kamar mandi.
Jingga mengerjapkan mata, dia menatap kembali jam yang menggantung di dinding kamar, ternyata hampir setengah jam dia tertidur di sofa. Pandangannya mengedar mencari sosok Alan, tapi tidak juga ditemukannya di dalam kamar.
Masih dengan rasa penasaran, Jingga memutuskan untuk mencari keberadaan Alan. Tercium aroma masakan yang sangat harum saat dia keluar dari kamar, itu juga yang mengalihkan tujuan perempuan mungil itu yang seharusnya ke lantai atas berganti haluan menuju ke dapur. Jingga menghentikan langkahnya sejenak, saat melihat Alan berdiri menghadap pantry. Di mana Bi Murti? kenapa justru Mas Alan yang ada di dapur? Pikirnya merasa tidak enak karena dia yakin jika Alan sedang menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"Mas Alan, kenapa masak sendiri? Kenapa tidak membangunkanku? " Jingga yang saat ini memeluknya dari belakang membuat dirinya terkaget dan mengelus tangan kecil yang sudah melingkar di perut kerasnya.
" Aku tidak sedang memasak. Aku hanya menghangatkan makanan saja." jawabnya dengan menolehi Jingga yang masih menempel di punggungnya.
"Kenapa tidak membangunkanku? " Di mana Bi Murti? " tanya Jingga dengan masih menyandarkan kepalanya dengan manja di punggung suaminya.
"Kamu sepertinya sangat lelah. Jadi, aku pikir untuk membangunkanmu nanti saja, saat makan malam sudah siap. "
"Bi Murti ke mana, Mas? "
"Bi Murti minta ijin pulang tadi sore, karena anaknya ada yang sakit dan dia harus menjaga cucunya. " jelas Alan yang memang tadi sore sudah dipamiti oleh Bi Murti sebelum pulang.
"Mas Alan, tadi sore sudah pulang? Maafkan aku yang terlambat pulang! " ujar Jingga membuat Alan menarik tubuh yang mendekapnya dari belakang itu sedikit menyamping untuk berjajar dengannya. Tidak ada jawaban apapun, hanya saja tangan kekar itu merengkuh tubuh di sebelahnya dan mencium puncak kepala istrinya.
" Sana mandi dulu! Sebelum kita makan malam." titah Alan, membuat Jingga berjinjit mencium rahang yang dipenuhi bulu tipis itu.
Sambil menggelung rambutnya, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah terasa lengket.
Alan benar-benar menyiapkan makan malam kali ini, bahkan dia juga membuat jus apple untuk melengkapi dessert nya.
Jingga keluar kamar dengan wajah segar, bahkan dia sudah berganti dengan piyama celana pendek dan singlet yang berbahan satin.
Melihat semua hidangan sudah siap di meja membuatnya merasa sungkan sendiri. Alan memang sengaja menggunakan cara yang lebih halus untuk menegur Jingga, karena dia tahu karakter istrinya yang keras. Perdebatan dan tekanan hanya akan membuat perempuan mungil di depannya semakin menentangnya.
"Mas Alan, kasih aku waktu di BEM sampai berakhirnya periode kepengurusan tahun ini. Boleh ya? " Permintaan Jingga di sela makan malam mereka. Sebagai seorang istri Jingga merasa bersalah saat Alan menyiapkan makan malam.
"Iya... terserah kamu sajalah, Ngga! " Jawab Alan yang terdengar sudah tidak bersemangat membahasnya.
"Tapi jangan marah marah terus donk, nanti tambah tua, lo! " Alan hanya mendengus kesal mendengar olokan tua dari Jingga.
__ADS_1
"Tapi masih ganteng kok, buktinya cewek muda imut dan baik hati kayak aku masih mau dengan yang tua. " lanjut Jingga sambil mengedip kedipkan kelopak matanya, membuat Alan semakin gemas menatap ulah istrinya.
"Ayo cepat makannya... ! " seru Alan masih dengan menahan senyumnya.
" Emang mau ngapain harus cepat cepat? " tanya Jingga yang kemudian memasukkan kembali suapannya ke dalam mulut.
"Memakan daun muda! " Seloroh Alan sekenanya membuat pipi Jingga kembali merona.
"Apaan sih, mas Alan? " protes Jingga masih dengan malu malu.
Mereka terdiam hingga makan malam selesai, Jingga membereskan piring kotor dan dibantu Alan.
"Mas, di depan mobil siapa? " tanya Jingga masih dengan menyabun piring kotor.
"Pengganti Red Brio! " jawab Alan dengan meletakkan piring yang sudah bersih.
"Loh kenapa harus camry, nanti setiap tahun pengeluaran untuk pajak semakin bertambah lo! "
"Nggak usah banyak perhitungan, Ngga! Ntar juga aku yang bayar pajaknya, lagian itu juga mobil hadiah pernikahan kita dari Papa! "
"Heh... dasar ternyata yang pelit siapa di sini? Nggak nepatin janji. "
"Emang masih mau red Brio nya? Nggak sayang buat bayar pajak? " tawar Alan meyakinkan Jingga sekali lagi.
"Udah nggak tertarik aku sama mobil! " cebik Jingga, mereka menyelesaikan aksi di dapur bersamaan dengan terdengarnya suara bel.
"Ada tamu, kamu masuk dulu! Ganti baju sana!" Jingga pun berlari ke dalam kamar, sementara Alan membukakan pintu yang ternyata Raka yang datang dengan membawa laporan yang harus ditanda tangani Alan saat itu juga.
Bersambung
__ADS_1