Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
52. Loading Lama


__ADS_3

Masalah kerjaan, aku hanya ingin profesional saja. Kita bekerja tidak melibatkan perasaan, prasangka dan apalah... ayolah, Sayang! Berfikir lebih dewasa. Kalo memang kamu cemburu, ya dijagalah Mas Alan yang ganteng ini bukan malah di cuekin! " Sudah beberapa hari Alan memikirkan bagaimana bicara dengan Jingga yang keras kepala. Mencairkan kembali ketegangan karena prasangka Jingga yang sudah salah.


"Berhentilah untuk memaksa...! Hal yang aku tidak suka dari Mas Alan adalah kebiasaan memaksamu itu, Mas! " ujar Jingga, berusaha beranjak tapi tangan kokoh itu masih menahan pinggang istrinya untuk tetep duduk di pangkuannya.


"Tidak ada jalan lain kecuali memaksamu! Terkadang kita perlu menyesuaikan pasangan kita, bukan? "


"Apa aku seburuk itu? " sela Jingga.


"Bukan... itu hanya sebuah karakter bukan masalah baik atau buruk, ayolah jangan terlalu impulsive, terkadang kita perlu rekonstruksi apa yang sudah kita lihat! Percayalah, aku dengan Maya hanya sebatas rekan kerja! Tanya saja sama Raka, aku di kantor seperti apa? " masih membujuk Jingga, perempuan yang punya karakter sensitive tapi juga keras kepala itu masih terlalu sulit menerima alasan yang diberikan oleh Alan.


"Sudahlah, aku ingin istirahat dulu! "


"Aku temani, ya? " Alan masih menahan pinggang Jingga membuat Jingga yang sedari tadi ingin berontak pun malah tak bisa bergerak.


"Tidak! " tegas Jingga dengan tatapan tajam ke arah Alan.


"Mau sampai kapan, Ngga? " tanya Alan yang merasa gagal meyakinkan Jingga.


"Sampai tangan itu dicuci tujuh kali dan salah satu hitungan itu menggunakan debu! " Seketika pula Alan tergelak, dia tidak pernah menyangka jika jawaban Jingga akan sebegitu konyolnya.


"Kamu kira aku terkena najis? " tanya Alan dengan senyum tipis yang melekat di bibirnya.


"Apapun itu, tapi aku masih kesal sekali denganmu, Mas! Biarkan Aku istirahat sejenak.... aku lelah seharian jam kuliah penuh." ujar Jingga membuat Alan membiarkan istrinya beranjak dari pangkuannya.


"Aku temani ya, Ngga! " teriak Alan saat Jingga sudah mulai menaiki tangga.


"Nggak, ya nggak! " tanpa menoleh lagi Jingga pun naik terus ke atas tapi masih beberapa anak tangga yang belum dia lalui, perempuan berkulit putih itu memekik kesakitan.


"Auuuhhhh, ... Sakit! " Seketika pula dia menjatuhkan tubuhnya diantara anak tangga. Rasa sakit yang tak tertahan membuatnya hanya bisa meringis dan merintih kesakitan.


"Ngga...!" Alan langsung berlari menyusul Jingga, saat melihat Jingga hampir terjatuh jika saja tidak berpegang pada railing tangga, membuat Alan langsung berlari menghampiri Jingga.


"Mas.... sakit! " keluh Jingga yang merasakan kakinya semakin sakit. Tangan mungilnya pun masih memegangi betisnya yang terasa nyeri karena kram otot.

__ADS_1


"Sebentar...!" Alan mendudukan Jingga pada posisi yang benar. Tapi Jingga masih merasakan rasa sakit yang luar biasa di betisnya.


"Sabar, ... luruskan, dan lemaskan kakimu! " titah Alan kemudian mengambil posisi berhadapan dengan Jingga. Dipegangnya pergelangan kaki Jingga, kemudian mendorong pelan telapak kaki istrinya hingga menekuk balik.


"Akhhh.... " rintih Jingga. Tapi setelah itu dia menghela nafas lega.


"Udah enakan? " tanya Alan saat melihat Jingga merasakan kelegaan.


"Iya, Mas! Sudah enakan. " jawab Jingga dengan lirih. Kalo sudah begini bagaimana bisa dia masih ngambek dengan suaminya. Mau tidak mau dia membiarkan Alan menggendongnya ke kamar.


Dibaringkan tubuh Jingga di atas tempat tidur, Alan kemudian mencari balsem untuk di oleskan pada betis putih yang selalu dia kagumi itu.


"Terima kasih, Mas! " ucap Jingga tatkala Alan mengoleskan balsem dan memijit lembut kakinya.


"Banyak minum air putih...! Itu otot juga butuh pelumas! " ujar Alan dengan mengambilkan botol air putih di nakas yang memang selalu disiapkan.


Setelah meletakkan kembali botol air minum, Jingga merebahkan tubuhnya dan disusul Alan yang juga ikutan berbaring di samping Jingga. Sejenak suasana hening, mereka terdiam untuk beberapa waktu.


"Mas, apa kita terlalu memaksakan diri untuk berjodoh? " tanya Jingga dengan pandangan menerawang menatap langit-langit kamar.


"Perasaan, kita banyak perbedaan. Coba ingat, apapun itu pasti kita selalu bertentangan, lebih sering ribut, bahkan kita tidak seperti pasangan lain, kita seperti tidak punya chemistry, bayangkan saja, apa kita pernah nonton? dinner?"


"Pernah, bahkan sering kan? Kita dinner bersama! Atau kita mau dinner sekarang? "


"Beneran kita mau dinner sekarang? " tanya Jingga dengan mata berbinar.


"Nanti aku tanyain Bi Murti makan malamnya udah siap apa belum. " jawab Alan.


"Mas Alaaaann...! " lirih Jingga penuh penekanan, perempuan yang sudah mengerutkan bibirnya itu memiringkan posisi tidurnya dengan menghadap suaminya.


"Apa, Sayang!? " tanya Alan masih tersenyum tipis dengan tatapan tak beralih untuk menikmati wajah ayu yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


"Aku serius, Mas!"

__ADS_1


"Iya, aku juga serius!"


mendengar jawaban Alan Jingga hanya terdiam, dia kembali mengerucutkan bibirnya, menahan emosi, bagaimana cara menyampaikan isi otaknya saat ini. Sedangkan orang di depannya itu juga terkesan tak mau tahu.


"Haeeiii.... kenapa? Tidak semua yang berjodoh itu harus sejalan dan sama. Bahkan, belum tentu yang kita anggap romantis tidak ada perbedaan. Mungkin mereka terlalu pintar mengolah perbedaan hingga menciptakan sesuatu yang saling melengkapi. " ujar Alan dengan menyingkirkan anak rambut Jingga yang menjuntai di wajahnya.


"Sudahlah, susah aku ngomongnya! " Jingga membalikkan tubuhnya memunggungi Alan yang kini hanya bisa mengernyitkan dahi karena merasa heran dengan apa yang di maksut Jingga.


"Mau ngomong apa sih, Ngga? "


"Ngga jadi, susah kalo ngomong sama yang loadingnya lama! " sungut Jingga semakin tak ingin melihat wajah orang di belakangnya.


"Emang kamu mau apa, Ngga? "


"Nggaklah, kalo seseorang merasa mencintai seseorang juga faham!"


"Faham apa? " Ya, kali ini Alan harus mengejar Jingga dengan pertanyaan karena sudah terlihat ada indikasi istrinya mulai kesal.


"Ya, nyenengin wanitanyalah, kencan, nonton bareng, atau dinner romantis. " ketus Jingga yang memang sudah mulai kesal. Merasa Alan tidak pernah memikirkan hal hal romantis untuk hubungan mereka.


"Ohhh itu... bagiku sih tidak penting, mending nyari duit buat masa depan kita! "


"Duit terus... nggak ada habisnya, Mas! " Jingga beranjak duduk meraih totebagnya yang tergeletak asal asalan di bawah. Tangan mungil itu mencari dompet dan membukanya.


"Nih, aku balikin. Buat apa punya banyak uang jika tidak bahagia, merasa tidak dicintai." Jingga menarik telapak tangan Alan dan meletakkan black card di tangan Alan.


"Apaan sih, Ngga? Ok, besok kita nonton terus dinner....! " jawab Alan tak ingin membuat Jingga kembali marah.


"Berarti besok kita kencan romantis, kan? " tanya Jingga kembali meyakinkan pernyataan Alan.


"Iya...! " jawab Alan yang tidak terlalu bersemangat. Baginya hal semacam itu sangatlah tidak penting, tapi mau bagaimana lagi jika pasangannya begitu ngotot menginginkannya.


TBC

__ADS_1


Terima kasih dukung terus ya 'Merindukan Jingga' Dengan memberikan banyak hadiah.


__ADS_2