
Dave berhasil membawa Alan ke club malam, tentu saja setelah melalui berbagai cara hasutannya. Ya, berita kehamilan Jingga menjadi Alasan Dave jika setelah mempunyai anak dia tidak akan bisa mengunjungi club malam. Selain itu Dave juga mengundang beberapa teman dekat untuk merayakan kebahagiaan Alan.
"Dave...Aku bisa di hajar Jingga, jika sampai ketahuan pergi ke club! " ucap Alan setengah berteriak, hiruk pikuk dentuman keras suara musik membuat mereka harus bersuara extra jika ingin menyampaikan sesuatu. Sudah lama, Alan tidak mengunjungi club, membuat kepalanya sedikit berputar akan suasana yang begitu ramai.
"Santai paling Jingga marahnya tidak akan lama! " jawab Dave dengan santainya.
Ada lima lelaki yang saat ini duduk bersama Alan. Mereka seolah melepas kepenatan yang ada dengan dalih merayakan Kehamilan Jingga agar Alan mau ikut bergabung. Tapi bagaimanapun hiruk pikuknya suasana, Alan tetap saja merasa gusar, dia yakin jika akan mendapat amukan Jingga jika tahu dirinya mengunjungi club malam.
"Cukup, Dave! Aku bisa mabuk. Kamu tahu kan, jika aku tidak begitu kuat minum! " ucap Alan, Rasanya dia ingin segera pulang tapi nyatanya Dave terlalu pintar untuk menahannya.
Di rumah, Jingga begitu gelisah menunggu kepulangan Alan. Sesekali dia berjalan ke ruang utama, sedikit menyibakkan tirai untuk melihat apakah suaminya sudah datang atau belum. Beberapa kali dia mencoba menelpon tapi tidak pernah mendapat jawaban membuat hatinya semakin gelisah.
Rasanya Jingga sudah hampir menangis, bukan hampira, kini matanya sudah menganak sungai memikirkan keberadaan suaminya.
"Mas Alan, di mana kamu? " Keluhnya, suasana semakin sunyi hanya suara detak Jam yang terdengar, tangannya saling meremas penuh dengan rasa panik. Sementara matanya yang sudah mengantuk menatap jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Deru suara mesin mobil memasuki halaman, membuat Jingga berjingkat kaget. dia segera membuka pintu, menanti penumpang mobil jaguar itu segera turun.
Nampak Alan berjalan di bantu Dave dan satu orang lelaki mengiri mereka berjalan masuk mendekat ke arah Jingga.
"Ya Allah.... keterlaluan sekali kalian! " hanya kata kata itu yang keluar dari mulutnya, saat hatinya bergemuruh menahan emosi yang siap meledak. Ntah, harus meluapkan kemarahannya pada siapa saat ini. Jingga hanya mematung menatap tajam ke tiga lelaki di depannya secara bergantian.
"Sayang...! " ucap Alan saat melihat bayangan Jingga di depannya. Dia tahu Jingga sedang marah besar.
"Diam... ! " teriak Jingga menghardik suaminya. Tapi tatapannya tertuju pada kedua teman Alan secara bergantian. Rasanya ingin dikeluarkan jurus sumpah serapahnya, jika tidak ingat dia harus menjaga mulutnya untuk si jabang bayi.
"Kalian keterlaluan! " suaranya tercekat, seolah dia tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan kepada ketiga lelaki itu.
Jingga meninggalkan mereka, dia memilih untuk masuk ke dalam kamar, sementara Dave dan satu temannya kemudian pulang. Saat ini tinggal Alan yang berusaha mengejar Jingga dengan kepala serasa berputar putar. Beberapa kali dia memijat kepalanya agar bisa berjalan dengan seimbang.
__ADS_1
"Ngga...! " panggil Alan sebelum memasuki kamar.
"Sayang, Maafkan aku! "
"Byuuuuuur.... " panggilan Alan di jawab Jingga dengan guyuran air satu ember. salah satu hal untuk meluapkan emosinya saat ini.
"Aaaahhh.... Sayaaaang...!" ucap Alan saat itu terkaget. Dia tidak menyangka Jingga melakukannya di kamar. Dan Jingga pun tidak peduli jika kamarnya akan basah dengan air yang membanjir kemana mana.
"Rasakan itu, Mas! Kamu keterlaluan! Terserah kamu tidur di mana, yang pasti jangan mendekat atau menyentuhku! Camkan itu! " Gemuruh amarah di hati Jingga membuat Alan terbungkam. Tentu saja karena dia tidak mampu menjawab semua ocehan Jingga yang begitu fasihnya karena dia memang sudah merasa bersalah. Jingga melempar ember kosong itu kesembarangan, sementara dia memilih untuk tidur di kamar atas. Dia sudah tidak peduli mau basah semalaman atau tidur di mana? Terserah! Jingga sudah tak peduli dengan Alan. Dia terus menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa kemudian masuk ke dalam kamar dan tidak lupa untuk menguncinya. Dia benar benar muak dengan kelakuan suaminya.
Semalaman Jingga memang tidak bisa tidur tenang. Bahkan, beberapa kali dia melihat jarum jam yang seakan lambat untuk berputar.
Saking gelisahnya dia memilih duduk dan mematung menunggu pagi tiba.
Pukul empat pagi, sejenak dia terdiam. Tapi sesaat kemudian dia merasakan perutnya kembali mual. Fix, morning sicknya sudah kembali menyapa.
Dengan rasa malas Jingga keluar dari kamar, rasa kesalnya dengan Alan masih tetap bertahan, meski semalam sudah berusaha untuk di redam. Rasanya masih ingin sekali dia mengumpati Alan. Sepertinya hamil membuatnya semakin buas.
Diliriknya Alan yang tertidur di sofa samping kamarnya.
"Bodo amat! "
Dia langsung berlalu menuju dapur. Ternyata sudah ada Bi Murti di sana. Jingga memang tidak ingin memasak, dia masih enggan untuk berjibaku di dapur. Bau Minyak goreng dan bawang hanya akan membuatnya semakin mual saja.
"Bi, tolong masak sup daging dan sayurnya taoge saja! Buat Mas Alan. " Dia masih tetap memperhatikan apa yang dibutuhkan untuk menetralkan alkohol di tubuh suaminya.
Setelah memberi tahu maksudnya, Jingga kembali melangkah menuju ruang tengah yang ada di bawah tangga. Dia masih mencoba menghubungi ponsel ibunya meski tidak pernah sekalipun tersambung.
"Sayang...! " Alan menghadang langkahnya seketika.
__ADS_1
"Kenapa tidak membangunkanku solat subuh? " ucap Alan memelas.
"Apa? Solat? Mabuk saja berani, masih ingat solat? Apa nggak salah? Ibadahmu nggak bakal diterima selama 40 hari! " ketusnya masih ingin memaki suaminya itu.
"Sayang....! " panggilnya lagi dengan mengiba.
"Nggak usah drama! " jawabnya lagi dengan suara meninggi, kemudian meninggalkan Alan yang meluruhkan bahunya merasakan kebuasan istrinya.
"Sial... semua karena Dave! " umpatnya kemudian pergi ke kamar mandi. Rasanya dia ingin memaki Dave yang sudah membuat tipu muslihat dan menghasutnya.
"Dasar kau Dave, syaitan yang terkutuk! " gumam Alan melampiaskan kekesalannya karena Jingga benar benar marah padanya.
###
Di sebuah Private room sebuah rumah makan, dua orang yang baru bertemu itu kembali bersitegang.
"Aku harap Mas Wirya lebih cooperative menyerahkan semua aset yang seharusnya milik Jingga! " ucap Sasmita masih berusaha tenang.
"Jangan bermimpi! Kamu hanya istri keduanya cokro! Jadi tidak akan aku serahkan semuanya." Tolak Wirya.
"Aku memang istri keduanya, Mas Cokro! Hanya aku dan Jingga yang berhak atas semuanya, Mas. Mbak Rengganis memang sudah meninggalkan, tapi bukankah ada Jingga , putri semata wayang mereka? Jingga Andini memang bukan putri kandungku, tapi aku menyayanginya seperti putriku! " Setiap mengingat nasib Jingga, Sasmitha rasanya ingin menangis, tapi dia harus terlihat kuat saat jika ingin memperjuangkan apa yang sudah menjadi hak Jingga.
Dalam ruangan yang tertutup itu, kediaman dan tatapan keduanya seolah sedang beradu kekuatan. Sasmitha sebenarnya ajudan dari Raden Ajeng Rengganis, yang setelah kepergian tuannya itu kemudian di nikahi oleh Cokro Raharjo ayah kandung Jingga andini. Ya, begitu rumitnya kejadian masa silam, membuat Sasmitha tak kuasa menceritakan kebenaran itu pada Jingga.
"Baiklah, Mas Wirya jika itu maunya panjenengan( Kamu). Aku bisa memilih jalur mana pun untuk memperjuangkan kebenaran " ujar Sasmita. Kalimatnya yang tenang dan tajam membuat Wirya semakin kalang kabut menatap kepergian Sasmitha dari ruang private room.
bersambung...
Hae hae... readers tercinta... jangan lupa ya vote like dan comment untuk menambah semangat. happy reading gaes.... semoga kalian sehat selalu... amin.
__ADS_1