Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
27. Kenekatan Jingga.


__ADS_3

Jingga menata semua barang yang akan dibawa alan ke luar kota. Rasanya berat melepas suaminya meski hanya sehari atau dua hari, apalagi bersama perempuan itu, meskipun mereka di sana bertiga bersama Raka.


"Kenapa, dari tadi diam saja? " ucap Alan yang kemudian menelusupkan kedua tangannya di pinggang kecil istrinya. Sontak saja membuat Jingga menoleh dan kemudian berbalik menghadap ke arah suaminya.


"Jangan terlalu lama di sana! Ntar nggak ada yang antar jemput aku. " ujar Jingga yang kemudian mengerucutkan bibirnya.


"Ya Allah, aku bagimu cuma sopir, Ngga? " tanya Alan dengan seringai sinis di sudut bibirnya. Lelaki itu begitu gemas saat wanita galaknya masih saja menutupi perasaan berat akan ditinggalkan ke luar kota olehnya.


Tidak ingin menjawab Alan, Jingga hanya memeluk suaminya dengan erat. seolah hendak menahan Alan, tapi itu mustahil karena suaminya memang harus pergi untuk urusan pekerjaan.


"Hai, kenapa jadi melow gini? Bukankah hari ini masih ada ujian? " tanya Alan saat istrinya memeluknya begitu erat. Jingga hanya mengangguk saat tangan suaminya mengelus lembut punggungnya.


"Cepat pulang, ya! " ujar Jingga dengan meregangkan pelukannya, menatap manik mata perak dengan penuh permohonan.


"Tentu saja, kita kan belum honeymoon. "


"Apaan sih, Mas Alan! " jawab Jingga dengan rona tersipu. Sementara Alan hanya terkekeh saat menatap wajah putih istrinya yang sudah memerah.


Mereka memang berpisah saat Alan mengantar Jingga di kampus. Sejak ada Jingga hidupnya banyak berubah, jika dulu dia begitu santai jika ada proyek keluar kota bahkan selalu menikmati suasana kota yang dia singgahi, tapi saat ini memang sangat berat meninggalkan istrinya.


"Sayang, hati-hati! Selesai kuliah langsung pulang ke rumah! " ucap Alan dengan mencium kening istrinya, sebelum Jingga keluar dan berlari menuju gedung fakultasnya.


Langkah gadis mungil berambut panjang itu begitu bersemangat, saat akan memasuki ruang ujian. Semalam dia memang sudah belajar mati-matian dan ada beberapa rumus yang di bantu Alan untuk memahaminya, meski harus dengan imbalan kesenangan itu.


"Ngga, emang nggak gerah apa pakai syal dan baju tertutup kayak gitu?" tanya Daniah saat mereka ke luar dari ruang ujian. Mereka berempat berjalan menuju ke kantin.


"Jangan sok poloslah, paling habis ehem ehem...! " Seketika wajah Jingga langsung memerah, saat Tyara menembak langsung jawaban untuk Daniah.


"Eh, kalian ini hobi banget menggoda Jingga. Eh Ngga, gimana jadi ikut nggak acara besok? Kemarin aku udah daftarin lo, sekalian sama Dani!" sela Nelly membuat ketiga sahabatnya menoleh ke arahnya. Ya, Nelly memaksa Daniah untuk ikut agar Jingga tak bisa menolak ajakannya.


"Tapi.... Nggak dibolehin sama Mas Alan! "

__ADS_1


"Bukannya laki lo lagi ke luar kota?" bujuk Nelly berharap Jingga juga ikut dalam acara camping besok.


Sambil terus mengobrol mereka menemukan tempat di pojok kantin. Jingga yang semula sudah pasrah untuk tidak ikut camping pun berfikir ulang karena bujukan Nelly, apalagi Daniah juga ikut dalam camping tersebut. Ah, dia merasa perlu untuk bisa merasakan jadi mahasiswa seutuhnya. Kuliah dan Ikut kegiatan yang semestinya.


###


Jingga bergegas berlari mencari ponselnya yang tergeletak di meja makan, dari tadi suara dering terdengar begitu nyaring. Dan benar saja, ternyata Alan yang akan melakukan panggilan video call.


"Halo sayang... " ucap Alan saat melihat senyum manis terbit di bibir mungil istrinya.


"Mas Alan, sedang apa? " jawab Jingga yang masih memperhatikan suaminya yang sedang berada di kamar hotel.


"Habis makan malam bareng klien dan meluruskan kembali semua kesepakatan." jawab Alan yang kemudian duduk bersandar di kepala ranjang.


"Aku merindukanmu! " lanjut Alan membuat Jingga tersipu, meski hanya merespon dengan senyuman, tapi perempuan itu sebenarnya juga sangat merindukan keberadaan suaminya. Sepi, rumah tanpa adanya Alan.


"Mas, apa yang terjadi di sana? Kapan pulang?" cecar Jingga dengan beberapa pertanyaan. Berharap, Alan akan secepatnya pulang.


"Ohh... " jawab Jingga dengan membulatkan bibirnya dengan wajah sedikit kecewa.


"Jangan seperti itu, aku sudah merindukanmu! Ya, sudah aku akan menutup panggilannya, kamu istirahatlah!" ujar Alan kemudian menutup panggilannya.


Jingga hanya tersenyum menatap ransel yang sudah tergeletak di dekat lemari. Dia akhirnya memutuskan akan ikut camping, mungkin Alan tidak akan pernah tau jika dia akan ikut acara itu.


Malam itu juga, Jingga pergi ke rumah bagian belakang, dia bermaksud menemui Bi Murti di sana.


"Bi, sudah tidur? " tanya Jingga setelah mengetok pintu beberapa kali.


"Belum, Mbak! " sahutan Bi Murti dari dalam yang diikuti pintu ruangan yang kemudian terbuka lebar.


"Bi, besok aku ada acara kampus, sepertinya tidak pulang, aku titip rumah ya! "

__ADS_1


"Sudah bilang Mas Alan, Mbak? " tanya Bi Murti yang meragukan jika Alan mengijinkan Jingga pergi.


"Aku nggak bilang, Bi. Tapi, bisa dipastikan aku pulang sebelum Mas Alan sampai rumah. Mas Alan pulang lusa, dia sudah memberi tahu tadi."


"Tapi, Mbak... " kalimatnya menggantung diantara ingin melarang tapi dia tak berani.


"Nggak apa-apa, Bi. Nanti Mas Alan nggak bakal tahu, kok! " ucap Jingga penuh keyakinan membuat wanita paruh baya itu tak bisa berkata-kata lagi.


###


Pagi-pagi buta, sebuah mini bus membawa para mahasiswa ke lokasi camping. Terdengar petikan gitar yang diiringi suara nyanyian serentak para mahasiswa yang ikut rombongan, membuat bus terasa ramai. Arga yang terlihat piawai memainkan dawai itu dengan begitu bersemangat, apalagi semua bernyanyi mengiringi alunan gitarnya. Berbeda dengan Jingga, sedari tadi hanya terdiam menatap keluar jendela. Tentu saja, kepergiannya tanpa ijin suaminya menyisakan rasa yang mengganjal di hatinya. Nekat, mungkin itu pilihan yang diambil Jingga saat ini.


"Ngga, sepertinya kak Arga benar-benar menyukaimu, deh!" ujar Nelly saat memergoki mata Arga yang terus mengekor ke arah Jingga. Sedangkan Jingga sendiri malah asyik dengan lamunannya menatap pohon-pohon yang seolah berjalan berjajar dengan laju bus.


"Jangan bikin gosip, Nel! " ujar Jingga tanpa menoleh gadis yang duduk di sampingnya. Dia tak ingin terkecoh dengan pemikiran Nelly yang menurutnya mengada-ada.


"He he he " Nelly hanya terkekeh.


Di sebuah tanah lapang, mini bus yang mereka tumpangi pun berhenti. Arga sebagai ketua rombongan pun mengambil alih komando untuk memberikan instruksi selanjutnya.


" Ayo semua turun! " Seluruh mahasiswa turun dari bus dan berkumpul saat mendengar instruksi Arga.


"Kita masih ada perjalanan sekitar tiga kilometer untuk sampai ke tempat tujuan, jadi saya harap jangan memisahkan diri dari rombongan. " tegas Arga mewanti-wanti rombongan.


"Siap..! " jawab rombongan itu serempak.


mereka memulai menelusuri jalan setapak dan semak-semak. Matahari mulai meninggi, bahkan teriknya sudah terasa menghangat saat bersentuhan dengan kulit.


Nelly memelankan langkahnya masih di temani Jingga, saat itu gadis berambut curly mengeluh sakit perut.


"Ngga, ayo temani aku buang air terlebih dulu! " ucap Nelly mengajak Jingga berbelok ke semak-semak, memberi jarak pada rombongan yang sudah berjalan di depan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2