Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
45. Penakut Yang Gengsi


__ADS_3

"Loh siapa tamunya, Mas? " tanya Jingga saat keluar kamar dan mendapati Alan yang baru masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan Raka sampai di luar pintu.


" Raka, nganterin laporan untuk ditanda tangani dan ada sesuatu yang ingin ditanyakan langsung. " jawab Alan yang langsung membawa beberapa map ke ruang kerjanya. Manik mata hitam Jingga terus mengekor ke mana Alan pergi.


" Ya ampun... punya suami nggak ada romantis-romantisnya. Panggil sayang saja bisa dihitung apalagi ngajakin kencan. " gerutu Jingga yang kemudian memilih melenggang ke teras belakang.


Disandarkan tubuhnya di kursi panjang yang biasa untuk bersantai. Niatnya memang untuk melihat lihat sosial media, tangannya masih asyik menscroll, melihat status teman temannya satu persatu, baik foto, video atau caption apalah.


"Ya Allah, ini status pada bikin gerah! Bikin ngiri saja. " gumamnya lirih dengan nada sedikit kesal, saat melihat status teman temannya yang terlihat romantis bersama kekasih masing masing.


Sejenak dia termenung, menyadari jika ternyata dia sudah melewatkan masa mudanya dalam sebuah perjodohan. Tidak ada pacaran atau kencan romantis seperti halnya pasangan muda yang lain.


"Ternyata... Ah, sudahlah berarti hidupku jauh dari yang namanya maksiat meski penasaran seperti apa pacaran atau sekedar jalan berdua! " Lagi lagi Jingga bermonolog dengan perasaannya sendiri. Jingga hanya mencoba menenangkan rasa irinya karena tidak pernah merasakan masa muda seperti anak muda pada umumnya.


Dari pada terlarut dengan hal hal romantis yang bikin iri, dia memilih untuk melihat film horror. Jari mungil itu akhirnya menemukan film horror yang selalu menjadi trending di Indonesia. Malam yang sunyi bahkan angin yang berhembus itu seolah melengkapi suasana yang mencekam.


Tubuhnya sedikit menegang dengan mata yang tidak beralih dari layar ponselnya, tontonannya sudah menghipnotis dirinya dalam ketakutan, ditambah rumah bagian belakang yang senyap karena tidak adanya Bi Murti, menjadikan Jingga semakin merinding. Meski begitu, dia masih betah ingin menonton sampai habis film tersebut.


"Aaaargggg...! teriaknya terkaget hingga ponselnya terlempar ke lantai karena saat itu pula dia merasakan sebuah tangan mendarat di pundaknya


" Heiii.... kamu kenapa? " tanya Alan yang sudah berdiri di dekatnya dengan rasa penasaran saat melihat ekspresi Jingga yang ketakutan.


"Astagfirullah .... aku kira hantu, Mas! " lirihnya dengan mengelus dada mengatur nafasnya yang menderu, sementara Alan memungut ponsel miliknya yang sudah tergeletak di lantai dengan film yang masih berputar.


"Mas...! Jingga beringsut menarik lengan kekar Alan, saat lelaki itu mendudukkan bobot di sebelahnya dan melihat apa yang sudah dilihat istrinya.


" Makanya, kalo jadi penakut jangan nonton yang beginian!" ujar Alan dengan mematikan ponsel Jingga.


" Aku sebenarnya nggak takut, cuma di sini sepi saja, nggak ada Bi Murti. Terus kalo tanah rumah ini bekas makam gimana? " tanyanya dengan berandai andai masih dengan mencengkeram lengan suaminya yang saat ini malah terkekeh.


"Bisa saja itu, Ngga! Rumah ini bekas makam para pejuang yang disiksa penjajah, hingga arwahnya gentayangan. " Alan malah menakut nakuti Jingga yang sudah menempelinya terus.

__ADS_1


"Kalo gitu kita pindah rumah saja, Mas! "


"Enak saja, di mana-mana ada hantu, Ngga. Mereka ada tapi mereka tidak akan bisa menyentuh kita, bahkan berdekatan dengan kita saja sudah apes bagi mereka. "


"Kok bisa? " Jingga memotong kalimat Alan seperti anak kecil yang begitu antusias mendengarkan cerita.


" Ya, karena manusia punya elektron dan mereka tidak!" Alan mulai berdiri tapi tangannya masih dipegang Jingga.


"Tunggu sebentar... " Gegas, Jingga pun mengikuti Alan berdiri. Dia juga masih menempeli Alan yang hanya menggelengkan kepala.


"Makanya kalo nggak kuat jangan nonton gituan! " Alan berjalan masuk ke dalam diikuti Jingga yang masih tetap mencengkeram lengannya.


"Dilema...lihat status teman bikin ngiri, nonton yang seru eh, malah horror. "


"Kenapa iri? "


"Yah, mereka bisa pacaran ngerasain kencan romantis ah pokoknya couple goals banget deh! " jelas Jingga membuat Alan hanya berdecih dan kembali menggelengkan kepala. Ya, tapi dia mengerti jika istrinya masih dengan pemikiran layaknya ABG yang lain.


"Kamu tidur saja! Aku akan kembali ke ruang kerja. " titah Alan saat berada di dekat tangga.


###


Jingga berniat membawakan makan siang buat Alan. Dia sengaja tidak memberitahu Alan sebelumnya. Taxi online yang mengantarkan Jingga pun berhenti di depan kantor suaminya. Suasana mendung di tambah angin yang berhembus kencang membuat Jingga mempercepat langkahnya memasuki kantor.


Karena sudah beberapa kali dia mampir ke kantor Alan, Jingga langsung saja berjalan menuju ruangan Alan yang ada di lantai dua. Pintu yang masih tertutup, bahkan meja Raka yang ada di depan ruangan Alan pun nampak kosong.


Jingga mencoba membuka ruangan yang tertata dengan artistik, bisa terlihat tata ruang yang sangat elegant menunjukan selera lelaki itu memang tinggi. Jingga memasuki ruang sepi itu dan menaruh paper bag yang berisi kotak makan siang yang sudah dibawanya dari rumah.


Tidak ingin berlama-lama menunggu Alan, Jingga memutuskan untuk balik saja karena sore ini dia ada janji dengan psikolog Amanda untuk jadwal teraphy.


"Loh...kamu siapa, berani beraninya masuk di ruang kantor Pak Alan! " ujar perempuan muda dengan rok sepan yang dipadu dengan atasan blazer.

__ADS_1


"Eh, ada apa ini? " Maya tiba tiba hadir untuk menengahi Jingga dan Reni.


"Dia masuk ke ruang Pak Alan, Mbak May. " jawab Reni memberi tahu apa yang barusan dia lihat.


"Sudah balik lagi ke ruanganmu saja, Ren! " titah Maya membuat rekan kerjanya pun bergegas meninggalkan mereka.


"Maaf Mbak Jingga, dia belum tahu kalo Bang Alan sudah menikah! " Maya menjelaskan kepada Jingga perihal yang membuat Reni menegurnya.


"Ohh, nggak apa! Jadi banyak yang belum tahu ya, jika mas Alan sudah menikah? " tanya Jingga sedikit kecewa.


"Iya, mungkin Bang Alan malu karena Mbak Jingganya terlalu muda dan kalian dijodohkan pula!" tutur Maya membuat hati Jingga seperti tersentil, betapa menyedihkan jika suaminya saja malu mengakuinya.


"Ohhh ... mungkin juga ya, Mbak! " sahut Jingga berpura pura dirinya masih baik baik saja. Dia masih menutupi rasa kecewa dan kegelisahan di hatinya.


"Menurutku seperti itu, seseorang ketika bangga dengan sesuatu, pasti dia akan menunjukkannya pada setiap orang! " lanjut Maya, seperti menyurutkan semua rasa bahagianya hari ini.


"Oh ya Mbak, aku balik dulu, soalnya masih ada janji! " pamit Jingga dengan rasa kecewa yang diam diam sudah menghuni hatinya.


Percakapan di depan ruangan Alan pun berakhir dengan kepergian Jingga yang akan meninggalkan kantor Alan. Jingga masih berjalan dengan tergesa-gesa, pikirannya kali ini di penuhi dengan ucapan Maya yang sudah sangat mempengaruhinya.


"Bughhh....! "


"Jingga...! " lirih Alan saat Jingga menubruknya. Dia baru saja datang bersama Raka setelah menemui klien.


"Mau kemana? Ayo masuk...! " ajak Alan saat mengetahui Jingga sudah akan kembali pulang.


"Aku ada janji dengan Psikolog Amanda, Mas! Saat ini aku akan langsung ke prakteknya. "


"Mau diantar sopir? "


"Nggak usah, Mas! Aku pergi, dulu! Takutnya keburu telat nanti." Setelah berpamitan dengan Dengan terburu Jingga meninggalkan kantor Alan.

__ADS_1


"Bersambung...


Semoga selanjutnya up nya lancar ya gaes... sudah mau mudik nih.... oh ya, yang masih punya vote atau hadiah bisa donk di kasihkan 'Merindukan Jingga'


__ADS_2