
Jingga's Pov
Aku masih melihat kesedihan yang mendalam di mata laki lakiku. Rasa kehilangan atas kepergian Eyang Putri untuk selamanya membuat Mas Alan masih terlihat murung. Aku tahu Eyang Putri punya banyak peran di sana, mungkin juga salah satunya yang menggantikan posisi Mamanya. Tapi, aku tidak ingin Mas Alan terlarut dalam kesedihan yang berkepanjangan, aku melihat ada penyesalan di matanya, mungkin karena dia merasa tidak pernah merawat wanita sepuh itu, merasa belum bisa memberikan apapun untuk beliau. 'Cukup ' bagiku untuknya berkabung.
Sudah tuju hari lewat, Eyang Putri meninggalkan kami, tapi Mas Alan masih nampak terpukul atas kehilangan orang yang selama ini sangat berarti dalam hidupnya dan hubungan kita. Bahkan, sempat sebelum kepergiannya, beliau berpesan pada kami untuk saling menjaga, saling setya dan bahkan saling mengisi kekosongan dan kekurangan kami.
Aku masih ingat betul tangan keriput itu masih sempat mengelus lembut perutku setelah terbangun dari kritisnya, bibir beliau juga menuturkan kalimat candaan jika suatu saat dia akan hadir bersama buah hati kami. Aku tidak menyangka, jika Eyang akan meninggalkan kami selamanya. Saat itu, aku pikir kondisi beliau sudah semakin membaik, tapi suatu malam, setelah meminta air putih, beliau mengeluh sangat mengantuk dan saat itulah beliau sudah tidak pernah membuka matanya lagi.
Aku menangis saat itu, tapi ada yang lebih terpukul dari aku. Mas Alan, Dia langsung berteriak histeris diiringi raungan tangisnya yang membekukan keadaan seketika. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya, langsung aku merangkul tubuh besar itu, mencoba menenangkan semampuku. Sehebat apapun seseorang suatu saat dia butuh seseorang untuk bersandar, seperti saat ini, dia yang menurutku kuat dan hebat pun seperti kehilangan kekuatan saat seseorang yang berarti dalam hidupnya pergi untuk selamanya.
Eyang Rumana
Perempuan sepuh yang selama hidupnya masih identik dengan kekentalan budaya Jawa, beliau orang yang begitu mempedulikan apa itu sopan santun etika dan tepo seliro. Lagi dan lagi aku sangat mengagumi semangatnya, selalu berfikir positif dan tampilannya yang selalu nyentrik seolah ingin sekali beliau mengatakan jika dirinya bukanlah seseorang yang kolot, lebih hanya mencintai tradisi.
Wajah galaknya dengan tampilan nyentrik tidaklah menggambarkan dirinya yang sebenarnya, beliau adalah sosok yang welas asih dan ngayomi. Jika tidak, semua orang yang berdampingan dengan Eyang tidak akan memilih untuk memberikan loyalitas yang tinggi, karena banyak kebaikan yang sudah di haturkan Eyang pada sesama.
Aku mendekati Mas Alan yang saat ini duduk termenung, di belakang rumah. Sebatang rokok menyala dengan asap mengepul dan membumbung tinggi kemudian menghilang ke udara yang saat ini menemaninya.
Aku meletakkan secangkir kopi di meja, kemudian duduk di sebelahnya dan memeluknya begitu erat, seolah aku ingin mengatakan padanya jika aku sangat mengerti kesedihannya saat ini.
"Sayang, aku sedang merokok! " ucap Mas Alan padaku, berharap aku menjauh karena tidak ingin aku menghisap asapnya. Mas Alan hanya akan merokok saat pikirannya sedang kalut saja, tentu seperti saat ini.
Aku tak bergeming dengan perintahnya, membuat mas Alan mencecak batang rokoknya kemudian membalas pelukanku. Dia memeluk sangat erat, kemudian mengecup lembut puncak kepalaku. Aku mendongak menatapnya mencari sesuatu yang bisa aku artikan, aku melihat kesedihan dan rasa sendiri yang di ceritakan lewat sorot mata perak itu. kemudian aku mempererat pelukanku lagi, seolah tubuhku ini menceritakan jika dia tidak sendiri.
Cukup lama kami terdiam dengan bahasa tubuh kami yang saling menguatkan satu sama lain. Sore itu hampir satu jam kami terdiam.
"Mas,... " aku memecah keheningan diantara kami. Kutatap raut wajah yang kini menunduk karena membalas tatapanku.
__ADS_1
"Aku mengerti perasaanmu, tapi aku juga membutuhkanmu! " ucapku begitu egois, aku memberanikan diri mengatakan itu. Dia sedikit meregangkan jarak dariku, menatap mataku begitu dalam, seolah mencari sesuatu di sana.
"Anak kita... " lanjutku dengan suara lirih dan bergetar. Aku melihat tatapannya begitu sendu, sangat berbeda dari Mas Alan yang kukenal sebelumnya .
"Maafkan aku! " dia kembali menarikku dalam pelukannya. membenamkan diriku dengan rengkuhan tangan kokohnya, seperti itu adalah hal terindah untukku.
Aku terdiam, hingga Mas Alan merosotkan tubuhnya di lantai. Tangannya melingkar di pinggangku, wajahnya mendekat di perutku, hingga beberapa saat dia membenamkan ciumannya di perutku yang masih datar.
"Maafkan aku,...! Seharusnya aku sadar ada kalian yang menungguku! " lirih Mas Alan masih dengan posisi yang sama, tanganku mengelus kepalanya dengan lembut. Aku memang egois menuntutnya untuk kembali menjadi Mas Alan yang dulu.
Aku melihat Mas Alan seperti tersadar jika hidupnya juga milik kami berdua, bukan miliknya sendiri. Dia kembali duduk di sebelah ku, kemudian tersenyum dan kembali memelukku hangat. Pelukan yang sudah sangat aku rindukan.
###
Sebulan sudah berlalu, Jingga menatap senja dari balik jendela. Ada kerinduan tersendiri untuk ibunya. "Dulu Ibu selalu memarahiku saat aku pulang menjelang petang! " gumamnya. Sekian lama dia berusaha menghubungi ibunya, tapi tetap belum bisa terhubung.
"Apa ibu sekecewa itu padaku? " gumamnya lirih saat kembali menutup tirai jendela. Dia terkaget saat Alan sudah berdiri di belakangnya.
"Besok, aku akan mencari ibu! Jangan sedih ya! " lirihnya dengan mengelus perut Jingga yang sedikit membuncit, ada kesenangan tersendiri saat tangannya berada di bagian yang saat ini dia favoritkan itu.
"Mas Alan akan mencari ibu di mana? Ibu juga sudah tinggal di kampung. " ujar Jingga dengan menatap mata perak itu.
"Kemana saja yang penting Ibu ketemu. Biar bagaimana pun ke salah pahaman ini harus diluruskan. Aku akan meminta Haris untuk mencari ibu! " jelas Alan mencoba menenangkan Jingga, dia tidak ingin Jingga menjalani kehamilannya dengan perasaan sedih. Sudah terlalu banyak masalah yang akhir akhir melanda.
"Sayang... Nonton yuk! " ajak Alan membuat Jingga menatapnya tak percaya.
"Serius...! " sambung Alan lagi berusaha meyakinkan Jingga, jika dia serius ingin mengajaknya jalan.
__ADS_1
"Sekarang? " Jingga kembali bertanya dengan penuh keraguan.
"Iya, sekarang.... "
"Aku ganti baju dulu! Oh ya mas, bajuku sudah mulai sesak! aku ingin beli beberapa baju lagi. "
"Tidak masalah... uangmu, kan banyak! "
"Oh ya mas! naik motor ya? "
"No...! " Alan langsung menolak tegas Jingga. Dia tidak ingin mengambil resiko apapun.
"Kita naik sedan saja!"
"Ihhh.... mas Alan! Alan Junior yang mau naik motor! " rengek Jingga mengikuti langkah Alan keluar kamar.
"No... ! Dengarkan aku sayang. Mau alasan apapun jika itu beresiko untuk anak istriku akun tidak akan mengijinkannya! " Alan menghentikan langkahnya, membingkai wajah mungil istrinya dengan menjelaskan apa yang dia maksut.
"Kalau ileren gimana? "
"Aku akan menyayanginya, menyayangi kalian dengan teramat sangat apapun kondisi kalian! " Alan mendaratkan ciuman ke kening istrinya kemudian merangkul bahu mungil itu untuk ke luar dari kamar menuju parkiran. Mereka sudah siap untuk pergi nonton, tanpa harus berganti pakaian.
Bersambung....
Hae readers tercintaaahhh... kemarin lama nggak up ya hehhehehe....oh ya jangan lupa mampir di Rahasia cinta zoya ya.... hehehe jangan lupa tinggalkan jejak...
Oh ya.... bagi yang belum pernah baca My Husband My Hero... sekarang udah ada di Noveltoon ya... kalau yang sudah pernah baca nanti bakal ada lanjutannya Bang Dika dan Mbak Al di session dua ya....
__ADS_1