Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
51. Perang Dingin


__ADS_3

Jingga kesulitan mengerjapkan matanya, hampir semalaman dia menangis membuat kedua matanya kini semakin membengkak. Pukul lima pagi, dia kemudian beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta mengambil air wudhu guna menunaikan sholat subuh.


Setelah salam terakhir Jingga tertegun, matanya kembali basah saat mengingat tangan Alan yang menopang tubuh seksi perempuan lain itu tepat di depan matanya. Berlahan dia membuka dan melipat mukenanya, rasanya dia begitu malas untuk beraktifitas. Jingga memutuskan kembali menuju tempat tidur. Biar saja, dia memutuskan untuk mengurung diri di kamar sebelum berangkat ke kampus. Hari ini adalah kuliah pertama setelah libur panjangnya.


"Mbak Jingga, sarapannya sudah siap! " ucap Bi Murti wanita paruh baya itu memang sedang mengkhawatirkan Jingga, karena tidak biasanya sampai jam delapan Jingga belum keluar kamar.


"Iya, Bi. Nanti saja, sekalian akan pergi ke kampus! " jawab Jingga dari dalam kamar. Dia kemudian melirik ponselnya karena dari semalam, dia tidak menggubris benda itu sama sekali.


Terlalu banyak panggilan tak terjawab dari Alan yang membuatnya kembali meletakkan benda pipih itu dan beranjak menuju kamar mandi. Saat ini, dia hanya ingin pergi ke kampus saja.


Jingga menuruni tangga, bersiap siap akan berangkat ke kampus. Langkah sempat memelan saat melihat Alan yang juga baru keluar kamar dengan kemeja rapi dan celana bahan.


Alan pun menatap Jingga yang sudah rapi dengan totebag yang menggantung di bahu kirinya, tapi kacamata hitam yang sudah bertengger di hidungnya membuat Alan menduga jika itu hanya untuk menutupi matanya yang sudah membengkak karena menangis semalam.


Saat melihat Alan yang lebih dulu sudah siap berada di meja makan, membuat Jingga mengurungkan niatnya untuk ikut sarapan. Perempuan yang hanya melirik suaminya itu langsung memasuki pantri untuk membuatp sebotol just yang akan dibawa ke kampus saja.


"Dasar keras kepala, maunya di pahami tanpa mau memahami posisi orang lain! " gumam Alan begitu kesal saat melihat keangkuhan sikap Jingga. menurutnya Jingga terlalu berlebihan memberikan persepsi pada hubungannya dengan Maya.


Hanya beberapa kali Alan menyuap sarapannya dan kemudian pergi meninggalkan meja makan. Selain dia memang sudah terlambat sarapan, kali ini benar benar tidak bernafsu menghabiskan sarapannya.


Jingga hanya melirik kepergian Alan, dia kembali menyelesaikan menuang jus applenya ke dalam botol. Rasanya semakin kesal saat melihat suaminya itu hanya berlalu begitu saja.


"Egois, tidak pernah merasa dia sudah menyakiti perasaanku! Baiklah kalo itu maunya!" Jingga bermonolog dengan perasaannya sendiri. Dengan rasa kesal dia pun memutuskan untuk berangkat ke kampus.


###


Semua mahasiswa bersorak saat sang dosen meninggalkan kelas. Semua anak seolah bernafas lega saat mengakhiri mata kuliah yang sangat sulit itu. Sedangkan Jingga hanya tertegun tanpa ikut mengantri untuk keluar kelas.


Secuek apapun dia, Jika semua tatapan mata sinis mengarah kearahnya tetap saja membuatnya sangat tidak nyaman.

__ADS_1


"Ngga, lo nggak kenapa kenapa, kan? " tanya Tyara yang sudah memperhatikan Jingga sejak tadi dari bangku belakang.


"Apa karena gosip itu? " timpal Daniah membuat Jingga hanya bisa menggeleng. Padahal memang sudah sedikit banyak juga gosip itu berpengaruh pada moodnya yang sangat buruk hari ini.


"Yuk , nge-mall! " ajak Daniah.


"Come on, Baby. Let's just enjoy this life! " Tyara pun masih berusaha membujuk Jingga agar tidak bersedih lagi.


Saat kelas sudah lenggang mereka pun beranjak keluar untuk pergi ke mall. Mereka bertiga berjalan bersama meninggalkan gedung fakultas menuju mobil Tyara yang terparkir di halaman belakang gedung sekretariat.


"Jingga Andini! " panggil Arga yang sudah berada di belakang mereka. Ketiga gadis itu menoleh, tapi Tyara dan Daniah kemudian memilih menunggu Jingga di mobil karena menyadari jika Arga hanya ingin bicara dengan Jingga.


"Iya, kak? " tanya Jingga kemudian memilih minggir di dekat pohon mahoni yang tertata di depan fakultas.


"Benarkah semua tentang gosip itu? " tanya Arga masih dengan hati hati.


"Yang mana? " Jingga masih berpura pura tidak tahu.


"Iya aku memang tinggal bersama dengan seorang Pria! "


"Kau serius, Ngga! " potong Arga, bisa terlihat jelas rait wajah kecewa lelaki itu saat mendengar pengakuan Jingga.


"Iya, tapi bukan kumpul kebo. Dia suamiku, Kak!"


"Apa? " suara Arga sedikit memekik menahan rasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jingga.


"Aku jujur, Kak. Kami sudah menikah sebelum aku kuliah. " Jelas Jingga membuat tubuh Arga seketika melemas. cowok cool yang menebarkan pesona pada banyak mahasiswi itu seolah olah kehilangan tenaga.


"Maaf, Kak... Temanku udah pada menunggu. aku duluan ya! " pamit Jingga yang hanya di jawab anggukan Arga. Cowok jangkung itu hanya bisa menatap tubuh mungil yang kemudian menghilang karena jarak yang semakin menjauh.

__ADS_1


###


Tiga hari sudah berlalu sejak pertengkaran tanpa sebuah konfirmasi atau titik temu dari penyelesaian, Jingga dan Alan masih saling mendiamkan. Mereka masih saling menyalahkan karena merasa tidak bisa memahami situasi masing masing.


Sore itu setelah pulang kuliah Jingga merasa heran, karena mobil dan sepeda motor Alan sudah tertata rapi di garasi. tapi masak iya Mas Alan sudah pulang sore begini. biasanya juga paling awal sekitar pukul Tujuh malam.


Jingga membuka pintu utama rumah, seperti biasa, masih sepi hanya saja semua lampu sudah menyala membuatnya yakin jika memang Alan sudah pulang.


Deg... Alan sudah duduk di sofa dekat tangga dengan menatap laptop yang ada di depannya. Bagaimanapun, segala kecanggungan itu sudah tercipta saat mereka saling membisu selama tiga hari ini. Tapi, Jingga masih berusaha bersikap acuh.


Jingga berjalan menuju kamarnya, dia masih tidak ingin menyapa mesti akan lewat di belakang Alan.


"Jingga! " pangil Alan dengan menyambar pergelangan tangan Jingga.


"Lepaskan! " ucap Jingga masih dengan meronta berusaha melepaskan pergelangan tangannya, tapi malah ditarik oleh Alan membuat perempuan itu terjerembab dalam pelukan suaminya.


"Tidak ada alasan untukmu membisu seperti itu. " tutur Alan.


"Terlalu banyak alasan hingga aku tidak bisa mengatakannya. " ujar Jingga hanya bisa mendongak menatap kesal mata perak itu. Alan memang cuma melonggarkan pelukannya bukan melepaskan tubuh mungil istrinya.


"Apapun itu, setidaknya kamu konfirmasi? Bukan yang tiba tiba menghilang dan terus membisu selama beberapa hari! "


"Apa perlu, semua itu sudah jelas di depan mata. Mas Alan merangkul perempuan itu, bahkan setiap aku meminta untuk mengeluarkannya dari kantor, selalu ada saja alasan yang membuat mas Alan selalu ingin mempertahankannya. "


"Shuuuuttt.... dengarkan aku. Dia terjatuh di kolam, sementara dia tidak bisa berenang, terus coba bayangkan jika hanya kamu yang di kenal orang itu? Apa kamu akan membiarkannya? " Alan menghentikan penjelasannya menatap tajam istrinya yang hanya terdiam duduk di pangkuannya itu.


"Masalah kerjaan, aku hanya ingin profesional saja. Kita bekerja tidak melibatkan perasaan, prasangka dan apalah... ayolah, Sayang! Berfikir lebih dewasa. kalo memang kamu cemburu, ya dijagalah Mas Alan yang ganteng ini bukan malah di cuekin! " Sudah beberapa hari Alan memikirkan bagaimana bicara dengan Jingga yang keras kepala. Mencairkan kembali ketegangan karena prasangka Jingga yang sudah salah.


TBC

__ADS_1


Terima kasih untuk yang sudah memberikan banyak hadiah, vote, dan like yang tak terhitung. Like yang tiada tara membuat othor bahagia sekali.


__ADS_2