Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
85. Tertembak


__ADS_3

"Al, bahaya melaju dengan kecepatan lebih dari 120km/jam." Reyhan memperingatkan Alan, biar bagaimanapun keselamatan mereka juga penting. Ada Jingga menunggu Alan, dan di rumah ada Dea dan putrinya juga menunggu dirinya.


Alan mengurangi sedikit kecepatannya, malam semakin gelap, mereka tiba di sebuah perbatasan daerah yang ditunjuk Bu Sasmitha. Terlihat gapura kecil dengan suasana malam yang sangat sepi. Alan melihat sebuah mobil sedan terparkir di pinggir jalan. Dia yakin itu pasti Bu Sasmitha.


Alan menghentikan mobilnya, bersama dengan Reyhan dia menghampiri Bu Sasmitha yang sudah berdiri di pinggir jalan. Wanita paru baya yang biasa menggunakan rok sederhana kini mengenakan celana jeans yang di padu dengan jaket kulit.


"Bu, di mana Jingga? " tanya Alan saat berdiri di depan wanita paruh baya itu. Bukannya menjawab pertanyaan Alan, Sasmitha justru menatap Reyhan penuh selidik. Dia seperti pernah melihat sosok yang berdiri di samping Alan itu


"Dia Reyhan, putra Tuan Wirya! "


"Kenapa membawanya, bedebah kelakuan ayahnya itu." Sasmitha begitu emosi, dia semakin membenci Wirya saat lelaki tua itu membahayakan nyawa putrinya.


"Dia yang memberitahuku jika Jingga diculik, dia juga yang tahu, letak gudang tempat Jingga disekap. " jelas Alan yang yakin jika Reyhan kali ini bisa dipercaya.


"Aku akan membawa apa yang diinginkan Wirya, Kalian mengawasiku dari jarak jauh! Target kalian selamatkan Jingga! Wirya melarang untuk melapor polisi, aku tidak berani mengambil resiko itu. Ingat targetmu selamatkan Jingga! Jumlah mereka tidak sedikit. Jadi jangan melakukan gerakan secara terang-terangan. Jangan pedulikan aku, yang penting bawa Jingga pergi. Jika situasi kurang menguntungkan, pakai peledak ini untuk mengelabui mereka! " Sasmitha menyerahkan satu peledak pada Alan.


"Aku berangkat terlebih dahulu! " Sasmitha langsung masuk ke mobil. Dan melajukan mobilnya dengan sangat gesit. Beberapa menit saja mobil sedan itu sudah menghilang dari pandangannya.


Alan melempar kunci mobilnya pada Reyhan, meminta lelaki gondrong itu untuk menggantikannya menyetir. Ini pertama kalinya Alan berurusan dengan mafia. Ya, lebih tepatnya mafia berkelas.


Hars, kirim bantuan secepatnya! istriku di sekap, dan malam ini kita akan melakukan penyelamatan. Jumlah mereka tidak sedikit. Aku akan share lokasi.


Alan mengirim pesan pada Haris, persetan tidak boleh melibatkan polisi, dia tidak ingin pada posisi yang sangat buruk tanpa berusaha. Apalagi ini menyangkut Jingga.


Rasa hati yang tak karuan, membuat Alan menatap tegang jalan yang ada di depan. Bebelprapa menit kemudian, nampak sebuah bangunan tua dengan lokasi yang sulit diperkirakan. Pagar tembok yang menjulang tinggi dangan beberapa pengamanan di depan membuat Alan meneliti dan memperkirakan lokasi samping dan belakang. Nampak pohon besar yang tumbuh di antara bangunan tua itu.


"Dibelakang ada pagar yang mungkin bisa kita tembus ! " Alan yang tidak percaya begitu saja dengan Reyhan kembali berfikir.


"Apa yang membuatmu menentang ayahmu? " tanya Alan dengan menatap tajam Reyhan.


"Kita memang selalu bertentangan, bahkan ada beberapa karakter ayah yang membuatku muak. Bagaimanapun Jingga saudaraku, kita satu Eyang. Aku tidak ingin keluarga kita terpecah lagi hanya karena kekuasaan. " jelas Reyhan dengan sorot mata yang sedih. Ayahnya yang selalu menyakiti ibunya membuat wanita yang paling dia cintai itu tidak punya semangat untuk hidup. Setiap orang memang punya masalah sendiri, begitupun dirinya yang mungkin dilihat dari luar hidupnya nyaman nyaman saja.

__ADS_1


Dari jauh mereka mengamati lokasi tempat penyekapan itu, hingga akhirnya ada yang menarik perhatian Alan dan Reyhan. Sebuah mobil yang akhir akhir ini sering mengunjungi rumah Ayahnya itu juga mendatangi lokasi saat ini.


"Sepertinya ini sebuah persekongkolan. " gumam Reyhan.


"Al, apapun yang terjadi jangan melukai ayahku! " pinta Reyhan dengan menatap mata Alan penuh permohonan.


"Biar bagaimanapun dia ayahku! " lanjutnya. Kalimatnya begitu mengiba, membuat Alan mengerti posisi Reyhan.


"Ayo Rey, kita mulai turun! kita berpencar.... kamu dari sisi kanan aku sisi kiri. Jika melihat keberadaan Jingga langsung bawa pergi saja tanpa menunggu apapun. Prioritas kita keselamatan Jingga, dia mengandung anakku! " Saat mengingat dua nyawa yang sedang terancam hatinya terasa ngilu. Reyhan mengerti, mereka langsung turun dari mobil dan memilih posisi masing masing.


###


"Selamat datang ibu yang baik! " ucap Wirya begitu menggema menyambut kedatangan Sasmitha, suasana gelap hanya sedikit penyinaran membuat situasi sulit untuk diamati.


"Dimana Jingga? aku tidak akan melepaskan apapun tanpa mengetahui keberadaan Jingga! " tegas sasmitha.


Seketika lampu menyala dengan sangat terang, ternyata semua sudah di persiapkan dengan matang.


"Serahkan apa yang kamu bawa! " titah Wirya dengan duduk di kursi yang disiapkan di tengah aula yang terlihat usang.


"Lapaskan Jingga dulu, Mas Wirya! Jangan jadi pengecut yang mengingkari janji, Mas! Kita barter! " ujar Sasmitha dengan tegas, berapapun jumlah pengawalnya, Sasmitha tidak akan pernah gentar.


"Baiklah aku tidak peduli dengan keponakanku yang manis ini! " ujar Wirya merasa senang, sebentar lagi dia akan menjadi pemilik sepenuhnya harta keluarga Hadinoto.


"Tunggu! " Suara Faizal menengahi ketegangan di antara mereka. Beberapa Anak buah Faizal sudah mengepung anak buah Wirya. Tapi salah satu anak buah Wirya masih menyandra Jingga.


"Faizal, kamu datang? " ujar sasmitha yang merasa senang karena orang yang dipercaya akhirnya datang.


"Plok... plok... plok!" suara tepukan tangan Wirya membuat semua menoleh.


"Dia yang merencanakan ini semua! " ungkap Wirya yang juga merasa dikhianati Faizal.

__ADS_1


"Apa ini sebenarnya?" tanya Sasmitha merasa bingung.


"Targetku menghabisi anak Cokro! " ujar Faizal membuat Sasmitha terhenyak kaget.


Di luar Alan dan Reyhan membereskan orang orang berjaga. Tidak terlalu banyak yang ada diluar, karena situasi tegang di aula membuat orang orang fokus di dalam.


Dari jauh Alan melihat Jingga disandra, dia begitu murka saat melihat rasa takut dan wajah kacau Jingga itu membuat kondisi Jingga terlihat sangatlah buruk.


"Kurang ajar kamu, Zal! " umpat Sasmitha begitu geram.


"Aku membenci gadis itu, dia dan suaminya yang membuat anakku gila! " Jingga dan Alan ikut terperangah mendengar pengakuan lelaki itu.


"Bapaknya juga yang merebutmu, dariku! Iya,aku pernah mencintaimu tapi kamu juga gila kekuasaan dan memilih Cokro. "


"Untung aku memilih Mas Cokro, pria baik tidak sepertimu, yang ternyata seorang pengkhianat!" sergah Sasmitha dengan luapan emosi yang teramat sangat.


Faizal mengarahkan pistolnya ke arah Jingga. "Dooor.... "


"Jingga....! " teriakan Sasmitha dan Alan bersamaan menggema menarik perhatian kedua kubu. Tapi, satu tembakan Wirya membuat senjata Faizal terpental. Baku hantam pun terjadi, Alan yang sudah menampakan diri di lokasi pun menghajar Faizal yang ada di dekatnya, hingga lelaki tua itu tersungkur.


Keadaan menjadi ricuh, Sasmitha mendekati keberadaan Jingga,"Dooorrr..." kini tembakan Alan tepat mengenai tangan Wirya yang akan menarik pelatuknya ke arah Sasmitha.


Merasa keselamatannya terancam Wirya pun akan membawa Jingga pergi dari tempat itu. Tapi beberapa anak buah Faizal masih berusaha mencegah dan Reyhan pun menghajar anak buah ayahnya yang menyandra Jingga.


"Doooorrr.... " Tembakan Faizal membuat semua terperangah kaget. "Ayaaaahhhh .... " teriakan Reyhan menggema bersamaan terjatuhnya tubuh tua yang darahnya mengalir dalam tubuhnya. Alan sempat mematung, tapi saat ingin menghajar Faizal dia memilih berlari ke arah Jingga, "Doooor.... " Alan memilih untuk mendekap tubuh Jingga saat melihat Faizal mengarahkan pistolnya ke arah Jingga.


"Dooor..... " Sekali lagi suara tembakan terdengar, deg ... deg ... deg... seakan dunia hanya tinggal detakan yang sangat menyanyat saat kedua tubuh itu saling memeluk erat. Jingga hanya memejamkan mata meremas erat punggung yang selalu menjadi sandarannya begitu pun Alan yang memeluk erat Jingga penuh ketakutan. Dunia seolah terhenti seketika.


Bersambung.....


Jangan lupa ya, ikutin My Husband My Hero bapernya tak bikin sebaper mungkin. nggak percaya? coba deh baca kalau emang nggak bikin baper bolehlah author di tabok pake lembar merah ratusan ribu hahahhaha. asli bikin baper sebenarnya sudah end di WP. cuma author seret ke sini karena bakal ada session dua

__ADS_1


__ADS_2