
Alan berlari mengejar Jingga, wajahnya kembali menegang dengan rasa cemas yang kembali terlihat di raut wajahnya.
"Ngga, Jingga...! " panggilnya saat berada di dekat Jingga yang sudah tak sadarkan diri.
Betapa paniknya Alan saat memeriksa denyut nadi Jingga yang sudah mulai melemah.
"Astaga, maafkan aku, Ngga! " gumamnya masih berusaha menyadarkan Jingga. Tapi, tak ingin terlalu lama dengan situasi itu, Jingga harus secepatnya mendapat pertolongan.
Masih beberapa meter, Alan harus berjalan untuk sampai di mobilnya, setelah melalui jalan yang menanjak dan terjal membuat tenaganya terkuras. Keringat membanjir di tubuh yang sudah nampak kelelahan karena memanggul Jingga, menggendong ranselnya, dan menyeret ransel milik Jingga dengan medan terjal dan menanjak.
Meski dengan langkah terhuyun dan susah payah, akhirnya Alan sampai di mobil Jeep miliknya. Disandarkan tubuh Jingga di bangku sebelah kemudi, sebelum dia melempar dua ranselnya ke belakang. Dengan tergesa dan rasa cemas, Alan mengemudikan mobilnya mencari klinik atau rumah sakit terdekat agar Jingga mendapat pertolongan secepatnya.
Alan membelokkan mobilnya di sebuah klinik yang tidak jauh setelah melalui jalanan yang petang dan berkelok.
"Tolong, istri saya! " Alan langsung ke bagian unit gawat darurat, membuat petugas klinik langsung dengan sigap dan tanggap menangani Jingga. Serangkaian pemeriksaan pun di lakukan.
Seorang perempuan berjas putih menghampiri Alan yang duduk tidak jauh dari bed yang di tempati Jingga.
"Untung saja anda tidak terlambat, istri andra mengalami dehidrasi, Pak. " ujar dokter yang name tagnya berkata Nita.
"Bagaimana keadaannya sekarang, Dok? " Alan masih menatap dokter dengan tatapan cemas.
"Masih menunggu dia siuman. Bapak boleh menunggu di samping pasien. "
"Terima kasih, Dok. " ucap Alan sebelum dokter Nita meninggalkannya.
Alan masuk ke dalam ruangan, melihat wajah Jingga yang pucat dan mata yang masih terpejam membuatnya merasa bersalah. Ah, seharusnya dia tidak sekeras itu pada istrinya, lagi-lagi dia menyesali apa yang sudah dilakukannya. Tubuhnya yang lelah kini pun di dudukkan di sebuah sofa yang tidak jauh dari Jingga.
Mata peraknya mulai terpejam dengan kepala bersandar di kepala sofa, seolah ingin melepaskan semua lelahnya.
Belum sempat tertidur, dia kembali membuka matanya saat terdengar suara yang sangat lirih.
" Haus.... "
"Haus... " Mendengar rintihan Jingga Alan langsung dengan sigap mendekati jingga yang masih memejamkan mata.
"Jingga... " panggil Alan lirih saat mendekati istrinya.
__ADS_1
"Haus... " gumam Jingga perlahan membuka matanya.
Sesendok demi sesendok, dia menyuapi Jingga dengan air, tapi tatapan istrinya berubah menjadi dingin, seperti menyimpan sejuta amarah dan rasa kecewa. Ya, Alan akan menerimanya jika Jingga marah karena terlalu keras menghukumnya.
"Ngga, maafkan aku! " ucap Alan yang akan mengambil tangan istrinya, tapi buru-buru ditarik Jingga.
"Baiklah, aku keluar sebentar." Alan keluar saat dokter dan seorang perawat kembali memeriksa Jingga.
Lelaki berperawakan tinggi itu memang keluar sebentar untuk mencari makanan dan hanya butuh beberapa menit saja dia sudah kembali dengan membawa satu kantong plastik makanan, seharian dia dan Jingga memang belum sempat makan.
Alan membuka pintu ruangan Jingga dengan sangat pelan, agar deritnya tak mengganggu. Lelaki itu sempat tertegun saat melihat Jingga yang tergesa-gesa untuk menghapus air matanya.
"Kamu kenapa, Ngga? Maafkan perlakuanku hingga membuatmu seperti ini." ucap Alan yang kemudian berjalan mendekati Jingga yang masih berbaring.
Diaturnya tempat tidur Jingga, agar istrinya bisa duduk dengan nyaman.
"Aku bisa makan sendiri." ucap Jingga meminta Alan menyerahkan makanan yang sudah tertata di meja kecil.
Alan hanya menuruti keinginan Jingga saja, dia mengerti jika emosi Jingga sedang tidak baik baik saja.
"Kamu boleh marah! Tapi, nanti setelah kamu sehat! " ucap Alan dengan meraih kembali sendok yang sedari tadi dipegang oleh Jingga.
Alan mulai telaten menyuapi Jingga meski hanya beberapa suap yang masuk ke mulut.
"Aku sudah kenyang. " ujar Jingga, yang kemudian menyandarkan kepalanya. Matanya terlihat mengembun, saat menatap suaminya.
"Kamu kenapa, Ngga?" tanya Alan dengan membingkai wajah yang ingin dipalingkan darinya. Air mata Jingga lolos tak tertahan lagi, bahkan kini bahunya pun bergetar karena isakannya.
"Jangan menyentuhku! Bayimu lebih membutuhkanmu, Mas... " kalimatnya terjeda dengan tangisnya yang tergugu. Sementara Alan hanya merasa bingung dengan apa yang di ucapkan Jingga.
"Bayi...? " tanya Alan meragu.
"Iya, jangan pura-pura lagi. Kamu sudah banyak membohongiku." Jingga tak dapat mengendalikan tangisnya lagi.
"Bicaralah satu-satu. Sungguh, aku tidak faham dengan ucapanmu! " Alan masih saja menatap bingung Jingga. Sementara Jingga masih saja menangis, hingga nafasnya pun mulai tersengal-sengal.
"Ada apa, Ngga. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. "
__ADS_1
"Aku tau bayi yang di kandung mantan kekasihmu itu bayimu. Seharusnya kamu bertanggung jawab, Mas! Bayi itu tidak bersalah, dia membutuhkanmu. " dengan sesenggukan Jingga menyelesaikan kalimatnya, tapi saat mendengar penjelasan istrinya, Alan malah tergelak begitu keras.
"Maksudmu apa? Bayi Deandra? "
"Iya, bukankah itu bayimu? " hanya untuk mengucapkan bayi suaminya rasanya terlalu nyesek bagi Jingga.
"Hae, enak saja itu bayiku! Jangan suka memfitnah, ya! "
"Kenapa harus mengelaknya? Tidak seharusnya kamu lari dari tanggung jawab."
"Astaga, apa yang terjadi denganmu? "
"Aku sudah mengingatnya. Sepupu Deandra itu temanku, dia ke kota ini untuk mencari ayah dari calon anaknya, dan sore itu aku melihatnya, saat perempuan itu menggenggam tanganmu, Mas." mendengar penjelasan Jingga membuat Alan menyungging senyum sinisnya.
"Kamu itu terlalu impulsive. Sebelum menyimpulkan sesuatu check dulu kebenarannya. " kalimat Alan membuat Jingga menatap lekat suaminya, seolah meminta penjelasan lebih lanjut.
"Bayi yang di kandung Deandra itu bayinya Reyhan. Dan, Deandra memintaku untuk menemukan Reyhan. Dia tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi di kota ini." jelas Alan membuat Jingga mematung, padahal di dalam hatinya ada sebuah kelegaan yang teramat sangat. Sebenarnya dia ingin tersenyum, tapi masih di tahannya karena masih ada perhitungan lain yang harus diselesaikan dengan suaminya.
"Sudah faham, Sayaaaannnnggggkuuuu! " ucap Alan gemas dengan mencubit hidung mungil Jingga.
"Kamu sudah ingat semuanya? Dari pada memikirkan bayi Deandra mendingan kita buat bayi kita saja. " Alan membingkai wajah Jingga, tapi ditepisnya tangan Alan.
"Jangan seenaknya menyentuhku!" ancam Jingga masih menatap tajam suaminya.
"Duch, kecil kecil galaknya setengah mati." ledek Alan membuat Jingga semakin kesal, dia merasa Alan benar-benar menyepelakan kemarahannya.
"Kamu nggak merasa bersalah, Mas? Aku akan membuat perhitungan denganmu. " mendengar kalimat Jingga membuat Alan mengernyitkan dahinya.
"Maksudnya, apa lagi? " tanya Alan dengan wajah serius.
"Selama aku lupa ingatan, kamu sudah membohongiku! kamu mengambil ciuman pertamaku dengan paksa, bahkan.... " kalimatnya menggantung.
"Kamu sungguh keterlaluan! Banyak kebohongan yang sudah kamu lakukan." lanjut Jingga, suaranya penuh emosi.
Bersambung.
Terima kasih yang udah mendukung 'Merindukan Jingga' dengan memberikan vote dan like.
__ADS_1