
Weekend kali ini membuat Jingga sangat bersemangat. Seperti yang di janjikan Alan, malam ini dia akan kencan dan menghabiskan waktu untuk nonton film romantis. Dari tadi senyum manis Jingga tidak pernah luntur dari bibir mungilnya. Catatan, ini akan menjadi kencan pertama dalam hidupnya.
"Ah, semoga akan menjadi sesuatu yang manis!" gumamnya lirih, hatinya seperti dihujani ribuan ton bunga.
Jingga kembali melirik jam yang menggantung di dinding, ternyata baru pukul lima sore. Sepertinya waktu berjalan cukup lambat, menurut Jingga yang sudah tidak sabar menunggu kepulangan suaminya.
"Mbak Jingga, ada tamu! " ujar Bi murti yang sudah nongol di kamarnya.
"Siapa, Bi? " tanya Jingga sambil beranjak keluar mendekati wanita paruh baya itu.
"Katanya, Mbak Daniah sama Mbak Tyara! "
"Ohhh... iya Bi, aku akan menemui mereka! " Jingga dan Bi Murti berjalan beriringan menuruni tangga.
Di ruang tamu sudah nampak dua gadis saling tertawa cekikikan. Jingga menghampiri mereka yang terlihat kompak dengan tampilan rapinya.
"Eh, tumben kalian udah pada cantik cantik? " sapa Jingga sambil mendudukan beratnya di sofa.
"Ngga, lo tau nggak? Penyebar gosip jika lo sudah kumpul kebo? " tanya Daniah yang sebenarnya sudah menyelidiki dalang tentang gosip yang beredar di kampusnya. Jingga hanya menggeleng, bertanda dia membutuhkan jawaban dari kedua sahabatnya itu.
"Nelly!!!! Iya Nelly.... " celetuk Tyara yang terlihat greget dengan gadis yang pernah menjadi bagian dari persahabatan mereka.
"Sudahlah, aku sudah tidak ingin memikirkannya lagi! " jawab Jingga masih tersenyum senyum seperti orang yang lagi kasmaran.
"Ngga, kok kamu dulu bisa dijodohkan dengan laki bule? " tiba tiba Daniah bertanya pada Jingga. Sudah lama dia memang merasa penasaran dengan cerita Jingga. Aneh saja, jaman sekarang masih ada perjodohan.
"Nggak tau dari nenek moyang kayaknya. " jawab Jingga dengan asal asalan.
"Lah, mungkin kalian seorang Raden dan Raden Ayu! hahahha " timpal Tyara dengan tawa meledek karena merasa lucu seperti hal konyol yang nyata.
__ADS_1
"Kalo eyangnya Mas Alan iya ada Raden Roro, tapi karena Ibu Mas Alan menikah dengan orang Swiss dan bukan kalangan bangsawan jadinya predikat kebangsawanannya dicabut! Kalo aku nggak tau latar belakangku. " mendengar penjelasan Jingga membuat Kedua temannya manggut-manggut tapi dengan rasa heran saja.
"Lah, kamu tidak ingin tau, Ngga? Barangkali kamu masih ada kerabat Ningrat? " Mendengar pertanyaan Tyara membuat Jingga terdiam sejenak.
"Ibu berpesan untuk tidak usah ingin tahu soal keluarga besar Bapak! Tapi sebenarnya aku juga ingin melihat makam bapak! " ucap Jingga dengan mata mengembun. Dia sangat merindukan sosok Bapak dalam hidupnya.
"Kapan kapan kita cari, Ngga! setidaknya kamu bisa mendatangi makam beliau. " Daniah bisa mengerti perasaan Jingga. Seorang anak perempuan yang selalu merindukan sosok Bapak dalam hidupnya. Mereka tidak lama berada di rumah Jingga karena Jingga yang sudah ada acara nanti.
Saat hari mulai petang mereka akhirnya memutuskan pulang. Nge-mall yang gagal untuk mereka, karena Jingga memang sudah ada janji dengan Alan.
Setelah sholat magrib Jingga pun segera mulai bersiap dan berdandan. Dress warna hitam model pinteres membuatnya terlihat elegant. kali ini dia memberi sapuan make up tipis di wajahnya agar tidak terlihat pucat dan rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dengan jeepit kecil untuk mengunci sebelah poninya.
"Sudah selesai! " gumam Jingga kemudian mencari ponselnya untuk menghubungi Alan yang memang belum sampai di rumah.
Beberapa kali panggilan ulang tertuju untuk Alan terus dilakukan Jingga, tapi tidak ada jawaban, bahkan sepertinya panggilan berikutnya malah tidak tersambung.
Jingga menarik nafas panjang mencoba untuk berfikir positif saja. Mungkin sebentar lagi suaminya akan segera pulang.
Sudah cukup lama dia menunggu Alan, hingga semua itu membuatnya cukup kesal.
"Jadi nggak, sih? " gerutunya kemudian memasang headset di telinga.
Ntah, berapa lama dia sudah menunggu Alan dengan mendengarkan alunan musik dari ponselnya. Angin malam yang berhembus lembut membuatnya berlahan terlelap dengan kepala menyandar di sofa.
###
Seorang klien dari kalangan artis membuat Alan kembali terjebak dalam pekerjaannya. Beberapa kali dia melirik jam Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya, membuat lelaki itu sedikit gelisah karena waktu yang menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi harus bagaimana lagi, dia juga harus mendengarkan beberapa point yang menjadi selera si artis, di tambah lagi obrolan obrolan keakraban yang menurutnya tidak menarik. Di sela obrolannya, Alan mencoba melihat ponselnya yang ternyata ponselnya malah sudah mati.
Semua karyawan pun sudah kembali, hanya saja pertemuannya dengan klien membuatnya harus pulang terlambat. Langkahnya tergesa, tidak menyadari Jika di belakangnya sudah ada seorang perempuan yang sedari tadi menunggunya. Maya yang masih menunggu Alan pun kesulitan mengejar lelaki berwajah indo itu yang hanya sekejap mata sudah menghilangkan bersama dengan meluncurnya mobil Jeep di halaman kantor.
__ADS_1
"Sial, padahal aku sengaja menunggunya agar bisa pulang bersama. " Maya merutuki dirinya karena harus ke toilet saat Alan sudah selesai bertemu dengan kliennya.
Di tempat lain, Alan membawa mobilnya melesat secepat kilat membelah ramainya jalan di kala weekend.
"Semoga Jingga bisa mengerti! " harapnya dengan cemas.
Jeep Wrangler itu kemudian membelok ke halaman rumah yang sudah nampak sepi, sebagian lampu di ruang utama itu pun sudah terlihat mati. Tanpa memasukkan mobilnya ke garasi, Alan pun kemudian turun dan melangkah masuk ke dalam rumah untuk mencari Jingga.
Dia hanya memeriksa beberapa ruangan di bawah, tapi kosong. Kemudian dia mencoba mencari Jingga di lantai atas, terutama di kamar.
berlahan di bukanya pintu kamar Jingga, sejenak dia memperhatikan seluruh ruangan dan menelisik ke arah kamar mandi yang nampak kosong. Alan mendekati pintu pembatas balkon dan kamar yang sedikit terbuka. Ternyata, Jingga sudah meringkuk di sofa yang ada di balkon.
Dengan membuang nafasnya berlahan, Alan mendekati istrinya yang sudah terlihat rapi. Kini, timbul rasa bersalah saat membayangkan Jingga yang sudah lama menunggunya.
Alan menekuk kakinya di dekat kepala Jingga, menatapnya dengan teliti setiap lekuk wajah cantik istrinya.
"Maafkan Aku, Ngga! aku memang tidak berminat dengan acara semacam ini. Tapi aku juga tidak bermaksud membuatmu kecewa. "
Diraihnya tangan Jingga yang sempat menggantung di sofa, diciumnya berkali kali seolah ingin menyampaikan perasaan bersalah hingga membuat Jingga mengerjapkan kelopak matanya.
"Mas Alan! " ucap Jingga yang kemudian beranjak untuk duduk.
" Maafkan Aku, Ngga! " lirih nya dengan menatap manik mata yang ada di depannya. Jingga hanya terdiam tatapannya kali ini sulit untuk diartikan membuat Alan sedikit cemas.
"Aku mengerti, Mas! Mungkin bagimu hal semacam ini hanya sesuatu yang kolokan. Dan aku tidak bisa memaksa seseorang. " ujar Jingga dengan meletakkan headsetnya di meja kemudian berdiri ingin kembali ke kamar.
"Jingga,... maafkan sudah mengecewakanmu! Aku benar benar tidak sengaja! " melihat Sikap Jingga yang begitu tenang malah membuat pikiran Alan semakin kacau, pasti bakal ada kemarahan besar atau hukuman yang cukup membuatnya kesulitan.
Masih dengan menahan tubuh mungil itu dalam pelukannya Alan terus saja memohon agar Jingga bisa mengerti alasan keterlambatannya.
__ADS_1
Bersambung