
"Sayang,... Sadarlah! Semua akan baik baik saja! " ucap Alan dengan menenggelamkan tubuh Jingga dalam pelukannya, melihat keadaan Jingga, dia sendiri sedikit panik. Tangannya pun menepuk lembut punggung istrinya tapi getaran tubuh kecil itu masih saja terasa bahkan isakannya kini tak mampu di kendalikannya.
"Sayang... Tidak terjadi apa-apa, bahkan saat ini aku sedang memelukmu! Ayo... tarik nafas dalam- dalam, kendalikan dirimu....! " berlahan getaran tubuh Jingga melemah dan isakannya pun sedikit tenang. Diregangkan tubuh Jingga dari pelukannya karena dia merasakan tangan Jingga yang masih kaku.
Ternyata memang benar, Jingga masih menggenggam sebuah obeng dengan sangat erat, bahkan jari itu sudah membuku dan sulit untuk dibuka. Jingga, dia masih terisak, sementara Alan terus mencoba melemaskan jari-jari lentik itu.
"Sayang... lihatlah! Kita baik baik saja, bahkan langit terlihat sangat indah! Kamu tau... aku pernah bermimpi membuatkan istriku sebuah menara di mana kita bisa melihat bintang dan bulan bersama. " Alan terus saja mencoba menceritakan hal hal indah, dengan tangannya yang berusaha meregangkan jari jari lentik yang menggenggam obeng itu.
Lelaki berhidung mancung itu, akhirnya menarik nafas panjang saat berhasil mengambil besi dari tangan Jingga. Dia kembali memeluk hangat tubuh istrinya agar bisa kembali normal.
Cukup lama, dia harus menangani Jingga, tapi berhasil juga membawa masuk kembali Jingga ke dalam mobil dalam keadaan yang lebih baik. Sementara itu, dia kembali memasang ban serep yang tadinya sudah dia siapkan. Usai menyelesaikan kegiatannya, Alan kembali menghampiri Jingga dengan membuka pintu mobil di samping Jingga.
"Kamu sudah lebih baik? " tanya Alan dengan meraih dan menggenggam lembut tangan lentik Jingga membuat perempuan itu hanya mengangguk saja.
Lelaki yang tampilannya saat ini jadi awut awutan pun kini berjalan menuju kursi kemudi. Alan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi. Sesekali di liriknya
Jingga yang hanya terdiam. Dia sangat menyayangkan kejadian tadi, karena itu akan menyegarkan kembali traumanya, padahal terapi yang baru setengah langkah dijalankannya.
Tengah malam, Alan membelokkan mobilnya di sebuah halaman yang cukup luas di depan rumah bergaya joglo itu. Langsung saja dia turun dan membukakan pintu mobil untuk Jingga.
"Astaga...tangannya masih sedikit kaku! belum sempurna kembali normal. " pikirnya dalam hati, merasa prihatin dengan keadaan Jingga, Alan menuntun masuk ke arah pintu utama rumah bergaya klasik itu.
Mendengar kedatangan Alan, pintu rumah berbahan kayu itu pun terbuka lebar saat Alan sudah memasuki teras. Di depan pintu sudah di sambut Pak Santoso dan seorang perempuan berumur empat puluh tahunan.
"Monggo, Den Pinarak( silahkan duduk)! Ujar perempuan itu.
" Namanya Aseh, Mas Alan! Yang menggantikan Bi Murti. " jelas Pak Santoso membuat Alan hanya mengangguk.
"Dimana Eyang, Pak? Bagaimana keadaannya? " Tanya Alan tak melihat ke beradaan Eyangnya.
"Sampun sare(sudah tidur)! Sebaiknya besok saja Mas Alan menemui Eyang! "
"Kalau begitu, aku akan membawa Jingga istirahat dulu. Oh ya, tolong minta Mbak Aseh membuat susu coklat buat Jingga! Langsung dibawa ke kamar saja. " pesan Alan yang terus diiyakan Pak Santoso.
__ADS_1
Alan menuntun Jingga untuk masuk ke kamar. Jingga kini duduk di tepi tempat tidur, sementara Alan berjongkok di depannya, memastikan keadaan Istrinya.
"Sayang, lihat aku! " berlahan Jingga menatap mata perak kebiruan itu.
"Tidak akan terjadi apa-apa! Lihatlah kita sudah sampai di rumah Eyang dengan selamat. " Alan menggenggam tangan dingin Jingga, mencoba memberi kehangatan dan ketenangan.
"Tok .. tok... tok, Mas Alan ini minumannya! " Suara Mbak Aseh membuat Alan beranjak untuk membuka pintu kamarnya. Mbak Aseh sudah membawa nampan berisi, susu dan teh hangat.
"Makasih, mbak! " Ujar Alan saat menerima baki berisi susu dan teh hangat.
"Apa Mas Alan mau makan? Biar saya siapkan."
"Tidak usah Mbak Aseh. Kita makan besok pagi saja! " tolak Alan yang sudah ingin mengistirahatkan tubuhnya karena rasa lelah selama diperjalanan. Ya, mendengar Alan tidak membutuhkan sesuatu apapun Mbak Aseh pun meninggalkan kamar mereka.
"Sayang, minum susu dulu! " ujar Alan dengan menyodorkan gelas susu coklat yang disambut oleh istrinya. Jingga pun meminumnya beberapa teguk dan mengembalikannya pada Alan.
"Mas, aku terlalu buruk untuk mengatasi ketakutanku! " Baru terdengar suara Jingga. Sejak tadi perempuan yang masih terlihat cemas itu hanya membungkam saja.
"Kamu hebat, bahkan aku tidak menyangka kamu bisa melakukannya. " jawab Alan yang sebenarnya dia tau jika Jingga sudah mati matian melawan rasa takutnya.
"Lihatlah..! Aku baik baik saja bukan? Sekarang istirahatlah terlebih dahulu!" Jingga menurut saja apa yang di katakan Alan, dia memang butuh tidur saat ini. Alan yang memang sudah merasakan lelah kini pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Jingga. Besok pagi dia ingin secepatnya menemui Eyang Putri.
###
Setelah sholat subuh, Alan dan Jingga bermaksud pergi ke kamar Eyang Putri. Mereka sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan sesepuh kesayangannya itu.
"Sayang, kamu udah baikan? " tanya Alan saat mereka melangkah keluar kamar.
"Udah, Mas! Aku sudah baikan! " jawab Jingga.
Saat mereka akan melangkah ke kamar Eyang Putri, ternyata beliau sudah duduk di kursi panjang yang ada di ruang tengah.
"Eyang...bagaimana keadaan Eyang? " tanya Alan dengan mencium punggung wanita sepuh itu yang bergantian dengan jingga.
__ADS_1
"Eyang, sudah baikan. Kapan kalian sampai? Itu kenapa mukamu memar seperti itu? " Eyang Putri memberondong beberapa pertanyaan saat cucu kesayangannya berjongkok di depannya.
"Semalam, saat kita sampai Eyang Putri udah tidur. Jadi kami memutuskan menemui Eyang pagi saja. Semalam Alan terjatuh saat mengganti ban yang kempes. " bohong Alan, tak ingin membuat Eyangnya itu merasa khawatir.
"Sini, ndok cah ayu... duduk di dekat Eyang! Kamu bagaimana kabarnya? Udah jadi belum cicitnya Eyang? " Mendengar pertanyaan Eyang Putri membuat Jingga hanya tersenyum hambar.
"Belum Eyang...! jawab Jingga dengan menunduk, dia teringat soal pil kontrasepsi, ada perasaan bersalah pada semua orang yang sudah mengharapkan generasi selanjutnya.
" Kamu bisa buat apa nggak, Cah Bagus? " tanya sinis Eyang Putri seolah menyalahkan Alan yang tak kunjung memberinya cicit.
"Ya ampun, Eyang....selama ini Alan udah ngebut Eyang, tapi Alan kan, bukan Tuhan! " kilah Alan dengan pandangan yang dilayangkan ke arah Jingga. Membuat Jingga mengerti jika dia punya andil bersalah dengan masalah ini.
"Emang naik mobil pakai acara ngebut. Beri Eyang cicit secepatnya, keburu Eyang mati! " cebik Eyang dengan lenggat lenggut, meskipun sudah mulai terganggu kesehatannya tapi semangat wanita sepuh itu selalu membuatnya terlihat segar.
"Silahkan Eyang, Mbak Jingga, Mas Alan, mumpung masih hangat. " Aseh meletakkan tiga cangkir teh dan sepiring pisang goreng.
"Loh, Seh! Kok teh semua? Aku kan, biasanya juga ngopi? " Eyang Putri protes dengan apa yang diberikan Mbak Aseh.
"Ngapunten, Eyang. Ngendikanipun Pak Dokter dereng pareng ngunjuk kopi rumiyen( maaf Eyang. Kata pak dokter belum bisa minum kopi dulu!)." Mbak Aseh mengingatkan Eyang Putri sesuai anjuran dokter.
" Opo o Seh, paling yo mengko aku mati! ( apaan kamu seh, nanti aku juga bakalan mati)." sungut Eyang Putri terlihat begitu kesal.
"Eyang... Katanya mau lihat cicit? Ya harus sehat dong, gimana bisa main sama cicitnya kalo sakit sakitan gini. " bujuk Alan saat mendengar kalimat Eyangnya. Sungguh, ada ketakutan membayangkan kehilangan sosok yang merangkap semua figure papa dan mamanya selama ini.
"Berapa lama kamu di sini? "
"Tiga harian Eyang...! "
"Kok cepat banget?" protes Eyang Putri saat mendengar jawaban Alan.
"Aku masih banyak kerjaan Eyang dan Jingga juga belum KRS-an! "
Mereka menghabiskan waktu paginya dengan duduk bersama saling mengobrol melepas rasa kangen. Melihat Eyangnya sudah segar kembali membuat Alan menarik nafas lega.
__ADS_1
Bersambung...