Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
82. Pertemuan Dengan Ibu


__ADS_3

Alan menatap wajah di sampingnya dengan teliti, wajah Jingga dan sesekali membaca pesan dari Raka baginya lebih menarik dari film yang sedang diputar. Dia sendiri tidak tertarik dengan film romantis .


"Yaaaah... end deh! " keluh Jingga dengan meluruhkan bahu bersamaan dengan tubuhnya yang menyandar di lengan Alan.


Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang saat ini dia pegang. "Sudah selesai? " tanyanya dengan mencium puncak kepala Jingga.


"Ayo, kita pulang! " Jingga menarik lengan Alan mengajaknya untuk cepat keluar dari ruang bioskop.


"Ya... Yaaa... sabar dong, sayang! " ucap Alan dengan mengikuti langkah istrinya. Jingga yang ingin sekali menyantap Ice cream kini menarik lengan Alan untuk berbelok ke sebuah counter ice cream yang cukup ramai di dalam mall.


"Mas, mau? " tanya Jingga dengan menyendok Ice cream yang berada ada di tangannya.


"Duduk dulu, baru di makan! " perintah Alan saat melihat Jingga menyendok ice creamnya sambil berjalan.


Mall tampak begitu ramai. Alan menatap Jingga menikmati ice cream dengan lahapnya. senyum tipis terbit di wajah indo itu saat dia menyadari tubuh Jingga yang sudah mulai berisi. Akhir akhir ini Jingga mulai menyukai berbagai jenis makanan.


"Kenapa melihatku seperti itu? " tanya Jingga saat memergoki Alan menatapnya dengan senyum menghiasi wajah ganteng itu.


"Kamu semakin berisi semakin cantik! "


"Aku gendut ya! " Jingga menghentikan suapannya yang hampir masuk ke mulut. Dia mencari dinding kaca yang bisa memperlihatkan pantulan tubuhnya meski akan terlihat samar samar.


"Ih...Mas, sepertinya aku harus diet setelah melahirkan! " ujarnya dengan meneliti lagi pipinya yang mulai mengembang. Tangannya pun kini menjauhkan gelas cream yang ada di depannya.


"Aku suka yang sekarang! " ujar Alan dengan senyum yang masih melekat di bibir tipisnya.


"Lebih seksi, lebih hot! " bisiknya dengan mencondongkan badannya untuk lebih mendekat.


"Apaan sih, .. pikirannya ke situ saja! " Jingga mencubit lengan Alan yang menjulur, menggenggam lengannya. Alan hanya terkekeh saat melihat wajah Jingga yang sudah merona.


"Jika aku di suruh memilih, siapa yang pergi duluan diantara kita, tanpa berfikir lagi pasti aku akan memilih, biar aku saja! Rasanya aku tidak sanggup lagi jika harus merindukanmu! "


"Ngomong apa sih, Mas Alan ini! Kalau becanda jangan suka kelewatan, ah. " Jingga pun terdiam, menatap kesungguhan sorot mata itu. Mata Alan yang meredup seolah menandakan Jika dia tidak sedang becanda.


"Ayo kita pulang, nanti aku beli bajunya online saja! " ajak Jingga dengan menarik lengan Alan. Dia tidak ingin terbawa suasana, Dia sendiri rasanya tidak sanggup jika harus memikirkan berpisah dengan laki laki yang menjadi cinta pertamanya, laki laki yang akan menjadi ayah dari anaknya.


Di dalam mobil, Alan melirik Jingga yang sudah terlelap, sejak hamil istrinya lebih cepat tertidur, bahkan dia sering mengeluh karena rasa kantuk yang terus menerus. Lantunan musik dari audio mengiringinya menikmati jalan yang sedang dia lalui. Akhir akhir ini seperti ada yang mengganjal dalam hati lelaki yang melajukan mobilnya dengan santai. Padahal sekarang karirnya sedang melejit, sejak Jingga hamil namanya perusahannya semakin meroket bahkan beberapa proyek besar dipercayakan pada perusahaannya.

__ADS_1


Sekali lagi dia melihat wajah di sebelahnya. Wajah ayu yang selalu membuatnya ingin berlama lama menatapnya, di tambah lagi karakter labilnya yang terkadang bikin gemas sendiri. Merepotkan, merepotkan yang menyenangkan lebih tepatnya, membuat Alan semakin merasakan cintanya yang semakin dalam pada perempuan pilihan Eyangnya itu.


Alan menghentikan mobilnya saat sudah berada di dalam garasi rumah. Jingga yang masih terlelap membuat Alan memilih untuk menggendongnya masuk ke dalam. Rasanya tidak tega jika harus membangunkan istrinya.


Merasa tubuhnya seperti melayang, Jingga membuka sedikit kelopak matanya, kemudian berpura-pura lagi masih tertidur, saat sadar Alan sedang menggendongnya menuju ke dalam.


"Jangan pura pura lagi! " ujar Alan yang sempat melirik Jingga membuka mata. Mendengar kalimat suaminya, Jingga kembali memicingkan matanya mencoba mengintip kesungguhan ucapan Alan jika suaminya itu mengetahui dia sudah terbangun.


"Sudah jangan mengintip lagi! Ayo putar handle pintunya! Titah Alan membuat Jingga langsung tergelak, tertawa lepas dan tangannya memutar handle pintu.


Bukannya meminta turun, Jingga malah mengeratkan tangannya memeluk tubuh yang saat ini menggendongnya menuju ke kamar. Seringai timbul di sudut bibir Alan, saat melihat Jingga yang semakin manja.


Alan menutup pintu kamarnya dengan satu kakinya yang mendorong daun pintu itu dengan pelan. Berlahan pula dia meletakkan tubuh yang selalu dia damba di atas tempat tidur.


"Eh, mau ngapain buka kancing disini, Mas! " tanya Jingga saat melihat Alan membuka kancing kemejanya, seringai tipis yang masih melekat di bibirnya membuat Jingga bisa menebak apa maksut semua ini.


"Sudah lama kita nggak ritual kan, Sayang!" ujar Alan dengan membungkukkan tubuhnya di atas tubuh Jingga. Ritual panas pun sedang di lakukan keduanya. Jingga memang seperti candu baginya, dia selalu mendamba apa yang dimiliki Jingga. Seminggu saja tidak melakukan ritual nikmat itu, bagi Alan sudah cukup lama.


###


"Ada apa, sayang? " tanya Alan saat melihat kedatangan Jingga dengan langkah tergopoh gopoh.


"Ibu, Mas. Barusan ibu menelpon mengajakku ketemu di restoran Jepang yang ada di seberang mall! " ucap Jingga dengan mata berbinar.


"Jam berapa? Aku usahakan untuk mengantarmu nanti. " sahut Alan.


"Jangan dulu! Aku akan pergi sendiri dulu."


"Tapi aku juga perlu menjelaskan semua yang sudah terjadi. " ujar Alan yang ingin cepat menyelesaikan masalah dengan ibu mertuanya.


"Nanti saja, jika aku sudah bisa membaca keadaan, ya! " tolak Jingga, dia takut ibunya masih marah dengan Alan.


Jingga merasa sangat bahagia, saat Sasmitha mengajaknya bertemu. Bahkan jika mau, dia akan mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya.


###


"Ibu....! " lirih Jingga saat mereka bertemu di parkiran japanese resto. Tak ingin berkata apapun, Sasmitha memeluk putri kesayangannya itu dengan erat . Ada kerinduan dan rasa khawatir yang kini tersingkir dengan pertemuan itu.

__ADS_1


"Aku merindukanmu gadis kecilku! " ujar Sasmitha dengan meneliti penampilan Jingga yang sedikit berubah.


"Ayo masuk! " ajak Sasmitha dengan menggandeng lengan kecil itu untuk menghindar dari terik matahari yang menyengat.


Mereka kini saling berhadapan, saling bertukar pandang, mengamati banyak hal yang berbeda pada keduanya.


"Ibu, apa kabar, kenapa meninggalkan rumah di kampung? Dan ibu menggunakan mobil siapa? Sejak kapan ibu bisa menyetir? " Jingga mencecar Sasmita dengan beberapa pertanyaannya.


"Suatu saat aku akan menceritakan semuanya, tapi tidak sekarang, yang penting aku baik baik saja bukan? " tanya Sasmitha mencoba meyakinkan Jingga.


"Bagaimana kabarmu? Kenapa kamu masih bertahan dengan Alan, dia sudah mengkhianatimu, bukan?" Sasmitha masih belum bisa terima jika Alan menyakiti perasaan Jingga, putri yang selalu dia manja selama ini.


"Bukan seperti itu, Bu! Mas Alan tidak bersalah. wanita itu sengaja mematikan CCTV ruangan mas Alan, dia mencampur obat untuk memperdaya Mas Alan. Aku tahu dari asisten Mas Alan yang sudah mengenal perempuan itu, Bu! " Jingga mencoba meyakinkan ibunya, tapi Sasmitha belum sepenuhnya percaya.


"Tapi tidak mungkin jika Faizal membohongiku! Kamu masih terlalu naif untuk menghadapi permasalahan, Ngga! "


"Apa ibu tidak percaya, jika aku sudah mampu menganalisa semuanya dengan baik? " Sasmitha terdiam, dia mencoba mencari kebenaran dengan logikanya.


"Aku hamil, Bu! " kalimat Jingga membuat sasmitha tersadar dari lamunannya. Matanya menatap putrinya, rasa bahagia mulai membuat matanya berkaca kaca.


"Ibu akan menjadi Eyang Putri! " lanjut Jingga, tangannya kini menjulur memberi kehangatan pada tangan yang sudah melimpahkan banyak kasih sayang untuknya.


"Apa kamu bahagia bersamanya? Apa Alan memperlakukanmu dengan baik? " Rasa cemas Sasmitha semakin bertambah saat mendengar kehamilan Jingga. Dia hanya ingin Jingga mendapatkan yang terbaik.


"Tentu, Mas Alan laki-laki yang sangat baik. Ibu sudah mengenalku, aku buka tipe orang yang pandai berpura-pura atau menutupi perasaan. Terima kasih sudah menjodohkanku pada laki laki yang tepat. " kalimat Jingga berhasil meloloskan air mata Sasmitha. Mata yang sudah seperti mengering kini kembali basah.


"Ibu sangat bahagia, jika kamu bahagia. Tapi aku masih menginginkan penjelasan dari Alan. Ayo makan yang banyak! " Sasmitha menaruh beberapa makanan di piring Jingga. Rasanya hampir tidak percaya, gadis yang dia larikan dari rumah keluarga Hadinoto kini akan memberinya cucu. Apapun yang terjadi baginya Jingga akan tetap jadi putri kesayangannya.


Setelah menikmati makan siang mereka. Sasmitha bermaksut mengantarkan Jingga. Rasa bahagia yang membuncah membuat senyumnya enggan menyurut dari bibirnya. "Mas Cokro, Mbak Rengganis, kita akan mempunyai keturunan dan penerus! " Sasmitha bermonolog dengan hatinya sendiri. Dia seolah ingin membagi kebahagian pada kedua orang yang terlebih dahulu meninggalkannya.


"Chiiitttt..... " Sasmita menginjak pedal rem mendadak. Nampak tubuh keduanya membungkuk ke depan saat melihat mobil sedan yang Sasmita dan Jingga tumpangi terhenti mendadak. Sebuah mobil Fortuner kini menghadang mereka, tiga orang berperawakan Tinggi besar turun dari mobil dan berjalan menuju mobil Sasmitha.


"Keluar, cepat keluar! " dengan kasar Salah satu diantara mereka menggedor kaca jendela mobil. Nampak juga meraka membawa senjata berapi.


"Keluar.... " Sekali lagi mereka menggedor kaca mobil dan berteriak untuk dibukakan pintu mobil.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2