Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
48. Olahraga Malam


__ADS_3

Tuan Wirya menatap tajam anaknya. Tapi, Reyhan tetap saja menikmati makan malamnya tanpa peduli ada maksut apa ayahnya mengundang dirinya untuk datang ke rumah. Ya, laki laki berambut gondrong itu sudah memiliki rumah sendiri sejak menikah dengan Deandra.


" Rey, bisakah kamu lebih serius lagi menjalani hidupmu? " Tuan wirya membuka pembicaraan dengan putra sulungnya.


" Maksud Ayah, apa? " Reyhan meletakkan sendoknya menatap balik lelaki berumur yang selalu saja menuntutnya untuk mengambil alih hotel milik keluarga Hadinoto yang seharusnya diturunkan pada keluarga Cokro Raharjo ayah Jingga.


"Setidaknya pikirkan masa depanmu? " ucap


Tuan Wirya membuat Reyhan tersenyum sinis menanggapi ucapan ayahnya.


"Bukankah, saat ini Reyhan sudah serius memikirkan masa depan? Jika tidak, bagaimana mungkin Reyhan membangun keluarga bersama Dea? " Pertentangan itu terus yang selalu terjadi di antara ayah dan anak itu. Dua arah pemikiran yang berbeda. Lelaki yang menyukai kebebasan itu tidak pernah sependapat dengan ayahnya yang memprioritaskan materi dan kekuasaan.


"Kamu tidak pernah mengerti....! "


"Aku sangat mengerti, Yah! " potong Reyhan seketika.


"Bukankah, ayah berharap aku mau mengurus semua aset yang seharusnya menjadi milik sepupuku? Aku tidak mau terlalu ribet dengan harta yang tidak jelas itu! Aku punya perusahaan sendiri. Aku hanya ingin membangun masa depanku bersama keluarga kecilku agar kami bisa bahagia. Tidak hanya kowan kawin saja, berlagak menjadi orang paling adigung di dunia ini."


"Reyhan! " hardik Tuan Wirya. Mendengar sindiran anaknya membuat Tuan Wirya naik darah, berbeda dengan Rayhan saat mendengar teriakan ayahnya, dia hanya tersenyum sinis karena hal itu sudah biasa terjadi diantara mereka. Lelaki yang sangat kecewa kepada ayahnya itu memang tidak peduli pada hubungan kekerabatan mereka. Sejak meninggalnya ibunya Ny. Karina, ibu Reyhan meninggal karena sakit yang berkepanjangan belum lagi tekanan batin karena Tuan Wirya yang punya banyak istri di mana mana.


Selalu tidak mendapat kesepakatan antara ayah dan anak, hingga Reyhan pun memutuskan kembali pulang. Banyak hal yang ingin dia perbaiki, dia tidak ingin cerita keluarganya terulang pada keluarga kecilnya setidaknya untuk calon bayi perempuannya yang beberapa bulan akan lahir di dunia.


###


Pagi-pagi sekali, Setelah solat subuh Alan mengajak Jingga untuk olahraga. Lelaki yang sudah siap dengan kaos singlet yang mencetak tubuh atletisnya itu sudah berdiri menunggu Jingga yang membuka tirai kamarnya. Jingga masih mengerucutkan bibirnya, sebenarnya dia sangat malas untuk melakukan olahraga, tapi karena paksaan dari Alan dan ancaman akan mengirimkan foto-foto jeleknya ke social media membuat Jingga mau tidak mau mengiyakan keinginannya. Pemikiran bocah pada istrinya kadang membuat Alan lebih mudah sekali membuat ancaman, seperti halnya mengirimkan foto jeleknya ke social media yang sebenarnya sebuah hal yang tidak penting.


"Jangan manyun terus! Lagian olahraga biar sehat, nggak cepet nangisan! " ledek Alan dengan menarik lengan Jingga yang masih mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Apa hubungannya?" ketus Jingga yang merasa itu akal akalannya Alan saja.


"Mens sana in corpore sano, itu bohongan semata? " sarkas Alan.


"Aku belum bikin sarapan! Nanti kalo Mas Alan berangkat kerja sarapan belum matang gimana? " Masih berusaha mencari Alasan agar Alan membatalkan olahraga bersama.


"Alasan terus! Aku berangkat kerja agak siang, itu pun cuma sebentar! "


Alan masih saja menarik lengan Jingga yang sudah ngos ngosan hanya dengan sekali putaran mengelilingi halaman belakang. Bulir bulir keringat pun sudah memenuhi keningnya.


"Sebentar! huh hah, huh hah! " Jingga berhenti untuk mengatur nafasnya yang mulai terputus putus.


"Enak olahraga malam ya? " goda Alan yang hanya dijawab anggukan Jingga. Perempuan yang saat ini kuwalahan mengatur nafas membuatnya tidak fokus dengan kalimat suaminya.


"Nanti malam berarti? " Alan memancing kembali.


"Apanya, Mas? " Jingga mulai fokus menanggapi Alan setelah nafasnya mulai teratur.


"Nggak-nggak. Nggak mau... " tolak Jingga.


"Nggak mau, tapi pasrah saja! " ledek Alan yang memang kenyataannya dia yang lebih dominan saat mereka berolahraga malam. Mendengar kalimat suaminya, Jingga males menyambung dia hanya meluruhkan tubuhnya di rumput yang memang sengaja ditata rapi.


"Ayo satu kali putaran! " ujar Alan sambil menarik tangan Jingga untuk kembali berdiri.


"Capek ah, nanti pasti kakiku sakit-sakit semua!" Meskipun masih mengucapkan kalimat penolakan dan dengan ogah ogahan Jingga masih mengikuti Alan melakukan satu kali putaran.


"Aku capek beneran, Mas! Kakiku dan badanku pegal pegal semua! " Alan menatap Jingga, melihat istrinya benar benar menyerah membuat Alan menarik lengan Jingga di tempat Gym.

__ADS_1


"Aku nggak sanggup! " lirihnya masih meyakinkan Alan jika dia tidak mampu harus melanjutkan kegiatan itu.


Alan membiarkan Jingga selonjoran di dekatnya, sedang dia sudah mengambil posisi akan melakukan push up.


"Latihan buat nanti malam, biar ada yang merengek minta berhenti! hahahha. " ledek Alan.


"Oke, tapi latihannya juga ngangkat bebanku itu sampai 100 kali, Baru bisa olahraga malam sepuasnya! " tantang Jingga yang merasa yakin Alan tak akan mampu melakukannya.


"Kemarilah, duduk di atas! Hitung yang benar. " Alan menantang balik Jingga. mendengar kesepakatan itu, Jingga menelan salivanya dengan susah, dengan lemas dia beranjak menduduki punggung Alan yang sudah mengambil posisi Push up.


"Kenapa jadi begini! Semoga saja ambruk setengah jalan" gumam Jingga dalam hati, mulutnya pun mulai menghitung.


Berbeda dengan Alan, yang hanya tersenyum tipis dengan menghabiskan satu persatu hitungan angka 100 itu sampai lunas.


"Akhirnya, nanti malam ada yang mau muasin! hahahaha! " sindir Alan membuat Jingga hanya melirik Alan yang duduk di sampingnya. Rasanya dia menyesal membuat kesepkatan itu seharusnya bukan 100 tapi 1000 seperti Roro Jonggrang yang menggunakan nominal 1000. Bodoh, kini Jingga merutuki kebodohannya sendiri.


"Ngga...! Lusa ikut aku menghadiri peresmian resort, ya! "


"Tapi, apa Mas Alan tidak malu mengajakku?" tanya Jingga yang masih terngiang ucapan Maya.


"Kenapa harus malu? " Alan merubah posisi duduknya menghadap ke arah Jingga. Dia mulai mencari alasan dari ucapan Jingga.


"Aku nggak pernah menghadiri acara semacam itu. Aku takut melakukan kesalahan. " ujar Jingga dengan sebenarnya.


"Ngomong apa kamu, Ngga! Aku juga datang hanya untuk menghormati colega saja dan siapa tau ada pengusaha lain yang tertarik menggunakan jasa perusahaanku." jelas Alan meyakinkan Jingga. Dia juga bukan tipe orang yang menyukai sejenis acara pesta. Tapi acara semacam ini lumayan juga untuk promosi perusahaannya, jadi dia tidak ingin melewatkannya begitu saja.


"Aku tidak punya gaun pesta, Mas. Terus aku dandannya gimana? Aku juga nggak mahir menggunakan make up. "

__ADS_1


"Ya ampun Jingga, gitu aja dibikin ribet. Ntar malam kita ke butik! Lagian di sana bukan ajang fashion show juga! Alan yang selalu berfikir praktis merasa tidak ada masalah dengan semuanya, lagian mau atau tidak memakai make up baginya Jingga tetep cantik.


Bersambung


__ADS_2