
Sudah Tiga hari Jingga bed rest meski mereka ( Bu Sasmitha dan Jingga) dirawat di rumah sakit yang sama, tapi Alan tetap meminta Bi Murthi untuk menunggui Bu Sasmitha karena dia sendiri menjaga Jingga.
Kunjungan dokter yang bertugas malam ini, menyatakan keadaan Jingga saat ini jauh lebih baik. Setelah kepergian dokter dan perawat Alan menutup pintu ruangan Jingga. Beberapa hari ini, waktu yang dilaluinya terasa menegangkan dan melelahkan. Lelaki yang punya tinggi maksimal itu merayap naik ke atas ranjang rumah sakit, berhimpitan dengan tubuh mungil Jingga.
"Besok, Aku akan melihat keadaan Ibu! " ucap Alan seraya memeluk tubuh mungil, tangannya pun tak berhenti mengelus perut jingga yang mulai membuncit.
"Masih banyak yang aku takutkan, Mas. " ucap Jingga dengan mendongak, menatap wajah Alan.
"Kita berdoa saja, Ibu akan segera pulih! Sayang,.... " kalimat Alan menggantung, ingatannya kembali pada kejadian saat pucuk pistol itu mengarah ke tubuh Jingga.
"Aku takut kehilanganmu! Bagaimana aku bisa hidup jika kehilangan kalian?" Seperti rasa trauma yang menghampiri, sudut mata Alan pun, kembali meneteskan air saat mengingat kejadian mengerikan itu lagi. Detik detik di mana suara tembakan menggema di seluruh ruang aula usang itu.
Malam itu keduanya saling mencurahkan isi hati mereka, bagaimana mereka sama sama mengira salah satu diantara mereka akan pergi.
"Rasanya, aku sudah tidak sanggup jika harus merindukanmu Jingga Andini! " ucapnya dengan mencium puncak kepala istrinya yang masih kumel itu. Apapun itu bagi Alan tetap menyenangkan bisa bersentuhan dan mendekap tubuh istrinya.
Pagi pagi sekali, Alan memandikan Jingga, istrinya mengeluh sudah nggak betah dengan rambutnya yang sudah kumel. Sejak diharuskan bed rest, Jingga memang belum keramas. Pagi ini setelah subuhan Alan menggendong Jingga masuk ke kamar mandi untuk dia mandikan. Meskipun, keadaan Jingga yang jauh lebih baik, Alan belum memperbolehkan Jingga untuk berjalan sendiri. Dia sendiri memang fokus untuk merawat Jingga, bahkan semua pekerjaan kantor sudah dia alihkan pada Raka. Ya, untung asisten itu begitu cekatan dan sangat bertanggung jawab.
Keluar dari kamar mandi, Jingga sudah terlihat segar, rona sumringah kini terlihat jelas di wajahnya, apalagi hari ini dia akan bertemu dengan ibunya.
"Selamat pagi ibu Jingga. " sapa dokter yang visit hari ini diikuti dua perawat di belakangnya.
"Pagi, Dok! " jawab Jingga sedikit malu karena Alan sedang menyisir rambutnya.
"Saya check dulu ya kondisi Ibu! " Mendengar ucapan dokter Niar, Alan kembali membantu Jingga merebahkan tubuhnya di kasur.
Alan mendudukkan bobotnya di sofa dengan memperhatikan dokter yang sedang memeriksa kondisi Jingga. Sesekali dia melihat dokter menolehi satu orang perawat dengan mendektekan sesuatu untuk ditulis di atas kertas laporan.
"Baiklah, kondisi Ibu Jingga jauh lebih baik. Ibu Jingga diperbolehkan pulang kapan saja yang Ibu Jingga mau! Tapi ingat ya, jangan terlalu stres! " jelas dokter Niar kemudian keluar dari ruangan diikuti dengan kedua perawat di belakangnya.
__ADS_1
Jingga masih merilekskan tubuhnya di kasur, hingga Alan kembali menghampirinya.
"Ingin menjenguk Ibu, nggak? "
"Mau, Mas. " jawab Jingga membuat Alan membantunya bangun dan mengangkat tubuh mungil Jingga untuk duduk di kursi roda.
Alan mendorong Jingga yang berada di kursi roda, suasana pagi yang sangat cerah. Udara pun terendus sangat segar. Mereka melewati beberapa ruangan yang tenang sebelum masuk ke ruangan Bu Sasmitha. Di sana sudah ada Bi Murti yang memang diminta Alan untuk menunggui ibu mertuanya.
Jingga memasuki ruang perawatan Bu Sasmitha. Matanya berkaca kaca saat melihat wanita kuat yang selalu melindunginya kini terbaring lemah.
"Ibu..." panggil Jingga dengan suara parau. Tangannya menggenggam erat tangan pucat Sasmitha.
"Ibu bangun, aku ingin Ibu bermain dengan cucu Ibu nanti! " Jingga kembali terisak bahkan isakannya sangat sulit untuk dikendalikan. Dia tak mampu lagi bicara, hingga Alan kembali mendorong kursi roda yang di duduki Jingga keluar ruangan.
"Sayang, aku tidak akan membawamu masuk lagi jika kamu seperti ini. Jangan membuat Ibu bertambah sedih! " ujar Alan yang saat itu berjongkok di depan Jingga. Sambil mengangguk Jingga menghapus air matanya. dan meminta Alan membawanya masuk kembali.
Suasana hening, Jingga kembali menggenggam tangan dingin Ibunya. Banyak luapan kesedihan yang saat ini dia simpan, dia memang harus belajar untuk lebih kuat seperti orang yang saat ini terbaring di depannya.
Hening, tidak ada suara lagi. Tapi Jingga masih menggenggam tangan ibunya seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Mas...! " panggil Jingga saat Jingga merasakan jari jari Sasmitha di dalam genggamannya. Alan dan Bi Murthi pun melihatnya. Ya Allah betapa bahagianya Jingga saat mulai melihat mata sayu itu kembali mengerjap.
"Ibu bangun, Mas! " Sorak Jingga begitu girangnga saat Sasmitha membuka matanya dan senyum lemah terbit di wajah Sasmitha.
Alan kini memanggil dokter dan serangkaian pemeriksaan terhadap Sasmitha dilakukan untuk mengetahui kondisi Sasmitha saat ini.
Rasa bahagia begitu membuncah saat dokter menyatakan kondisi Sasmitha jauh lebih baik.
"Terima kasih ya Allah, Engkau masih membiarkan Ibu bersama kami. " gumam Jingga dengan senyum yang tak pernah surut dari wajahnya.
__ADS_1
Saat melihat Sasmitha ingin beranjak bangun, Alan segera membenarkan posisi tempat tidur agar Ibu mertuanya bisa duduk bersandar.
"Jingga.. ada yang ingin Ibu bicarakan! " suara lemah Sasmitha kini terdengar sedikit di paksakan, tapi dia tidak mampu lagi menyimpan rahasia ini lagi.
Air mata Sasmitha meluncur begitu saja sebelum dia melanjutkan kalimatnya.
"Ibu... jangan memaksakan diri dulu! " ujar Alan.
"Tidak, Ibu harus mengatakannya saat ini. " jawab Sasmitha dengan penuh keyakinan.
Sasmitha mengusap air matanya. Ini pertama kali Jingga melihat Ibunya menangis seperti itu. Jingga mengeratkan genggaman tangannya pada tangan ibunya seolah ingin meyakinkan semua baik baik saja.
"Jingga, Maafkan ibu jika selama ini Ibu merahasiakan semuanya. Maafkan Ibu... seharusnya kamu berhak tahu dari awal.... " Sasmitha kembali menangis dengan sesenggukan. Membuat Jingga semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
"Jingga, jika saja Ibu bukan Ibu kandungmu, masih kamu menyayangi ibu seperti sebelumnya? " lirih Sasmitha membuat Jingga membeku. Pikiran Jingga belum bisa menangkap apa maksud dari ucapan Ibunya.
"Aku putri Ibu. Selamanya akan jadi putri Ibu! " tegas Jingga.
"Kamu bukan putri kandung Ibu....!" Sasmitha tergugu oleh tangisnya. Alan mendekati wanita paruh baya, mengelus pundak Sasmitha agar bisa kembali tenang.
Mata Jingga membola, bahkan saat ini mulai berkaca kaca. Mendengar apa yang di katakan sasmitha, tubuh Jingga kini terasa kaku bahkan lidahnya terasa kelu hanya untuk menanyakan apa ini sebenarnya.
"Apa kamu akan meninggalkan Ibu, Ngga? " tanya Sasmitha dengan ketakutan yang mendera hatinya. Tidak bisa dia bayangkan Jika Jingga akan melupakannya setelah mengetahui semuanya.
"Lalu siapa Ibuku, siapa bapakku? " tanya Jingga dengan air mata yang mulai menetes. Rasa hatinya terasa bercampur aduk tatkala mendengar kebenaran yang selama ini tersimpan.
"Kamu memang putri Mas Cokro, Tapi Ibu kandungmu bukan aku melainkan Mbak Rengganis. Raden Ajeng Ayu Rengganis Prayogo. " mendengar pengakuan Sasmitha Jingga menyandarkan tubuhnya di kursi roda. Tubuhnya terasa lemas, bahkan dia hanya tertegun mendengar kebenaran yang ada.
"Jingga, Maafkan Ibu. Ibu bersalah padamu telah merasahasiakan ini. Tapi percayalah Ibu menyayangimu, seperti anak Ibu sendiri. " Mata sendu itu menatap penuh harap pada Jingga. Jujur, saat ini Sasmitha sangat takut jika Jingga akan marah setelah mendengar kebenaran tentang dirinya.
__ADS_1
Bersambung....