Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
78. Istri Galak


__ADS_3

Ketukan suara sepatu pantofel, menggema di lantai dua kantor Alan. Pria berwajah oriental itu tengah berjalan menuju ruangan orang nomer satu di kantor arsitek itu. Decak kagum untuk sang cassanova itu mulai terlihat dari beberapa pegawai perempuan yang ada di dalam kantor.


Dave yang terbiasa menerima simpatik rasa kagum dari perempuan pun melenggang begitu saja. Tapi ada yang menarik perhatiannya, ketika seorang gadis cantik sedang merengek di depan Raka.


"Sebentar saja! Aku hanya ingin menemui Mas Alan untuk urusan mobil itu! " rengek gadis bernama Prisilla itu yang ingin menemui Alan. Dave yang melihat Raka kewalahan menangani gadis itu pun segera mendekat.


"Ada apa, Ka? " tanya Dave membuat keduanya menoleh.


"Ini, Bang. Mbaknya mau nemuin Bang Alan untuk mengganti kerugian mobilnya Bang Alan yang dulu ditabrak Mbak Prisilla ini. Tapi, kata Bang Alan mobil itu udah di ganti. Dan Bang Alan sedang tidak bisa di ganggu. " jelas Raka.


Mendengar cerita Raka, Dave terdiam sejenak dia mulai mengerti inti dari permasalahannya.


"Begini saja... " kalimatnya terputus karena dia masih mengolah untuk mengeluarkan kalimat yang tepat.


"Berhubung itu mobilnya Jingga, jadi kasih saja nomernya Jingga, agar Mbak Prisilla mengurusnya dengan Jingga. " jelas Dave, membuat penengah diantara perselisihan keduanya.


"Siapa Jingga? " tanya Prisilla begitu penasaran.


"Istri Bang Alan! " sahut Raka.


"Istri? " ulang Prisilla setengah kecewa.


"Iya...fix, kan? Ini nomer ponsel Mbak Jingga! " Prisilla menerima no ponsel dengan tidak bersemangat, bisa terlihat rasa kecewa gadis itu dari matanya. Berlahan, gadis cantik itu meninggalkan meja Raka.


Dave pun langsung masuk ke ruangan Alan, Disusul Raka yang mengekor untuk menyerahkan laporan. Dave tahu sahabatnya itu hanya menghindar dari mahluk yang namanya perempuan ngotot.


"Sialan lo, Dave! " umpat Alan saat melihat Dave masuk ke dalam ruangannya. Tapi, pria yang sudah faham dengan apa yang dimaksut Alan hanya tergelak, menertawakan nasib Alan mengahadapi istri galaknya itu.


"Gimana sudah boleh tidur di kamar?" tanya Dave membalas umpatan Alan dengan ejekan.


"Sumpah lo bikin nasibku jadi sial berlipat lipat, dasar setan lo, tukang hasut! " Masih menyumpah serapah pria yang saat ini duduk di depan mejanya. Sementara Raka hanya menyimak perbincangan dua bos itu dengan menaruh laporan di meja Alan.

__ADS_1


"Semalam, gua di siram air satu ember! Habis itu, beeghhh ....omongan Jingga ketus banget, ditambah paginya aku dapat ceramah islami, Setan bener dirimu! "


"Puuufffttt...!" Raka tak mampu menahan tawanya.


"Apa? Kamu tahu maksutnya? " tanya Dave saat melihat Raka menahan tawa.


"Pasti lagi ngomongin Mbak Jingga! " jawab Raka tanpa dosa.


"Kok kamu tahu? " tanya Dave bertambah penasaran.


"Buka Rahasia lagi jika Mbak Jingga itu galak! Seandainya Bang Dave tahu saat mbak Jingga menyeret Maya keluar dari ruangan Bang Alan! Seru pokoknya! " jelas Raka membuat Alan mengernyitkan dahinya, dia memang belum tahu cerita itu.


"Kenapa kamu tidak cerita ke aku, Ka? " tanya Alan.


"Bang Alan kan tidak bertanya. " jawab Raka. Dia masih mengingat betul perempuan berwajah ayu itu berubah menjadi buas saat miliknya diganggu.


"Keren pokoknya istri Abang! Wajah manjanya Mbak Jingga itu sangat menipu saat miliknya diganggu! "


Mendengar cerita Raka, Dave hanya tersenyum. Pantas saja, jika Alan begitu menggilai gadis belia itu, selain memang cantik, karakternya yang unik begitu sangat menarik. Dave sebenarnya ikut bahagia, saat melihat Alan mendapatkan perempuan yang cocok untuknya, meski dengan jalan dijodohkan. Saat ini dia mulai memikirkan dirinya yang belum menemukan seseorang yang tepat di hati dan hidupnya.


Sore itu Alan memang menyumpah serapah Dave sampai puas. Bisa terlihat rasa jengkel karena hasil dari ulah sahabatnya itu, benar benar membuatnya merana saat bertemu Jingga.


###


Seusai sholat magrib, Alan keluar dari ruangannya. Dia bersiap untuk pulang. Kantor mulai sepi, bahkan Raka pun sudah tidak terlihat lagi.


Sehebat apapun lelaki, jika bermasalah dengan perempuan, hidupnya tidak akan tenang. Seperti itulah Alan saat ini, rasa bersalah kini membuatnya harus memutar otak agar bisa mendapatkan maaf dari Jingga.


Di dalam mobil Jeep dengan kecepatan sedang, dia masih memikirkan cara untuk berdamai dengan Jingga.


Malam yang semakin petang, membuat suasana kota semakin nampak ramai. Lampu terang sepanjang jalan dan gedung-gedung yang mulai menyalakan penerangannya terlihat indah menghias ramainya kota di malam hari.

__ADS_1


Alan menghentikan mobilnya saat melihat jejeran ruko dan kedai penjual makanan. Dia berfikir untuk membelikan Jingga beberapa makanan yang akhir akhir diminatinya.


Beberapa makanan sudah berada di tangan, lemon tea, ice cream, empek empek, martabak telur, dan batagor. Alan memasukkan semua di bangku belakang, kemudian dia kembali melajukan mobilnya menembus keramaian kota.


Rumah terlihat sepi, setelah turun dari mobil, dengan membawa berbagai jenis makanan yang sudah dibelinya, hal pertama yang dilakukan olehnya adalah mencari Jingga.


"Sayang... ! " panggil Alan saat meletakkan makanan yang dibawanya itu di meja makan.


Tidak ada jawaban, Alan berjalan menuju kamar bawah, dan ternyata kosong saat dia membuka handle pintu. Bisa dipastikan hatinya sedikit cemas, Dia kembali mencari Jingga di lantai dua, Mungkin dia sedang bersantai di balkon atau dia istirahat di kamar atas.


Kecemasan kini semakin melandanya tatkala dia tidak menemukan istrinya di tempat yang sudah diperkirakan.


"Ya, Ampun, Jingga! " keluhnya sambil berlari menuruni tangga, dia hanya takut Jingga menghilang lagi.


Dengan tunggang langgang Alan mengayunkan langkahnya menuju rumah bagian belakang. Sepi.... wajah paniknya tidak bisa di sembunyikan lagi, dia akan kembali mencari ponselnya yang tadi sempat diletakkan di meja makan bersamaan dengan kunci mobil dan makanan yang dia beli. Tapi matanya kini menangkap Bi Murti yang berjalan dari bangunan kecil yang menjadi tempat tinggalnya selama di sana.


Alan memutuskan menghampiri wanita tersebut, bermaksud menanyakan keberadaan Jingga.


"Bi, dimana Jingga? " tanya Alan dengan suara panik.


"Oh, Mbak Jingga di rumah belakang, dia baru saja tertidur. Saya tidak berani membangunkannya karena tidurnya nampak pulas sekali! " jelas Bi Murthi kemudian memandu Alan menuju rumah yang dia tinggali.


"Mas Alan, Mbak Jingga masih sedih karena selama ini belum bisa menghubungi Bu Sasmitha. Tadi dia sempat menemui saya untuk curhat. Dia juga sempat nangis. Rasanya saya tidak tega, Mbak Jingga sangat merasa bersalah! " jelas Bi Murthi, meski tidak ditanggapi Alan tapi laki laki itu bisa mengerti perasaannya Jingga.


Bi Murthi membuka pintu utama bangunan itu dengan sangat pelan. Nampak Jingga sudah tertidur pulas di sebuah sofa panjang di ruang utama. Biar kecil, tapi rumah untuk asisten rumah tangga itu di desain senyaman mungkin dengan fasilitas yang lengkap.


Alan menatap sejenak wajah Jingga saat tertidur, bagaimana bisa dia selalu membuat Jingga marah? Perempuan yang sangat istimewa di hatinya. Segera Alan menggendong Jingga, bermaksud membawanya ke kamar mereka di rumah utama.


"Jingga Andini, jangan pernah lelah untuk bersamaku mengingatkanku di saat aku salah jalan! " gumamnya dalam hati saat melihat wajah ayu perempuan yang saat ini dalam gendongannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2