Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
69. Sensitive Dan Cengeng


__ADS_3

Dengarkan penjelasanku dulu!" Alan mencekal tangan Jingga, berusaha membuat Jingga mau mendengarkan penjelasannya.


"Lepaskan, Mas! " pekik Jingga bersamaan dengan tubuhnya yang meluruh ke lantai.


"Astaga...!" gumam Alan penuh dengan kepanikan. Gegas, dia menggendong Jingga dengan berlari menuju mobilnya yang masih terparkir di pinggir jalan.


Dengan rasa gugup Alan melajukan mobilnya mencari klinik terdekat. Terlihat jelas wajah Alan yang menegang saat melihat keadaan Jingga. Sesekali sudut matanya mengekor memperhatikan istrinya, wajahnya pucat dan matanya pun masih terpejam.


"Ya ampun, Ngga. Kamu sakit apa, Hingga separah ini? " Keluh Alan selama dalam perjalanan menuju ke klinik. Banyak pikiran buruk yang saat ini menghantuinya.


Setelah lima belas menit mobilnya berbelok pada sebuah klinik. Masih dengan wajah panik, Alan menggendong Jingga dan di sambut team medis yang akan membawa Jingga di bagian unit gawat darurat untuk diperiksa lebih dulu.


Alan masih terlihat cemas, mondar mandir dengan tidak jelas, menunggu pemeriksaan Jingga. Banyak pikiran buruk yang terlintas saat mengingat perubahan kesehatan istrinya yang memang memburuk secara drastis.


"Pak, silahkan masuk! " seorang perawat mempersilahkan Alan masuk ke dalam ruangan setelah pemeriksaan Jingga selesai.


"Bapak ini bagaimana menjadi sebagai seorang suami, apa yang terjadi pada ibu Jingga sangat berbahaya untuk janinnya! " Alan hanya terdiam saat seorang dokter obgyn memarahi keteledorannya.


"Janin? " Alan mengulang satu kata yang membuatnya tidak percaya.


"Iya ... usia kandungan Ibu Jingga sudah enam minggu! "


"Benarkah, dok? " tanya Alan sekali lagi, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan wanita berkaca mata di depannya.


"Iya, Pak. Usia kandungan ibu Jingga menginjak enam minggu. Tapi karena ibu Jingga kekurangan nutrisi, jadi terpaksa harus menginap dua hari di sini. " jelas Dokter Widya lebih rinci.


"Apapun, dok. Lakukan yang terbaik buat istri dan anak saya! " ucap Alan masih dengan senyum yang tak pernah surut dari bibirnya. Betapa bahagianya lelaki itu mendengar jika dia akan menjadi calon ayah. Hal itu sudah sangat diimpikannya sejak lama, mempunyai keluarga seutuhnya.


Genggamannya tak pernah terlepas dari tangan mungil istrinya. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di punggung tangan yang masih terkulai lemas itu.


"Sayang, bangunlah! Ada kabar bahagia yang kamu harus tau! " ujar Alan mencoba mengajak berbicara Jingga. Sudah setengah jam Alan berada di samping Jingga, menunggui istrinya yang tak kunjung membuka matanya.


Matanya mengerjap, memandangi ruang yang cukup asing baginya. Berlahan Jingga membuka matanya, hidungnya mengendus aroma obat yang menguar ke segala arah, terakhir dia menyadari jika tangannya sudah terpasang selang infus.


"Lepaskan! " lirihnya, kata pertama yang terucap setelah Jingga sadar dan melihat Alan masih menggenggam tangannya. Meskipun, mendapatkan perlakuan dingin dari Jingga, tapi tidak menyurutkan senyum dari bibir tipis lelaki itu.

__ADS_1


" Sayaaang..." lirih Alan dengan menatap wajah pucat istrinya.


"Pergilah! Aku muak mendengarnya! " ucap Jingga dengan menahan sesak di dadanya.


Alan masih tersenyum menatap istrinya, meski hatinya mencelos merasakan nyeri saat mendapat penolakan itu, tapi dia mencoba mengerti situasi dan kondisi emosi Jingga yang belum stabil.


"Baiklah, tapi aku akan kembali secepatnya! " ucapnya dengan mencium kening Jingga, sementara istrinya hanya memalingkan wajah menunjukkan ketidak senangannya akan perlakuan Alan terhadapnya.


"Huekkkk.... " suara Jingga, menghentikan langkah Alan saat akan keluar dari pintu. Jingga tidak tahan menahan mualnya yang tiba tiba menyerang.


"Sayang... " Dengan sigap Alan membantu Jingga untuk menuruni tempat tidur. Anehnya, saat berada di dekat Alan, mengendus aroma maskulin suaminya itu membuat rasa mualnya pun menghilang.


"Tidak jadi... " Jingga berhenti, dia hanya duduk di pinggir tempat tidur saat rasa mualnya tiba tiba menghilang. Alan hanya menatapnya aneh. Mungkin benar perempuan hamil akan menjadi makhluk Tuhan paling aneh. Sabar... sabar.... sabar... kata yang tepat untuk para suami.


Suara dering ponsel milik Alan menghentikan ketegangan diantara mereka. lelaki itu mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja.


"Iya Eyang.... " jawab Alan menjawab panggilan Eyang putri.


"Besok ada rapat pemegang saham, Aku harap kamu datang karena semua saham milik Eyang, sudah di alihkan atas nama kamu, Cah Bagus."


"Tetap saat yang mengoperasikan pamanmu. Sudah adil bukan? "


"Aku usahakan Eyang, masalahnya Alan harus menunggui Jingga di klinik. "


"Jingga sakit Apa? " suara Eyang Putri terdengar sangat khawatir.


"Eyang akan punya cicit? " ucap Alan begitu bersemangat.


"Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga kamu buatnya. Baiklah kamu jaga baik baik istri dan calon cicit Eyang,heheheh ...Asalamualaikum! " Eyang menutup panggilannya, tapi sebelum itu terdengar tawa bahagia wanita yang sudah mengharapkan generasi penerus dari keluarga Mahesa.


Alan menutup teleponnya, dan saat akan menghampiri Jingga dia melihat Jingga yang menatapnya penuh tanya.


"Sayang... ada apa? " tanya Alan.


"Benarkah aku hamil? "

__ADS_1


"Iya kita akan punya baby, Sayang! " ucapnya begitu anthusias, tapi Jingga malah menitikan air mata.


"Hik hik hik.... kenapa kamu mengkhianatiku, Mas? Kenapa saat aku ingin berpisah denganmu aku malah hamil? "


"Aku tidak mengkhianatimu! "


"Bercumbu dengan perempuan lain apa itu bukan penghianatan. Bahkan kau juga memeluknya di tengah jalan. " Tangannya masih menyeka air matanya yang meluncur begitu saja. Bahkan isakannya mulai terdengar menggema di dalam ruang perawatannya.


"Sayang, percayalah! Aku dijebak... semua CCTV di ruangan ku pun dimatikan sebelum kejadian itu."


"Dijebak sampai dua kali? Aneh, sulit untuk di nalar. " Jingga melengos dari tatapan Alan. Baginya itu sangat mustahil.


"Percayalah, Aku mencintaimu Jingga Andini. Tidak mungkin aku di sini jika bukan karena aku mencintaimu! " pernyataan cinta yang sudah lama dia harapkan keluar dari mulut Alan pun kini malah membuatnya terbungkam. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk mencari sebuah kebenaran.


Jingga mulai merebahkan tubuhnya, dibiarkan Alan membantunya berbaring. Suasana kembali hening. Perempuan itu berada pada titik yang memang abu abu.


Apapun alasannya dia memang harus bertahan karena janin yang dia kandung. Bukankah wanita hamil tidak diperbolehkan untuk bercerai? Pernyataan itu yang saat ini membuatnya bertahan, bukan karena dia percaya atau tidak dengan penjelasan suaminya.


###


Terdengar suara Azan subuh membuat Jingga mengerjapkan matanya. Badannya baru merasakan seperti terhimpit, tapi semalam tidurnya memang sangat nyaman, tidak seperti malam malam saat dia berada di kontrakan.


"Mas Alan kenapa tidur di sini?" ucapnya saat tersadar jika Alan juga tertidur di tempat tidur klinik dengan memeluk perutnya. Tangannya mendorong tubuh besar itu untuk menjauh, membuat Alan pun terbangun.


"Sayang, kamu sudah bangun. " Alan mulai membuka matanya. Setelah beberapa hari tidur di mobil membuat ranjang rumah sakit begitu nyaman apalagi dengan memeluk istrinya.


"Siapa yang nyuruh tidur di sini? " sungut Jingga begitu kesal. Tangannya mengusap usap bagian tubuhnya yang bersentuhan dengan suaminya.


"Maaf....aku kangen, Sayang!! " jujurnya masih dengan tersenyum.


"Aku sudah tidak ingin dekat dekatmu, Mas! Jijik saat mengingat kamu bercumbu dengan perempuan itu, apalagi sampai ikat pinggang terbuka, bagaimana jika aku tidak datang. " Jingga yang semula marah kini menjadi terisak, air matanya mengalir begitu saja, membuat Alan kembali merasa bersalah.


"Sayang... Jangan diingat ingat lagi! Bukan seperti itu kejadiannya. Sumpah, aku melihatnya seperti dirimu, tapi pandanganku saat itu sedikit kabur dan berputar putar. " jelas Alan dengan hati hati saat Jingga masih menumpahkan tangisnya.


"Sabar Alan.... singa betinamu sedang cengeng, yang penting kamu tidak melakukannya. " gumamnya pada diri sendiri mencoba mengerti keadaan istrinya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2