Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
49. Peresmian Resort


__ADS_3

"Hati hati di rumah! Nanti sore, Bi Murti udah balik ke rumah! " pesan Alan setelah Jingga mencium punggung tangannya, dia kemudian menaiki motor kesayangannya itu. Jingga hanya mengamati kepergian Alan hingga tubuh gagah yang melajukan motornya itu menghilang dari pandangannya.


Jingga membalikkan badannya kemudian berjalan menuju ke dalam, tapi baru sampai di depan pintu sebuah mobil jaz berwarna merah sudah memasuki halaman dan berhenti tepat di depan garasi.


"Tyara... Daniah....! " teriak Jingga saat melihat kedua temannya keluar dari mobil. Gegas dia berlari menghampiri kedua temannya, "Aku merindukan kalian! " ucap Jingga sambil memeluk bergantian Tyara dan Daniah.


Mereka berjalan masuk ke dalam, bahkan Jingga langsung membawanya masuk ke rumah bagian bagian belakang.


"Wuiihh, rumahmu bagus banget! " celetuk Tyara masih mengedarkan pandangannya ke sana kemari, mengamati secara detail desain interior di dalamnya.


"Wah, kalo gua suka bagian belakang!" ujar Daniah saat mereka berada di teras bagian belakang.


"Makanya kalo bikin rumah, arsiteknya suami aku aja! " Jingga menimpali ucapan kedua sahabatnya.


Mereka duduk di teras belakang. Jingga membawakan orange jus yang barusan dibuatnya. Setelah meletakkan gelas jus, dia kemudian memilih duduk bersama dengan kedua sahabatnya.


"Tumben kalian main ke sini. " ucap Jingga yang masih merasa heran.


"Genting! " ujar Daniah dengan ekspresi paling serius.


"Ada apa? " tanya Jingga penuh anthusias saat melihat kedua sahabatnya tidak seperti biasanya.


"Lo, pernah ke kampus nggak selama libur semester?" Jingga hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Tyara. Mungkin, karena dia memang hanya sekali ke kampus saat rapat BEM.


"Besok kalo lo ke kampus jangan kaget ya! " Tyara masih bingung dari mana dia harus mengawali untuk mengatakan semuanya.


"Ada apa sih? " Jingga semakin dibuat penasaran dengan kedua sahabatnya.


"Ternyata di kampus sudah banyak gosip beredar jika lo tinggal bersama dengan cowok bule! Kumpul kebo gitu ..." jelas Tyara dengan memperhatikan betul ekspresi Jingga. Jingga hanya menarik nafas panjang, mungkin ini resiko karena merahasiakan statusnya yang sebenarnya.


"Ngga, lo nggak apa apa kan? " tanya Daniah kembali meyakinkan lagi.


"No problem, I'm ok! " Jingga hanya menampilkan senyum kakunya. Tapi, seperti yang dia katakan, tidak masalah karena pada dasarnya dia tidak melakukan penyimpangan etika.


"Biarkan saja! " lanjut Jingga

__ADS_1


"Tapi nama baik, lo? " Tyara masih belum mengerti isi pemikiran Jingga.


"Yang penting kalian tahu, jika aku bukan seperti itu! Jadi biarkan saja... "


"Oh sweet banget sich, Ngga! " timpal Daniah saat melihat Jingga memang sudah siap dengan apapun yang akan terjadi. Mereka menghabiskan waktu bersama menikmati suasana di rumah Jingga.


###


"Ya Allah kenapa jadi nervous banget, sich? " Ini pertama kalinya Jingga menghadiri acara bersama suaminya. Dia terlihat sangat ribet sekali, bahkan sebelumnya saat memilih guan di butik sempat membuat Alan harus menyetok banyak kesabaran.


"Kenapa sih, kamu jadi nervous gitu? " ujar Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lelaki itu hanya merasa insecure saat melihat kepanikan istrinya.


"Santai saja! " ujar Alan masih dengan berganti pakaian.


"Ini pertama kalinya aku datang di acara pesta seperti ini! udah pantes nggak? " tanya Jingga yang masih kurang Percaya diri dengan dress dan tatanan rambutnya yang simple dan sederhana.


"Sudah cantik pokoknya! " jawab Alan tanpa melihat istrinya yang sudah kesal, karena mengerti jika jawaban Alan hanya asal asalan.


Sesuai permintaan Jingga, mereka menggunakan sedan Camry pemberian dari Papa Diego. Perjalanan yang memakan cukup waktu, sepertinya membuat Alan betah melirik hingga berkali kali perempuan di sebelahnya.


"Aku benar benar nervous! " jawab Jingga membuat Alan menjulurkan tangan menautkan jari jarinya diantara jari mungil istrinya.


"Sudah aku bilang, santai saja! Ini bukan mau bertemu Izrail! "


"Hus... Mas Alan!" potong Jingga saat Alan menyebut nama malaikat pencabut nyawa.


"Kita lagi diperjalanan, jangan ngomong yang serem serem! " dengus Jingga.


Sedan camry itu memasuki area parkir resort. Alan membuka pintu mobilnya, kemudian berjalan memutar membukakan pintu untuk Jingga.


Saat keluar mobil, kebetulan mereka bertemu dengan Raka dan Maya sebagai perwakilan kantor.


Alan berjalan dengan mengapit pinggang istrinya dengan posesif, berharap bisa mengurangi rasa nervous yang sempat Jingga rasakan. Saat memasuki resort mereka sudah disambut dengan suasana acara yang cukup ramai. Bahkan, sebuah band ternama ibu kota pun juga ikut berpartisipasi meramaikan berlangsungnya acara.


Suasana sudah terlihat ramai, beberapa pasang mata tertuju pada Alan dan Jingga saat memasuki resort. Di Sana sudah hadir banyak pengusaha dan kalangan elite yang menghadirinya, termasuk lelaki yang sejak tadi memperhatikan Jingga dari jauh. Haris, kekagumannya saat melihat Jingga mampu menarik semua konsentrasinya.

__ADS_1


Selama berlangsungnya acara, Jingga hanya mengikuti kemana Alan pergi, tapi ada yang membuatnya tidak nyaman ketika suaminya hanya membahas soal pekerjaan bersama beberapa orang secara bergantian. Diantara ramainya acara, Raka menghampiri Alan dan membisikkan sesuatu yang membuat Alan mengangguk. Lelaki berkulit sawo matang itu kemudian pergi meninggalkan hiruk pikuk pesta.


Waktu berlangsung cukup lama hingga rasa bosan dan terasingkan kini mulai dirasakan Jingga. Komunitas yang berbeda membuatnya sulit untuk membaur di dalamnya.


"Mas aku ke toilet sebentar! " bisik Jingga pada Alan.


"Berani sendiri? " tanya Alan.


Jingga hanya mengangguk dan kemudian pergi menuju ke arah toilet perempuan. sejenak dia mematut diri di depan cermin, berharap acara akan cepat selesai.


Perempuan mungil itu memilih keluar sejenak menikmati udara segar. Tanpa dia sadari seseorang sudah memperhatikannya sejak tadi. Bahkan, dia tau ketidaknyamanan yang Jingga rasakan di dalam sana.


"Hae kenapa sendiri? Tidak bagus anginnya!" Suara bariton itu mengagetkan Jingga. Dan, Haris sudah berdiri tidak jauh di mana Jingga berdiri.


Baru saja mereka bertukar sapa, Tiba tiba suara riuh terdengar dari dalam, keduanya bergegas berjalan masuk mencari tau apa yang terjadi hingga semua tamu berdiri di dekat kolam.


Jingga juga mulai mencari keberadaan Alan dengan membelah keramaian itu,


"Keren deh! "


"Sweet! "


"Ayo kasih nafas buatan! "


Beberapa celetukan membuat Jingga semakin penasaran. Mendekati ke arah keramaian. Deg... dia tersentak kaget saat melihat Alan sudah menopang Maya yang terlihat lemah, mereka berdua terlihat basah kuyup.


"Bener - benar pasangan yang manis! " Kalimat seorang wanita paruh baya di sambut tepuk tangan beberapa orang membuat wajah Jingga memanas menahan ledakan yang ada di hatinya.


"Mas Alan, ..! " lirih Jingga kemudian memundurkan langkahnya dan berlari meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Alan sempat bingung saat melihat Jingga yang meninggalkannya, jelas sekali jika istrinya sudah menangis. Tapi tidak mungkin dia meninggalkan Maya begitu saja, karena Maya adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai karyawan yang bekerja di kantornya.


Tak lama kemudian datanglah petugas kesehatan dan team pengawalan menghampiri, Alan baru bisa menitipkan Maya pada mereka. Gegas, Alan berlari mencari ke mana arah perginya Jingga.


visual Jingga


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2