Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
32. Pisah Ranjang Berbagi Selimut


__ADS_3

Di kala petang, Alan menatap Jingga yang sedang menghabiskan waktunya dengan duduk termenung di belakang rumah. Tatapannya menerawang menatap rumput hijau yang membentang di bawah dua pohon cemara.


"Ngga, bisa buatkan aku teh?" ucap Alan menyadarkan kembali lamunan istrinya.


" Baik, Mas. Sebentar, ya! " Jingga bergegas berjalan menuju dapur.


Alan sendiri masih mempertimbangkan apa yang harus dia katakan pada Jingga soal program teraphy agar tidak menyinggung perasaanya.


"Mas Alan, ini kopinya! " ucap Jingga dengan meletakkan secangkir kopi yang baru saja dia bawa dari dapur. Sementara, Alan hanya menoleh, menatapnya tajam dengan penuh pertanyaan, bukankah tadi dia meminta membuatkan teh bukan kopi tapi yang datang malah kopi.


"Sayang ... kemarilah! " Alan menepuk tempat di sampingnya.


Direngkuhnya tubuh istrinya dalam pelukannya, Iya... perasaan sayang terhadap perempuan yang saat ini duduk di sebelahnya pun semakin kuat.


"Ada apa, Mas? " tanya Jingga dengan menatap mata perak kebiruan itu dengan penasaran.


"Bagaimana jika kamu menjalani teraphy? "


"Aku nggak gila, Mas! " kilah Jingga mencoba meyakinkan suaminya.


"Aku tau sayang ... aku cuma tidak ingin kamu terserang pobhia dan menderita pada situasi tertentu. " bujuk Alan lagi dengan lembut.


" Iya Mas, aku manut sajalah! " jawab Jingga dengan pasrah.


Masih membiarkan Jingga bersandar di dada bidangnya dia kembali membuka ponselnya. Dia memang sedang menunggu ke dua temannya yang akan datang ke rumah yaitu Dave dan Haris.


Tak lama suara bel terdengar membuat Alan beranjak. "Sayang, aku akan membukakan pintu. " ujarnya membuat Jingga menegakkan tubuhnya.


" Oh ya .. Minta Bi Murti yang membuatkan minum. Ingat, jangan kamu! " lanjutnya sebelum meninggalkan Jingga yang hanya mengangguk.


Langkahnya menganyun menuju pintu utama, dia yakin jika itu Haris dan Dave. Tangan kokohnya membukakan pintu dan saat itu pula, sudah berdiri dua laki-laki bertubuh kekar tersenyum padanya.


"Hae, Bro... apa kabar? " tanya Alan dengan menjabat tangan kedua sahabatnya itu.


" Ayo, masuk! " Alan mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam ruang utama.


"Rumahmu keren, Bro! " puji lelaki berkulit sawo matang itu sebelum mendudukkan bokongnya di sofa.


"Namanya juga rumah Arsitek! " sela Dave masih menatap ponselnya.


"Lama, tak terlihat di peredaran, bahkan saat Dave mengadakan acara di club, lo nggak datang. "


"Dia kan, lagi sibuk membuat Alan kecil." masih menyela , kini Dave menampilkan senyum sinis di sudut bibirnya saat melihat tatapan tajam Alan ke arahnya.


"Maksudnya? " Haris menautkan kedua alisnya saat menoleh ke arah Dave penuh tanda tanya.

__ADS_1


" Dia kan sudah menikah... bukan jomblo sejati lagi! "


"Benar, Al? " tanya Haris mengalihkan pandangannya ke arah Alan untuk mencari kebenaran.


"Iya... gua udah married! "


"Married hasil perjodohan xixixixi! " ledek Dave, masih dengan menatap ponselnya.


" Shiittt... mulut lo, kayak kaleng rombeng! " umpat Alan mendengar ledekan Dave.


Keasyikan mereka terhenti, tatkala menyadari sepasang langkah kaki mendekat ke arah mereka. Ya, Jingga membawa teh dan camilan untuk ketiga lelaki yang terlihat asyik dengan candaan mereka.


Deg... seketika Haris melayangkan pandangannya ke arah Jingga. Pahatan wajah yang begitu indah, manik matanya, hidungnya dan bibir tipisnya yang sangat proposional itu menerbitkan kecantikan yang luar biasa. Shiit...seharusnya dia menenggelamkan semua kekaguman pada istri sahabatnya.


"Oh ya, aku mau minta tolong buat nyelidiki accident yang terjadi pada Jingga saat pameran elektronik di gedung Horizon! Ntahlah, aku curiga ini tidak hanya ketidak sengajaan! " pinta Alan pada sahabatnya yang bergabung di dinas kepolisian.


" Siap, akan aku usahakan beres secepatnya. "


"Oh ya, kamu di kota ini berapa lama?"


"Wah, kalo itu aku belum bisa memastikan, tapi mungkin untuk kasus yang saat ini aku tangani kemungkinan lumayan lama. " jawab Haris dengan menyesap tehnya.


" Lo, bisa nggak nangani orang yang mengalami pobhia dan trouma?" tanya Alan pada Haris yang memang basicnya, dia orang psikolog.


" Mending lo, langsung ke psikolog aja, nanti aku rekomendasikan psikolog yang bagus untuk istrimu! "


" Maksudnya, aku mau psikolognya bisa datang ke rumah."


"Oh itu sih, gampang. Lo bisa negosiasi sama temanku itu. "


Mereka, memang menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berbincang. Selain memperbincangkan kasusnya Jingga, mereka juga bernostalgia karena memang sudah lama tidak saling bertemu.


Setelah mengantarkan kedua sahabatnya sampai keluar rumah, Alan kembali masuk, mencari keberadaan Jingga.


Pukul delapan malam, lelaki itu melirik jam yang menggantung di dinding rumahnya.


"Jingga, ... " panggilannya menghentikan langkah Jingga yang akan menaiki tangga membawa selimut dan bantal di tangan lentik itu.


"Sayang, kamu mau ke mana? Kenapa membawa selimut ke atas? " kali ini langkahnya sedikit mendekat, mencari keyakinan dengan apa yang sedang dilihatnya.


"Bukankah sudah aku bilang, Mas. Kita pisah ranjang selama satu bulan! " jawab Jingga dengan kembali menaiki anak tangga.


"Satu bulan, Ngga? Barangku dianggurin satu bulan? " Alan mengejar Jingga dengan penuh permohonan. Tapi istrinya keburu menutup pintu kamarnya.


Bahu yang biasa tegak kini meluruh lemas saat mendengar hukuman dari istrinya. Rasanya dia sudah tidak semangat lagi, jika seperti ini. Di rebahkan tubuhnya di sofa yang ada di depan TV yang terletak diantara kamar Jingga dan ruang kerjanya.

__ADS_1


"Mengenasnya sekali nasibku! " gumamnya lirih.


Tapi pikirannya malah melayang tentang nasib kehidupannya dengan kehidupan Jingga yang tak jauh berbeda. Sama-sama tumbuh dengan ketidaksempurnaan keluarga. Jika sejak kecil dia hidup bersama Eyangnya, karena sejak umur sepuluh tahun mamanya sudah meninggalkannya untuk selamanya. Sementara papanya memilih kembali ke Swiss, membuatnya tumbuh menjadi sosok yang lebih mandiri. Berbeda dengan Jingga, meski dia juga ditinggal ayahnya sejak usia tiga tahun, mungkin bisa dikatakan jika Jingga mempunyai latar belakang yang lebih rumit dengan misterius.


"Mas Alan... !" panggil Jingga saat berdiri di dekat kepala Alan yang sedang rebahan di sofa. Mendengar suara manja istrinya membuat Alan mendongak, berlahan dia bangkit dan duduk menghadap Jingga dengan tatapan memohon.


"Aku sudah pindah di kamar atas, Mas! Jadi jangan menungguku. " ucap Jingga kembali meyakinkan, agar Alan berhenti untuk membujuknya.


" Oke... Aku juga bisa pindah di atas." Tanpa menunggu jawaban dari Jingga, Alan kemudian berlari menuruni tangga untuk mengambil bantal dan selimut untuk di bawa ke kamar atas, batinnya bersorak penuh kemenangan saat ini Jingga kembali mengizinkan untuk tidur bersamanya.


"Ini namanya pisah ranjang tapi berbagi selimut! " gerutu Jingga yang kemudian kembali masuk ke kamarnya.


###


Di sebuah cafe dua lelaki sedang menikmati kopi yang baru saja mereka pesan.


"Aku dengar lo sedikit mengisruh proyek Alan? " tanya Dave yang bisa dikatakan manusia super tahu jika itu tentang sahabatnya.


"Apa Alan sudah cerita padamu? " Reyhan balik bertanya dengan menyesap kopinya yang masih berasap.


" Belum, aku tahu dari orang lain. Sebenarnya apa yang membuatmu segitu dendamnya dengan Alan? "


"Sudah lama aku tidak menyukainya. Sejak aku putus dengan Alea, dan itu karena Alan."


"Maksut, lo? Apa hubungannya dengan Alan. "


" Ya, dia memutuskan hubungan denganku karena kedekatannya dengan Alan. Saat itu aku benar-benar mencintai Alea. "


"Jangan bilang, lo macari Deandra hanya karena Alan!? tanya Dave dengan menegakkan tubuhnya , dia terlihat lebih antusias saat mendengar alasan penyebab pertikaian kedua sahabatnya itu.


" Iya, itu alasan awalnya. Tapi malah dia mengandung anakku, sekarang aku sudah menikah dengannya. "


"Wouu... Lo, mau jadi bapak? Tapi tidak mencintai istrimu? "


"Sambil jalan sajalah! " jawab Reyhan asal asalan.


" Alan tidak pernah merebut Alea darimu. Bahkan, dia sudah fokus dengan segala ambisinya. Come on.. Kita lupakan yang di belakang dan menyapa ke depan. " ucap Dave kembali meyakinkan Reyhan.


"Ya... aku sudah fokus dengan calon anaku. Bagaimanapun, dia darah daging ku. " ucap Reyhan dengan pandangan menatap ke segala arah.


Mereka menghabiskan waktu sore mereka untuk saling bertukar cerita. Ya, Dave sangat berharap jika persahabatan diantara mereka bisa kembali lagi seperti sebelumnya.


'Terkadang E**mosi mengalahkan kebenaran yang lahir dari sebuah akal sehat' (Kirana Putri761).


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2