Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
70. Masakan Suami


__ADS_3

Bagaimanapun perlakuan Jingga, kata katanya yang tajam tidak pernah mengurangi perhatiannya pada calon ibu dari anaknya itu. Entah, apa yang semakin membuat Alan menyayangi perempuan yang pernah di hindarinya sebelum pernikahan itu. Ah, jika mengingat semuanya dia seperti menjilat ludahnya sendiri.


"Kenapa melihatku seperti itu? " ketus Jingga yang merasa risih saat Alan menatapnya dengan tidak berhenti mengulumkan senyum di bibir tipisnya.


"Aku beruntung memilikimu! " ujarnya pada perempuan yang bersandar di bed yang sudah di atur untuk duduk.


"Bullshit... " decih Jingga meskipun lirih tapi masih terdengar oleh Alan membuat laki laki itu malah terkekeh.


"Ibu hamil tidak boleh mengumpat, Sayang. Nanti baby kita akan mencontohnya, lo. " ucap Alan masih dengan senyum menggoda, Membuat Jingga memutar kedua bola matanya.


"Kapan kita pulang? " rengek Jingga, yang sudah tidak kerasan dengan infus di tangannya.


"Sabar, Sayang! Cuma menunggu dokter untuk memeriksa kamu. Setelah itu kita pulang, ok?" Alan berjalan mendekat ke arah Jingga.


"Aku akan ke kantin sebentar, ya! " ujarnya dengan mencium kening istrinya, tidak ada penolakan dari Jingga meskipun wajah ayu itu masih terlihat jutek.


Hanya seperti itu saja Alan sudah senang, lelaki itu berjalan menuju kantin selain untuk mencari secangkir kopi, dia harus menelepon Raka untuk memintanya datang di rapat pemegang saham yang ada di Mahesa group dan mengurus pekerjaannya selama dia menjaga Jingga.


###


"Sayang, pulang ke rumah kita ya? " bujuk Alan sekali lagi saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aku mau ke kontrakan saja, jika Mas Alan mau pulang, aku bisa naik taxi. " jawab Jingga masih dengan melengoskan pandangannya keluar jendela. Ya, ya.... Alan hanya terdiam dan mau tidak mau mengikuti keinginan istri tercintanya tersebut. Hingga beberapa menit mobil Jeep itu memasuki garasi rumah kecil yang serba minim itu.


Dengan langkah pelan, Alan mengiringi Jingga yang berjalan menuju pintu utama. Mereka melangkah masuk dan langsung mengarah ke kamar.


"Jangan tidur di kamar, Mas. Kalau mau tidur di sini, tidurlah di sofa! " ujar Jingga saat di depan pintu kamar. Alan menelan salivanya dengan kasar. Dia yang dari tadi berjalan mengekor pun berhenti saat Jingga kembali dengan membawa selimut dan bantal untuknya.

__ADS_1


Ternyata masih belum ada lampu hijau untuk bisa tidur memeluk perempuan yang sudah sangat dia rindukan. Ah, lagi lagi dia harus keluar kamar dengan membawa bantal dan guling serta rasa sabar yang extra.


"Whatever, Ngga! Setidaknya aku bersamamu. " gumamnya lirih untuk menenangkan hatinya dan bersiap tidur di sofa yang ada di depan kamar Jingga. Rumah kontrakan itu hanya dua kamar dan satu kamarnya di pakai untuk gudang barang barang Bu Amira.


Pukul tiga dini hari, Jingga tak bisa memejamkan mata lagi, tubuhnya begitu gelisah mencari posisi yang nyaman di atas ranjang yang hanya dikuasai olehnya. Sudah berusaha mengatupkan kelopak matanya, tapi tetap saja tak bisa lagi terlelap. Kini, manik mata hitam itu hanya menerawang menatap jarum jam yang terasa lamban berputar.


Dia beranjak dari tempat tidur, membuka pintu kamarnya dengan berlahan untuk melihat suaminya. Sementara, Alan sudah terlihat pulas meringkuk di sofa. Kakinya terlihat ditekuk karena ukuran sofa yang terlalu kecil dari pada ukuran tubuhnya yang panjang.


Jingga kembali duduk di tepi ranjang, sebelum dia merebahkan kembali dirinya,tiba tiba perutnya terasa mual, rasa perut yang seperti diaduk aduk tidak tahan untuk memuntahkan isi di dalamnya. Jingga membuka pintu kamarnya dengan kasar, kemudian secepatnya pergi mencari wastafel yang cuma ada di dekat dapur.


"Huek.... huek... huek... "


Alan terjingkat, saat mendengar suara pintu yang di buka dengan keras. Dia masih menatap heran sebelum dia mengejar Jingga yang sudah membungkuk dan muntah muntah di depan wastafel. Hanya cairan kuning kental yang keluar dari muntahan Jingga.


Alan masih memijit pelan tengkuk Jingga, agar istrinya merasa lebih baik. Jingga menarik nafas dalam sebelum mengangkat wajahnya yang sudah lembab karena keringat yang terus mengucur saat dia merasa mual.


"Sebaiknya kamu istirahat di kamar, sayang? " Jingga tak bergeming, dia masih meletakkan kepalanya di atas meja makan. Tubuhnya sedikit gemetar dan semua seperti berputar.


Dibiarkannya Alan menggendong tubuhnya menuju ke kamar. Entah kenapa saat berdekatan dengan suaminya apalagi ketika bisa mengendus aroma tubuh suaminya membuat Jingga sedikit nyaman. Tapi, semua bertentangan dengan keinginannya yang ingin menghindar dari lelaki yang sudah mengecewakannya.


Alan mendudukkan Jingga di atas tempat tidur, kemudian Menumpuk beberapa bantal agar Jingga bisa menyandar dengan nyaman.


"Kamu tidur lagi ya! Aku akan solat kemudian mandi, dulu! Bolehkan, hari ini aku bekerja? " Jingga hanya mengangguk pelan. Hari ini Alan memang ada pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan, bertemu klien, membicarakan semua kesepakatan untuk proyek pusat perbelanjaan yang akan segera di realisasikan jika sesuai kesepakatan.


Hanya mengenakan celana pendek dan kaos, Alan mengacak rambutnya yang masih basah saat keluar dari kamar mandi. Terlihat Jingga dengan kedua tangan bertumpu pada wastafel, tubuhnya terlihat lemah dengan keringat yang masih membasahi keningnya.


"Muntah lagi? " tanya Alan saat berjalan mendekat ke arah Jingga, rasanya tidak tega melihat Jingga yang terlihat sudah kewalahan dengan rasa mualnya itu.

__ADS_1


"Iya... " lirih Jingga.


"Kamu ingin makan apa? Nanti vitamin dan anti mualnya cepat di minum. " Alan membawa Jingga duduk, dia bisa merasakan tubuh lemah Jingga yang sudah gemetaran.


"Masakanmu, Mas! "


"Aku tidak bisa memasak. Bagaimana jika aku beli di luar? " tawar Alan yang memang tidak pernah memasak.


"Nggak mau! " lirih Jingga.


"Baiklah...! " ucap Alan meskipun hatinya ragu untuk beraksi di tempat yang menjadi medan perang para emak emak.


Jingga masih menunggui aksi Alan di dapur, dia hanya melirik suaminya yang membuat garam dan telur tercecer di atas pantry. Benar benar pekerjaan yang buruk. Lelaki itu membuat berantakan dapur hanya untuk membuat telur ceplok setengah gosong.


"Sayang, masih mau memakan ini? " tanya Alan dengan ragu saat menyodorkan nasi bersama telur gosong yang sebagian sudah berwarna coklat.


"Iya...! " Jingga melahap isi piring di depannya. Alan hanya menatap heran, apa lidah wanita hamil segitu anehnya? Jika saja orang normal tentu saja tidak akan doyan untuk memakannya.


"Kamu tidak mual? " tanyanya kembali meyakinkan keadaan Jingga. Jingga hanya menggeleng, masih mengunyah suapan terakhir sarapan pagi butanya.


"Sayang, apa kamu ikut ke kota? Di sini kamu tidak ada yang menemani." tanya Alan saat bersiap siap akan berangkat ke kantor. Setelah membawa Jingga kembali ke kamar.


"Aku di sini saja! " tolak Jingga yang merasa sudah lebih baik setelah sarapan dan meminum vitamin dan obat anti mualnya yang tidak terlalu berpengaruh.


"Aku usahakan pulang cepat." Alan mencium kening Jingga.


"Jangan membuat Mama sakit, ya!" ucapnya saat mengalihkan ciumannya di perut Jingga sebelum berangkat ke kantor.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2