
"Hari ini ada psikolog datang, dia akan memulai terapimu. Apa kamu siap? " ujar Alan setelah menyelesaikan sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor.
"Aku sudah siap, Mas." jawab Jingga dengan mengambil piring Alan yang sudah kosong untuk di bawa ke pantry. Terlihat Bi Murti masih membersihkan buah dan sayur yang baru saja dia beli di pasar.
"Bi, di kulkas masih ada camilan? "
"Brownies, Mbak! " Jawab Bi Murti.
"Ya sudah, soalnya nanti ada tamu. Aku mau mengantar Mas Alan berangkat kerja dulu! "
"Iya, Mbak! " Wanita itu tersenyum saat melihat perubahan Jingga yang sedikit dewasa.
Dia berjalan menghampiri Alan yang sudah rapi, kemeja slim fit dipadu dengan kain bahan membuatnya terlihat lebih metropolis.
"Hati- hati!" ucapnya setelah mengambil punggung tangan Alan untuk salim.
####
Jingga sudah menyelesaikan terapi pertamanya, dan setelah kepulangan ny. Amanda yang mana adalah seorang psikolog yang menangani Jingga. Perempuan mungil itu, segera memesan taxi online, ya... dia memang akan meminta kejelasan kepada Nelly atas semua kejadian buruk yang sudah menimpanya. Alan memang sudah menceritakan semua laporan yang dia dapat dari Haris.
Jingga hanya ingin menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa Alan. Ya, ini urusan persahabatan, menurutnya itu sebuah hubungan yang sangat private. Di dalam taxi Jingga menghela nafas beberapa kali. Dia tak bisa memperkirakan semua jawaban Nelly.
Sore menjelang petang, sampai juga Jingga di sebuah taman yang tidak jauh dari kampusnya. Taman itu terlihat sepi, bahkan angin yang bertiup lembut menerbangkan beberapa helai anak rambutnya yang jatuh ke wajahnya.
Di sana, di sebuah bangku panjang di bawah pohon mahoni, sudah nampak duduk seorang gadis berkulit putih dan berambut curly, tentu saja itu Nelly. Dengan sedikit tergesa Jingga menghampiri temannya itu.
"Sudah lama, Nel? " sapanya sedikit berbasa basi, kemudian meletakkan bokongnya di bangku panjang sebelah Nelly.
"Baru sampai! Ada apa mengajakku ketemu?" tanya Nelly terdengar ketus.
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu meninggalkanku saat di tebing? Kamu tau aku hampir mati Nel, jika saja mas Alan tidak datang tepat waktu! " lirih Jingga penuh penekanan.
Gadis itu terdiam, dengan wajah kaku yang tak bisa disembunyikan lagi.
"Itu yang aku inginkan, selama ini aku membencimu, Jingga! " teriaknya begitu keras membuat Jingga terhenyak kaget, pandangannya kini penuh tanya menatap gadis yang sedang berteriak di depannya.
"Maksudmu apa, Nel? Kita berteman bahkan aku merasa dirimu yang paling dekat denganku, lalu apa salahku hingga kamu membenciku? " ucap Jingga begitu lirih, tentu ada rasa kecewa dan menyesal di hatinya.
"Iya, kenapa kamu membenciku? " ulang Jingga membuat gadis berwajah mungil itu berdiri seketika.
"Iya, aku yang membuang tasmu saat ospek, aku juga yang menguncimu di toilet dan aku memang sengaja membiarkanmu tersesat. " geramnya dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Salahku apa? "
__ADS_1
"Kak Arga! Aku mencintai kak Arga. Meskipun kamu sudah bersuami, tapi masih saja kamu memberi kesempatan, tebar pesona dengannya. "
" Maksudmu, Nel?"
"Kenapa kamu ikut BEM, di mana ketuanya Kak Arga, aku membencimu, Ngga! " ucapnya sebelum meninggalkan Jingga yang terduduk lemas. Buliran bening menetes begitu saja dari manik mata hitam, berlahan dan semakin lama mulai terdengar isak tangisnya. Ntah, berapa lama dia sesenggukan dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, hingga terdengar suara bariton itu mengagetkannya.
"Apa setelah menangis semua selesai? " Jingga menoleh asal suara tersebut. Ternyata, teman suaminya sudah berdiri di dekatnya, buru-buru Jingga menghapus air matanya.
"Ayo aku antar pulang, sebelum Alan tau jika kamu menemui temanmu yang satu itu! " ujar Haris seraya berbalik untuk menuju mobilnya yang berada di seberang jalan. Jingga hanya membuntut di belakang, mungkin laki laki itu benar.
Tak ingin terlarut masuk dalam keheningan, lelaki berahang tegas itu memutar sebuah lagu milik seventeen.
Separuh langkahku saat ini
Berjalan tanpa terhenti
Hidupku bagaikan keringnya dunia
Tandus tak ada cinta
Hatiku mencari cinta ini
Sampai kutemukan yang sejati
Seorang yang ku cinta.
Kini ku menemukanmu
Di ujung waktu ku patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang selamatkan hidupku.
Ekor mata haris tertarik untuk melirik Jingga, ntah kenapa hatinya begitu tertarik pada sosok wanita muda di sampingnya. Selain wajah ayu yang dimiliki Jingga, karakternya pun begitu kuat untuk bisa di kagumi orang lain.
Fortuner hitam itu berhenti di depan rumah unik berhalaman luas itu.
"Makasih, Bang. " ujar Jingga sebelum turun dari mobil. Haris masih menatap kepergian Jingga hingga menghilang dari pandangannya, baru dia melajukan kembali mobilnya.
###
Setelah masuk rumah, Alan membawa langkahnya mencari Jingga di lantai atas. Malam ini dia memang pulang sedikit terlambat, pukul sepuluh malam dia baru sampai di rumah.
__ADS_1
Suasana yang sudah sepi, membuat Alan membuka pintu kamar Jingga dengan pelan. Dilihatnya Jingga yang sudah sudah tertidur, tapi saat akan berbalik terdengar ponsel nya bergetar di sakunya.
"Iya, Hars?" jawab Alan dengan melangkah menuju sofa di dekat jendela.
"Apa istrimu baik-baik saja? " tanya Haris dari sebrang.
"Kenapa? "
"Aku tadi yang mengantarnya pulang, dia menangis sendiri di taman. " jelas Haris membuat Alan mengerti.
"Maksih, Hars. Dia sudah tertidur. "
"Baiklah... " Panggilan dari sebrang pun tertutup. Membuat Alan kembali berjalan mendekat Jingga, lelaki itu berjongkok menatap mata lembab istrinya. Saat dia berdiri dan akan menaikkan selimut, Jingga pun terbangun, " Mas Alan sudah pulang? Apa mau makan malam sekarang? " Pertanyaan Jingga membuat Alan kembali duduk di pinggir tempat tidur.
"Ada apa? Katanya tadi pergi ke taman? Kenapa pulang-pulang malah nangis? " . Pertanyaan Alan membuat jingga beringsut untuk duduk, mengunci bibirnya agar tangisnya tidak lagi meledak. Tapi, tetap saja air matanya tak bisa ditahan untuk meluncur.
"Ternyata orang yang aku anggap sahabat, sudah jahat ke aku! Hik hik hik! " tangisnya kini sudah pecah saat tubuhnya tenggelam dalam pelukan suaminya.
" Itu hal, biasa nggak usah di dramatisir tapi diambil pelajarannya saja. " Diciumnya puncak kepala istrinya untuk memberi ketenangan.
"Istirahatlah! Aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang belum selesai. " ujar Alan saat akan meninggalkan Jingga tapi tangannya di tahan oleh istrinya.
"Kenapa kerja terus...! Tadi makan malam di mana? "
"Sayaaang... Kerja kan buat masa depan kita. Tadi makan malam di resto Japan, bareng Raka dan Maya. " Seketika senyum Jingga menyurut membuat Alan terkekeh, " Kenapa? " tanya Alan dengan menyentil hidung mungil istrinya.
"Maya itu asistenmu atau asistennya Mas Raka sich? Kesannya nempel melulu sama Mas Alan!" cebik Jingga dengan kesal.
"Kan sudah pernah aku katakan, jika dia asisten Raka. Tapi, dia juga menghandle banyak laporan kantor, Aku akui jika dia cara kerjanya bisa diandalkan. Makanya aku terbantu sekali dengan adanya Maya. ayolah sayang, kita harus profesional" bujuk Alan saat melihat Jingga yang sudah cemberut.
"Puji terussss! " sungut Jingga dengan memalingkan wajahnya.
"Cemburu? " goda Alan, tangan besarnya kini membingkai wajah mungil Jingga, tatapan mata mereka kini saling beradu, membuat detak jantung Jingga berdebar lebih hebat, wajah mereka semakin tak berjarak bahkan hembusan nafas mereka pun saling menyapu memberikan desiran hebat pada tubuh Jingga semakin menegang. Perlahan di lumatnya bibir tipis jingga membuat perempuan yang saat ini diserang rasa tegang itu hanya terdiam, tak banyak yang bisa dilakukan hingga ciuman Alan berlahan merambah ke seluruh tubuh istrinya membuat Jingga semakin kwalahan untuk meresponnya.
Malam panas itu pun terjadi diantara status pisah ranjang, tapi menyatukan tubuh mereka hingga berjam-jam dalam desahan nikmat keduanya.
"Katanya mau ngelanjutin kerja? " ucap Jingga masih menelusupkan wajahnya di dada Alan setelah menyelesaikan kegiatan mereka.
"Kamu terlalu menggoda untuk bersaing dengan pekerjaan, Sayang! Setengah jam lagi aku akan ke ruang kerja. Kamu istirahat saja. " Alan mengecup kening Jingga, masih di nikmatinya kebersamaan mereka dalam cinta yang hangat, lima belas menit kemudian Alan beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum masuk ke ruang kerja.
Alan saat ini lebih fokus menangani proyek resort, dia tak ingin ada kekurangan atau ketidakpuasan barang sedikit pun. Langkahnya kini memasuki ruang kerja, meletakkan kertas lebar itu di atas meja gambarnya. Meneliti kembali setiap detail gambarnya sebelum menambahkan beberapa kekurangannya.
__ADS_1