
Alan membukakan seat belt yang membelit di tubuh Jingga.
"Mas Alan, kita nggak menginap, kan? " tanya Jingga sebelum mereka turun dari mobil. Sebenarnya dari awal dia malas pergi, tapi jika menolak itu artinya Alan juga akan menolak tawaran kedua temannya.
"Mungkin kita akan menginap, Ngga!"
"Tapi aku nggak mau kamu aneh aneh, lo! " ujar Jingga sekali lagi untuk meyakinkan Alan. Lelaki itu malah menatapnya dengan tersenyum.
"Ngga, pakai dulu itu jaketnya! Jangan sampai masuk angin...!" Alan menyambar jaket yang tergeletak di jok belakang untuk diberikan kepada Jingga.
Keduanya berjalan menelusuri tanah berpasir, angin pantai memang lumayan dingin. Bahkan meski menggunakan jaket tebalnya, Jingga masih merasakan sapuannya dingin di wajahnya.
"Tunggu, Ngga! " Alan berlari menuju mobil bagian belakang, di bawanya sebuah penutup kepala rajut dan memakaikannya di kepala Jingga.
"Nanti, kalau kamu merasa sudah tidak nyaman bilang saja, okey! "
"Siap, komandan! " Jingga mengangkat tangannya memberi hormat, mereka kemudian kembali berjalan menuju segerombolan orang yang sudah terlihat ramai di bibir pantai.
Jingga hampir tidak percaya saat di sana sudah ada Pak Aslan dosen dari fakultas teknik di kampusnya. Terlebih lagi saat melihat Tyara yang kini tengah duduk di sebelahnya dengan begitu dekat, membuat Jingga beberapa kali mengucek matanya.
"Mas,... Mas itu kan teman aku si Tyara! " ucapnya dengan menepuk lengan Alan tapi tatapannya masih fokus pada gadis yang duduk bersebelahan dengan sang dosen.
"Mungkin mereka pacaran! " sahut Alan yang masa bodoh saja.
"Heh... Ngapain lo di sini! " Jingga menepuk bahu Tyara hingga membuat gadis itu berjingkat karena tak menyangka akan bertemu sahabatnya di acara ini.
"Huss... sini duduk! " Jingga memilih berdekatan dengan Tyara.
"Ada hubungan apa lo, sama Pak Aslan?" bisik Jingga, kali ini Jingga memang dibuat penasaran dengan Tyara. Selama ini tak ada yang melihat kedekatan gadis itu dengan sang dosen.
"Heheheh....! " Tyara hanya terkekeh menjawab pertanyaan Jingga.
"Dasar... ih, mainnya kamu gerilyaan ya!" Jingga mencubit gemas gadis di sebelahnya hingga Tyara mengaduh dan semua tatapan mata mengarah kepada keduanya.
"Hae kalian pada ngapain? " tanya Aslan saat melihat dua perempuan yang saat ini sedang heboh dengan dunia mereka sendiri.
"Nggak ada, Pak! " jawab Jingga, masih dengan kebiasaan memanggil pak dosen membuat semua menertawai Aslan.
"As, lo yang paling tua di sini! Udah jadi bapak bapak! " sahut Rio dengan terkekeh. Ya, di sana ada lima laki laki, Rio, Haris, Aslan, Alan, dan Dave. Sementara hanya ada dua perempuan yaitu Jingga dan Tyara.
__ADS_1
Alan masih sibuk membakar jagung bersama Haris, sementara Rio dan Dave pergi untuk mencari minuman di sebuah cafe yang terletak beberapa meter dari tempat mereka berkelompok.
Mata tajam lelaki berkulit sawo Matang itu sesekali melirik Jingga yang asyik mengobrol dengan Tyara. Begitu sulitnya Haris mengendalikan keinginannya untuk melihat perempuan yang sudah dia kagumi itu. Sementara, mereka masih sibuk dengan diri mereka sendiri, lantunan suara petikan gitar Pak Dosen pun membuat suasana semakin syahdu.
Dari jauh nampak Rio dan Dave kembali dengan diikuti tida perempuan di belakangnya.
"Siapa? " Haris bertanya dengan menunjukkan dagunya ke arah ke tiga perempuan itu.
Sedangkan Dave hanya mengangkat bahunya. Dia benar -benar tidak mengetahui asal muasal ketiga perempuan itu.
"Boleh gabung, Mas? " tanya salah satu diantara ketiga perempuan itu dengan senyum genitnya, pertanyaan yang tak butuh jawaban, karena mereka langsung menghambur di antara lelaki yang sedang membuat barbeque.
"Eheeemmm.... " Jingga berdehem saat melihat seorang perempuan berambut sebahu, dengan dress sepan pendek itu mendekati Alan. Posisi badannya yang menempel di tubuh kekar suaminya membuat Jingga makin gerah.
"Maaf nona, bisakah anda sedikit menyingkir? " ujar Alan dengan menyingkirkan tangan wanita itu dari pundaknya dan pergi menuju di mana Jingga sedang duduk.
"Mau? " tawar Alan dengan menyodorkan sebuah jagung bakar yang langsung diterima oleh Jingga.
"Drt ... drt.... drt...drt...! " Alan meraih ponselnya yang sejak tadi berdering, ternyata Pak Santoso, sopir pribadi Eyang Putri yang memanggil.
"Mas Alan, Eyang Rumana gerah (sakit) ! Bisakah, Mas Alan pulang sebentar? " Suara dari sebrang seketika membuat Alan langsung bingung.
"Ngga, ayo kita ke rumah Eyang! " ucap Alan yang sudah terlihat bingung dan langsung berdiri setelah menutup telponnya.
"Ada apa, Mas? " tanya Jingga yang jadi ikutan bingung melihat reaksi Alan.
"Aku balik dulu, Eyang Putri sakit! " Semua menatap Alan yang terlihat serius. Alan langsung menarik lengan Jingga untuk segera pergi dari tempat itu.
Di dalam mobil Alan hanya terdiam, wajahnya terlihat cemas. Bagaimanapun, Eyang Rumana adalah bagian terpenting dari hidupnya.
"Mas, jangan ngebut! " ucap Jingga dengan mengulurkan tangannya di paha suaminya. Berharap Alan mengurangi laju kecepatan mobilnya.
"Aku takut sesuatu yang buruk terjadi! " ucap Alan mengalihkan tangan kirinya dari setir ke atas punggung tangan Jingga yang saat itu berada di atas pahanya.
"Semoga saja tidak terjadi hal buruk sama Eyang, Mas! " Sebenarnya Jingga juga merasakan kecemasan yang sama, tapi dia berusaha untuk menenangkan Alan yang sudah tidak bisa menyimpan kekhawatirannya itu.
Malam pun semakin larut, Alan melirik jam yang ada di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam padahal perkiraan masih dua jam lagi mereka sampai di rumah Eyang Putri.
"Ngga, kalo kamu ngantuk tidur saja! " Alan melirik Jingga yang sudah beberapa kali menguap.
__ADS_1
"Iya, tapi aku akan menemani Mas Alan saja! " Jingga memang sudah mengantuk tapi dia tidak tega membiarkan Alan menyetir sendirian.
Jalan yang terang dan padat kini berganti dengan jalan yang cukup sepi, bahkan kelok yang menanjak kini pun mulai terasa. Alan hanya fokus melewati jalan yang di samping kanan kiri terdapat pohon pohon yang tumbuh menjadi hutan belantara.
Alan menghentikan mobilnya yang terasa oleng, lelaki itu turun terlebih dahulu untuk melihat kondisi ban. Dan yang benar saja salah satu bannya pun kempes.
"Sial... " umpatnya dengan menendang ban tersebut.
Melihat Alan mengeluarkan dongkrak dan ban serep membuat Jingga juga turun dari mobil.
"Mas, kenapa? " tanya Jingga mendekati Alan yang sedang membuka ban mobilnya.
"Kamu di dalam saja, Ngga! Udaranya dingin....!"
Belum sampai menjawab Alan, sorot lampu sebuah mobil membuat matanya silau. Empat orang anak muda seumuran Jingga kini turun dari sebuah mobil.
"Perlu bantuan, Bang! " ucap salah satu di antara mereka.
Bau alkohol yang sangat menyengat membuat Alan mengerti, jika keempat lelaki itu sedang tidak waras.
"Biarkan aku mengerjakannya sendiri! " ujar Alan tanpa terlalu merespon keempat lelaki itu.
"Tak apa, Bang. Paling kita minta yang ini saja! " Melihat salah satu diantara mereka akan menyentuh Jingga membuat Alan melayang nya tendangannya ke arah lelaki yang rambutnya di cat pirang itu, reaksi spontan Alan membuat ketiga lainya juga menyerang Alan secara bersamaan.
Sebuah pukulan yang di layangkan si rambut ikal yang sedikit sempoyongan itu akhirnya bisa dihindari Alan sekaligus membalaskan dengan tendangan yang lebih mematikan hingga membuatnya tergeletak.
Melihat ketiga temannya yang kewalahan menghadapi Alan, si rambut ikal itu mengambil sebuah parang dari mobilnya. Melihat parang panjang membuat Jingga tersentak kaget, tubuhnya gemetaran menahan gejolak yang kuat, kecemasan, ketakutan kini menyerangnya kembali. Otaknya tak mampu berfikir lagi, bahkan gejolak yang kuat itu begitu sulit dikendalikan saat lelaki yang membawa parang itu mendekat kearah alan. Dengan tangan yang masih gemetaran itu, dia berusaha mengambil obeng yang tergeletak di bawah, didekat ban mobil yang tadinya mau diperbaiki Alan.
"Aaaarrrrghhhh...... "
"Buuughhh....." Teriakan Jingga bersama pukulan yang melayang sekenanya di kepala lelaki itu membuat si rambut ikal seketika terjatuh.
Semuanya terhenti melihat reaksi Jingga, dengan cekatan Alan mengamankan parang tersebut dan menyuruh mereka pergi. Mereka menyeret ke dua temannya yang tak sadarkan diri ke dalam mobil.
Jingga masih menangis histeris, tangannya memegang besi itu dengan sangat kaku, bahkan tubuhnya yang gemetar itu pun tak bisa dikendalikannya lagi.
"Sayang ... sadarlah! Semua akan baik-baik saja! " ucap Alan dengan menenggelamkan tubuh Jingga dalam pelukannya. Tangannya menepuk lembut hampir mengelus punggung Jingga agar tubuh itu berhenti bergetar.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih yang selalu memberi dukungan. Ayok beri dukungan merindukan Jingga dengan memberi like, komen dan vote nya agar othor semangat untuk crazy up hehehehe