Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
35. Pil Kontrasepsi


__ADS_3

Setelah makan malam, Alan kembali ke kamar. Sebenarnya, dari tadi dia ingin mencari passportnya yang keselip entah ke mana. Hampir seluruh kamarnya yang berada di bawah sudah di teliti semua, tapi tidak juga menemukan surat penting yang di carinya.


" Ngga...! " panggil Alan, saat melihat bayangan Jingga berkelebatan di dapur , langkahnya terhenti sebelum menaiki anak tangga.


"Iya, Mas ...!" jawab Jingga dengan mengelap tangannya yang basah dengan tisu. Kemudian perempuan yang menggunakan celana jumpsuit itu berjalan mendekat ke arah Alan.


"Kamu pernah lihat passport aku, nggak? "


"Coba cari di kamarku, di dalam laci nakas. Aku sering menyimpan sesuatu yang penting di sana, Mas. " jelas Jingga.


"Makasih, kamu selesaikan pekerjaanmu saja! Aku akan mencarinya sendiri di atas! " Alan kembali menaiki anak tangga dengan berlari kecil. Sementara Jingga berbalik melanjutkan beberes dapur. Iya, dia sudah meminta Bi Murti untuk istirahat setelah makan malam selesai.


Alan memasuki kamar bernuansa putih dan pink itu, matanya tertuju pada laci salah satu nakas. Langkahnya mendekati laci yang sudah menjadi fokusnya.


Perlahan dibukanya laci nakas di sebelah kiri tempat tidur, memang di situ ada beberapa buku agenda, jadwal kuliah dan kwitansi pembayaran semesteran. Tangannya masih meneliti dan mencari apa yang di cari, tapi ada yang menarik fokus dari tatapannya yaitu sebuah tablet pil.


"Apa ini? " gumamnya meneliti dengan seksama. Wajahnya berganti pias, hawa panas menjalar di otak dan wajahnya saat melihat jika Jingga menyimpan pil KB dan hanya tersisa beberapa butir saja. Itu artinya jika selama ini istrinya memang sudah mengkonsumsi pil itu.


Melupakan apa yang di carinya, dia langsung berdiri karena emosi yang menguasai.


"Ngga... Jingga! " teriaknya saat dia menuruni tangga. Dengan tergesa-gesa dan ledakan emosi yang tertahan, Alan mencari Jingga yang juga berjalan mendekat karena mendengar teriakannya.


"Apa, Mas? " Baru beberapa langkah dia yang ingin menemui suaminya pun berhenti.


"Apa ini? " tanya Alan dengan suara meninggi. Lelaki itu juga melempar pil kontrasepsi yang barusan dia dapatkan itu ke meja makan yang ada di samping Jingga.


"I-ini...!" Jingga tergagap, tenggorokannya terasa kering, bahkan hanya untuk menelan ludahnya saja rasanya terasa sulit.


" Apa? " bentak Alan membuat Jingga terkaget. Matanya terpejam, mengunci sejenak manik mata hitam itu untuk menahan keterkejutaannya.

__ADS_1


"Katakan, maksudmu apa? " lanjut Alan, membuat Jingga terbungkam, bahkan wajah yang sudah memerah padam itu tidak berani di tatapnya. Mulut Jingga seperti terbungkam saat teriakan dan wajah suaminya dipenuhi emosi.


"Katakan saja jika kamu tak ingin menjadi istriku, ibu dari anak-anaku!" Suaranya memelan tapi penuh penekanan, membuat air mata Jingga meleleh begitu saja. Kalimat pelan Alan itu seperti belati yang menancap di relung hatinya.


Sejenak Alan berdiri menunggu jawaban yang terucap dari Jingga, tapi menatap Jingga yang hanya menangis membuatnya memilih untuk pergi.


Kepergiaan dengan kemarahan yang masih ditujukan kepadanya, membuat Jingga terduduk lemas di ruang makan. Kalimat terakhir yang di lontarkan Alan begitu tajam, hingga dia tak tau harus berkata apa. Padahal dia hanya ingin menunda punya momongan sampai lulus kuliah, bukannya tidak menginginkan seorang keturunan dari suaminya.


Tangisnya menjadi, setelah menghilangnya Alan dari pandangannya. Dia menyesal kenapa harus mengatur kehamilan itu, seharusnya setelah memutuskan menikah, dia harus berani dengan segala konsekuensi, termasuk untuk menjadi seorang ibu. Tangisnya tergugu dengan menelungkupkan wajahnya di meja makan, yang terngiang di pikirannya hanya kata seandainya saja, dia memang salah melakukan itu tanpa membicarakan semuanya dengan Alan.


" Mbak Jingga, kenapa menangis? " tanya Bi Murti yang akan mengambil air putih di dapur.


"Mas Alan marah, Bi. Selama ini aku menyimpan pil KB. " jelasnya dengan menyeka air mata yang terus menetes.


"Ehmm... sabar ya! Semoga marahnya Mas Alan tidak lama. " ucap Bi Murti dengan mengelus pundak kecil itu.


"Sabar... jika Mas Alan sedang marah, Mbak Jingga yang sabar. Menyatukan dua isi kepala dalam satu tujuan itu memang susah, Mbak! Makanya dalam menjalin hubungan kita harus bisa saling menekan Ego dan komunikasi yang baik. Saat ini Mbak Jingga istirahat saja, jika di paksa selesai malam ini malah bisa sama sama emosi. Besok pagi coba di bicarakan lagi. Saya ke belakang dulu mbak! " Setelah meninggalkan Jingga, Bi Murti mengambil air putih untuk dibawanya ke rumah bagian belakang.


Jingga menyeka sisa air yang membuat lembab wajahnya. Dengan gontai dia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Jingga, kenapa kamu melakukannya! " gumamnya dalam hati, penyesalan itu kini memenuhi hatinya.


Di rebahkan tubuhnya yang saat ini terasa lelah. Di lihatnya tempat di sebelahnya kosong. Dia merasa kali ini barulah terasa apa itu pisah ranjang, dia yakin jika Mas Alan akan tidur di kamar bawah.


###


matanya masih mengantuk, tubuhnya menggeliat di bawah selimut tebal. Jika saja tidak mendengar suara azhan subuh, pastinya dia sangat malas untuk bangun. Pukul satu dini hari dia baru bisa terlelap, bahkan matanya kini terasa berat dibuka karena bengkak.


Jingga menurunkan kakinya dari tempat tidur, dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudu.

__ADS_1


"Ya Allah, wajahku... bagaimana aku bisa keluar dengan mata seperti ini! " lirihnya bermonolog di depan kaca saat selesai berwudhu.


Jingga masih terdiam setelah salam dan berdoa, dia sedang merasa bingung. Apa yang harus dia lakukan saat bertemu suaminya? Meminta maafkah? Bagaimana jika Mas Alan masih marah dan situasi tambah memanas? Dia tertegun karena banyaknya pertanyaan yang hinggap di otaknya.


Saat mentari menerobos ke dalam kamar dari balik celah tirai, membuatnya tersadar jika petang sudah merambah ke pagi yang cerah. Bagaimanapun dia harus menyiapkan sarapan sebelum Mas Alan berangkat kerja.


Setelah meletakkan mukenanya, Jingga langsung menuju dapur, di liriknya jam yang menggantung di dinding menujukkan pukul enam.


"Bi, bikin apa? "


" Baru nyiapain teh sama camilan pagi, Mbak. Ini nunggu Mbak Jingga mau masak apa? "


" Sebentar aku tanya Mas Alan, dia mau makan apa? "


Baru saja keluar saja keluar dari pantry untuk menemui alan di kamar bawah membuatnya menghentikan langkah karena ternyata suaminya sudah berpenampilan rapi dengan tas kantor dan berjalan terburu buru sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Bi, Mas Alan sudah pergi... Masak apa saja, aku juga males makan! "


"Jangan begitu, Mbak! Coba nanti Mbak Jingga pergi ke kantornya Mas Alan untuk membawakan makan siang. Pasangan bertengkar, ribut itu hal biasa. Tapi harus tetap ada yang berfikir dingin. " Bi Murti mengerti menyatukan dua karakter yang berbeda karena perjodohan memang tidak mudah.


"Kalo begitu kita masak ayam bakar saurce inggris saja! " ucap Jingga penuh semangat.


"Waduh, namanya susah juga! " keluh Bi Murti.


"Santai, Bi. Aku sudah pernah membuatnya kok, dan Mas Alan suka! " ujar Jingga yang benar benar yakin dengan keputusannya untuk meminta maaf pada Alan.


bersambung.


Terima kasih author ucapkan untuk yang sudah memberikan vote like untuk Merindukan Jingga. Bagi author itu sudah merupakan appresiasi tersendiri... semoga author selalu semangat untuk up ya gengs

__ADS_1


__ADS_2