
Dengan berat hati, Alan meninggalkan Jingga dalam keadaan sakit. Batinnya terasa nyeri saat mengingat keinginan Jingga untuk bercerai, bahkan untuk melihatnya saja, Jingga sangat enggan dan itu jauh lebih menyakitkan dari apapun. Bisa terlihat raut wajah kecewa yang begitu nampak jelas di wajah ganteng itu.
Lelaki bertampang Indo dengan tubuh tinggi kekar itu berjalan menuju tempat di mana mobilnya ditinggalkan. Tampilannya yang terlihat rapi dan metropolis mengundang beberapa pasang mata kaum hawa untuk menatapnya dengan penuh kekaguman. Alan Mahesa Putra, lelaki tampan dengan pesona yang tidak pernah pudar meski saat ini wajahnya ditumbuh bulu halus yang terlihat mulai menebal dan kumis tipisnya pun mulai tercetak lebih jelas.
Matanya menyipit saat dia tidak lagi melihat mobilnya terparkir seperti semula.
"What's happen? " pikirnya penuh kebingungan saat dia yakin jika mobilnya sudah menghilang.
"Diderek petugas, Mas! " ucap salah satu pedagang kaki lima yang mangkal tidak jauh dari tempat itu, ketika melihat Alan kebingungan mencari mobilnya.
"Shiiiit.... " umpat Alan, Mau tidak mau dia harus mengurus mobilnya terlebih dahulu, baru membereskan semua pekerjaan yang sempat tertunda.
"Aku ingin Bercerai! "
Alan menggelengkan kepalanya saat terngiang kalimat itu keluar dari bibir Jingga.
"Tidak... Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja! " gumamnya dalam hati, pikirannya begitu kalut hingga dia tidak mendengar ponselnya yang berdering sejak tadi.
"Assalamualaikum, Bu! " ucapnya menjawab telpon dari Sasmitha.
"Waalaikum salam, apa kabar Nak Alan? Ibu hanya ingin menanyakan kabar Jingga, kenapa ponselnya tidak aktif? " Pertanyaan Sasmitha membuat Alan tidak punya pilihan lain kecuali berbohong.
"Jingga sakit, Bu! Jadi ponselnya jarang di aktifkan. " Lelaki itu merasa bersalah salah saat harus membohongi seseorang yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
"Apa Ibu bisa berbicara dengan Jingga? "
"Maaf Bu, sekarang saya lagi di lokasi proyek. Nanti kalau ketemu Jingga aku bilangin untuk menghubungi Ibu. "
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu... Assalamualaikum! " Sasmitha menutup kembali panggilannya.
Alan kembali membuang nafasnya kasar, terlalu banyak masalah yang membuat pikirannya tidak fokus lagi. Belum lagi kecemasan saat memikirkan keadaan Jingga. Wajah pucat, tubuh lesunya membuatnya yakin jika Jingga saat ini sakit.
Masih berdiri di antara tanah lapang dengan matahari yang mulai bergeser ke ufuk barat, Alan menghubungi Aslan untuk meminta Tyara mengunjungi Jingga, bahkan kalo bisa menemani Jingga sampai keadaan Jingga membaik. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan saat Jingga menolak lagi kehadirannya, sementara dia tidak bisa meninggalkan istrinya dalam keadaan yang cukup kurang baik.
###
Wajahnya nampak lelah, ketukan sepatu terdengar nyaring saat langkahnya memasuki rumah yang terasa sunyi. Sejak kepergian istrinya rumah itu kembali sepi. Jingga yang berlari menyambutnya saat pulang kini tinggal bayangan, tawa renyah istrinya selalu saja menghilangkan rasa lelah saat sampai di rumah pun kini sudah tiada lagi.
"Lagi lagi kau membuat duniaku jungkir balik, Jingga Andini." gumamnya kemudian membawa kaleng minuman soda yang baru saja dia ambil dari kulkas itu menuju ke lantai atas. Dia membuka kembali kamar yang sudah kosong lebih dari dua minggu itu. Kakinya membawa langkah Alan menuju balkon, tempat favorit Jingga saat bersantai.
Sesekali dia menegak minuman di kaleng yang saat ini dia pegang, tatapannya menengadah menatap ribuan bintang yang menghiasi langit yang terlihat cerah saat ini. Alan mulai menyandarkan kepala sofa, seolah ingin melenyapkan rasa lelah yang dirasakan.
Alan's Pov
Ada rindu yang melesak begitu dalam, hingga membuatku membeku, ingin menggapaimu tapi itu tidaklah mungkin.... Kamu seperti tercipta dalam beberapa dimensi. Terdekat tapi tidak nyata karena sulit untuk ku gapai, kenyataannya kamu semakin menjauh dariku.
Selalu kalimat yang sama yang di gumamkan bibir tipis itu. Kau ingin pergi, tapi aku tidak bisa berbuat apapun kecuali menahanmu. Aku tak perlu bahasa apapun untuk mengungkapkan perasaan cinta tulusku padamu.
Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini dengan wanita manapun sebelumnya. Karena itu jangan pernah lari dariku, karena di manapun kamu bersembunyi aku pasti akan menemukanmu. Meski hanya untuk menahanmu, setidaknya aku tidak kehilanganmu. Ya, aku tidak akan pernah beristirahat untuk mencintaimu sesuai janjiku pada Tuhan. Meski, sekali pun aku tak pernah mengatakannya padamu.
Alan seperti tersadar, dia beranjak dari duduknya dan meletakkan kaleng minumannya di atas meja. Dengan semangat dia berlari kecil meninggalkan balkon dan menuruni anak tangga. Apapun yang terjadi dia tidak akan melepaskan Jingga, termasuk usahanya saat ini untuk kembali melihat keadaan Jingga. Dia tidak akan membiarkan Jingga merasa sendiri di tempat yang asing itu.
Jeep Wrangler itu melesat dengan gesitnya menembus jalanan yang masih ramai meski saat ini sudah menunjukan pukul sembilan malam.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu dua jam itu pun hanya dilaluinya dalam hitungan waktu satu setengah jam untuk saat ini. Mobil Jeep itu sudah memasuki gang rumah kontrakan Jingga. Dia menghentikan mobilnya dengan mengambil jarak yang sedikit menjauh beberapa meter dari rumah kecil itu.
__ADS_1
Ada rasa sedikit lega saat melihat mobil Jaz merah terparkir di sana. Alan yakin itu pasti Tyara, dia memang berharap gadis itu mau menemani Jingga untuk memupuskan sedikit rasa cemasnya.
Memang tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini kecuali berada di dalam mobil, menatap rumah kecil yang ditinggali istrinya itu dari kejauhan, tapi setidaknya dia tidak dihantui rasa gelisah karena mencemaskan Jingga yang sendirian di sana.
Gila...
Mungkin seperti itulah kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya saat ini.
###
Raka berjalan bersama tiga orang yang mengiringinya. Papa dan Mamanya Maya bersama satu pengawalnya yang sudah lama mencari keberadaan Maya.
Beberapa kali Raka memencet bel apartemen yang ditempati Maya. Betapa terkejutnya Raka saat melihat keadaan Maya yang terlihat kacau, apalagi dia sempat melirik ke dalam ruangan apartemen yang sangat berantakan. Semua barang berserakan tak beraturan bahkan sebagian ada yang terlihat pecah.
"Mau apa kamu ke sini? " tanya Maya penuh emosi saat melihat kehadiran Raka bersama kedua orang tuanya.
"May, ayuk kita pulang! " bujuk Mama Maya saat mereka sudah masuk ke dalam apartemen.
"Baiklah kita akan menemui Alan. " bohong Papa Maya tak ingin ada keributan untuk memaksa anaknya kembali pulang. Papanya Mama sudah tahu semua permasalahan anaknya dari Raka.
"Benarkah, Pa? " tanyanya sekali lagi untuk meyakinkan apa yang diucapkan Papanya. Sementara Raka hanya melihatnya dengan miris kondisi Maya.
Tidak pernah di sangka Jika Maya adalah perempuan dengan gangguan mental karena di tinggal kekasihnya. Selama ini dia mengenal Maya sebagai seseorang perempuan cerdas dengan nilai akademik coumloud, sedikit pun dia tak pernah menyangka jika perempuan itu sakit mental.
Raka menatap mobil Marcy yang semakin menjauh, rasanya sedikit blega saat Maya sudah berada ditempat yang tepat. Dia sudah menyelesaikan misi yang menjadikan kekacauan hidup bosnya itu.
"Dasar orang kaya, masalah yang tidak penting di jadikan rumit. Orang kaya masalahnya di hati sementara orang kayak gua masalahnya di perut. " gumam Raka Sambil terkekeh, lelaki kepercayaan Alan itu memang harus bekerja keras karena masih membiayai sekolah adiknya dan membantu kelangsungan hidup kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung.
Hae hae readers tercinta... semoga tidak bosan menunggu 'Merindukan Jingga'. Terima kasih yang sudah setya mantengi karya remehku ini hehhehee. Eits... mampir juga ya di 'Rahasia Cinta Zoya' kini sudah ada di noveltoon. makasih readers tercinta Kirana Putri761