Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
34. Childish


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Jingga menuruni anak tangga, tanganya masih terlihat sibuk mencepol rambut panjangnya dengan asal-asalan. Hari ini rencanya dia akan memasak untuk membawakan alan bekal makanan siang.


" Bi, ... " sapa Jingga saat melihat Bi murti yang sudah berada di dapur. Melihat kehadiran Jingga, pandangan wanita paruh baya menatap Jingga dengan teliti, kemudian hanya menyisakan senyum di sudut bibirnya.


"Mbak Jingga, hari ini maunya menu apa? " tanya Bi Murti yang saat ini melihat Jingga hanya terdiam mematung di dekatnya. Di otaknya ada beberapa menu kesukaan Alan hingga membuat perempuan berkulit putih itu sukar untuk menentukan pilihan.


"Aku ya ...bingung, Bi, yang penting jangan daging, Mas Alan tidak terlalu menyukai daging. Gimana kalo kita bikin salmon bumbu merah saja, ya? " tanya Jingga masih menyisakan sedikit keraguannya.


"Boleh... saya siapkan dulu ikannya, Mbak." Bi Murti membuka freezer dan mengeluarkan salmon dan sayuran.


" Sebenarnya pengen di bumbu pedas. Tapi, Mas Alan nggak suka pedas. "


" Gampang, Mbak ... kalo cuma itu bisa di siasati! "


"Wuihhh... udah benar-benar jago masak Bi Murti ini, ngalah-ngalahin koki restoran, Bi! " puji Jingga.


Wanita paruh baya itu hanya tertawa saat mendengar pujian Jingga. Sementara, Jingga menyiapkan teh hangat, Bi Murti pun menyiapkan dan membersihkan bahan yang akan di masaknya.


Jingga membawa dua cangkir teh yang baru saja dia buat untuk di bawanya ke belakang rumah, di mana Alan sedang berolahraga pagi. Lelaki itu memang terbiasa untuk menyegarkan tubuhnya, tak heran jika memang tubuhnya terlihat selalu proposional dan berotot.


"Mas tehnya,..! " panggil Jingga dengan menaruh secangkir teh di meja panjang, Jingga menunggu reaksi Alan, sedangkan yang ditunggu masih sedang berlari memutari hamparan rumput yang terlihat rapi. Tak butuh waktu lama, Alan pun mendekati istrinya.


"Jangan peluk-peluk, Mas! " pekik Jingga saat Alan memeluknya dengan tubuh basah berkeringat.


" Semalam penuh berkeringat juga bales meluk, saking eratnya memeluknya hingga membuat punggungku lecet! Hahahaha " ledek Alan membuat Jingga tersipu. Jingga yang sudah merasa malu pun beranjak pergi tapi tangannya di tarik oleh Alan, membuat Jingga harus kembali memutar menatap kembali wajah ganteng yang selalu mengisi hatinya.


"Sayang, kamu udah telat menstruasi, belum?" Pertanyaan Alan membuat Jingga menelan salivanya dengan kasar.


"Kenapa, Mas? " tanya Jingga dengan melirik wajah segar suaminya.


"Udah ditanyai soal cicit sama Eyang! Akunya juga udah pengen jadi hot daddy! Hahaha. " Jelas Alan dengan kembali memeluk tubuh mungil di depannya


Kali ini, tak ada bantahan dari Jingga, hanya saja wajahnya semakin terlihat pias.


###

__ADS_1


Libur semester memang membuat Jingga serasa menjadi pengangguran tak berarti, paling banter kegiatannya adalah terapi yang di lakukan dua kali seminggu dan belajar memasak bareng Bi Murti. Ingin mengajak suaminya pulang kampung, tapi akhir- akhir ini Alan terlihat sangat sibuk dengan pekerjaanya.


Akhirnya Setelah solat ashar Jingga memutuskan pergi ke mall bersama Daniah dan Tyara, tentu saja setelah mendapat ijin dari Alan. Sejak kejadian mengerikan yang lalu, dia tak pernah lagi ingin membohongi suaminya.


Senyumnya merekah, saat berjalan memasuki pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung.


"Ngga, aku tak menyangka jika Nelly bisa melakukannya. " ujar Tyara saat mereka memasuki resto di lantai tiga mall.


"Awalnya aku hampir tak percaya, ketika Mas Alan mengatakan semua itu. Aku menganggap dia sahabatku. Tapi kenyataanya, dia tidak menyukaiku bahkan sangat membenciku, itu yang dia katakan terakhir kali kita bertemu. " Jelas Jingga sambil berjalan mencari tempat duduk yang nyaman untuk bisa mengobrol.


Mereka bertiga memutuskan duduk di dekat jendela. Sepanjang obrolan mereka bertiga membuat Jingga tak menyadari, jika ternyata ada seseorang yang sedang memperhatikan semua gerak geriknya. Sorot mata yang menatapnya tajam masih menggambarkan kekaguman mesti dia tahu jika Jingga sudah ada yang memiliki.


"Ngga, kalo main ke rumahmu di bolehin suamimu, nggak? " tanya Daniah yang merasa horror saat melihat Alan, menurut mereka Alan adalah sosok yang cool dan cuek.


"Tentu bolehlah, Mas Alan itu sebenarnya baik. Hanya kalian yang belum mengenalnya saja yang menganggapnya cuek. " jelas Jingga menggambarkan sosok suaminya pada kedua temannya.


Pesanan pun datang, tapi Jingga yang sudah ingin ke toilet pun beranjak menuju ruangan kecil di sudut belakang resto itu.


"Oh, ternyata bawa antek antekmu ke sini? " Kehadiran Nelly yang tiba-tiba membuat Jingga terkejut, sebelum Jingga sampai di toilet.


"Dia temanku bukan anteku! " jawab Jingga dengan tegas, rasanya tak Terima jika kedua sahabatnya disebut antek.


"Jika kita tidak bisa berteman setidaknya jangan saling bermusuhan, Nelly! " lirih Jingga membuat gadis berkulit putih itu malah semakin geram.


"Jangan sok, loh! " Nelly kembali mendorong Jingga dengan jari telunjuknya hingga membuat jingga terhuyun ke belakang, untung saja tangan besar itu menahan bahunya dari belakang agar tetap tegak.


" Nona, jangan seenaknya bertindak, anda bisa di polisikan, ingat nona di sini banyak CCTV! " ujar Haris yang kemudian meninggalkan mereka sesaat. Lelaki itu tau, jika gadis yang mendorong Jingga tidak akan melewati batasannya setelah mendengar ancamannya.


Setelah kepergian Haris, Nelly pun meninggalkan Jingga yang masih mematung. Sungguh, Jingga sangat menyayangkan jika hanya karena cowok saja hubungan sebuah persahabatan harus berakhir dengan sebuah kebencian.


" Ngga, kamu tidak apa-apa? " tanya Daniah yang mendatangi Jingga setelah sadar akan sedikit masalah yang dialami Jingga.


" Aku nggak apa-apa. Aku ke toilet dulu ya." Jingga pun berjalan menuju sudut belakang resto.


Mereka tak ingin ambil pusing dengan kelakuan Nelly, ketiganya benar benar menikmati melihat seisi mall dengan teliti tanpa harus membeli.

__ADS_1


"Nyonya bos, kok hang out cuma nengokin bandrol harga doang, hahahaa! " ledek Tyara, pandangannya masih ke depan menatap jalan menuju rumah Jingga. Mereka berdua mengantarkan Jingga terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemen masing masing .


"Jangan ngomong terus, Tyar! Berhenti di rumah no 5 yang depannya ada pohon palm. " ujar Jingga mengingatkan Tyara untuk berhenti.


Jaz merah itu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah minimalis modern berlantai dua itu.


"Ngga, itu laki lo! kayaknya udah pulang? Nggak apa apa? " tanya Daniah sedikit cemas, jika kepergian mereka akan menjadi masalah buat Jingga.


"Nggak apa, makasih ya... hati-hati! " Jingga kemudian turun dari mobil dan melambaikan tangannya mengiringi kepergian kedua sahabatnya.


Senyum manis merekah di bibir Jingga saat melihat suaminya yang berhenti di teras, menunda untuk masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Alan sengaja menunggu Jingga yang sudah terlihat berlari dari pintu gerbang menuju ke arahnya.


"Mas Alaaaan....! " teriaknya, kemudian dengan girangnya melompat ke arah tubuh atletis itu.


"Auuugghhh, hati hati, Sayang... ! " gerutu Alan sambil mengangkat tubuh yang kakinya saat ini mengapit pinggangnya.


"Ayoo... bawa aku ke kamar, Mas! " pinta Jingga dengan mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Ah, serius nih.... minta diboboin?"


"Iya...aku lelah banget muter muter sama Daniah dan Tyara di mall. "


"Astaga... Aku pikir beneran mau di gempur! " Alan berdecak seolah olah sudah merasa kecewa.


" Apaan sih! Jingga melengos membuang muka karena ucapan Alan yang membuatnya merasa malu.


"Tadi beli apa? "


"Cuma lihat-lihat! " jawaban jingga membuat Alan hanya menggeleng, masih dengan menggendong Jingga, dia berjalan menuju kamar. Dibukanya handle pintu tapi menutupnya kembali menggunakan satu kakinya untuk mendorong pintu agar tertutup kembali.


Alan benar benar meletakkan Jingga di tempat tidur di kamarnya yang di bawah, membuat istrinya malah menggulingkan tubuhnya ke sana kemari di tempat tidur berukuran king size itu.


Lelaki itu hanya kembali menggelengkan kepalanya kembali saat melihat kelakuan childish istrinya.


"Dasar bocah... nggak bisa kubayangkan jika kita punya baby! Bisa-bisa aku momong dua bocah! " gerutunya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


TBC


Hae gengs, kita crazy up beneran nich... apapun hasilnya pasti author kelarin sampai end.... don't worry yang takut digantung hehehehe. authornya pengennya malah cepet cepet biar bisa pindah ke lapak lain hahahaha...


__ADS_2