
Memiliki wanita seutuhnya adalah dengan memiliki jiwa dan raganya.
(✿ ♥‿♥)
Mungkin ada istilah semacam itu, tapi yang penting tidak seperti yang Alan lakukan saat ini.
"Ngga-Jingga... sayang! " ujar Alan begitu panik saat melihat tubuh Jingga yang melemah saat akan mengakhiri pelepasan yang ketiga kalinya. Dengan terpaksa pergumulan panas malam pertama mereka pun harus diakhirinya.
"Sayang...! " Sekali lagi Alan mencoba menepuk pelan pipi Jingga agar istrinya mendapatkan lagi kesadarannya secara penuh.
"Hmmmm... " Hanya terdengar gumaman lirih, tapi manik mata hitam itu masih terpejam.
Alan benar-benar dibuat bingung, lelaki itu segera memakai boxernya. Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan? Memanggil dokter dengan kasus seperti ini, pasti sangat memalukan! Pikirannya.
Dengan tergesa Alan berjalan menuju dapur hanya mengenakan boxer. Rautnya terlihat panik, bahkan kebingungan tergambar jelas di wajah lelaki berahang tegas itu. Sambil memencet bel untuk membangunkan Bi Murti, Alan membuat segelas susu yang dicampur madu.
"Apa yang harus saya lakukan, Mas Alan?" tanya Bi Murti saat melihat Alan mengaduk susu buat Jingga. Wanita setengah baya itu melirik jam yang ada di dinding dapur menunjukkan pukul dua dini hari. Tidak seperti biasanya, majikannya itu membangunkan dirinya pada jam segini, bahkan dia melihat Alan yang terlihat cemas dan sedikit kacau.
"Tolong buatkan bubur atau sereal, Bi! Kalo sudah jadi, tolong antar ke kamar!" pinta Alan yang kemudian membawa susu hangatnya ke kamar. Tampilan Alan yang kacau dan tanpa menggunakan kaos , membuat Bi Murti terheran, apalagi tidak biasanya, dini hari begini dia dipanggil. Tak ingin banyak berfikir, perempuan itu memilih untuk menyelesaikan tugasnya di dapur.
"Ngga... Jingga!" panggilan Alan hanya di jawab dengan anggukan pelan istrinya.
Alan meletakkan susu di atas nakas, kemudian menumpuk beberapa bantal untuk menyandarkan tubuh yang hanya tertutup selimut itu agar bisa terduduk. Alan menyuapkan sendok demi sendok susu ke mulut Jingga.
"Maafkan aku, Sayang! Jika sepuluh menit kamu belum sadar sepenuhnya, aku akan memanggil dokter! " ujar Alan membuat Jingga yang masih mendengarnya berusaha membuka mata.
Alan masih menyuapkan susu yang di campur madu itu dengan telaten. Pandangannya tidak lepas dari Jingga, rasa bersalah membuatnya tak bisa beranjak dari samping istrinya. Alan meletakkan susu yang tinggal separo di atas nakas sambil menunggu Jingga tersadar sepenuhnya.
"Mas... " suara itu terdengar sangat lemah, disusul dengan manik mata yang kini berangsur terbuka.
"Sayang... kamu membuatku cemas." ujar Alan yang kemudian memeluk tubuh lemah di depannya.
"Aku lapar, Mas! " lirih Jingga, membuat Alan meregangkan pelukannya.
"Habiskan ini dulu! Aku sudah meminta Bi Murti membuat bubur." ujar Alan mengambilkan susu campur madu yang tadi ditaruhnya di atas nakas, tapi langsung mendapat gelengan kepala dari Jingga.
__ADS_1
"Mas Alan, buburnya sudah jadi! " Suara Bi Murti terdengar setelah beberapa ketukan pintu terdengar.
"Pakai ini, Ngga! " ujar Alan dengan membantu Jingga memakaikan kaos miliknya yang sudah tergeletak sembarangan.
Alan berjalan membuka pintu kamar, di sana sudah ada Bi Murti yang berdiri di depan pintu dengan semangkuk bubur panas di tangan.
"Terima kasih, Bi. Bi Murti, bisa kembali istirahat. " ucap Alan dengan mengambil mangkuk bubur dari tangan Bi Murti.
"Apa Mbak Jingga sakit, Mas? " Pandangan Bi Murti saat itu tertuju pada Jingga yang duduk bersandar pada tumpukan bantal.
"Ng-nggak... Bi, cuma sedikit lemas katanya! " Alan gelagapan menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.Tapi, melihat Alan yang hanya memakai boxer, Bi Murti langsung berbalik menuju kamar dengan senyum tipis yang sudah dia tahan.
Alan menutup kembali pintu kamar dan kembali duduk di samping Jingga. Tangannya mulai menyuapi Jingga bubur ayam.
"Sudah, Mas!" tolak Jingga pada suapan ke empatnya.
"Sayang, ini baru empat suapan! " Alan berusaha membujuk Jingga.
"Perutku rasanya penuh, nanti aku akan memakannya lagi! " Jingga langsung melengserkan tubuhnya dan menarik selimut membuat Alan tak bisa berkata apa-apa lagi. Lelaki itu kemudian menyusul istrinya menelusupkan tubuhnya ke dalam selimut karena waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi.
Alan mengerjapkan mata setelah terlelap sesaat, azdan subuh terdengar dari kejauhan membuat lelaki yang masih dilanda rasa kantuk itu pun memaksakan diri untuk bangun.
Sebelum membangunkan Jingga yang terlihat lelap dengan tidurnya, Alan memilih membersihkan diri terlebih dahulu.
"Jingga, Sayang... ayo, bangun! " Alan membangunkan Jingga setelah selesai solat subuh.
"Ayo, Ngga! Keburu waktu subuhnya habis. " kata Alan membuat Jingga membuka manik mata hitam berlahan.
"Badanku sakit semua, bagian ituku juga terasa sangat nyeri sekali, Mas! " keluh Jingga.
"Maaf untuk semalam, aku lepas kendali! Ayo aku gendong ke kamar mandi! " tawar Alan yang kemudian mengangkat tubuh kecil itu tanpa menunggu jawaban dari Jingga.
Alan meninggalkan Jingga di kamar mandi! lelaki itu berjalan ke arah walk in closet untuk mencari kaos dan celana pendek yang akan dikenakan untuk olahraga pagi. Langkahnya terhenti saat melihat bercak darah yang tercecer di seprai.
"Untung saja! " celetuk Alan langsung menarik seprai dan membawanya ke belakang, jika sampai ketahuan ini malam pertama mereka habislah Alan oleh Jingga. Yah, begitulah sebuah kebohongan, dia akan selalu menghantui si pelaku.
__ADS_1
Jingga berjalan dari kamar mandi dengan tertatih, rasa nyeri seperti menahannya untuk bebas melangkah.
Sholat subuh dilakukan dengan kilat, rasa kantuknya serasa tak bisa ditahan lagi. Jingga melepas mukenanya dan berjalan menuju tempat tidur. Matanya membulat, saat melihat tempat tidurnya tak ada seprai lagi.
"Dimana seprainya, Mas! " tanya Jingga saat melihat suaminya yang baru masuk ke dalam kamar.
"Baru saja aku bawa ke belakang! Tadi tertumpah bubur. " bohong Alan, dan seperti itulah sebuah kebohongan, itu akan selalu ditutupi dengan sebuah kebohongan lain.
"Sebentar, Ngga! Sepertinya ada tamu! " Alan berjalan menuju ke depan diikuti Jingga yang merasa penasaran siapa tamu yang datang pada pagi buta seperti ini.
Dave sudah berdiri dengan pakaian olahraganya saat Alan membukakan pintu.
"Ayo ngegym di luar sambil cuci mata dengan yang bening-bening! " ajak Dave pada Alan yang masih berdiri di depan pintu.
"Ehem... ehm...! " deheman Jingga membuat Alan menoleh ke belakang. Tidak disangka jika Jingga masih berada di belakangnya.
"Jingga masih sakit, aku nggak bisa meninggalkannya! " jawab Alan yang membiarkan Dave masuk begitu saja.
"Sakit apa, Ngga? " tanya Dave yang seperti meragukan pernyataan Alan.
"Ehmmm... ehmmm...! "
"Darah rendah. " sela Alan saat melihat Jingga hanya berdiri dengan gelagapan saat menjawab pertanyaan Dave. Gadis itu memang tak biasa berbohong. Tak ingin mencampuri urusan mereka, Jingga melangkah ke dapur, membuatkan teh hangat untuk tamunya.
"Selain darah rendah, kayaknya Jingga juga terkena Alergi! " ujar Dave saat melihat Jingga datang dengan teh hangat dan camilannya. Matanya menangkap beberapa kis***k di leher perempuan itu.
Dave memang sengaja menggoda Alan yang dari tadi menatap tajam ke arahnya. Seolah memberikan sebuah peringatan agar tidak membahas masalah itu.
"Nggak Alergi, cuma darah rendah saja! Silahkan Mas! " jawab Jingga, perempuan itu kemudian menghilang dari hadapan kedua laki-laki itu.
"Sialan, lo! " umpat Alan kepada Dave yang hanya di jawab dengan gelak tawa menggoda.
TBC
Yuk geng readers dukung author tinggalkan like atau komen. Kalo yang masih punya vote atau point hadiah boleh dong di berikan kepada 'Merindukan Jingga' biar nulisnya tambah Awuwu.
__ADS_1