Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
58 . Jadi Sasaran


__ADS_3

Jingga' s Pov


Apa benar aku yang sudah keterlaluan? Apa perasaan cemburu buta yang membuatku selalu negatif thinking terhadap seseorang? Betapa jahatnya jika aku menuduh atau membenci seseorang secara arogan tanpa menerima alasan apapun.


Tapi, perasaanku tidak bisa dibohongi jika perempuan itu menaruh hati pada suamiku! Apa aku takut dengan keberadaannya? Jelas iya.... dia cantik, dia seksi bahkan dia bisa dikatakan sangat smart dan supel. Intinya perempuan yang bernama Maya itu adalah sosok yang cukup menarik bagi siapapun kecuali aku.


Apa aku meragukan suamiku? Bukan meragu... tapi dia manusia biasa, dia juga punya sisi baik tapi dia juga tidak luput dari khilaf. Bahkan aku tidak tau seberapa besar dia mencintaiku atau seberapa besar prinsip untuk kesetiaannya. Aku tidak cukup pandai mengenali sosok yang ada di sampingku saat ini.


"Ngga..! " panggil Alan dengan meraih tangan Jingga untuk di genggamnya.


Perempuan yang sejak tadi hanya terdiam dan menatap terus keluar jendela mobil membuat Alan berfikir jika Jingga sedang marah dengannya karena perdebatan tadi siang.


" Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu marah denganku? " Pertanyaan Alan membuat Jingga menghela nafas dan kemudian tersenyum ke arah suaminya.


"Aku tidak marah, tapi aku hanya berfikir, mungkin saja Mas Alan benar kalau aku terlalu berlebihan! " jawab Jingga dengan seulas senyum yang melekat di bibir mungilnya.


"Aku hanya ingin kita tidak terkungkung dengan pikiran tanpa alasan. Percayalah, aku akan berusaha menjaga keluarga kita. Lagi pula sudah aku bilang Maya hanya sebatas rekan kerja. " ujar Alan dengan mencium punggung tangan Jingga, berusaha menepis segala keraguan yang ada di benak istrinya.


"Mas, hati-hati! " Jingga mengingatkan Alan untuk kembali fokus pada jalan di depan yang masih berkelok.


Di dalam mobil Jingga tertidur, beberapa kali Alan hanya melirik Jingga sambil tersenyum. Tidak di sangka, dia akan menjalani pernikahan ini bersama gadis yang dulu sangat dia hindari.


Sesuai rencana, pukul tujuan malam Alan menghentikan mobilnya tepat di sebuah kedai makanan Jepang. Dari kemarin Jingga memang sudah merengek menginginkan takoyaki dan ramen.


"Ngga...., Sayang! Ayo bangun. " ujar Alan dengan mengelus pipi istrinya.


"Iya... hoaaammmm! " jawab Jingga masih dengan menguap. Matanya mengerjap mencoba memulihkan seluruh kesadarannya dengan meneliti seluruh situasi di luar mobil.


"Kita makan dulu, ya? " mereka keluar dari mobil memasuki restoran Jepang yang terlihat lenggang karena lokasinya yang masih di pinggiran kota.


Setelah memesan makanan, Alan pergi ke toilet, meninggalkan Jingga yang masih menunggu pesanan. Jingga mengeluarkan ponselnya untuk mengurangi kejenuhannya, tapi tiba tiba kegaduhan terjadi saat segerombolan pemuda datang bersama menguasai seluruh tempat itu.

__ADS_1


Melihat Jingga hanya seorang diri, seorang perempuan berambut pirang, berpenampilan seksi mendekati Jingga. Tapi bukan untuk menyapa Jingga, melainkan meletakkan sesuatu bungkusan kecil di sela-sela peralatan makan yang ada di atas meja.


"Eh, apa inj? " ujar Jingga yang kemudian berdiri.


Saat melihat pemberontakan Jingga kelima pemuda pemudi lainnya pun serentak ikut berdiri. Merasa tidak aman, Jingga memundurkan langkahnya membuat perempuan seksi itu menarik lengan Jingga agar duduk seperti semula.


"Menurut aja, jika tidak ingin mendapatkan masalah! jika ada polisi yanga datang bersikap biasa saja! "


"Nggak mau!" tolak Jingga yang spontan langsung berdiri, dia yakin pemuda pemudi seusianya tidaklah benar, karena bermasalah dengan polisi. Dengan keadaan panik Jingga akan berlari menghindari mereka , tapi tubuhnya menabrak kursi di dekatnya membuatnya harus terjatuh.


"Eh, apa apaan kalian! " Alan dibuat terkejut saat mendapati Jingga yang berada di lantai. Rahangnya menggeretak saat menolong Jingga yang sudah terlihat panik.


"Kita pergi sekarang! " ucap salah satu diantara mereka seolah mengomando ke lima temannya.


Saat ke enam pemuda itu akan pergi, datanglah beberapa orang menodongkan pistol membuat semua yang ada di rumah makan itu mengangkat tangannya. Suasana terlihat tegang, di susul umpatan dan teriakan mereka yang menggema di dalam rumah makan itu.


Alan dibuat bingung melihat situasi tersebut, hingga nampak orang yang tidak asing baginya datang saat ke enam pemuda tersebut dibekuk paksa oleh anggota yang lainnya.


"Sudah lama mereka menjadi target kami, sebagai kurir sabu dan sejenisnya. Kami sudah mengejarnya beberapa hari terakhir ini. " jelas Haris saat berada di depan Alan.


"Oh, hampir saja aku menembak mereka jika kalian tidak segera datang! " ujar Alan yang memang sudah mengantongi ijin kepemilikan senjata api.


"Kamu tidak apa apa kan, Ngga? " tanya Haris saat melihat Jingga yang masih terlihat shock.


"Tentu saja dia ketakutan! " dengus Alan masih kesal dengan kejadian barusan. Nyaris saja istrinya terkena imbasnya.


"Baiklah,aku akan kembali bertugas karena mereka hanya target kecil yang akan menjadi umpan terget kakap! " ujar Haris kemudian meninggalkan tempat kejadian setelah anak buahnya sudah berada di mobil patroli bersama target.


Jingga memeluk Alan menenggelamkan diri dalam dekapan orang yang selalu memberikannya ketenangan itu, sampai susana kembali kondusive seperti sedia kala.


"Kamu sudah merasa baik, kan? " tanya Alan dengan meregangkan pelukan Jingga.

__ADS_1


"Pantatku sakit karena jatuh tadi! " jawab Jingga saat Alan membawanya duduk di tempat yang semula dia pesan.


"Nanti aku pijat plus plus! " goda Alan sambil berbisik di telinga Jingga membuat Jingga mencubit lengan suaminya.


Pesanan mereka pun datang, membuat Jingga terpesona dengan warna ramen yang terlihat merah dan aroma menggiurkan.


"Jangan terlalu pedas, Ngga! " ujar Alan dengan menatap tajam Jingga yang akan menambahkan bubuk cabai, Jingga pun mengurungkan niatnya menambah level pedas di ramennya.


"Mas, apa benar Mas Alan punya senjata api? " selidik Jingga yang ternyata masih penasaran dibuatnya karena selama ini dia tidak pernah melihat barang tersebut di rumah.


"Tentu saja. Itu private, Ngga! Kita nggak bisa sembarangan main aksi coboy.


" Ih, serem! " ujar Jingga dengan menggidikkan bahu dan melanjutkan makan malamnya.


Sebenarnya malam ini Alan ingin mengajak Jingga nonton di bioskop sebelum mereka sampai di rumah, tapi kenyataanya aksi kejar kejaran Haris dan targetnya membuat Alan mengurungkan niatnya, karena waktu yang tersita cukup lama.


"Kenapa tadi takoyakinya tidak jadi di makan? " tanya Alan saat mereka melanjutkan perjalanannya.


"Udah nggak muat perutnya! Mas...! " Jingga memilih membungkus kembali pesanannya itu karena sudah tidak bisa memaksa masuk ke perutnya.


"Hmmmm! "


"Bagaiamana nasib mereka jika sudah ditangkap kayak gitu, ya? Bagaimana masa depan mereka? Terus orang tua mereka bagaimana? "


"Mana kutahu! "


"Kenapa jawabannya cuma gitu? " Jingga mulai sewot kalau sudah melihat Alan yang cuek dan masa bodoh.


"Lagian kenapa aku harus memikirkan mereka Jingga Andini???? " jawab Alan dengan mengacak kepala Jingga dengan gemas karena kebiasaan Jingga yang gampang mendramatisir sesuatu.


Kali ini Jingga memang membenarkan apa yang dikatakan Alan, tapi setidaknya dengan kejadian tadi membuat kita harus lebih hati hati menghadapi pergaulan jaman sekarang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2