Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
60. Memuakkan


__ADS_3

Setelah itu Jingga hanya terdiam dengan wajah yang sedikit menegang, membuat Alan berhenti mengunyah makanannya dan menatap Jingga dengan rasa penasaran


Tanpa sepatah katapun yang keluar, Jingga menutup kembali ponselnya dengan menggumamkan kata salam.


Hening....


Sejenak suasana menjadi hening, hingga suara Alan memecahkan keheningan tersebut, " apa yang terjadi, Ngga? " tanyanya dengan berjalan mendekati Jingga yang masih mematung, mendekap ponselnya di dadanya.


"Ehhhmmm... Ibu marah, Mas! "


"Loh, kenapa? " tanya Alan dengan membawa Jingga untuk kembali duduk di kursi meja makan. Dia juga semakin dibuat penasaran.


"Ibu marah, Mas." ulangnya.


" Ibu tidak pernah semarah ini padaku. Tapi apa salah jika aku ingin tau jati diriku? Mengunjungi makam bapaku sendiri? " Jingga ingin menangis, baru kali ini Bu Sasmita semarah itu padanya.


"Maksudnya apa, Ngga? " Alan masih belum bisa memahami apa yang baru saja di katakan Jingga.


"Aku tadi ke makam Bapak bersama Tyara dan Daniah saat pulang dari kampus. Entah dari mana ibu tahu jika aku ke sana, yang pasti ibu sangat marah. "


Tanpa meneruskan pertanyaannya lagi, Alan sudah faham seperti apa permasalahannya. Ya ke khawatiran Ibu Sasmita justru menggiring tindakan yang terlalu frontal terhadap Jingga.


"Jangan terlalu dipikirkan, Ibu terlalu khawatir terhadapmu. Di sini kamu aman. Ayo cepat makan, kita akan istirahat setelah ini! " Alan memang ingin istirahat secepatnya, karena merasa badannya kurang fit.


Hanya tiga suap nasi yang masuk ke mulutnya, Jingga sudah meletakkan sendoknya. Melihat Jingga seperti itu membuat Alan kembali menatapnya.


"Aku suapin, ya? " Jingga hanya menggeleng tanpa melihat Alan.


"Atau kita cari bakso saja! "


"Aku tadi udah makan bakso! Aku cuma merasa tidak ingin makan, Mas!" jelasnya dengan wajah muram.


" Sayang... kan sudah aku bilang, ibu cuma khawatir! " Alan kembali meyakinkan Jingga.


"Ntahlah, Mas! Atau memang aku yang lagi moody gitu. Akhir akhir ini moodku lagi nggak jelas. "


Alan menatap heran Jingga, memang benar akhir-akhir ini moodnya memang gampang berubah apalagi jika lagi jadi penurut, seperti bukan Jingga saja.


"Setelah makan langsung istirahat saja!" Alan takut jika Jingga kembali tertekan dengan keadaan yang mempengaruhi psikologisnya.

__ADS_1


Malam ini, terasa lebih sunyi. Hanya dentingan jam dinding yang terdengar berdetak teratur. Alan masih melihat ponselnya. Melihat beberapa email yang dikirim Raka dan jadwal untuk pertemuan dengan klien besok yang sudah diatur Maya.


"Sayang... ! " gumam Alan yang sedikit kegelian saat Jingga menelusupkan wajahnya di bawah ketiaknya dan melingkarkan lengan kecilnya di atas dada bidangnya.


Dengan menatap ponsel sejenak, matanya mengekor ke arah Jingga yang masih mencari posisi nyaman di bawah ketiaknya. Batinnya bingung melihat tingkah Jingga tapi menurutnya membiarkan Jingga sesuka hatinya saat ini jauh lebih baik, dari pada moodnya yang akan berubah lagi.


Jingga masih sibuk mencari posisi yang nyaman, salah satu yang membuatnya tenang saat ini aroma maskulin milik Alan yang menguar di hidungnya. Entah kelainan apa lagi yang membuatnya terkesan lebih jorok. Tapi itulah yang saat ini dia rasa, tubuh dan aroma suaminyalah yang saat ini seperti memberi ketenangan sendiri.


Hanya butuh beberapa menit di posisi ternyaman membuat Jingga terpulas, melihat Jingga yang sudah diam dalam tidurnya, Alan meletakkan ponsel dan ikut mengistirahatkan tubuhnya.


###


Mendengar laporan dari anak buahnya, Tuan Wirya mulai mengambil posisi bersiap dalam artian dia harus mulai waspada dengan Jingga.


Menurutnya Jingga sudah mulai ingin tahu latar belakang dirinya dan keluarganya, mungkin saja karena Jingga sudah mulai dewasa sehingga ingin menguak segala jati dirinya.


Bukan cuma itu permasalahan yang saat ini Tuan Wirya pikirkan, tapi lebih dari bagaimana mempertahankan Harta yang sebenarnya masih bisa diperebutkan lagi.


Terlihat lelaki jangkung dengan rambut sedikit gondrong itu memasuki ruang utama rumah mewah ayahnya. Masih menggenggam tangan istrinya Reyhan berjalan mendekat ke arah Tuan Wirya.


Mau tidak mau Tuan Wirya menatap kemesraan anak dan menantunya yang tidak pernah dia sukai dari dulu.


Sore tadi ketika Reyhan mengantar Diandra untuk memeriksakan kandungannya yang tinggal menghitung hari saja itu, saat Tuan Wirya menelpon putranya, terpaksa Reyhan membawa Istrinya ke rumah ayahnya.


" Aku ingin kamu menandatangani berkas kepemilikan hotel dan Yayasan kampus milik keluarga Hadinoto." ucap Tuan Wirya.


"Sudah aku bilang, Yah! Rey tidak menginginkannya, dan itu bukan cuma bualan. Rey hanya ingin tenang dengan keluarga Rey. "


"Reyhan...! Ayah memperjuangkan ini untukmu! untuk anak anak Ayah. Tapi kalian tak satupun yang bisa menghargai Ayah." luapan emosi Tuan Wirya membuat kedua ajudannya mendekat ke arahnya.


"Kalau begitu Ayah tidak tahu apa yang kami harapkan! Apa semua ini bukan keserakahan akan kekuasaan? " bantah Reyhan yang tidak pernah sepaham dengan ayahnya.


"Yah, jangan memaksa Rey. Reyhan bukan anak kecil lagi. Reyhan dan Dea sudah nyaman dengan apa yang sudah kami miliki!" ujar Reyhan menarik lengan Deandra untuk ikut pulang bersamanya.


Tuan Wirya menatap mereka dengan nyalang, ada kemarahan dan kekecewaan yang dia rasakan akan jawaban anaknya. Ya, mungkin Reyhan tidak salah, dia memang haus akan kekuasaan apalagi sejak Cokro adiknya itu menjadi anak emas Tuan Hadinoto, membuat Tuan Wirya berusaha menyingkirkan Cokro.


Sejarah masa lalu yang begitu rumit, dan ingin diputuskan oleh Reyhan. Lelaki itu ingin menjalani kehidupan biasa, bukan di kalangan bangsawan yang penuh dengan basa basi.


"Sayang, Terima kasih sudah membuatku merasa berarti. " ucap Dea saat di dalam mobil.

__ADS_1


"Aku tahu hubungan kita berawal dari tidak cinta, semoga kehadirannya akan membawa banyak cinta untuk kita. Aku dulu memang menyukaimu karena kamu kaya. Tapi, saat aku merasakan cinta yang kamu berikan. Aku tidak butuh semua itu! Aku bahagia bersamamu... " lanjut Deandra dengan tulus ternyata laki laki brengsek di sampingnya mampu merubah dunianya.


"Aku juga... awalnya hanya menjadikanmu pelampiasan saja. Tapi aku terjebak di dalamnya. Aku mencintaimu Dea, aku mencintai calon bayi kita. " balas Reyhan dengan menggenggam dan mencium tangan istrinya.


Ya... hidup adalah sebuah perubahan... membawa perubahan ke arah yang lebih baik adalah yang seharusnya. Jika hatimu kadang berkhianat untuk menjadikan kamu buruk di situlah otakmu harus difungsikan untuk mengontrolnya dan begitupun sebaliknya...


###


Sore dengan sapuan angin yang mendesis lirih, diantara suasana kampus yang mulai sepi. Jingga masih menunggu Alan. Sudah beberapa jam dia berdiri di luar pagar karena Alan sudah mengabari jika dia akan menjemputnya.


Tapi ternyata, dia sudah mulai kesal menunggu suaminya membuat dirinya berfikir untuk menghampiri Alan di kantor.


Di dalam taxi dia mencoba menghubungi Alan, takut mereka bersisipan. Di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah waktunya jam pulang kantor untuk rata rata karyawan.


Hanya butuh sepuluh menit, taxi yang ditumpangi Jingga sudah berhenti di depan kantor Alan. Terlihat mobil Jeep masih terparkir di sana, berarti Alan masih berada di kantor.


Langkahnya bersemangat memasuki kantor berlantai dua itu karena suasana memang sedikit lenggang, terlihat beberapa meja sudah mulai kosong. Jingga langsung saja melangkah menaiki anak tangga itu satu persatu.


Meja Raka kosong, ruangan Alan tertutup membuat Jingga sedikit meragu untuk langsung membukanya.


Tangan mungil itu mengetuk beberapa kali tak ada jawaban dari dalam, membuatnya langsung membuka handle pintu itu.


"Ceklek... " Matanya membelalak saat melihat pemandangan yang tidak semestinya. Wajahnya memanas dengan dada berdesir hebat penuh dengan kemarahan.


"Kurang ajar kalian! " teriaknya membuat Maya yang berada di atas pangkuan Alan pun tergagap berdiri.


"Ngga...! " panggil Alan saat melihat kehadiran Jingga di depannya.


"Plak! " tamparan itu mendarat di pipi Alan.


"Dengarkan aku, Ngga! " ucapnya begitu panik. Tapi tidak dipedulikan Jingga. Tangan kecil itu menyeret perempuan yang sudah membuat hatinya hancur keluar ruangan.


"Ngga...! " Alan yang ingin menghentikan kemarahan Jingga pun terhuyun jatuh di sofa.


"Dasar jalang, murahan! " maki Jingga dengan suara bergetar menahan gejolak yang menderu di dadanya, diantara ingin menangis, marah kini semuanya meluap menjadi satu.


"Bang Alan mengiginkannya! " ucapnya membuat Jingga menjambak rambut lurus yang sudah acak acakan itu.


"Keluar...! Jika aku masih melihatmu akan kupastikan kamu tidak akan bernafas! " Jingga menarik keluar Maya, dari jauh Raka sudah berlari menghampiri keributan tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


Yuk kasih hadiah merindukan Jingga agar authornya tambah semangat. hehehe


__ADS_2