Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
46. Pesona Jingga


__ADS_3

Alan menutup semua pekerjaannya setelah menelpon psikolog Amanda. Dia bergegas memutuskan untuk pulang, setelah mengetahui laporan jika Jingga mengeluhkan tak enak badan. sebenarnya, bukannya tidak enak badan tapi karena ucapan maya yang membuatnya kehilangan mood.


Dengan membawa setumpuk berkas, dia menghampiri Raka yang masih disibukkan menyiapkan dokumen pelaksanaan dan syarat teknik pembangunan.


"Aku balik dulu, Ka! " ujar Alan yang berlalu begitu saja tanpa menunggu respon dari Raka. Langkahnya sedikit berlari saat keluar kantor menuju motornya yang terparkir di halaman depan kantor.


Lelaki berhidung mancung itu melajukan motornya membelah ramainya jalanan. Melewati warung bakso yang jadi andalan Jingga, Alan pun membelokkan motornya. Tanpa berfikir lagi, dia memesan satu bungkus untuk dibawa pulang. Dia yakin Jingga akan menyukainya. Senyum tipis terbit saat membayangkan kegirangan sang istri yang melihat dia datang membawa makanan favoritnya.


Tapi, mendung yang meredupkan suasana sore membuat senyum lelaki itu menyurut. Perasaannya mulai dirundung rasa cemas. Alan mencoba menghubungi Jingga hingga beberapa kali tapi tidak juga mendapat jawaban dari istrinya.


Dan, rasa cemasnya semakin menjadi saat listrik seketika padam bersamaan dengan hujan yang menjatuhkan rintiknya di bumi. Masih menunggu pesanan baksonya, Alan memutar putar ponselnya di tangan. Jelas sekali jika lelaki berkulit putih itu sudah terlihat cemas dan ingin sekali segera sampai rumah.


"Mas, pesanannya! " Alan mengambil uang satu lembar ratusan ribu dan bergegas meninggalkan warung bakso tersebut tanpa peduli lagi kembaliannya. Yang ada di otaknya hanya Jingga yang takut gelap, bagiamana jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya.


Alan melajukan motornya dengan menggila, diantara hujan petir dia sudah tak peduli lagi, yang terpenting bisa sampai rumah secepatnya. Hanya butuh waktu beberapa menit saja Alan sudah sampai di depan rumah.


Masih dengan baju yang basah, dia berlari kecil memasuki rumah.


"Jingga! " teriaknya memanggil Jingga. Dia terus saja memanggil istrinya karena belum mendapatkan jawaban sama sekali.


Dia yakin jika Jingga berada di kamar atas, setelah melihat kamar di lantai bawah yang ternyata kosong. Berlahan di bukanya pintu kamar bernuansa girly itu.


Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, dan terakhir tertuju pada sosok yang bergelung selimut di atas tempat tidur.


"Jingga,...! " Panggil Alan dengan hati hati membuat Jingga kemudian membuka selimutnya yang dari tadi menutup seluruh tubuhnya.


"Mas Alan, kehujanan ya? " tanya Jingga saat melihat tubuh Alan yang sudah basah kuyup. Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Alan malah berjalan semakin mendekat ke arah perempuan yang sudah memenuhi kecemasannya sedari tadi.

__ADS_1


" Kamu takut, ya? " Tanya Alan yang dengan menelangkup wajah cute di depannya. Seolah ingin mengatakan semua akan baik baik saja.


"Nggak, Mas! " jawab Jingga tak ingin Alan mencemaskan dirinya.


"Duuuuaaaarrrrr! "


"Aaarrrrggghhhh!!!! " pekik Jingga langung mendekap tubuh kekar di depannya saat terdengar suara petir yang sangat memekakkan telinga. Mendengar teriakan histeris Jingga, membuat Alan mendekap dan menenggelamkan Jingga dalam pelukannya. Berlahan, Alan membawa Jingga duduk di pinggir tempat tidur. Dia mulai memperhatikan perilaku Jingga, apa masih dengan gejolak yang sama atau...? Ternyata Jingga masih memeluknya dengan erat seperti ada kenyamanan di dalam dekapan Alan.


"Katanya tidak takut? " goda Alan yang mulai mengetahui Jingga memang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Aku cuma kaget, Mas! Lagian emang salah jika aku meluk suamiku? " jawaban Jingga membuat Alan terkekeh. Bisa saja Jingga untuk menjawab semua ledekannya.


Ternyata gelegar gemuruh petir barusan menandai hujan yang mulai mereda. Tapi, ada yang membuat Alan bahagia, keadaan Jingga yang jauh lebih baik untuk menghadapi phobianya menandakan usahanya selama ini tidak sia sia.


"Apa kamu akan memeluk tubuh basahku terus, Ngga? " Alan kembali menyadarkan Jingga jika tubuhnya masih basah kuyup.


"Aku akan menyiapkan makan malam dulu, Mas? Mas Alan, ingin kopi apa teh? " tanya Jingga sebelum Alan masuk ke dalam kamar mandi.


"Kopi saja, tadi aku membeli bakso untukmu! Masih di motor, ambil saja di sana! " ujar Alan sebelum menghilang masuk ke dalam kamar mandi.


Gegas mendengar bakso membuat Jingga bersemangat untuk mencari motor Alan yang masih terparkir di luar.


"Ah,ini dia...! gumamnya saat mendapati bungkusan plastik yang menggantung di bagian kepala motor itu. Tapi, sebelum dia akan kembali masuk ke dalam, ada yang menarik perhatiannya, yaitu sebuah mobil pajero sport warna grey itu masuk ke dalam halaman.


Jingga masih berdiri di dekat motor Alan menunggu siapa yang datang bertamu. Sosok bertubuh tinggi gagah itu keluar dari mobil, Haris kini berjalan menghampiri Jingga yang sudah menjawab semua rasa penasarannya. Lelaki itu menatap perempuan berwajah imut yang sudah memandangnya sedari tadi.


"Alannya ada?" tanya Haris saat berada di depan Jingga, mata tajamnya bener benar bisa menangkap segala pahatan wajah cantik Jingga.

__ADS_1


" Ada, Mas. Mari, silahkan masuk! " ajak Jingga yang sudah merasa salah tingkah saat tatapan lelaki itu menelisik begitu dalam ke matanya.


Manik mata tajam lelaki itu membuat Jingga merasa kikuk, perempuan bewajah mungil itu segera membalikkan tubuhnya berniat secepatnya masuk kedalam.


"Arrghh...! " teriak Jingga saat hampir terjatuh karena terpeleset percikan air hujan yang membasahi sebagian lantai teras. Untung saja tangan kokoh itu segera menangkap tubuhnya yang sudah terhuyun ke belakang.


"Hati hati, Jingga! Kamu bisa terjatuh...!" buru buru Jingga langsung menegakkan tubuhnya, merasa tidak enak karena lengan Haris yang sudah menyangga tubuhnya.


"Maaf, Mas! " ujarnya kambali salah tingkah, Haris hanya tersenyum tipis dan mengangguk menjawab ucapan Jingga. Mereka berjalan masuk dalam rumah bersama.


"Aku akan memanggilkan, Mas Alan! " pamit Jingga yang sudah di sambut Alan saat dia membalikkan tubuhnya.


"Ada apa, Bro! " tanya Alan dengan wajah segarnya memasuki ruang tamu. Lelaki yang hanya memakai kaos putih pas body dan celana pendek itu menghampiri Haris yang sudah duduk di sofa.


"Lo... dapat undangan peresmian resort, nggak? Aku dengar lo arsiteknya, kan? " tanya haris saat Alan mendudukan bokongnya di sofa.


"Iya, dapet! Kemarin dikirimkan langsung ke kantor! Lo kenal sama ownernya? " Selidik Alan ingin meleburkan rasa penasaranya karena Haris menanyakan semua itu.


"Iya, kayaknya acara besar besaran, si owner juga memerlukan penjagaan keamanan ketat." tutur Haris sambil melirik kedatangan Jingga yang membawa dua cangkir kopi di nampan.


" Silahkan, Mas! " ujar Jingga sebelum meninggalkan mereka berdua.


"Kamu datang bersama Jingga atau orang kantor? " tanya Haris sambil menyesap kopinya. Lelaki gagah itu tidak lupa menghidupkan batang rokok yang dikeluarkannya dari jaket.


" Sepertinya keduanya, awalnya undangan resmi untuk kantor, tapi aku ingin sekali kali melibatkan Jingga, meski mungkin orang akan melihat kami aneh! " Alan memang berniat mengajak Jingga karena dia merasa tidak pernah mengajak istrinya saat mendapat undangan.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2