
"Ngga, ayo temani aku buang air terlebih dulu! " ucap Nelly mengajak Jingga berbelok ke semak-semak, memberi jarak pada rombongan yang sudah berjalan di depan.
Jingga menunggu Nelly yang berada di semak-semak. Setelah beberapa saat, gadis itu nongol dengan senyum puas di bibirnya.
"Ayo Nel, kita udah tertinggal!" ucap Jingga saat akan menarik lengan sahabatnya itu. Tapi, ditahan oleh Nelly. "Eh... Ngga, coba dengar deh! itu bukannya suara deburan ombak?" ucap Nelly yang sudah menajamkan pendengarannya.
"Iya, sepertinya dekat! " jawab Jingga meyakinkan.
"Ayo, kita coba lihat dulu! " ajak Nelly berjalan mencari jalan ke pinggir tebing.
"Tapi Nel, kita sudah tertinggal jauh. Sebaiknya kita mengejar rombongan! " tolak Jingga, perasannya semakin tak enak saat rombongan benar-benar tak terlihat.
" Kita bisa berjalan dari pinggir tebing, kan? Lihatlah ada jalan setapak di sini? Terus, asal kita jalannya menanjak pasti kita akan menemukan mereka nantinya. Ini cuma perbukitan kecil bukan hutan liar, Ngga! " ujar Nelly yang kemudian di iyakan Jingga.
Mereka berjalan menelusuri jalan setapak yang membelah semak. Tentu saja, perempuan berwajah cantik itu bersorak girang saat melihat hamparan laut yang luas, deburan ombak yang terdengar merdu, bahkan angin yang bertiup kencang seolah menutupi sengatan terik mentari.
"Ya Allah indah banget lautnya! " gumam Jingga penuh kekaguman saat melihat laut lepas dari atas bukit. Keindahannya seperti menghipnotis untuk terus mendekatinya. Diayunkan langkahnya membelah semak-semak, seolah ingin segera bermain diantara deburan ombak, padahal dia sadar jika harus segera sampai di base camp secepatnya.
Diabaikan terik mentari yang semakin menyengat, bahkan rasa haus yang mengeringkan kerongkongannya pun, kini tak lagi dihiraukannya, dia ingin menikmati pantai lepas dan terus berjalan membelah semak-semak agar sampai bersama rombongan.'
Tanpa di sadari, ternyata dia sudah terlalu jauh melangkah, bahkan dia baru tersadar jika jalannya sudah tak lagi menanjak melainkan menurun.
"Nelly, jalannya kok menurun? " tanya Jingga masih fokus dengan jalan setapak di depannya. Perempuan yang sudah bermandikan keringat itu menyadari jika sudah tak ada jawaban dari sahabatnya. Kakinya terus melangkah, mencoba menghilangkan keraguan jika dia sedang tersesat.
"Nel...! " panggil Jingga sekali lagi pada sahabatnya, saat semak-semak yang sudah dilalui itu berganti dengan tonjolan batu dan akar. Saat ini yang di pijaknya pun bukan lagi tanah datar, melainkan tanah miring yang tak lain adalah sebuah tebing.
"Nelly...! Kamu di mana?" panggil Jingga dengan posisinya yang sudah menggantung satu kaki bertumpu pada sebuah tonjokan batu besar dan kedua tangannya memegang akar semak yang menggantung.
Hatinya sedikit cemas karena saat dia melihat ke bawah, batu-batu besar dan kecil yang menjadi alas membuat hatinya merasa miris. Debar jantungnya menjadi, saat dia kesusahan menggeser tubuhnya, bahkan dia seolah terjebak tanpa harus tau bagaimana untuk bisa keluar dari situasi mengerikan. Membayang terjatuh di bebatuan dengan ketinggian hampir delapan meter membuat Jingga menangis karena ketakutan.
__ADS_1
"Tolong...! " teriaknya, berusaha meminta bantuan, padahal dia juga sadar mustahil ada orang yang akan lewat di tempat seperti itu.
"Tolong....!" cuma teriakan itu yang bisa dia lakukan untuk mencoba peruntungan keluar dari situasi yang mengerikan seperti ini.
Hatinya semakin tak karuan saat tangan kirinya mulai kesemutan, bahkan peluh mulai menetes karena energinya yang terkuras. Panas mentari yang menyengat karena berada di titik teratas membuat tubuhnya semakin lemas.
###
Di tempat lain, saat rombongan berkumpul semuanya menjadi bingung karena Jingga tak ada diantara mereka.
"Di mana Jingga? " tanya Arga sudah merasa panik saat kehilangan satu anggotanya. Lelaki itu merasa bertanggung jawab atas keselamatan rombongan.
"Nel, di mana Jingga? " tanya Arga pada gadis yang baru saja sampai di base camp. Semua rombongan menoleh, menanti jawaban dari gadis yang terakhir bersama Jingga.
"Itu... Jingga di jemput Abangnya. Sebenarnya, dia tidak di izinin abangnya, makanya tadi dijemput abangnya. " jelas Nelly membuat semua bernafas lega dan melanjutkan membuat perkemahan.
Sementara, Daniah yang merasa aneh dengan jawaban Nelly membuat gadis itu merapatkan posisinya ke arah Nelly, kemudian berbisik. "Siapa Abangnya Jingga? " tanya Nelly masih sangat penasaran.
###
Alan melajukan mobilnya dengan menggila, kecepatan yang tak di perhitungkan lagi saat dia tahu jika Jingga berada di perbukitan di pinggir kota. Tentu saja itu membuatnya mengerti jika Jingga memaksa ikut acara kampus yang pernah di bicarakannya kemarin.
Berkali-kali lelaki berhidung mancung itu memukul setir saat berada di lampu merah, rasanya ingin sekali diterobosnya saja lampu merah diantara ramai jalan yang saat ini dilaluinya.
" Jinggaaaa.... " Lelaki yang menggeretakkan rahangnya kini mengeram kesal bercampur cemas, saat merasa jarak yang dilaluinya tak kunjung membuatnya cepat sampai tujuan.
Sudah dua jam lebih Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas batas normal, perasaan tak enak kini membuatnya terburu-buru untuk menemukan Jingga.
"Oh, Tuhan ... semoga Jingga baik-baik saja!" keluhnya saat mengingat medan perbukitan itu banyak jalan fatamorgana. Dia tahu jika dalam organisasi pasti ada penanggung jawab, tapi dia tak ingin terjadi sesuatu dengan Jingga. Sejak mengetahui keberadaan Jingga, hatinya di landa kecemasan yang teramat sangat.
__ADS_1
Flash Back
Pagi, setelah solat subuh, Alan mulai menyiapkan semua pekerjaannya yang akan diselesaikannya hari ini. Rasanya dia tidak sabar ingin segera bertemu istrinya, tapi ketidaksabarannya membuat lelaki berahang tegas itu memilih untuk menelponnya terlebih dahulu.
Beberapa kali dia menghubungi ponsel istrinya, tapi tak ada jawaban, membuat Alan memutuskan untuk menghubungi nomor rumah.
"Assalamualaikum, Bi. " ucap Alan saat Bi Murti mengangkat panggilannya.
"Waalaikum salam, Mas!" jawab Bi Murti saat mendengar suara Alan.
"Jingganya ke mana? "
"Eh... itu... hmmmm....! " Bi Murti dibuat bingung dengan pertanyaan Alan.
"Katakan, Bi. Di mana? " desak Alan.
"Mbak- Mbak Jingganya pergi, barusan saja. " ucap Bi Murti dengan sedikit tergagap.
"Ehhmmm... acara kampus! " Mendengar jawaban Bi Murti membuat Alan seketika memutuskan telponnya.
Untung saja Alan mengaktifkan GPS ponsel milik Jingga sebelum kepergiaannya ke luar kota, saat ini Alan masih mencoba mencari keberadaan Istrinya lewat GPS. Dengan tergesa lelaki itu menemui Raka di kamar sebelah, menyerahkan semua pekerjaan yang sudah disiapkan dari tadi.
Alan berlari ke basement hotel untuk mengambil mobilnya, setelah mengecheck semua peralatan yang dibutuhkan saat berada di alam bebas.
Flash On
Alan terus membawa mobilnya menuju tempat perhentian kendaraan. Dilihatnya bekas roda mobil yang terlukis jelas di tanah, membuatnya yakin jika itu mobil rombongannya Jingga. Alan yang memang punya hobbi melakukan trip dan adventure sudah berpengalaman dengan medan perbukitan ini.
Bersambung
__ADS_1
Yuk dukung author kasih vote n likenya ya....
note: Adegan itu diambil dari kisah nyata tahun 2008. di perbukitan dekat pantai parangtritis sebelum adanya pembangunan, saat acara pelatihan salah satu unit kegiatan mahasiswa.