Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
86. Kritis


__ADS_3

"Dooor..... " Sekali lagi, suara tembakan terdengar, deg ... deg ... deg... seakan dunia hanya tinggal detakan yang sangat menyanyat saat kedua tubuh itu saling memeluk erat. Jingga hanya memejamkan mata, meremas erat punggung yang selalu menjadi sandarannya begitu pun Alan yang memeluk erat Jingga penuh ketakutan. Dunia seolah terhenti seketika.


"Mas Alan...!" lirih Jingga, masih dengan mengeratkan pelukannya, dia tak kuasa membuka matanya dengan air yang sudah membanjir keluar. Dia tidak bisa membayangkan jika Alan akan meninggalkannya. Begitu pun Alan, dia masih mempererat pelukannya, dia tidak bisa membayangkan hal buruk terjadi pada Istrinya.


"Kalian cepat bantu aku! " Suara menggelegar milik Haris membuat Jingga dan Alan tersadar. Sejenak mata mereka saling memandang ternyata apa yang mereka khawatirkan salah, seketika mereka mencari sumber suara.


"Ibuuuuu...!" teriak Jingga begitu histeris saat melihat Sasmitha tergeletak dengan luka tembak di dada. Wanita paruh baya itu membuat dirinya menjadi tameng saat Faizal mengarahkan pelurunya ke arah anak menantunya. Sedangkan Faizal sendiri tertembak oleh peluru milik Haris tepat setelah penembakan yang baru saja dilakukannya terhadap Sasmitha. Untung saja Haris datang di lokasi tepat waktu.


"Ibuuuuu.... " Jingga bersimpuh di dekat tubuh yang sudah tidak sadarkan diri. Berlahan Kepalanya yang terasa berputar putar membuat tubuh Jingga ikut meluruh di lantai.


Team kepolisian yang dikomando langsung oleh Haris mulai membereskan semua situasi di lokasi. Beberapa korban dimasukkan ke dalam ambulance yang sudah disiapkan. Dan semua anak buah kedua kubu tersebut di ringkus oleh para team yang bertugas. Alan memilih membawa Jingga yang belum sadarkan diri itu masuk ke dalam mobilnya mengikuti ke mana ambulan membawa Ibu mertua dibawa pergi.


Rumah sakit terdekat, mereka memutuskan membawa semua korban ke sana. Sesekali, Alan melirik tubuh yang tergeletak lemah di sampingnya, hingga dia membelokan mobilnya di parkiran. Langsung saja, Alan membawa Jingga ke UGD untuk segera mendapat perawatan, cukup lama Jingga tidak sadarkan diri, membuat Alan semakin khawatir.


Alan membawa kakinya melangkah bolak balik ke sana ke mari karena cemas memikirkan Jingga dan Sasmitha. Bagaimana kondisi Ibu mertuanya sekarang? Pada situasi seperti ini adalah puncak kecemasan teramat sangat yang dirasakan oleh Alan.


Setelah pemeriksaan, Alan mengikuti ke mana Jingga di pindahkan di ruang rawat. Menurut dokter yang punya name tag Niar, Jingga mengalami shock hingga mengalami flek dan kondisi tubuhnya yang lemah hingga diharuskan beberapa hari harus bad rest di rumah sakit.


Alan ingin sekali menanyakan kondisi Bu Sasmitha pada Haris, karena Haris yang meng-handle semuanya. Tapi dia juga tidak tega jika harus mencari temannya itu karena meninggalkan Jingga sendirian.


"Sayang, ... jangan tidur lama! Aku takut.... " suara Alan seperti tercekat saat berada di samping Jingga.


Suasana hening, Jingga mengerjapkan mata. Mendapati ruang yang berbeda dari sebelumnya.


"Sayang...! " panggil Alan saat melihat Jingga membuka matanya.


"Jangan banyak bergerak, ya! " lanjut Alan saat Jingga akan beringsut bangun.


"Ibu mana, Mas? " Seketika pula tangisnya pecah. Alan bangkit dari duduknya, kemudian menundukkan tubuh istrinya dengan kedua tangan membingkai wajah Jingga yang sudah lembab karena air mata.


"Sayang... dengarkan aku! Jangan menangis. Yakinlah ibu akan baik baik saja. " ucap Alan dengan membungkukkan badan mengikis jarak wajah mereka. Meskipun demikian tangis Jingga tidak bisa dihentikan begitu saja.


"Duchh.... mengganggu ya? Pas datang, kok lagi sayang sayangan! " ujar Haris dengan menggandeng Amanda masuk ruang perawatan Jingga.

__ADS_1


"Bagaimana Ibu mertuaku? " tanya Alan langsung menghampiri Haris.


"Masih kristis, Bu Sasmitha kehilangan banyak darah dan peluru sempat mengenai paru parunya. Untung saja semalam operasi bedahnya berjalan dengan lancar. " Mendengar apa yang dikatakan Haris, Jingga kembali menangis.


"Jingga, sayang dengerin aku! Percayalah ibu akan baik baik saja. Kamu tahu kan, ibu adalah wanita yang kuat. " Alan mencoba menenangkan Jingga, dan Amanda dengan sangat hati-hati mendekati Jingga. Mereka tahu Jingga sedang tergoncang mendengar ibunya yang masih kritis.


"Ngga, kendalikan dirimu. Ada bayi yang membutuhkan ketegaranmu! " ujar Amanda, dia mengerti seorang wanita akan menjadi kuat hanya karena anaknya.


Berlahan lahan Jingga mulai tenang, membuat Alan berfikir untuk melihat keadaan Bu Sasmitha.


"Sayang, aku akan melihat keadaan Ibu dulu, ya?" tanya Alan sedikit berbisik.


"Iya, Mas! " jawab Jingga.


"Manda, titip Jingga ya! " pinta Alan pada Amanda yang mendudukkan bobotnya di kursi.


Haris dan Alan keluar dari ruangan Jingga dirawat. Langkah keduanya menelusuri koridor rumah sakit menuju ruang ICU yang cukup lenggang.


"Sebenarnya harapan bu Sasmitha sangat tipis. Tapi, aku tidak ingin membuat Jingga kembali stress! " ujar haris.


"Pak faizal dan Pak Wirya dinyatakan tewas di tempat! " Jawab Haris saat mereka sampai di depan ruangan yang tertutup itu.


Mata perak itu menatap banyaknya selang yang menempel pada tubuh Bu Sasmitha. Alan kembali mendekat ke arah jendela kaca. Dia rasanya begitu nyeri, begitu besar cinta pada anak-anaknya membuat Beliau berani mengambil langkah demikian.


Mata perak itu berkaca kaca seolah ingin menumpahkan tangis yang tertahan. Bagaimana jika Jingga mengetahui kabar ini? Dia berharap Bu Sasmitha akan melewati masa sulit ini secepatnya demi anak cucunya.


"Aku hanya tidak tahu apa yang terjadi jika Jingga mengetahuinya. Saat ini saja dia sudah mengalami flek. " ucap Alan tanpa mengalihkan pandangannya menatap wanita paruh baya yang sudah dia anggap ibunya sendiri.


Sesaat kemudian mereka berdua akan kembali keruangan Jingga. Kedua lelaki yang mempunyai perawakan hampir sama itu berjalan bersama menuju ruangan Jingga. Nampak Manda membantu Jingga meminum air putih, saat mereka masuk ke dalam.


"Mas, Ibu bagaimana? Aku ingin melihatnya? " tanya Jingga masih di landa rasa cemas.


Alan mendekati Jingga, saat Menggenggam tangan dingin istrinya dan mengecupnya lembut.

__ADS_1


" Berjanjilah kamu harus sehat dulu, kita akan melihat Ibu bersama! Ibu Baik baik saja. " Bohong Alan membuat Jingga berusaha mengerti jika dia harus menguatkan dirinya terlebih dahulu.


Melihat Jingga sedikit tenang membuat semua orang yang ada di sana sedikit lega.


"Terima kasih, Kak Manda! " ujar Jingga menatap Amanda yang berdiri di samping Haris.


"Aku selalu merepotkanmu!"


"Jangan kabur-kaburan lagi! Nanti Banyak yang mencemaskanmu! " sindir Manda dengan ekor mata melirik lelaki di sampingnya.


"Apaan sih, Yang? " ujar Haris kemudian lengannya merengkuh bahu Manda dan mencium puncak kepala wanitanya.


"Kalian???? " ucap Jingga dan Alan bersamaan.


"Iya, kita sudah tunangan! " Jawab Haris dengan tegas.


"Apa????tunangan? " Alan dan Jingga begitu kaget saat mendengar kabar tersebut. Sedangkan Amanda hanya tersipu malu.


Amanda Pov


Aku tidak pernah menyangka jika aku akan mendapatkan cinta pertama aku. Sudah bertahun tahun aku hidup dengan pengharapan kosong. Bahkan, aku sering mendengarkan cerita tentang perasaannya pada wanita lain dan itu rasanya sangat menyesakkan hati.


Tapi, Tuhan menjawab penantianku yang aku anggap sia-sia. Suatu malam saat Mas haris datang dengan luka tembak di lengannya. Aku menyambutnya dengan rasa cemas. Hingga akhirnya di berkata, jika aku adalah rumahnya di mana dia selalu datang untuk berteduh.


Saat itu, dia masih belum tahu jika seseorang yang sudah merebut hatiku dari pertama masuk kuliah dan yang membuat aku tidak bisa mencintai laki laki lain adalah dirinya. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui semua isi hatiku yang sebenarnya.


Bisa terlihat matanya yang mengembun saat dia mengatakan "Aku terlalu banyak menyakiti perasaan seseorang yang sudah tulus mencintaiku" ujarnya dengan memelukku begitu erat.


Bersambung...


Sebenarnya sempat ingin membuat kisah haris dan Manda di sini. tapi.... sepertinya terlalu mbulet ya hehehe... jadi di singkat saja deh....


Jangan lupa mampir ya di My Husband My Hero, insyallah akan ada spoiler visualnya, mau nyari visual bang dika terlalu susah karakter ya yang unik itu.

__ADS_1


Jangan lupa Rahasia Cinta Zoya jangan sampai ketinggalan bakal ada part part yang cukup menegangkan


__ADS_2