
Alan pun turun dari mobilnya dengan tergesa, rahangnya mengeras saat menghampiri lelaki yang sudah dia percaya itu penuh dengan emosi. Sebuah pengkhianatan karena sudah menyembunyikan istrinya menjadi alasan Alan untuk menghajar temannya itu.
"Bughhh... "
"Kurang ajar, dimana Jingga? "Alan memukul rahang Haris.
"Bughhh "
"Siaaalaan ....! " maki Haris saat membalas pukulan Alan. Keduanya beradu jotos hingga akhirnya Amanda yang berusaha melerai pun jatuh pingsan saat terkena tinju dari salah satu diantara mereka.
"Manda...!" pekik Haris seketika, saat melihat Manda terjatuh. Tangan lelaki itu langsung meraih tubuh kecil Manda dan membawanya masuk ke dalam, bisa terlihat jelas rasa panik Haris dengan keadaan Amanda yang tak kunjung sadarkan diri.
Alan yang melihat kejadian itu langsung mengikuti Haris ke dalam. Bagaimanapun, saat melihat Amanda pingsan ada rasa bersalah.Terlihat Dave juga buru buru menyusul ke dalam setelah menerima telpon.
"Saat ini, Jingga di stasiun! " ucap Dave membuat kedua lelaki itu menoleh. Lelaki berwajah oriental itu mengaktifkan semua jaringan agen rahasia untuk membantu Alan mencari Jingga.
"Kalian pergilah! Sebelum Jingga semakin pergi menjauh! " ucap Haris dengan memberi Amanda minyak kayu putih di area hidungnya, berharap perempuan yang terkulai lemah itu cepat tersadar.
"Sorry, ! " ucap Alan dengan menepuk bahu bidang Haris, sebelum meluncur ke stasiun bersama Dave.
Berlahan Manda mengerjapkan mata, menatap sayu wajah ganteng di depannya. "Pergilah mencari Jingga, Bang! Aku akan baik baik saja. " lirihnya saat dia tersadar. Gadis dengan pipi lebam karena tonjokan itu pun beringsut untuk duduk.
"Sudah ada Alan yang mencari, Jingga! " ucapnya dengan mengompres pipi lebam itu dengan es batu yang baru saja disiapkan.
"Aku tidak apa apa, biar aku sendiri, Bang! " pinta Manda dengan mengambil alih kompresan es batu. Gadis itu kesulitan mengontrol debaran jantungnya yang menggila saat berdekatan dengan lelaki yang diam diam sudah lama dia sukai.
"Diamlah! " tegas Haris, Saat menatap mata sayu di depannya, ada yang aneh dengan detak jantungnya. Bahkan, beberapa kali dia menghela nafas untuk menetralkan gejolak yang tidak pernah dia kenali sebelumnya terhadap gadis yang sudah dia anggap adik.
__ADS_1
###
Alan berjalan menyusuri seluruh tempat yang ada di stasiun. Menurut laporan orang kepercayaan Dave, Jingga sudah menarik beberapa uang dari mesin ATM yang ada di stasiun bahkan dia sempat memesan karcis dengan tujuan kota Jogjakarta.
"Jingga, di mana kamu! " erangnya frustasi diantara lautan manusia yang menunggu gerbong kereta dibuka. Lelaki itu mengacak rambutnya kasar tatkala tak menemukan sosok yang sudah dicarinya.
Alan merosotkan tubuhnya di kursi tunggu, tapi pandangannya mengedar ke segala arah, masih berharap bisa menemukan sosok yang dicarinya sejak kemarin. Bisa terlihat olehnya orang yang sudah sangat riuh berebut untuk bisa masuk ke gerbong terlebih dahulu.
Tatapannya tak beralih meneliti satu persatu orang yang masuk, tapi dia tidak Juga menemukan Jingga, hingga dia memutuskan untuk masuk ke dalam gerbong kereta jurusan Jogjakarta dan memeriksa satu persatu bangku.
Rasa kecewa yang menderu bersamaan rasa putus asa pun kini membuatnya tertunduk lemas saat menuruni gerbong.
"Bagaimana? " tanya Dave membuat Alan hanya menggelengkan kepala.
Alan hanya menghela nafas lemah, dengan berkacak pinggang, raut wajahnya terlihat lesu dan saat ini pandangannya malah terlihat kosong.
Alan meraup wajahnya dengan kasar. Dia semakin tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan sementara ini.
" Besok kita akan mencarinya lagi, menunggu orang IT untuk meretas semua CCTV yang ada di berbagai tempat di kota ini! Tapi saat ini aku ada meeting penting, jadi aku akan ke kantor lebih dulu! " ujar Dave yang juga ikut serius untuk menemukan lagi.
"Baiklah, mau bagaimana lagi. " lirih Alan terdengar putus asa.
" Istri kecilmu itu terlalu gesit gerakannya, sulit untuk bisa menemukannya dengan cepat. Aku pergi dulu!" ucap Dave dengan memukul pelan bahu Alan yang terlihat lemah.
Lelaki yang saat ini sudah terlihat kacau itu kembali mendudukkan tubuhnya di kursi, yang saat ini dia pikirkan adalah segera menemukan Jingga. Alan mencondongkan tubuhnya ke depan kedua tangannya saling bertaut bertumpu pada kedua pahanya, tatapannya menerawang jauh ke depan.
Alan's Pov
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah berhenti untuk mencarimu, Ngga. Kemanapun kamu bersembunyi aku pasti akan menemukanmu. Aku tidak akan pernah beristirahat untuk mencintai kamu sesuai janjiku. Kumohon jangan lari dariku karena aku tidak akan bisa mampu jika tanpamu."
Aku memejamkan mataku sejenak, rasa panas yang menjalar merubah ruang mataku ini penuh dengan cairan, saat rasa putus asa hadir dalam hatiku. Seharusnya dari dulu aku meyakinkan dirimu, jika kamulah kekuatanku.
Lihatlah! Saat ini aku ingin menertawakan diriku sendiri karena ternyata aku terlalu lemah jika tanpamu Jingga Andini.
###
"Apa aku keterlaluan, Bang? Jika aku sangat mencintai Bang Alan? Lalu salahnya di mana jika perasaan cinta itu memang untuk Bang Alan, bahkan aku rela jika aku memang harus jadi yang ke dua, Bang." protes Maya saat Raka memberikan surat pemberhentian dengan hormat. Bukan karena dia kehilangan pekerjaan, tapi dia tidak ingin kehilangan kedekatannya dengan Alan.
"Perasaanmu tidak salah, tapi cara kamu yang salah, posisi kamu yang salah! " ujar Raka menatap tajam gadis di depannya.
"Bang Alan sudah tidak ingin melihatmu di sini! Bahkan sudah dua hari ini dia tidak datang ke kantor hanya untuk mencari Jingga! Karena ulahmu Jingga menghilang! " jelas Raka dengan suara dingin.
"Kenapa aku lagi yang disalahkan, kejadian itu juga Bang Alan tidak menolakku saat aku mencumbunya! Seharusnya Jingga juga tahu bagaimana mempertahankan sebuah hubungan jika dia memang mencintai Bang Alan, bukan malah melarikan diri. " Maya masih saja membela diri. Dia yakin jika Alan masih menyisakan ruang hatinya untuk dirinya.
"Kamu pikir Jingga seperti kamu! Aku sudah mengenal dirimu dan sifatmu yang ambisus bisa melakukan banyak hal termasuk mencampur racikan obat yang membuat seseorang berhalusinasi!" Nada suara Raka semakin tajam, lelaki itu semakin geram saat melihat Maya tanpa rasa bersalah. Raka sudah bisa memperhitungkan semuanya, dan lemahnya lagi posisi Alan karena CCTV ruangannya saat itu di matikan.
"Oh ya, sebaiknya kamu pikirkan lagi perasaanmu itu. Apakah itu cinta atau sekedar obsesi! Bang Alan terlalu baik untuk menjadi korban obsesimu. Pergilah sekarang! aku masih banyak kerjaan. " usir Raka buang semakin dibuat emosi.
Sepeninggalan perempuan berambut curly dan seksi itu Raka mendudukan kembali tubuhnya. Pikirannya kembali memikirkan kemungkinan yang akan dilakukan Maya, dia tidak akan membiarkan Maya mengacau lagi di kehidupan Alan. Selain itu, dia juga memikirkan kelanjutan perusahaan ini. Perusahaan yang menjadi penolong beberapa mahasiswa berpotensi yang kesulitan biaya kuliah seperti dirinya dan beberapa arsitek lain yang berhasil meluluskan kuliahnya karena bekerja perusahaan ini.
"Bang Kamu terlalu baik pada kami! Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk perusahaan ini." gumam Raka ingin menunjukkan loyalitasnya pada Alan dan perusahaan yang sudah banyak berjasa dalam hidupnya.
Bersambung....
Dikit ya, hehehhehe sebenarnya author juga pengen up yang banyak, tapi kapasitas otaknya cuma minim heehhe..... happy reading gaes heehhehe๐๐๐
__ADS_1