
Jingga masih menikmati posisinya yang nyaman yaitu di bawah ketiak suaminya, sementara Alan hanya mengelus lembut rambut hitam yang terurai milik istrinya sesekali mencium puncak kepala perempuan yang mampu menjungkir balikan perasaannya itu.
Sejenak suasana hening, hanya detak jarum jam yang mengisi kesunyian di antara ke duanya. Mereka seolah menghayati apa yang sedang mereka rasa saat ini.
"Sayang... " panggil Alan lirih.
"Hmmm.... " jawab Jingga hanya dengan deheman, perempuan itu masih merasa nyaman saat bisa mengendus aroma maskulin suaminya.
"Mobilmu, hadiah dari Papa rusak, seseorang tadi menabraknya!" Mendengar kalimat Alan, seketika itu pula Jingga mengendurkan pelukannya, kemudian beringsut duduk dan matanya meneliti keadaan suaminya.
"Kamu nggak apa apa kan, Mas?" tanyanya dengan cemas.
"Aku baik baik saja, cuma body mobil depan dan lampu ringsek! " jawaban Alan membuat Jingga kembali merebahkan tubuhnya, dia tidak peduli jika yang ringsek cuma mobil saja.
"Sayang, kamu belum makan malam kan? Sebaiknya kita makan dulu!" Ajak Alan mengingatkan Jingga untuk makan malam.
"Ayolah, demi baby kita ya? " masih membujuk Jingga yang ogah ogahan.
"Aku pingin makan nasi angkringan yang ada di dekat gapuro masuk itu. " pinta Jingga tidak berharap banyak bisa terkabulkan.
"Baiklah, aku akan ke sana! Kamu di rumah saja, ya!"
"Aku ikut, aku pinginnya makan di sana. " pinta Jingga.
"Sayaaaaang....! " Alan kehabisan akal untuk membujuk Jingga, karena di angkringan itu juga dia tidak bisa menjamin kebersihan dan kwalitas makanannya.
"Aku nggak jadi makan kalo begitu! " ucap Jingga yang kembali merebahkan tubuhnya.
"Baiklah... kita akan pergi bersama. " mendengar Alan mengijinkannya ikut membuat Jingga langsung bergegas bangun. Matanya nampak berbinar menunjukkan kesenangan yang dia rasa.
"Aku akan ganti baju dulu! " ucap Jingga dengan tergesa-gesa menuruni tempat tidur.
"Pakai itu saja, nggak usah berdandan! "
"Pakai piyama ini, Mas? Mas Alan tidak malu jalan sama cewek kucel? " tanya Jingga saat di depan cermin. Tangannya menyisir rambut panjangnya dan mencepol ke atas.
Melihat Alan hanya mamandanginya membuat Jingga membalikkan tubuhnya dengan mengernyitkan mata ke arah Alan.
"What's wrong? " tanya Jingga penasaran dengan tatapan suaminya.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Alan malah berjalan mendekat memeluknya Jingga dari belakang, mengelus perut datar yang berisi jutaan mimpi di sana.
"Apapun yang kamu pakai, kamu tetap perempuan tercantikku Jingga Andini." lirihnya dengan berbisik di dekat telinga Jingga. Dari tadi Alan memang memperhatikan Jingga dengan piyamanya, tubuhnya memang lebih kurus, tapi ada bagian bagian tubuh Jingga yang terlihat lebih seksi menurutnya.
"Jangan biarkan Aku merindukanmu lagi! Aku bisa gila jika terlalu lama merindukanmu! " lirih Alan.
"Ehm ehm... Kita jadi nyari makan atau....? " Kalimatnya menggantung saat Alan memutar tubuh Jingga untuk menghadap ke arahnya. Tanpa persetujuan lagi, Alan menempelkan bibirnya, ******* lembut bibir istrinya. Sepersekian detik mereka terlena dalam ciuman panas yang sudah lama tidak mereka lakukan akibat persitegangan masalah kemarin.
"Mas,...! " berlahan Jingga mendorong tubuh Alan secara berlahan, takut kebablasan.
"Hehehe, ayo kita berangkat! " ucap Alan masih menahan gejolak hasrat yang sudah lama tersimpan.
Mereka berjalan menuju angkringan di tepi jalan besar. Kira kira sepuluh meter dari kontrakan, mereka menikmati suasana malam yang berbeda. Seperti tidak ingin lepas dari istrinya, Alan pun berjalan dengan merangkul bahu kecil Jingga agar tidak menjauh.
"Mas...! " Jingga menghentikan langkahnya. menatap lekat lelaki di depannya dan spontan dia mencium rahang yang dipenuhi bulu itu dengan singkat.
"Terima kasih untuk kencan malam ini. Tapi, lain kali jambang dan kumisnya di potong biar aku nggak dikira jalan sama om om. " goda Jingga yang kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Alan.
"Ya ampun, Sayang.... kamu satu satunya perempuan yang tidak pernah menyadari kegantenganku. " Rutuk Alan, padahal dia masih tersenyum karena ciuman manis Jingga barusan.
Alan Pov
Aku baru belajar mengerti dirimu Jingga. Keinginanmu yang sederhana, keinginanmu untuk mempunyai hubungan seperti sepasang kekasih tidak pernah aku kabulkan. Padahal itu sederhana, hanya karena menurutku itu tidak penting, maka aku tidak pernah mempedulikan keinginanmu.
Alan mempererat rengkuhannya hingga Jingga merasa suaminya terlalu posesive, karena kehamilannya saat ini.
###
Pukul tiga pagi seperti biasa, Jingga kembali merasakan mualnya, dia berlari menuju wastafel yang terletak di dapur, diikuti Alan untuk memastikan keadaannya. Tangannya masih memijat lembut tengkuk Jingga. membuat Jingga merasa sedikit lebih baik.
"Sampai kapan seperti ini? " tanya Jingga seperti ingin cepat mengakhiri masa ngidamnya.
"Sabar ya, biasanya sampai trisemester pertama! " ujar Alan yang sudah mencari informasi tentang kehamilan, kesehatan ibu dan janin.
Jingga menyandarkan tubuhnya di tubuh kekar suaminya, seolah mengatakan jika dia merasa lemah saat ini. Alan pun menggendongnya ke kamar, menyelimuti Jingga agar kembali beristirahat.
Melihat Jingga kembali memejamkan matanya, dia mulai mengemas barang barang Jingga. Semalam dia sudah berhasil membujuk Jingga untuk pulang ke rumah karena Bu Sasmitha dan Eyang putri akan datang.
Flashback
__ADS_1
"Kalo nggak bisa jagain putri ibu, pulangkan saja! " amuk Bu Sasmitha dari telepon saat baru mengetahui jika Jingga sempat menghilang.
"Maaf Bu, saya salah! " jawab Alan.
"Aku sudah mempercayakannya padamu untuk menjaga Jingga, tapi kamu malah menyakiti hatinya hingga membuatnya pergi. Aku sungguh kecewa padamu, Nak Alan. " semua kalimat yang meluncur adalah luapan emosi seorang ibu yang merasa kecewa.
"Beri kesempatan pada saya untuk membahagiakan Jingga! " Hanya kalimat itu yang meluncur dari bibir Alan.
"Besok aku akan datang ke kota aku ingin melihat keadaan putriku! Assalamualaikum.... " Bu Sasmitha menutup begitu saja sambungan telponnya tanpa peduli apa yang ingin di sampaikan Alan, tapi Alan juga bisa memahami perasaan seorang ibu yang mengkhawatirkan putrinya.
Kemarin Bu Sasmitha menelpon Alan. Saat itu pula Alan mencoba membujuk Jingga lagi untuk pulang.
Flash on
Setelah membereskan sebagian barang yang yang akan di bawa pulang, Alan merebahkan tubuhnya di samping Jingga. Tempat tidur yang sempit membuat Jingga langsung membuka matanya yang memang tidak tidur, saat Alan tidur di sebelahnya.
"Mas, boleh minta sesuatu? "
"Tentu saja! " jawab Alan.
Mendengar persetujuan Alan, membuatnya senang. Saking senangnya jingga pun naik dan duduk di atas perut keras Alan.
"Oh ya, nanti beli rujak, empek empek, dan aku pengen potong rambut! "
"Apa? " Alan tidak percaya dengan permintaan terakhir Jingga.
"Iya potong rambut! " lanjut Jingga kembali meyakinkan. Perempuan itu menundukkan tubuhnya menempelkan bibirnya pada bibir tipis Alan. karena dia tahu Alan selalu menolaknya untuk memotong rambutnya.
"Boleh ya.. ! " rengeknya kembali ******* bibir suaminya.
"Hmmm... " jawabnya singkat tidak fokus dengan jawabannya saat Jingga memancingnya hasrat yang terpendamnya.
Alan membalik tubuh Jingga yang berada di atas perutnya kini berada di bawah kungkungannya. Tangannya sudah bergerilya di tempat yang selalu menjadi favoritnya. Semua menjadi lebih kenyal dan seksi membuat Alan tidak bisa menahan godaan itu.
"Kamu sekarang nakal ya...! " bisik Alan dengan menciumi tengkuk putih Jingga.
"Mas Alan yang ngajari, kan? " balas Jingga sambil tersenyum karena berhasil memancing Alan untuk mengabulkan keinginannya, hingga pertempuran panas yang sudah lama terhenti kini dimulai lagi, meski dengan cara berlahan tapi pasti karena kehamilan Jingga.
Bersambung......
__ADS_1