
Di sebuah rumah mewah seorang lelaki berumur enam puluh tahunan tertegun dengan bertumpu pada sebuah tongkat kayu kesayangannya.
"Iya tuan, Nyonya Sasmitha dan anak perempuannya masih hidup." ucap seseorang berperawakan tinggi besar dan berpenampilan cukup rapi. Dia adalah ajudan dari Tuan Wirya (Sastrowirya)
Tuan Wirya berfikir sejenak, tatapannya menerawang ke depan, seolah dia sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Biarkan sementara, lagi pula profit dari aset kepemilikan anak perempuannya itu masih di bawah kendaliku. Jika saja mereka keluar dari persembunyiannya itu, kita habisi saja mereka seperti bagaimana kita menghabisi Cokro Raharjo." titah Tuan Wirya yang kemudian memilih duduk di sofa, meskipun begitu tidak merubah otaknya yang sedang berfikir untuk mempertahankan semua property yang sebenarnya beratas namakan Jingga Andini.
"Rey, ayah ingin bicara! " panggil Tuan Wirya saat melihat sekelebatan anak laki lakinya yang masuk ke dalam rumah.
"Apa lagi, Yah! Setidaknya Reyhan sudah bilang kalo Reyhan tidak tertarik dengan hotel dan property milik keponakanmu itu! " Reyhan yang selalu bertentangan dengan ayahnya pun kembali membantah.
"Tuan Muda...! "
" Berhenti menceramahiku, Hendra! " bentak Reyhan pada ajudan ayahnya itu.
Lelaki yang lebih senang berkecimpung di dunia otomotif itu pun berlalu begitu saja meninggalkan dua orang yang saat ini masih menatap kepergiannya. Dari dulu, dia tidak ingin berurusan dengan keluarga besarnya yang terlalu rumit. Apalagi yang dia tau, kepemilikan hotel dan sebuah yayasan perguruan tinggi swasta itu di bawah kepemilikan sepupunya yang sudah lama menghilang.
###
Tubuhnya menggeliat di bawah selimut tebal, bahkan saat ini wajahnya mendusel di dada telanjang suaminya. Status pisah ranjangnya berganti dengan tidur bersama.
" Sedih rasanya jika Mas Alan mengabaikanku, apalagi jika seolah olah Mas Alan lebih peduli dengan asistennya Mas Raka! Rasanya aku hampir tidak bisa menerimanya. " ucapnya dengan mata terpejam membuat Alan terkekeh.
"Kalo begitu buatkan aku tahu bacem! " pinta Alan yang merasakan perutnya sudah lapar.
"Apaan ini, wajah bule lidah jowo! " sergah Jingga dengan mendongakkan kepalanya menatap senyum yang melekat di bibir tipis suaminya.
" Tahu bacem berhadiah red Brio, ya?" balas Jingga dengan melingkarkan lengannya di dada bidang Alan.
"Tapi kamu masak sendiri tanpa bantuan, Bi Murti! " tantang Alan, yang begitu yakin Jingga tidak akan bisa tanpa bantuan Bi Murti.
"Siapa takut? " Jingga dengan percaya diri menerima tantangan Alan.
__ADS_1
" Emangnya kamu bisa nyetir? "
" Belajar kan bisa, Mas Alan! " Padahal sebenernya Jingga hanya menggoda Alan, Jingga tidak benar-benar menginginkan mobil Brio. Biarlah, toh selama ini, Alan tidak pernah memberikan hadiah apapun, benar-benar tidak romantis, batinnya.
Masih dengan bersenandung, Jingga mengeluarkan bahan yang dibutuhkan untuk membuat tahu bacem.
Rambutnya dicepol ke atas, bisa terlihat leher jenjang nan putih itu membuat sepasang mata lelaki yang duduk di meja makan itu tidak mengedipkan mata.
Jingga sangat beruntung jika Alan hanya meminta tahu bacem, karena kemarin dia baru saja belajar dari Bi Murti bikin tahu bacem. Batinnya tertawa terbahak, tapi tetap saja dia berpura pura sok cool.
"Mas Alan ...! " panggil Jingga membuat Alan beranjak mendekat.
"Ada apa, Ngga? " tanyanya saat sudah bersebelahan dengan istrinya.
"Tolong kupasin bawang! " Jingga menyodorkan bawang merah, bawang putih dan pisau di depan Alan membuat lelaki yang terbengong itu makin linglung.
"Penjajahan Jepang ini namanya! Red Brionya di bagi dua berarti? Kamu mobilnya aku atas nama di BPKB nya? " tawar Alan yang sudah merasa diakalin Jingga.
"Wah... ya nggak bisa, Mas! Itu namanya akal akalan. Kayak orang-orang tuch ngomongnya lamarannya mobil eh ujung-ujungnya, bayar angsuran motong uang belanja. Ogahlah kayak gitu...! " Mulut mungil itu terus saja nerocos, membuat Alan semakin gemas.
"Apa? Mas Alan tadi bilang apa? " tanya Jingga dengan mangacungkan pisau ke arah Alan. Membuat lelaki itu spontan mundur selangkah untuk memberi jarak.
Mereka benar benar berbagi dapur, ini pertama kali Alan berada di dapur dan tragedi menangis bawang pun terjadi. Hatinya terus saja mengumpati kesialannya yang menginginkan tahu bacem. Benar-benar rugi double.
"Ya Allah...Mas Alan, diminta ngupasin bawang saja pake acara nangis! " ledek Jingga dengan mendekatkan pandangannya seolah meneliti cairan bening yang memenuhi mata perak itu.
"Tubuh sebesar hulk, musuh bawang aja pakai nangis? Sungguh terlalu...." ledeknya sekali lagi dengan menepuk nepuk lengan besar Alan dan mendekatkan wajahnya sambil terkikik di depan wajah yang masih cemberut itu.
Cup....
Seketika Alan menarik tengkuk istrinya dan ******* bibir tipis itu agar berhenti mengoceh.
"Hmmmppp.... Mas Alan! " ucapnya gelapan dengan mendorong tubuh yang sama sekali tak bergeming dari tenaganya.
__ADS_1
" Jangan ngoceh terus...!" kesal Alan yang matanya benar-benar terasa perih, karena mengiris bawang.
"Ting tong... Ting tong...! " Mendengar suara bel, Alan pun meletakkan pisau dan pergi untuk membukakan pintu.
Pintu terbuka lebar, kedua lelaki bertubuh kekar pun akan maju, tapi Alan memundurkan langkahnya, takut bau bawang terendus oleh kedua temannya.
"Kenapa, Bro? " tanya Dave.
"Seperti bau bawang? " sahut Haris membuat Alan salah tingkah.
"Jangan bilang lo, lagi masak! Hahahaha! " tawa Dave seketika menggelegar memenuhi ruangan.
"Sialann... Lo! Ada apa weekend pada ke sini ? " Akhirnya umpatan itu berhasil meluncur dari mulut Alan, saat kedua temannya sudah duduk manis di sofa.
"Jalan, yuk! Kita ke pantai rame-rame! " ajak Haris yang sengaja mengumpulkan beberapa temannya. Alan berfikir sejenak, takutnya Jingga tidak menginginkannya. Tidak mungkin pula dia pergi sendiri atau pun menolak ajakan Haris yang sudah datang ke rumahnya.
"Tapi, kalian makan di sini dulu! Jingga sudah telanjur masak, sayang jika nggak dimakan. " ucap Alan.
"Siap, deh! " Mendengar jawaban Dave, Alan bergegas ke belakang memberi tahu Jingga jika kedua temannya akan makan sore bersama. Tentu saja karena waktunya memang ketika sore. Sementara itu, Alan menyiapkan beberapa keperluan yang akan dibawanya nanti.
Ketiga lelaki itu sudah berada di meja makan. Dave hampir tidak percaya dengan menu yang disajikan temannya.
"Seriusly? Ini yang masak Jingga? " tanya Dave tidak percaya saat mengakhiri makan sore mereka.
"Kenapa? Ini tahu bacem termahal" ucap Alan setelah mengelap bibirnya dengan tissu.
"No reason. Just said, you were very lucky!" sahut Haris yang memang semakin mengagumi sosok Jingga, Perfect wife... mungkin kesan itu yang bisa disimpulkannya.
"Kok bisa termahal? " Dave masih penasaran.
"Ya iyalah, bikin tahu bacem mintanya red Brio!"
Pernyataan Alan membuat kedua temannya seketika tergelak.
__ADS_1
"Pinter juga si Jingga, hahaha tau suaminya banyak duit dan super hemat! " sahut Dave masih dengan tawa liarnya.
TBC