
Jingga masih menunggu Alan di balkon kamar, dengan membaca beberapa artikel yang berisikan tentang menjalani hubungan yang sehat untuk mereka yang berbeda umur dan beda generasi. Dia merasa hubungannya dengan Alan baik baik saja tapi kenapa Maya merasa Alan malu mengakui keberadaannya sebagai pendamping hidup. Sesekali dia menghela nafas panjang, dan saat ini kepalanya bersandar pada sofa karena merasa banyak berat dengan pikirannya sendiri.
"Mungkinkah Mas Alan menjalani rumah tangga ini hanya karena dia tidak ingin bermasalah dengan Eyang Putri? Atau ada alasan lain selain mencintaiku? Iya, mana mungkin dia mencintaiku, banyak perempuan yang lebih segala-galanya dibanding aku, hanya saja aku lebih beruntung karena sudah menjadi pilihan keluarganya." Pikirannya bermonolog mencari kesungguhan arti dari hubungan yang semestinya.
"Kenapa malah melamun? Apa yang kamu pikirkan? " Alan mencubit pipi Jingga dengan satu tangannya yang menyangga laptop. Jingga hanya mengaduh pelan dan mengelus pipinya yang terasa sedikit panas dan nyeri. Dan tidak ada kelanjutan lagi setelah tindakan Alan, Jingga masih begitu anthusias menatap ponselnya.
"Ada apa , sich? " tanya Alan dengan merebut ponsel di tangan Jingga, membuat Jingga kalang kabut untuk mengambil kembali miliknya. Dia tidak ingin Alan tahu apa yang sedang dia baca.
"Kembalikan, Mas! " mendengar teriakan Jingga membuat Alan yang semula sudah mendudukan diri di sebelah Jingga kini pun berdiri dan akan membaca lebih detail apa yang sedang dibaca istrinya karena merasa semakin merasa penasaran.
"Mas Alan...! " teriak Jingga dengan tangan masih berusaha menggapai gapai ponselnya di tangan Alan yang terangkat ke atas.
"Kembalikan, Mas Alan! " Jingga mulai menarik kaos Alan dan naik ke atas sofa agar tingginya bisa sejajar dengan laki-laki yang memiliki tinggi 187 cm itu.
"Aku juga pengen membacanya sebentar, Ngga!" ujar Alan dengan masih berusaha mengeja tulisan yang ada di layar ponsel tapi itu pun sia sia karena dengan hebohnya Jingga masih berusaha merebut kembali ponselnya.
Alan yang sudah ditarik kaosnya merasa tidak nyaman, bahkan tubuh kecil itu sudah melompat dan bertengker di punggung suaminya dengan tangan masih menggapai ponselnya. Pasti akan terkesan kolokan jika Alan sampai membaca artikel yang sedang dibacanya.
"Balikin, Mas! Atau aku gigit, lo! Cepetan! " Mendengar ancaman Jingga membuat Alan malah tergelak. Merasa hanya ancaman belaka Alan masih bertahan mensabotase ponsel itu ke atas.
"Baiklah.... " geram Jingga dengan satu tangannya melingkar di leher Alan dan satu tangannya menjulur ke pinggang suaminya, kemudian menggelitik bebas di sana membuat Alan tak tahan dengan aksi istrinya.
__ADS_1
"Ngga, kita berdua bisa jatuh bersamaan kalo kayak gini! " ucapnya dengan tubuh gelinjangan seperti cacing kepanasan. Jingga sangat tahu jika Alan paling tidak tahan jika di gelitik di area pinggang.
"Cepat balikin, Mas! " geram Jingga masih dengan aksinya.
"Iya-iya... " Alan menurunkan tangannya yang memegang ponsel, membuat Jingga segera menyambar benda pipih miliknya itu dan melompat turun ke sofa.
"Makanya jadi orang jangan usil dengan privacy orang! " cebik Jingga membuat Alan segera menarik tengkuk perempuan yang mengerucutkan bibir di depannya dan mendaratkan lu**tan lembut di bibir mungil istrinya.
Mendapat serangan tiba tiba membuat Jingga gelagapan, matanya membeliak menatap tak menentu ketika ciuman lembut Alan bertahan beberapa detik di sana.
"Gaya, aku sudah melihat setiap inci dirimu masih saja membahas privacy. " lirih Alan menatap tajam wajah yang sudah memanas karena menahan malu. Sedangkan Jingga hanya mulai beranjak akan turun dari sofa tapi masih di hadang tubuh Alan yang berdiri tepat di depannya.
"Nggak kok, cuma gerah saja mungkin! " elaknya kemudian mendudukan diri karena tubuh Alan masih menghadang saat dia akan beranjak pergi.
"Jangan kemana-mana! Temani aku disini! " ujar Alan yang masih menggenggam tangan Jingga dan menariknya untuk duduk lebih mendekat dengannya.
"Aku ngantuk, Mas! " Merasa Jingga hanya beralasan membuat Alan menarik bahu kecil Jingga agar istrinya tidur di pangkuannya.
"Tidur di sini! Dosa menolak perintah suami! " ucap Alan membuat Jingga hanya bisa menurut saja. Alan kemudian memulai membuka laptopnya sedangkan Jingga hanya melihat layar laptop suaminya tanpa mengerti apa yang sedang di kerjakan suaminya.
"Mas, apa Mas Alan benar benar menerima perjodohan ini dari hati? " Jingga memulai pembicaraan setelah beberapa menit membisu.
__ADS_1
"Mas, kenapa tidak menjawab! " desaknya yang sangat menginginkan jawaban Alan untuk memecahkan kegelisahan di pikirannya.
"Awalnya si tidak! Tapi aku tidak pernah merasa punya keluarga, tidak pernah merasa punya adik, yang aku punya cuma Eyang putri! jadi tidak ada salahnya kan, jika aku menginginkan semuanya dan membahagiakan Eyang. " jawaban Alan membuat Jingga bisa menarik kesimpulan jika memang semua hanya sebuah kebutuhan. mungkin itu juga yang membuat Alan malu mengakuinya sebagai istri dan tidak pernah memperlakukannya seromantis pasangan lain pada umumnya.
"Apa itu artinya Mas Alan membutuhkanku? "
"Tentu saja! " jawab Alan masih menatap laptopnya dan tangan satunya mengelus kening Jingga menyibakkan poni yang menutup sebagian wajah mungil nan cantik itu.
Ada rasa kecewa mendengar jawaban Alan. Pantas saja jika Mas Alan tidak pernah memperlakukannya seperti wanita dewasa. Iya, semua cuma kebutuhan. suasana menjadi hening, saat Jingga hanya bermain dengan pemikirannya sendiri dan Alan masih fokus dengan pekerjaannya. Merasakan keheningan yang tercipta, membuat Alan yang tidak biasa karena Jingga memang selalu bawel membuatnya melirik istrinya yang ternyata sudah tertidur di pangkuannya.
"Ternyata si beo sudah tertidur! " gerutunya sambil terkekeh mengingat banyak istilah yang tersemat untuk Jingga.
Setelah menutup semua pekerjaannya, Alan meregangkan ototnya, menatap sejenak wajah ayu di pangkuannya. Memang benar, pasangan akan saling mempengaruhi satu sama lain, ntah itu secara natural atau memang untuk saling menyesuaikan. Dia merasa yang dulunya jarang sekali berbicara, tertawa dengan sia sia sekarang lebih banyak banyak tertawa, dan bicara tak jelas hanya untuk menggoda Jingga.
"Bagaimana jika kamu pergi dariku, Ngga? Apa yang akan aku lakukan jika tanpamu? Aku membutuhkanmu, kamu dan keluarga kita saat ini menjadi tujuan hidupku! " gumamnya, perasaan bahagia tercipta karena kehadiran Jingga, hidupnya lebih berarti, punya tujuan selain sekedar cita cita dan obsesi untuk karirnya.
Perbedaan diantara pasangan itu pasti ada. Tapi, hanya kita yang akan bisa merubah pasangan kita karena sebenarnya kitalah orang yang terdekat dengan pasangan kita. Jadi bersabarlah dalam berprocess untuk bisa saling mengerti dan memahami.
TBC
Terima kasih kemarin yang sudah memberi banyak hadiah saat 'Merindukan Jingga' tidak bisa up. Hadiah, vote dan like readers adalah sebuah aprisiasi bagi saya. Sekali lagi terima kasih...
__ADS_1